Sabtu, Desember 29, 2007

Menyumbang tidak usah menunggu ikhlas

"Alhamdulillah, anak-anak kita mendapat sumbangan dari Bapak Fauzan (nama samaran) ...", ujar seorang pembawa acara di tengah-tengah pemberian santunan kepada anak yatim. Sang pemberi sumbangan lalu tampak di depan panggung menyerahkan sumbangan secara simbolis kepada salah seorang anak yatim, dan diliput oleh beberapa media lokal, termasuk televisi.

Seseorang teman yang tidak perlu saya sebut namanya kemudian bergumam, "Ih, Riya , emang ada tuh pahalanya ? ....". Riya itu artinya pamer.

Saya lalu berbisik, "Kalau dia riya, so what ??....".

Kata teman saya, "Ya percuma dong ibadahnya .... Ibadah yang diterima kan kalau dilandasi dengan keikhlasan ... tidak riya ... tidak usah disebut namanya, apalagi pakai diliput media segala ...".

"Jadi, kalau niat kita masih riya atau pamer, sebaiknya jangan nyumbang .. ?", tanya saya.

Dia tidak menjawab.

"Kalau nunggu sampai setiap orang ikhlas dulu baru nyumbang, kapan sumbangan terkumpul?" ... Lanjut saya. "Memang kalau anak yatim dan orang miskin mendapat sumbangan dari orang riya, apakah sumbangannya jadi haram ?".

Teman saya tampak berpikir. Saya melanjutkan 'ceramah' saya yang tanpa tedeng aling-aling itu.

"Kalau gue sih, biarin saja orang mau riya kek, mau pamer kek, mau sombong kek, yang penting dia ngeluarin hartanya buat membantu orang lain. Titik. Urusan niat di balik perbuatannya, itu urusan dia sama Tuhannya. Ngapain kita ikut-ikut ? Jadi kalau misalnya sekarang ini gue riya, terus gue nyumbang, itu masih lebih bermanfaat buat orang lain daripada gue menunda nyumbang karena nunggu hati gue ikhlas seratuspersen dulu ... Kalau yang kayak gini kita komentarin, nanti orang yang niat nyumbang jadi ragu-ragu karena takut dibilang pamer, jadinya malah nggak nyumbang, kan kasian mereka yang musti dibantu ..."***

Kamis, Desember 20, 2007

Harta Berkah

Dulu, saya tertarik dengan kisah seorang pemimpin negara pasca kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Suatu ketika ia sedang bekerja, lalu kedatangan anaknya ingin berbincang dengan dirinya. Ia lalu tanya kepada anaknya, ini urusan pribadi atau urusan negara. Anaknya bilang, urusan pribadi. Ia lalu mematikan lentera yang sedang digunakan, dengan alasan lentera dan minyaknya itu dibiayai oleh negara, jadi untuk urusan negara. Kalau urusan pribadi jangan pakai fasilitas negara.

Kisah ini begitu kuatnya melekat di benak saya, hingga saatnya saya mendapat kesempatan menjadi 'pejabat', sayapun menerapkan prinsip ini, dengan penyesuaian sana-sini. Misalnya saya sudah sampaikan ke isteri saya permintaan maaf tidak boleh menggunakan mobil dinas dan supir untuk mengantarkan dia ke kantor atau kemanapun. Bahkan kalau menumpang, hanya sampai kantor saya, atau kalau diturunkan di jalan, hanya di jalur yang saya lewati menuju tempat tujuan dinas saya.

Lalu ketika tagihan telepon datang (saya mendapat fasilitas pulsa handphone ditanggung penuh oleh kantor), saya kurangi sekian ratus ribu untuk mengantisipasi pemakaian telepon dan sms untuk keperluan pribadi, keluarga, atau pertemanan. Kalau saya pulang malam karena urusan pribadi -- misalnya belanja ke mall -- maka lembur supir langsung saya bayar, tidak dibebankan di kantor.

Kalau saya pakai kertas kantor beberapa puluh lembar untuk kepentingan pribadi, saya ganti dengan satu rim kertas untuk mengkompensasi tinta yang sudah saya pakai juga. Sesekali BBM mobil dinas saya bayar dari kantong pribadi, tidak di-reimburse, untuk mengganti BBM yang saya pakai ke mall atau perjalanan non-dinas lainnya. Saya tahu perhitungan saya tidak akurat benar, tapi paling tidak dengan cara itu, jauh lebih mudah bagi saya untuk membuat lembaga yang saya pimpin menjadi lebih 'bersih' dan berkembang.

Jika anda belajar tentang manajemen strategi atau manajemen pemasaran baik di kuliah ataupun membaca buku, biasanya disebutkan aneka tujuan perusahaan : profit, pertumbuhan, pangsa pasar, kepemimpinan pasar, dan seterusnya sampai kepuasan pelanggan. Tapi ada satu tujuan perusahaan yang menurut saya seharusnya ada tapi tidak pernah masuk ke konsep di buku atau di kuliah itu. Saat mengajar di MM-UI, saya menambahkan satu lagi tujuan perusahaan yang harus disetel oleh para stakeholders-nya, yaitu 'keberkahan'. Berkah, berarti akan terjadi perkembangan yang berkesinambungan (sustainable growth) yang membahagiakan seluruh stakeholders.

Harta yang berkah adalah harta yang diperoleh dan dibelanjakan sesuai dengan hak kita. Kalau ada yang memberi 'sesuatu' (di luar gaji dan honorarium) kepada kita, periksa dulu motif dan konteksnya. Caranya ? Coba saja tanya kepada diri kita sendiri, seandainya saya tidak berada pada jabatan ini, apakah orang itu akan memberi 'sesuatu' itu kepada saya ? Kalau jawabannya tidak, berarti 'sesuatu' itu bukan hak saya. Anda boleh mengatakan itu masih grey area, tapi buat saya sudah jelas itu black area. ***

Orang rumah

Dari metodologi penelitian sederhana yang saya lakukan melalui observasi, wawancara, eksperimen, ditambah experience, diperoleh kesimpulan tiga penyebab utama mengapa pembantu rumah tangga dan atau sopir keluar atau mengundurkan diri dalam waktu singkat, alias tidak betah.

Penyebab pertama adalah majikan cerewet. Mendengar kata 'cerewet', ini tidak usah didefinisikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kita definisikan secara liar saja, yaitu perintah atau bicara dengan topik berulang-ulang, atau memberi komentar atas sesuatu yang tidak perlu atau sudah tidak perlu diberi komentar lagi. Lalu bagaimana kalau sudah diberitahu berkali-kali tapi pembantu tetap tidak bisa ? Itu berarti kita perlu kreatif mencari cara lain untuk membuat mereka tertantang untuk mau bisa dan menjadi bisa.

Penyebab kedua adalah pembantu atau sopir tidak diberi kesempatan berprestasi dan berkembang kompetensinya. Kalau pekerjaannya dianggap oleh majikan belum memenuhi harapan, yang terjadi adalah majikan langsung kudeta dan mengerjakan sendiri pekerjaan pembantu tadi (tanpa kehadiran sang pembantu), atau dimarahi, dihakimi, dikomentari, diomeli, tapi tidak diberi petunjuk atau contoh atau demo cara dan hasil yang diharapkan.

Lalu, kalau pembantu atau sopir berbuat kesalahan, kalimat yang muncul pertama kali dari majikan adalah 'kok' ditambah 'sih'. 'Kok' setrikaannya nggak rapih begitu sih ? Apalagi waktu mengucapkannya disertai ekspresi menyalahkan. Lalu bagaimana sebaiknya ? Sebaiknya nyatakan kinerja dia menurut harapan kita, misalnya 'baju ini masih kusut'. Jangan berhenti sampai di situ. Beritahu apa yang perlu dia lakukan. "tolong diperhalus lagi ya ...". Kalau masih belum halus juga, tunjukkan cara mengerjakannya. Kalau hasil pekerjaan sesuai dengan harapan, akui dan beri penghargaan dengan mengucapkan, "Ya, ini sudah halus. Bagus sekali. Nanti kalau menyeterika seperti ini ya ... Makasih ya ..".

