Rabu, November 28, 2007

Tidak bisa mencoba

Teman SMA saya datang ke kantor dan cerita dia baru saja bergabung dengan sebuah perusahaan sebagai 'marketing'. Sebelumnya dia seorang guru dan belum pernah kerja di bidang marketing (sebenarnya lebih tepat dalam bidang selling). Ceritanya dia direkomendasikan oleh teman SMA lainnya untuk 'belajar' ke saya tentang marketing.

"Ane mau coba sebulan ini. Kalau nggak berhasil ya ane balik jadi ngajar di tempat lama lagi .. Ane udah bilang sama pengurusnya ..", katanya kepada saya.

"Coba sebulan ?" tanya saya. Saya lalu mengambil sebuah bolpen. Lalu dia saya minta untuk mengambil bolpen dari tangan saya ini. "Coba ambil bolpen ini dari tangan saya ..". Dia menjulurkan tangannya lalu, hap, bolpen itu dia pegang.

Saya bilang, "Nahhh ... Itu namanya mengambil .. bukan mencoba mengambil .."

Dia bingung sejenak, lalu ketawa. "Sekarang, sekali lagi coba ambil bolpen ini .."
Dia menjulurkan tangannya ke tangan saya, tapi dia hanya menggapai-gapai.

Dalam beberapa kesempatan saya menganjurkan orang-orang untuk sedapat mungkin menghindari kata 'mencoba', 'berusaha', 'akan', 'harus', bahkan 'Insya Allah'. Mengapa? Sebab tubuh kita sebenarnya tidak bisa mencoba. Buktinya, teman saya itu tidak bisa mencoba mengambil bolpen dari tangan saya. Kalau anda bilang 'coba', itu berarti anda tidak terlalu yakin. Padahal keyakinan membuat fisik kita jadi 'full power'. Maka keberhasilan seringkali lebih kita capai kalau kita yakin. Maka, kalau anda ingin jadi apapun, melakukan apapun, ya tidak usah pakai kata 'coba', tapi lakukan saja. Just do it ... dengan sepenuh fokus dan keyakinan. Kalau sudah fokus & yakin, nanti kalau ada masalah kita bergairah untuk belajar. Nanti kita makin lama makin piawai di pekerjaan kita.

Kata 'akan' tidak memerintahkan bawah sadar kita untuk bertindak. Misalnya, anak buah kita telat melulu. Lalu ketika kita tegor, dia bilang, "Baik pak, baik bu, .. saya akan disiplin ..". Jangan percaya !. Pikiran bawah sadar yang menguasai 88% tindakan hanya bisa diperintah dengan kalimat present tense. Jadi mustinya kalimatnya, "Baik Pak, mulai sekarang saya disiplin..".

Bagaimana dengan harus ? Kata 'harus' memaksa pikiran kita, bahkan sampai menyentuh emosi. Kata harus sering menimbulkan perasaan kurang nyaman. Pikiran menjadi tidak rileks. Padahal, prestasi kita justru lebih optimal jika pikiran kita rileks. Daripada berkata : "Mulai sekarang anda harus memperhatikan hal ini", lebih baik diganti "Mulai sekarang anda PERLU memperhatikan hal ini".

Insya Allah ? Ini sama. Insya Allah-nya orang Indonesia belakangan ini biasanya basa-basi. "Kamu bisa datang ke undangan saya?", lalu dijawab, "Insya Allah deh .." (pakai deh lagi..), maka keyakinan si orang ini tidak 100% .. bisa-bisa cuma lip service. Kecuali kata ini diucapkan oleh mereka yang terbukti memiliki integritas (membuktikan kata dan tindakan sama). Ini PR para pendakwah untuk mengubah arti kata Insya Allah ala basa-basi di pikiran umat dengan Insya Allah versi aslinya dulu.

Ketika saya jelaskan konsep di atas dengan gaye betawi kepada teman saya yang orang Betawi tadi, dia manggut-manggut. Sorot matanya menyiratkan optimisme...***

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Ada seorg temannya teman, yg punya 2 koleksi kalimat janji, yaitu: (1) Insya Allah saya datang dan (2) Saya akan datang atau Iya, gue datang. Seringnya dia menggunakan kalimat iini, sampai kita ketemu pola bahwa jika dia mengucapkan kalimat pertama, itu bisa dipastikan dia gak akan datang. Dan jika dia mengucapkan kalimat kedua, kemungkinan datang baru hanya 50%. So...kalimat apa yg membuat dia 100% datang? Hehehehe.......

Prasetya Maytrea Brata mengatakan...

Kalau dia bilang, "Saya akan datang .. atau iya, gue datang", tanyakan saja : "datang jam brapa ?", atau "sampai sini jam brapa ?", atau "dari rumah jam brapa ?", dan boleh ditambah "perlu saya telpon sejam sebelumnya untuk mengingatkan?"....