Ketiga, kurang diperhatikan hajat hidupnya, terutama makan, pakaian, dan alat kebersihannya. Makan adalah simbol utama hajat hidup manusia sebagai mahluk. Umumnya pembantu makan setelah majikan makan, dan mendapat 'sisa'. Kalau majikan telat makan, pembantu akan lebih telat lagi. Padahal, makan adalah modal mereka mendapatkan kekuatan untuk melakukan pekerjaan yang bersifat fisik. Bisakah mereka makan tepat waktu tanpa tergantung dari apakah majikan sudah makan atau belum ?

Yang lebih mendasar dari semua itu adalah, bagaimana kita memandang pembantu rumah tangga dan sopir ? Mitra binaan ? Mitra kerja ? memiliki derajat yang sama dengan kita ? Atau memang di bawah sadar kita mereka adalah 'alat' kepentingan kita dan derajatnya di bawah kita ? Kita melihat mereka sebagai 'fisik' atau lebih dari itu, bahwa mereka punya 'otak', 'perasaan', dan 'jiwa' ? ***

Turun ke bumi dong

Selesai Imam mengucapkan salam pada saat sholat Iedul Adha, tidak ada satu menit, satu per satu beberapa jemaah berdiri dan beranjak meninggalkan mesjid. Jumlahnya cukup banyak, dan saya kira 90% berjenis kelamin perempuan.

Saya seratus persen memilih sangkaan bahwa jemaah perempuan itu TIDAK TAHU bahwa yang namanya Sholat Ied, baik Iedul Fitri maupun Iedul Adha, adalah satu paket dengan mendengar khotbah. Ibarat mandi, yang namanya mandi itu ya sabunan dan bilas. Bayangkan kalau anda keluar setelah sabunan tanpa bilas ?. Kalaupun jemaah itu tahu bahwa rukun sholat ied itu sampai khotbah selesai dan ia tetap beranjak pulang, sekali lagi saya memilih sangkaan ia harus buru-buru pulang karena hal-hal yang tidak bisa ditinggalkan (tapi apa ya ?). Perkara sholatnya diponten Allah bagus atau tidak, itu bukan bagian dari job description saya untuk menilai.

Saya tidak ingin membahas lebih lanjut perilaku jemaah yang seperti itu. Justru saya sedang mempertanyakan dalam hati, mengapa sang pengkhutbah asyik mengupas makna Hari Raya Qurban, tapi membiarkan perilaku jemaah yang terang-terangan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku ini. Kalau saya jadi khotib, saya pasti memberitahu hal-hal 'kecil' ini agar mereka tahu. Kalaupun sudah diberi tahu tapi mereka tetap nekat, ya sudah. Seseorang akan mendapatkan apa yang dikerjakannya sendiri.

Kalau kita menanam pohon pepaya maka yang membuat buah pepaya itu muncul di hadapan kita pengetahuan asal-usul, manfaat, dan filosofi pepaya, atau pengetahuan tentang tindakan menanam pepaya? Tentu saja yang kedua. Dan tentu saja setelah tahu, agar buahnya muncul, harus disusul dengan action. Biarpun anda sangat paham tentang teknik dan metodologi menanam pepaya yang paling the best, tapi anda tidak ambil cangkul, menggali, menanam biji, memupuk, dan menyiram tanaman pepaya, niscaya tidak ada yang namanya pepaya di hadapan anda (kecuali anda beli -- itupun suatu tindakan bukan ?).

Bagi saya, tentu bagus apabila khottib, da'i, ulama, ustadz, mengangkat tema-tema meningkatkan iman dan takwa. Yang sering, ide pokok khotbah yang tergambar adalah bahwa kita harus mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya. Mengawang-awang. Tapi lebih bagus lagi langsung memberi tahu perilaku mana yang dikatakan mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya, langsung ke keseharian kita.

Kalau bicara iman misalnya, ya bicara disiplin dan menghormati orang lain. Itu berarti langsung saja bicara soal antri, ikuti rambu lalu lintas, tidak menyerobot, kalau beli barang kantor kuitansi sesuai harga, tidak dinaik-naikkan, buang sampah di tempat sampah, merokok tidak di tempat khusus, bukan di bis atau restoran ber-AC, mematikan handphone waktu rapat, kencing disiram (ini saja kok masih harus diingatkan ?), dan perilaku-perilaku yang tampak dan faktual lainnya. Penjelasan tadi lengkap dengan latar belakang, dampak, tujuan, baru dasar ayat-hadits-nya. Dengan demikian akan jarang terdengar kata 'jangan', dan 'harus'.

Apa sebegitu 'parah'nya tingkat berpikir masyarakat kita, sehingga harus dituntun dengan jelas apa yang perlu dilakukan dan dihindarkan? Bukankah itu sama dengan menganggap masyarakat kita masih 'anak kecil' ? Hehehehe ... anda punya cara lain ?

Rabu, Desember 19, 2007

Hidup Indah Tergantung Arti

Kalau ada seseorang menangis, lalu ditanya, ada apa ? dia menjawab saya dihina oleh teman saya, maka yang membuat dia terhina apa ? kata-kata temannya itu ? Bukan. Tapi arti yang ia berikan kepada kata-kata temannya itu yang membuat dia marah atau tidak. Kemarahan yang dibatasi oleh ketidakberdayaan untuk melawan, jadinya ya menangis itu.

Kalau begitu bukan kata-kata orang lain yang membuat kita terhina ? Yup. Coba lihat dua orang baru saling bertemu, lalu salah satunya mengatakan ”Asu” kepada seorang lagi. Anda tahu 'Asu' ? Itu Bahasa Jawa yang artinya ’anjing’. Anehnya, orang yang dibilang ’asu’ tadi malah ketawa-tawa, lalu mendekati orang itu, mereka lalu ’tos’, dan salaman.

Kok orang disebut ’asu’ bisa malah ketawa-ketiwi ya ?. Rupanya mereka sudah akrab lama. Bagi mereka, ungkapan 'asu' berarti suatu ekspresi keakraban. Lain halnya kalau saya baru kenal anda, lalu anda saya bilang ’asu’. Mungkin cerita kita berakhir di rumah sakit atau malah kuburan. Inipun saya juga masih berskenario menurut peta yang ada di pikiran saya. Belum tentu reaksi anda seperti yang saya kira bukan ?. Di sini arti yang diberikan kepada suatu kata juga tergantung frame/konteks. Dalam kasus 'asu' di atas, konteksnya adalah dua orang yang sangat akrab sejak lama.

Kita selalu bereaksi berdasarkan peta internal kita akan suatu kejadian, bukan kejadian itu sendiri. Misalnya ada orang bilang anda ’belagu lu’. Maka di peta internal yang ada dipikiran tergambar apa ? Suatu upaya orang menjatuhkan anda ? Orang itu merendahkan anda ? Atau orang itu sedang merendahkan dirinya sendiri ? Atau anda mendapat informasi/feedback bagaimana ’penampilan’ anda di hadapan orang itu ? Pentingkah orang itu ? dst.

Anda bisa saja menggambarkan di peta internal bahwa anda sedang direndahkan, sehingga anda terhina. Kalau yang tergambar seperti itu, otomatis anda menjadi marah, dan selanjutnya anda menyerang balik, lalu hasilnya permusuhan.

Kalau yang tergambar di peta internal anda adalah orang itu sedang merendahkan dirinya sendiri – maksudnya ? ’kan ibarat teko berisi teh, maka apa yang keluar dari mulut teko memberitahu isi teko itu. Maka, kalau seseorang mengumpat orang lain, ia sedang memberitahu orang lain ’isi’ dari dirinya. Kalaupun orang itu anda percayai, setidaknya kata ’goblok lu’ bisa anda gambarkan di peta internal anda sebagai informasi umpan balik atau feedback bahwa anda perlu banyak belajar. Dampak dari tergambarnya peta pikiran anda seperti itu adalah perasaan anda menjadi lebih positif, anda mungkin bertindak lebih produktif, dan hasilnyapun bagus untuk kehidupan anda selanjutnya.

Di sini muncul formula : what you see (in your internal map) is what you feel, is what you do, is what you get. Jadi tafsir, makna, arti anda terhadap suatu kejadian, menentukan perasaan anda, lalu menentukan apa yang akan anda lakukan, dan menentukan apa yang akan anda dapatkan (hasil).

Kalau di peta internal seorang anak, sebuah pelajaran sekolah tergambar sulit (karena guru fokus kepada rumus, bukan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari), menegangkan (karena sikap si guru), menyakitkan (karena guru suka menjewer), maka perasaannya si anak jadi negatif. Kalau sudah bete, kemungkinan besar anak menjadi takut sekolah dan pasrah. Kalau emosi ditekan, kemampuan otak ada pada otak reptillian – bukan neo-cortex (kreasi) atau mammalian (merasa) --. Otak reptillian adalah otak pertahanan diri/survival. Sebagaimana reptil, untuk mempertahankan diri, reaksinya ada dua : menyerang atau lari.

Sikap takut sekolah dan pasrah itu ciri-ciri reaksi lari. Kalau sudah begini, mungkinkan anak dapat nilai tinggi ? Rasanya sulit. Kecuali kalau anak dibantu untuk menafsirkan ulang kondisi yang dihadapinya di sekolah tadi. Kejadian itu kalau ditafsirkan sebagai tantangan, dan betul-betul tantangan real, lengkap dengan sumber daya yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan tadi, bisa jadi semangat belajar si anak berubah tinggi. Kalau sudah semangat, kira-kira apa yang akan dilakukan anak tadi ? Lalu bagaimana hasil belajarnya ?.


Tapi sebenarnya yang lebih penting hal ini jadi masukan untuk para guru. Guru pun perlu menggambarkan dulu di peta internalnya, bahwa yang namanya mengajar itu sasarannya sekadar menyampaikan materi sesuai kurikulum, atau agar siswa memahami materi, atau lebih dari itu : mentransformasikan seorang anak ke level kompetensi yang lebih tinggi.

Jadi bagaimana anda memandang putus cinta ? ditolak prospek ? dimarahi boss ? Ingat saja cara mengecek apakah tafsir anda sudah bermanfaat atau belum. Saya katakan bukan tafsir yang benar, karena benar itu relatif dan debatable. Anda bilang benar, orang lain belum tentu benar. Supaya bermanfaat, tanya saja, kalau saya artikan seperti ini bagaimana perasaan saya ? apa dampaknya ? apa hasilnya ? Kalau mendatangkan kebaikan (ini juga baik menurut anda belum tentu baik menurut orang lain), maka tafsir anda sudah bermanfaat. Baik di sini adalah baik bagi anda sendiri dan orang lain -- Win-win. Sama-sama menang. Jangan anda menang sendiri, atau anda kalah.

Senin, Desember 17, 2007

Kalau mau benar-benar menatap ke depan

Sahabat saya, Ana Mustamin, menulis di situsnya (http://www.ryanamustamin.com) soal kegundahan yang sedang dialami kawan-kawan di Bumiputera. Pemilihan direksi baru oleh Sidang Luar Biasa Badan Perwakilan Anggota (semacam RUPS di PT) menelurkan berita mengejutkan. Dua dari enam anggota direksi berasal dari 'luar'. Selama ini yang menjadi direksi berasal dari dalam yang bertahun-tahun berpeluh dan berjuang menunjukkan dedikasi dan loyalitasnya. Beberapa hari yang lalu saya juga mendapat sms yang sama. Isinya 'Kenapa kok jadinya seperti ini? Mau dibawa kemana perusahaan kita? Kenapa kita kok diam aja?'.

Saya paham dengan kegundahan ini, karena saya termasuk di dalamnya. Ada yang melihat indikasi orang luar itu 'bawaan' salah seorang anggota BPA. Ada kekhawatiran lima tahun lagi, bisa-bisa seluruh anggota direksi berasal dari orang luar. Apa yang salah ? .. Secara hukum dan organisasi tidak ada yang salah, karena di dalam Anggaran Dasar termuat bahwa direksi diutamakan dari karyawan, bukan harus berasal dari karyawan. Itu adalah kewenangan Sidang Luar Biasa BPA untuk memutuskan.

Karena keputusan sudah diambil, maka tidak lagi berguna kalau kita bertanya 'kenapa', sebab tidak mengubah apapun. Waktu kita bisa terkuras untuk saling menyalahkan. Lebih bermanfaat kalau kita tanya 'bagaimana'. Ada banyak pilihan pertanyaan dengan menggunakan kata 'bagaimana'. Kalau mau cari ribut, bisa memulai dengan 'bagaimana agar orang luar itu terdepak ?'. Tapi kalau mau damai, pertanyaannya menjadi 'bagaimana agar orang luar itu bisa kompak dengan orang dalam?. Lalu 'bagaimana agar tim dari luar bisa bermanfaat secara maksimal untuk kepentingan Perusahaan ?'. Bisa juga 'Bagaimana supaya tim direksi bekerja benar untuk kepentingan Perusahaan ?'. Lantas bisa lanjut ''bagaimana agar lima tahun lagi seluruh anggota direksi kembali dari orang dalam ?'.

Kalau pertanyaan terakhir itu yang ada di kepala kita, maka solusi kreatif akan berseliweran di sekitar kita. Mulai dari bagaimana agar seluruh kader-kader yang ada membuka mata dan pikiran akan pentingnya belajar dan mengembangkan diri secara proaktif, lalu bekerja dengan profesional agar 'dunia luar' melihat kepiawaian kita mengoperasikan dan mendorong kecepatan kinerja Perusahaan, sampai akhirnya muncul kandidat-kandidat pemimpin yang unggul dengan kemampuan di atas rata-rata. "Seng ada lawan", orang Ambon bilang.

Siapa bilang tidak ada lawan ? ... Ada sih, yaitu politik uang. Nah, berarti bisa dilanjut pertanyaannya dengan 'bagaimana agar dalam pemilihan direksi lima tahun mendatang bebas politik uang ?". Dengan pertanyaan tadi bisa jadi akan muncul sistem dan 'kekuatan' lain yang mengontrol perusahaan agar terbebas politik uang yang mungkin saja terjadi di setiap pemilihan pemimpin apapun.

Jadi yang tanya 'kenapa' tadi salah dong? Ya nggak, itu kan membuat kita jadi jeda sebentar untuk introspeksi. Kalau mau melangkah ke depan, pertanyaannya bukan itu lagi. Lagipula kalau tidak ada pertanyaan seperti itu mana ada tulisan ini...***

Pulang

Kita ini ibarat anak-anak yang disuruh ibu kita bermain-main di pekarangan rumah. Tuhan adalah Ibu kita. Dunia seperti pekarangan rumah kita. Kita sebagai anak-anak senang sekali bermain-main di pekarangan. Saking asyiknya bermain, kita sering sampai lupa bermain kotor. Main di tanah, di comberan. Badan kita penuh debu, tanah, kotoran.

Tiba waktunya Sang Ibu untuk memanggil kita masuk kembali ke rumah. Tapi Ibu kita itu Maha Bersih dan Maha Suci. Untuk kembali masuk ke rumah, kita anak-anakNya juga harus bersih dan suci. Ada dua cara untuk membuat diri kita bersih sebelum masuk rumah. Pertama, kita sendiri yang membersihkan diri dulu, dengan cara minta ampun atas semua salah. Kedua, kita 'dimandikan' Ibu kita dengan cara diberi sakit. Kalau kita sabar dan ikhlas, maka kotoran-kotoran akan hilang seperti habis dimandikan. Setelah bersih, baru kita dipersilakan masuk kembali ke pangkuan Ibu dengan perasaan kangen dan bahagia.

Nasihat itu meluncur dari mulut Prof. Dr. Jalaluddin Rachmat atau akrab dengan sapaan Kang Jalal pada awal 2001 di RSCM. Kang Jalal yang punya 'nama besar' itu dengan ikhlas memenuhi permintaan saya untuk memberi penguatan rohani langsung kepada ayah saya saat diopname akibat sirosis hati yang baru diketahuinya. Saat itu, ayah saya cemas luar biasa dan merasa hidupnya sebentar lagi. Nasihat itu begitu sederhana namun mengena. Penyakit yang dideritanya rupanya adalah cara Tuhan untuk membersihkan segala dosa-dosanya. Sejak itu ayah saya tegar dan ikhlas, hingga akhirnya empat tahun kemudian benar-benar kembali ke pangkuan Bunda.... Kata dokter, teman-teman 'seangkatannya' hanya bertahan paling lama dua tahun.

Terimakasih Allah, sudah memberi kesempatan kepadaku untuk mengabdi dan membalas jasa ayahku dengan merawatnya empat tahun terakhir.

Berkendara Cerdas

  1. Persiapan yang matang

1.1. Sebelum berangkat menuju tempat tujuan, perhitungkan mau lewat jalan mana, potensi hambatan yang mungkin terjadi, masuk tol mana sehingga uang tol sudah dipersiapkan sejak belum berangkat.

1.2. Jika tidak tahu tempatnya, pelajari di peta terlebih dahulu.

  1. Perhatikan etika berkendara, jaga perasaan dan kepentingan masyarakat yang lebih luas, hindari sikap egois dan mau menang sendiri, atau menampakkan kebodohan diri.

2.1. Penggunaan lampu dim dan klakson seminimal mungkin, jangan terlalu sering. Sebelum membunyikan klakson atau menyalakan lampu dim, cek/lihat dulu di depan, apakah kendaraan di depan memang lambat, atau karena ada hambatan lain. Jika ada hambatan lain, misalnya menunggu mobil depannya parkir/memutar/masuk jalur, kita perlu bersabar, jangan membunyikan klakson/menyalakan lampu dim, nanti kita disangka orang yang bodoh dan egois.

2.2. Ikut antrian, terutama jika jalan sempit. Jangan keluar dari antrian kecuali jalannya memang untuk dua jalur.

2.3. Jangan masuk jalur busway yang aktif meskipun dipersilakan polisi (kecuali jalur busway yang belum digunakan).

2.4. Utamakan/dahulukan pejalan kaki yang minta jalan/menyeberang

2.5. Jika ada kendaraan yang ingin masuk jalur dengan sopan (menyalakan lampu sign), beri kesempatan.

2.6. Jika ada kendaraan lain menyerobot atau melanggar lalu-lintas/tidak sopan, jangan beri kesempatan. Enak aja lu

2.7. Jangan berjalan lambat di lajur kanan. Kalau mau lambat, ambil lajur lebih kiri.

2.8. Jika ada kendaraan di depan berjalan lambat di lajur kanan, beri tanda (lampu + klakson jika siang hari atau hanya lampu jika malam hari) agar ybs pindah ke lajur lebih kiri (kecuali kendaraan tentara/POLRI – berani ?)

2.9. Kalau mau menyalib harus berhasil. Pastikan ada ruang yang cukup untuk berhasil menyalib dengan menambah kecepatan, jangan main pindah jalur mau menyalib tanpa diperhitungkan tapi tidak berhasil karena terhambat mobil di depannya yang berjalan lebih lambat, itu namanya memalukan karena bisa disangka bodoh, tidak bisa perhitungan.

2.10. Khusus motor, jangan menyerobot, hormati kendaraan lain yang minta jalan. Kalau mau zigzag di antara mobil-mobil di kala macet, hati-hati jangan sampai menggores kendaraan lain.

2.11. Sampah disimpan dulu di kendaraan, jangan dibuang di jalan

  1. Mencegah diri kita menjadi penyebab kecelakaan atau korban kecelakaan

3.1. Lihat pandangan sejauh mungkin, jangan hanya 1-2 kendaraan di depan (rawan kecelakaan), sering-sering melihat sekeliling, sehingga juga bisa hafal nama-nama jalan dan nama-nama tempat/gedung penting. Lakukan analisis sebelum bertindak.

3.2. Jaga jarak dengan kendaraan depan 2-3 detik.

3.3. Ketika berhenti (lampu merah, macet) jarak dengan kendaraan di depan adalah : jika masih bisa melihat ban belakang mobil depan kita. Tujuannya : jika ada apa-apa di depan kita (mogok) kita bisa langsung keluar dari barisan.

3.4. Jangan sering pindah-pindah lajur terutama di tol, apalagi ambil lajur badan jalan paling kiri tanpa alasan yang kuat.

3.5. Kalau mau pindah jalur/belok, sudah menyalakan lampu sign dari jauh. Jangan mendadak (ini kok masih diingatkan ya ?)

3.6. Antisipasi di depan kondisi lalu lintas seperti apa, apakah ada pertigaan, perempatan, dll, sehingga dari jauh-jauh sudah ambil ancang-ancang/berada di jalur tersebut.

3.7. Kalau mau belok kiri atau kanan, jangan memotong, tapi dari jauh sudah berada di lajurnya. Misalnya di depan mau belok kiri, maka ambil lajur kiri, jangan main potong dari kanan langsung ke kiri. Itu namanya bikin susah orang lain.

3.8. Abaikan panggilan telepon/sms jika berkendara di jalan yang lancar, apalagi di tol. Kalau terpaksa, terima panggilan telepon saat kendaraan sedang berhenti (lampu merah, atau macet berat).

3.9. Jika ada anak kecil atau orang tua di depan kita, ekstra hati-hati. Perlambat kecepatan dan siap dengan rem. Perilaku tak terduga bisa saja terjadi (tahu-tahu menyeberang).

Minggu, Desember 16, 2007

Tantangan Mengelola Orang

Seorang pegawai merasa gundah. Pasalnya, ia baru saja menyampaikan isi pikiran dan hatinya kepada atasannya. Pagi-pagi buta ia beranjak dari rumahnya ke kantor. Ia seperti berlari mengejar dan dikejar sesuatu. Ia mengejar supaya bisa tiba di kantornya tepat waktu. Paling tidak masih ada waktu sedikit buat sarapan. Ia juga dikejar oleh banyaknya penumpang yang rebutan bis yang kian sedikit saja jumlahnya. Belum lagi kalau jalanan macet atau bisnya mogok. Tempat duduk dan jalanan yang tiba-tiba lancar adalah barang langka, yang kalau ‘rejeki’ itu pas datang merupakan hiburan yang nikmat tiada tara.

Karena unit kerjanya mempunyai kesibukan yang tinggi, biasanya ia pulang habis magrib atau lebih malam lagi. Begitu hari-hari yang ia lewati, sehingga kebersamaan dengan keluarganya begitu singkat. Tidak ada tambahan uang lembur atas ‘kelebihan waktu’ yang diberikannya kepada perusahaan, sehingga penghasilannya hanyalah dari gaji yang sudah dipotong pajak dan hutang sana-sini. Ia kadang-kadang menahan lapar karena tidak makan siang, atau membawa ‘ompreng’ untuk dimakan separuh waktu pagi, dan sisanya dimakan waktu siang. Ia teringat harus menyisihkan uangnya untuk anak-anaknya bisa sekolah dan makan keluarganya sehari-hari ditengah harga-harga yang kian melambung.

Selama ini ia berusaha menjadi pegawai yang baik. Datang, bekerja dan pulang dengan tekun dan disiplin. Ia berharap sikapnya ditiru teman-temannya, sehingga perusahaan tempatnya bekerja menghasilkan keuntungan, minimal efisiensi, sehingga para karyawan bisa menikmati bonus atau insentif. Tapi tahun itu tidak ada insentif. Ia teringat salah seorang anaknya yang mau masuk SMA yang membutuhkan ‘uang pangkal’ untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Bonus/Insentif tahunan yang sudah ‘dijagain’ ternyata lewat begitu saja.

Ketika ia menyampaikan kesulitannya kepada atasannya, sang atasan menasehati agar ia bekerja dengan loyal dan ikhlas karena bekerja adalah ibadah. Ia gundah. Ia merasa mendengar sesuatu yang tampaknya benar, tetapi merasa ada sesuatu yang ’salah’ dengan pengertian ibadah, ikhlas dan loyal yang dikemukakan atasannya tadi.

Kejadian di atas bukan cerita fiktif atau drama. Kejadian di atas benar-benar dialami oleh seorang pegawai di sekitar kita. Perusahaan menghadapi empat tantangan besar, yaitu bagaimana dirinya bisa berkembang menjadi perusahaan yang makin besar dan kuat, bagaimana Perusahaan bisa memuaskan dan menyenangkan konsumennya, bagaimana perusahaan bisa memuaskan para investornya, dan bagaimana perusahaan memuaskan para karyawannya.

Menurut sebagian besar ‘ulama’ bisnis dan manajemen, untuk bisa mencapai keempat-empatnya harus dimulai dari bagaimana memuaskan dan me-loyal-kan konsumennya. Karena konsumen yang loyal sebagai sumber pendapatan akan memperkuat ‘pundi-pundi’ perusahaan yang pada akhirnya akan memberi kesejahteraan kepada karyawan maupun investor.

Tapi bagaimana membuat konsumen puas dan loyal ? Stephen R. Covey dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People” menyebutkan “Anda harus memperlakukan karyawan anda persis seperti anda menginginkan ia memperlakukan pelanggan terbaik anda”. Rupanya untuk membuat konsumen puas dan loyal adalah dengan membuat karyawan puas dan loyal pula.

Dalam sebuah pendidikan manajerial di Yogyakarta baru-baru ini, salah seorang peserta bertanya, “Apa yang dimaksud dengan loyalitas karyawan ?”. Saya memaklumi beliau mengatakan begitu karena doktrin ‘loyal’, ‘ikhlas’ dan ‘ibadah’ di perusahaannya akhir-ahir ini begitu gencarnya. Saya menerangkannya justru dengan pengertian loyalitas konsumen. Bahwa konsumen yang loyal dihasilkan dari konsumen yang puas. Tapi konsumen yang puas saja tidak menjamin ia menjadi loyal. Mungkin saja ada seseorang yang puas menginap di suatu hotel, tetapi karena ada hotel lain yang menawarkan konsep yang ‘berbeda’, maka ia tergoda untuk berpindah ke hotel lain itu. Ia bukannya tidak puas dengan hotel lama, tetapi kebetulan ada hotel ‘baru’ yang menawarkan value yang lebih baik. Jadi untuk membuat konsumen loyal, ia harus terus disenangkan dengan ‘perceived value’ yang lebih ‘pas’ dibandingkan pesaing hingga ia menjadi loyal bahkan menjadi ‘advocate’ bagi perusahaan. Value disini tentu saja bukan terbatas pada benefit yang bersifat fisik dan material, tetapi termasuk yang bersifat emosional dan batiniah.

Begitu juga karyawan yang loyal, harus dimulai dari karyawan yang puas. Karena kepuasan ini letaknya di dalam ‘hati’, maka loyalitas tidak bisa disuruh atau diminta. Loyalitas harus diciptakan. Berikan mereka ‘value’ yang pas. Dan mengukur loyalitas dengan indikator tingkat drop-out karyawan tidak sepenuhnya tepat, karena kemungkinan mereka tidak mau hengkang dari perusahaan justru karena takut bersaing atau karena memang tidak laku di pasar tenaga kerja. Kalau mau mendapatkan informasi mengenai tingkat loyalitas karyawan di perusahaan, riset sumber daya manusia untuk mengukur tingkat kepuasan dan loyalitas perlu diadakan.

Membangun loyalitas karyawan juga harus diikuti dengan membangun kompetensi karyawan. Kalau karyawan loyal tetapi tidak tahu dan terampil bagaimana caranya melayani dan memuaskan konsumen, perusahaan juga rugi. Kalau karyawan loyal tapi perusahaan tidak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan dan tuntutan lingkungan - apalagi kalau bisa mendikte lingkungannya - maka lama kelamaan perusahaan akan tersingkir dari arena bisnis.

Dalam era learning organization, tanggungjawab untuk mengembangkan manusia di dalam perusahaan bukan hanya terletak di tangan perusahaan. Karyawan juga bertanggungjawab. Perusahaan memandang karyawan sebagai konstituen inti penggerak perusahaan yang harus terus menerus dikembangkan melalui intellectual investment, karyawan memandang perusahaan sebagai ‘ladang’ untuk ditanami melalui produktivitas, sehingga ia bisa ‘menuai’ kesejahteraan lahir batin. Tetapi masing-masing tidak perlu saling menuduh mana yang harus duluan. Harus sama-sama. Ini seperti telur dan ayam. Cukuplah kita berpikir kalau punya telur bagaimana supaya telur itu menetas dan menjadi ayam yang sehat, dan kalau punya ayam bagaimana ayam itu kita buat sehat sehingga menghasilkan telur yang baik.

Sebenarnya atasan si pegawai tadi bisa saja tidak serta-merta memberi khotbah dan nasihat. Ia akan mendengarkan dengan aktif si pegawai dan meneguhkan perasaannya, lalu ia berusaha mengungkapkan pemikiran-pemikiran pegawai untuk memecahkan persoalan dirinya, baik yang menyangkut pribadi maupun perusahaan. ***

Jangan ngotot dengan teori di buku

Persis di depan saya ada sebuah mobil yang berjalan di belakang sebuah truk semen yang berjalan lambat. Truk, mobil itu, dan saya sedang berjalan di lajur kanan. Mobil itu membunyikan klakson sambil menyalakan lampu dim berkali-kali. Ia rupanya minta jalan dan ngotot truk semen itu berpindah ke lajur kiri karena ia ingin menyalib.

Saya paham maksud dari mobil di depan saya tadi. Sayapun juga kerap melakukan 'intimidasi' kepada mobil yang berjalan lambat di lajur kanan. Kalau emosi saya sedang membajak pikiran saya, seringkali saya mengumpat mobil depan saya dalam hati sebagai mobil tidak tahu aturan. Yang namanya menyalib itu ya dari kanan. Kalau mau berjalan lambat ya di sebelah kiri biar tidak menghambat mobil lain yang lajunya lebih cepat. Mobil depan berjalan lambat di lajur paling kanan buat saya lebih menyebalkan daripada mobil yang menyerobot dari badan jalan sebelah kiri. Dalam reframing saya (reframing = penafsiran dari sisi yang bermanfaat), bisa saja saya mengubah arti bahwa mobil yang menyerobot dari kiri di kala macet tadi adalah mobil pasien atau dokter yang sedang buru-buru ke rumah sakit (kecuali angkot). Tapi mobil yang berjalan lambat di sebelah kanan di-reframe apa ya ? Sang pengemudi mobil tidak terampil atau takut ngebut ? Kalau memang begitu, semestinya ia berjalan di lajur lebih kiri.

Dalam beberapa kesempatan contoh mobil yang berjalan lambat di lajur kanan ini saya sertai dengan dogma agama : "tidak akan diterima ibadah seseorang apabila seseorang itu mengganggu tetangganya", dimana tafsir tetangga itu tidak harus tetangga sebelah rumah, tetapi orang lain yang berdekatan dengan kita. Pak Widodo, kolega saya yang anggota TNI mengatakan seandainya saya bisa mengajar para anggota TNI dengan ajaran dan contoh tadi, mungkin sangat bagus karena katanya banyak anggota TNI yang berjalan lambat di jalur kanan (siapa yang berani mengklakson mobil tentara ?). Sambil bercanda saya bilang, begitu saya selesai mengajar di lembaga Bapak, di tempat parkir ban mobil saya sudah kempes (inipun sebenarnya kelakar yang terjebak persepsi).

Kembali ke mobil di belakang truk semen tadi. Setelah puas melihat kelakuan mobil tadi, saya langsung melihat ke spion kiri -- aman -- lalu menyalib mobil dan truk semen tadi dari kiri. Lho? kok malah menyalib dari kiri ? Bukankah itu tidak sesuai dengan aturan lalu lintas ?. Nah, inilah mengapa kita tidak boleh menggunakan teori dari buku saja. Pahami juga situasi lapangan untuk menjustifikasi hal-hal yang tidak diajarkan di buku. Memang benar menurut teori aturan lalu lintas menyalib harus dari kanan, tidak boleh dari kiri. Tapi kebetulan saya tahu 'teori lapangan' atau 'aturan tidak tertulis' yang mungkin saja tidak diketahui oleh mobil di belakang truk semen tadi. Tapi syaratnya tetap harus tahu teori yang benarnya dulu. Sebab, kalau hanya mengandalkan pengalaman lapangan, nanti di tempat dimana teori yang benar bisa dan harus diterapkan, kita masih menggunakan teori lapangan tadi.

Sebentar ... Anda tahu dimana saya berada ? Benar, saya sedang ada di jalur Pantura dari Jakarta menuju Semarang ...***

Catatan : Di Pantura, kendaraan besar seperti truk dan bis default-nya di jalur kanan karena kalau di jalur kiri malah lebih membahayakan.

Long time no see

Pernahkan anda datang ke suatu acara reuni SMP atau SMA atau kuliah, dimana berkumpul teman-teman yang berasal dari belasan bahkan puluhan tahun yang lalu, lantas bertemu dengan seseorang dan anda merasa tidak enak berhadapan dengannya, persis seperti belasan atau puluhan tahun yang lalu anda juga tidak enak bersama dia ? Kalau dulu anda kecewa karena cinta anda ditolak, atau anda tidak suka karena menganggap teman anda itu belagu, maka perasaan tadi muncul kembali, meskipun kadarnya sudah tidak terlalu sama dengan yang dulu. Kalau itu yang anda alami, berarti normal.

Perasaan menggambarkan apa yang ada di pikiran anda. Pikiran ibarat komputer. Image terakhir tentang teman anda lengkap dengan sekumpulan karakter, perilaku, cerita emosional, dan perasaan anda seputar teman anda itu di 'save' di pikiran bawah sadar. Kalau anda tidak pernah bertemu atau mendengar lagi berita teman anda itu, maka ketika anda retrieve lagi file orang itu di memory jangka panjang anda, maka ketika anda ingat orang itu, sekumpulan gambaran dan perasaan tentang orang itu muncul kembali. Persis seperti anda meng-klik icon di layar komputer, lalu terpanggilah seluruh tampilan dan program yang menyertainya.

Salahkah ? Oh, ini bukan soal salah atau benar, karena itu adalah cara pikiran bekerja. Bermanfaatkah ? Nah, ini pertanyaan yang tepat. Masalahnya adalah orang bisa berubah. Peta anda tentang orang itu puluhan tahun lalu kemungkinan besar tidak sama dengan orang itu yang sebenarnya sekarang. Tapi juga belum tentu tidak sama lho. Bisa sama. Kalau dulu belagu, suka pamer, meremehkan orang, sekarang mungkin rendah hati, tidak sombong, dan rajin menabung. Sebaliknya kalau dulu kelakuannya kayak ustad, bisa jadi sekarang malah bejat. Kalau sudah begini, peta anda menjadi tidak bermanfaat. Sama dengan anda menggunakan peta Jakarta 25 tahun lalu untuk menelusuri jalan-jalan Jakarta sekarang ini. Semakin cepat anda berjalan, semakin cepat kesasar karena peta yang anda gunakan sudah tidak sama dengan wilayahnya.

Itulah sebabnya saya anjurkan, ketika sebelum reuni, ada baiknya anda memvisualisasikan dalam pikiran anda (ambil waktu lima menit saja dalam keadaan rileks), anda memiliki perasaan positif kepada semua teman-teman anda, seperti bertemu teman-teman baru yang menyenangkan semua. Bayangkan bagaimana sikap, ekspresi, dan cara bicara anda bertemu dengan mereka. Bayangkan juga bagaimana menyenangkannya mereka bertemu anda. Perkara ada teman yang dulu baik sekarang belagu abis, itu urusan belakang.

Nah, yang rumit adalah ketika belakangan hari, setelah bertahun-tahun berpisah, anda baru ngeh (baca : tersadar) bahwa teman wanita anda itu menyukai anda, padahal waktu itu anda biasa saja sama dia, lalu anda tiba-tiba menyukainya dalam bayangan anda, dan ketika bertemu kembali di reuni itu perasaan anda berbunga-bunga, tapi wanita tadi sudah biasa-biasa saja sama anda .. (Tapi lebih apes lagi bahwa kesimpulan anda bahwa teman anda itu suka dengan anda hanyalah persepsi anda sendiri, bukan 'bocoran' pengakuan dia yang curhat ke teman anda yang lain ... Kata teman saya Dian, itu namanya Ge-er Akut ...***

Etika dulu baru aturan

Seorang teman yang baru pulang haji bercerita dengan penuh semangat dan bangga. Suatu ketika ia harus berada dalam antrian panjang. Saya lupa apakah antrian itu pintu keluar Bandara, atau justru memasuki suatu tempat tertentu. Hari itu hari Jumat. Jam sudah menunjukkan waktu sedikit lagi tiba saatnya Sholat Jumat. Ia bilang, ia ingin tidak ketinggalan Sholat Jumat. Lalu ia berdoa, Ya Allah, sempatkanlah aku sholat Jumat. Selesai berdoa, tiba-tiba ia mendapat wangsit. Ia keluar dari antrian dan langsung berjalan cepat menuju barisan depan, dan ... zappp ... dia masuk barisan dekat pintu depan. Akhirnya dia bisa Sholat Jumat di Masjid.

Mendengar ceritanya yang berapi-api itu, saya langsung tercenung. Seperti ada reaksi kimia tertentu di dada saya. Saya merasa ada yang salah dengan cerita itu. Sepintas, sepertinya ia 'diselamatkan' oleh Tuhan dari antrian untuk bisa sholat Jumat di mesjid. Tapi apa iya ya ? Karena dia keluar antrian dan langsung masuk lagi di barisan depan, yang saya namakan 'menyerobot' dan menurut tafsir saya berarti melanggar hak orang lain. Saya tidak tahu apakah para calon haji yang diserobot teman saya tadi rela atau tidak (tentu buat mereka itu merupakan ujian dan cobaan diserobot orang lain). Meskipun mereka ikhlas, tapi mereka juga punya keinginan yang sama, yaitu Sholat Jumat tepat waktu.

Saya jadi ingat ketika Kang Jalal dalam sebuah buku mengatakan bahwa akhlak (etika) itu didahulukan atas fiqih (aturan). Artinya, ketika kita berusaha menjalankan suatu standar operating procedure dari ritual agama, lalu konflik dengan etika, maka yang didahulukan adalah etika. Kalau saya jadi teman saya itu, maka saya akan tetap antri untuk mencapai pintu itu. Jika ternyata nantinya saya terlambat Sholat Jumat, ya tidak apa-apa, karena keterlambatan saya bukan karena disengaja.

Tapi ini tentu peta pikiran saya sendiri. Ini bukan soal teman saya itu salah atau tidak, diterima sholatnya atau tidak (Lha, masih mending dia sudah berangkat haji, daripada saya yang belum haji). Itu sama sekali bukan job description saya untuk memberi label. Itu hak Tuhan. Semoga saja teman saya yang berhasil sholat Jumat tepat waktu, dan jemaah lain yang diserobot namun ikhlas, sama-sama mendapat haji yang mabrur...***

Pingkan Dicubit

Masih ingat tulisan saya "Pingkan Mencubit" ?. Ini lanjutannya. Hari itu saya sedang memberi pelatihan di Solo ketika tiba-tiba ada sms dari Pingkan masuk ke ponsel saya. "Dear my client .. Mohon maaf untuk semua kesalahan saya. Saya pamit dari XXX per hari ini. Tq". Segera saya telepon Pingkan dan memang benar hari itu dia tidak lagi bekerja di fitness center yang banyak selebritinya itu, alias dipecat. Saya minta lusa dia ketemu saya untuk bercerita lebih detil sebab musabab dan kronologi peristiwanya.

Malamnya, saya di-sms Dewi, salah seorang klien Pingkan yang mengajak seluruh klien Pingkan menghadap manajemen pusat kebugaran tersebut. Keesokan malamnya dari Bandara saya langsung langsung bertemu para klien Pingkan yang sudah berkumpul di pusat kebugaran tersebut. Kami memprotes pemecatan Pingkan karena merasa dirugikan. Tidak hanya itu, kami melihat adanya ketidakwajaran dari substansi dan prosedur pemecatan. Dari investigasi kami, terdapat indikasi pemutarbalikan fakta dan tafsir sepihak dari manajemen perusahaan itu (sebenarnya ini bahasa halus dari sewenang-wenang). Beberapa hari kemudian klien Pingkan berbondong-bondong menandatangani petisi yang meminta Pingkan dipekerjakan kembali sebagai Personal Trainer.

Fenomena ini sempat membuat Personal Trainer lainnya mengirim sms ke Pingkan dan bertanya kenapa bisa-bisanya para klien berkumpul dan membela dia. Tapi Pingkan memang tidak pernah mengumpulkan klien dan meminta klien membela dia. Klien-lah yang berinisiatif untuk membela Pingkan.

Tapi saya tidak ingin membahas isi dan kelanjutan dari kasus Pingkan ini. Singkatnya, akhirnya Pingkan bisa bekerja lagi di pusat kebugaran tadi. Saya hanya ingin menyampaikan inilah akibat dari customer yang puas dari pelayanan kita dan akhirnya menjadi pembela kita. Pingkan memang berbeda dari Personal Trainer lainnya. Selain ramah dan fleksibel, dia juga open (bukan 'open' dalam Bahasa Inggris yang artinya terbuka, tapi 'open' -- pakai e taling -- dalam Bahasa Jawa yang artinya memperhatikan dan menjaga). Kalau klien sudah mulai jarang latihan, dia telepon. Dia menganggap klien teman dan klienpun akhirnya merasa nyaman dan menganggap Pingkan juga teman. Dia juga memegang etika pertemanan. Sesusah apapun, dia tidak pernah meminta sesuatu atau memanfaatkan pertemanannya dengan klien. Hal ini yang membuat hubungan Pingkan dengan para kliennya tidak terjebak kepada hubungan transaksional semata, tetapi sudah memasuki wilayah emosi dan batin -- sebuah modal untuk hubungan jangka panjang.

Kalau kita punya merek, kemudian hubungan antara merek kita dengan customer memasuki wilayah emosi dan batin, maka kalau ada apa-apa dengan merek kita, customer-lah yang berbondong-bondong menjadi pembela merek kita. Merek itu bukan cuma untuk perusahaan. Personal brand diri kita juga termasuk. Bagaimana mencapainya ? Tentu bukan cuma hubungan sesaat, melainkan sebuah hubungan harmonis yang dibangun, dijaga, dirawat, dalam kurun waktu yang panjang. Mau ? ***

Selasa, Desember 11, 2007

Semua tergantung definisi

Apa fungsi setir? Untuk membelokkan mobil? Apa fungsi rem? Untuk menghentikan mobil? Kalau anda jawab seperti itu, anda salah besar. Saya sudah membuktikannya di Lido saat mengikuti pelatihan smart driving yang diselenggarakan Bengkel Production dan MetroTV.

Mobil saya pacu cepat sampai 80 km/jam. Instruktur menyuruh saya rem mendadak lalu buang setir ke kiri. Apa yang terjadi ? Mobil tetap meluncur ke depan, padahal sudah saya rem kuat-kuat, dan sudah saya buang setir ke kiri. Kalau di depan saya ada orang pastilah dia tertabrak. Ini artinya, setir bukanlah untuk membelokkan kendaraan, dan rem bukanlah untuk menghentikan kendaraan. Setir hanyalah untuk mengubah arah ban, dan rem hanyalah untuk membuat ban berhenti berputar. Titik.

Sessi tadi segera menyadarkan peserta pelatihan tentang kekeliruan definisi mereka tentang mengemudi -- bahwa mengemudi dalam keadaan kencang dan mengambil jarak yang sangat dekat dengan mobil di depan kita, itu sama saja mengundang malaikat maut untuk menemani perjalanan kita. Jika mobil di depan kita berhenti tiba-tiba (boleh jadi karena menabrak mobil depannya lagi), maka hanya yakin dengan kecepatan reaksi kita menghindar adalah sia-sia. Itulah sebabnya, jarak aman mobil kita dengan mobil depan kita adalah 2-3 detik. Caranya, biarkan mobil depan kita melewati sebuah objek diam di pinggir jalan, lalu langsung kita hitung : "satu dan satu - satu dan dua - satu dan tiga". Kalau mobil kita berada di sekitar 'satu dan tiga' pas melewati objek diam tadi, berarti jarak kita sudah aman. Ini berarti jarak aman dalam meter tergantung dari kecepatan mobil kita dan depan kita.

Seringkali kita salah menjalani sebuah peran jabatan gara-gara salah juga dalam memberi arti atau definisi dari jabatan tadi. Sama seperti awalnya saya salah mendefinisikan fungsi setir dan rem di atas. Seorang staf pengadaan barang (procurement) minta komisi dari pembelian barang ke vendor/suplier. Seorang staf atau manajer training minta 'pengembalian' dari lembaga/perusahaan training karena sudah membeli jasa training dari perusahaan training tersebut. Alasannya serupa, bahwa mereka sudah 'berjasa' membuat vendor atau suplier mendapat order dari dirinya. Bungkusnya macam-macam : success fee, marketing fee, diskon, refund, dan lain-lain, tapi ujung-ujungnya masuk ke kantong pribadi.

Kalau saja dia paham benar definisi atau arti atas tugas/jabatan/perannya itu dengan benar sesuai fungsi jabatan tersebut, bahwa yang namanya staf pengadaan, atau staf training, atau staf promosi, sudah digaji perusahaan untuk menjalankan fungsi-fungsi pengadaan barang atau mengadakan pelatihan, atau pemasangan iklan --- dia tidak akan minta diskon atau marketing fee, kecuali diskon itu masuk lagi ke kas perusahaan. Karena untuk pekerjaan itulah dia ada di Perusahaan...***

Inna Meraba

Pagi-pagi Inna -- sekretaris saya -- sudah memberi inspirasi. Di Yahoo Messenger tertulis status dia "Biar ga dimarahin supir, kenekpun harus ahli ..". Ketika saya tanya dimana dia mendapat kalimat itu, dia bilang di bis.

prass_sahabatku: apa yang terjadi kok tau2 muncul pikiran bagus spt itu ?
Inna Indriyani: tadi ada kenek Metromini kayaknya baru menjadi...nah supir ga sabaran sama itu kenek karena dinilai lambat dan ga bisa merayu penumpang untuk naik, jadilah sang supir marah2 sama kenek yang baru. Oh iya diangkot itu ada kenek 2 orang, yang satu canggih yang satu baru, dan yang canggih disuruh ngajarin yang baru.
Inna Indriyani: jadi inget dikantor hehehe
prass_sahabatku: inget apa na ?
Inna Indriyani: inget kalo saya salah
prass_sahabatku: hehehe .. salah apa ? .. kapan ?
Inna Indriyani: waktu dulu baru2
Inna Indriyani: saya meraba kerjaan saya apa. Apalagi waktu jadi Liasion Officer pertamakali di Yogya

Sekarang Inna sudah banyak tahu dan bisanya. Pertamakali saya bertemu kembali ia pendiam (saya katakan bertemu kembali karena lima tahun sebelumnya ia adalah mahasiswa saya). . Kalau saya pancing-pancing, seringkali ide-nya tidak keluar. Sekarang, saya banyak dibantu oleh ide-idenya yang kadang-kadang tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Memang dibutuhkan kesabaran untuk menjadi ahli. Yang bersangkutan sabar, atasannya juga sabar. Yang bersangkutan banyak-banyak belajar, atasannya banyak-banyak melatih dan membina. Caranya ? ... macam-macam. Kalau mau cepat, dengan mencontoh orang-orang yang sudah berhasil dan ahli duluan.

Ini khusus buat anda yang belum pernah masak nasi goreng. Kalau anda ingin membuat nasi goreng yang enak, ikuti saja resep dan cara seseorang yang masakan nasi gorengnya enak. Ikuti persis, termasuk perasaan dia waktu melakukannya. Pertama kali mungkin nasi goreng anda tidak sama persis dengan sang 'model', tapi tidak terlalu jauh bedanya. Dengan dua-tiga kali pengulangan sambil mencontoh lagi, biasanya masakan anda sudah enak. Anda sudah bisa bereksperimen untuk inovasi nasi goreng berikutnya. Waktu tempuh keberhasilan anda jadi lebih cepat. Bandingkan jika anda coba-coba resep sendiri tanpa 'model' yang dilihat langsung. Apalagi kalau tidak pakai resep (teori) dan tidak pakai pembimbing, lalu anda coba-coba sendiri, try and error.

Apapun pekerjaan anda, jadilah ahli. Tinggal silakan pilih, jadi orang yang ahli menambah uang perusahaan, atau ahli mencuri uang perusahaan. Masing-masing ada konsekuensinya...***

Sabtu, Desember 08, 2007

Emil bekerja dengan cinta

Seperti apa anda memperlakukan customer ? Itu sangat tergantung di peta pikiran anda tergambar customer sebagai apa. Pembeli biasa ? Partner ? Saudara ? Atau kekasih anda ? ... Hasilnya beda lho .... Karena arti yang kita berikan menentukan keadaan emosi kita. Keadaan emosi menentukan bentuk dan kualitas tindakan. Tindakan menentukan hasil yang kita dapat.

Emil, kolega saya yang sudah bertahun-tahun mengabdi di PT Eurasia Wisata, anak perusahaan AJB Bumiputera 1912 dalam bidang tour & travel telah memberi ajaran yang 'dalam'. Sebagai penata akomodasi di acara-acara penting Perusahaan, ia membiasakan diri melakukan quality control yang ketat. Apalagi untuk tamu atau klien VIP dan VVIP. Ia memeriksa setiap detil kamar hotel yang akan digunakan tamu. Yang menarik ia benar-benar detail. Ia memeriksa setiap sudut ruangan. Pernah kebiasaannya itu menyelamatkan reputasi dirinya dan perusahaannya. Ia menemukan ada tikus nyingnying di bak kamar mandi sebuah hotel mewah. Ia juga pernah memeriksa handuk yang akan dipakai tamu dan menemukan ada mata pancing nebeng di handuk itu. Bayangkan kalau Emil tidak mengecek sampai di situ, mungkin akan terjadi prahara besar karena tamunya terluka oleh mata pancing.

Boleh jadi kebiasaan Emil ini berawal dari standard operating procedure dari Perusahaan tempat Emil bekerja. Disamping saya salut dengan adanya SOP seperti itu, namun juga salut dalam eksekusinya. Keberhasilan proses menyelamatkan dan memuaskan pelanggan ini sangat tergantung dari KEMAUAN pelaksana untuk melaksanakannya. Bukan hanya melaksanakan dengan kepatuhan (compliance), tapi juga dengan tulus ikhlas. Bahkan barangkali bukan hanya dengan tulus ikhlas, tapi juga dengan cinta. Cinta sejati menumbuhkan gairah kuat untuk melayani, karena dengan melayani seseorang mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya. Lho, dengan customer jadi kayak 'pacaran' dong ? ... Bisa jadi, karenanya Hermawan Kartajaya -- salah satu dari 50 Guru Marketing berpengaruh di tingkat Asia -- juga mempopulerkan konsep 'romancing the customer'. Katanya, hubungan kita dengan customer itu harus romantis.

Terhadap para kliennya Emil juga sangat 'total'. Kalau boleh meminjam komentar Trie Utami yang dilontarkan kepada akademia di acara AFI (Akademi Fantasi Indosiar) : "Anda sepertinya menyanyi hanya menyelesaikan kewajiban. Anda tidak sepenuhnya berkomunikasi dengan penonton dengan jiwa anda ...". Kalau Emil ikut kontes hospitality dan Mbak I'ie jurinya, saya yakin Emil tidak akan dikomentari seperti itu.

Terlepas dari kelemahan yang pasti dipunyai setiap manusia, Emil adalah modelling saya untuk diterapkan di lembaga yang saya pimpin. Tantangannya adalah, bagaimana saya 'bekerja dan melayani dengan hati' yang dibingkai oleh cinta Ilahiyah, cinta agape -- cinta tertinggi --, bukan oleh pamrih materialistik ? ***

Dari kepala turun ke kaki

Satu lagi pengalaman yang memperkuat keyakinan saya bahwa gangguan fisik seringkali disebabkan oleh pikiran sendiri. Suatu sore saya ditelpon oleh staf saya dari sebuah hotel tempat training berlangsung. Katanya, salah seorang peserta tiba-tiba jatuh, menangis, histeris, dan sekarang ada di kamar. Kebetulan malam harinya memang jadwal saya mengajar di program training tersebut. Sesampainya di kamar, saya lihat dia sudah dikelilingi teman-temannya dan staf saya. Nafasnya tersengal, tubuhnya seperti kaku, matanya tidak fokus. Sepintas, mirip orang kesurupan karena sambil 'mengigau'. Malah saya sempat mendengar seloroh, jangan-jangan dia kesambet 'penunggu' areal outbound waktu hari Minggu kemarin.

Saya pegang tangannya untuk memberi sentuhan yang langsung masuk ke amigdala (belakangan setelah saya mengamati cara dia bicara setelah 'normal' dan uji sugestibilitas tersamar, saya menyimpulkan peserta ini termasuk kelompok kinestetik dan sangat sugestible, sehingga sentuhan memang memperkuat induksi dan sugesti yang saya berikan).

Ketika saya tanya apa yang dirasakan, dia mengatakan sesak nafas dan kedua kakinya tidak bisa digerakkan. Semula saya khawatir dia terkena serangan jantung atau sebangsanya. Begitu saya pegang kepalanya, dia langsung melontarkan satu kalimat yang menunjukkan sebuah pengakuan yang sangat pribadi. Segera saja seluruh orang yang ada di kamar itu saya minta keluar dulu. Setelah dia mengeluarkan seluruh ceritanya, saya berkesimpulan dia mengalami stress akut akibat kondisi ideal yang dia inginkan sebagai bentuk penyadaran dan keinsyafan selama proses pendidikan, dibandingkan dengan fakta konsep dirinya saat ini yang dia namakan 'penuh dengan kesalahan'.

Saya tidak ingin membahas persoalan psikis yang dialaminya. Singkat cerita, saya lalu ingin mengembalikan kondisi fisiknya dulu. Setidaknya menghilangkan gejala fisik. Saya lalu menginduksinya dan melakukan deepening agar dia rileks lebih dalam. Setelah 'sampai', saya memberi sugesti sesuai dengan keinginannya yang tersirat. Yang menarik adalah ketika saya terminasi proses ini dengan menghitung naik 1 sampai 10. Pada hitungan ke-4, saya katakan : "anda mampu mengangkat kaki anda. Sekarang silakan angkat kaki kanan anda". Tiba-tiba dia mengangkat kaki kanannya. Lalu saya persilakan diturunkan dan diteruskan dengan kaki kirinya. Selesai seluruh proses terminasi, dia langsung duduk, lalu berdiri dengan wajah lebih segar.

Memang perkembangan kondisi psikis dia sampai sekarang masih saya ikuti. Namun apa yang terjadi ketika di kamar dia tidak bisa menggerakkan kakinya ?. Yak! Dia sedang trance dengan imajinasi dia mengenai kecemasan-kecemasan dan rasa bersalahnya, sehingga dia percaya pada pikirannya yang mengatakan kakinya tidak bisa digerakkan. Nyatanya, setelah pikirannya digiring ke arah lain -- yaitu kakinya bisa digerakkan -- dia bisa menggerakkan kakinya.

Tentu ini sangat kasuistik, karena dalam kasus lain bisa saja yang terjadi memang gangguan fisiologis. Tapi tetap perlu dicoba untuk mengolah pikiran terlebih dulu sebelum lari ke fisik. So, hati-hati jika anda bangun pagi, merasa badan 'hancur' dan 'berat', lalu anda pikiran anda mengatakan bahwa anda sedang sakit. Anda bisa sakit beneran lho ... Jangan-jangan karena hari itu di bawah sadar anda ada kecemasan atau ketakutan karena pekerjaan anda belum beres dan takut dimarahi boss, atau karena memang anda sedang kehilangan makna pekerjaan anda sehingga tidak tahu hari itu anda mau mengerjakan apa, atau anda sedang jadi bahan omongan orang sekantor ...***

Minggu, Desember 02, 2007

Membangun integritas

"SATU ... DUA ... TIGA ... EMPAT ... LIMA ..."

Itu adalah teriakan para 52 orang peserta Diklat Pegawai AJB Bumiputera 1912 di Depok hari Sabtu lalu (1/12) mengiringi saya yang secara sukarela menghukum diri sendiri dengan push-up karena saya terlambat memulai pelajaran saya.

Sore itu saya memberi materi 'Mind Management to be star employee' sessi kedua. Siang harinya saya menghadiri undangan walimatussafar tetangga saya. Rencana saya begitu selesai kondangan, jam 2 siang saya berangkat ke Depok, tempat pelatihan berlangsung. Di ingatan saya, saya mengajar jam 4 sore.

Usai kondangan, saya merebahkan badan di sofa dan sejenak menikmati acara TV sambil ngobrol dengan ibu saya. Singkat cerita, akhirnya saya berangkat dari rumah jam 14.30 dengan perhitungan perjalanan hari itu hanya satu jam.

Apa yang terjadi ? Di Jalan Margonda Raya macet berat. Saya lupa itu hari Sabtu. Alhasil saya sampai di tempat pelatihan jam 4 kurang. Bukan cuma itu. Di mobil saya melihat jadwal pelatihan dan ternyata materi saya bukan jam 16.00, tapi jam 15.30.

Selesai sholat Ashar, saya masuk kelas setelah sebelumnya minta panitia agar materi saya dimulai jam 16.00. Sebenarnya saya bisa saja menggunakan 'kekuasaan' saya sebagai 'petinggi' untuk men-justify dan membenarkan keputusan saya itu. Tapi saya sedang bicara tentang integritas. Apalagi dalam sessi tersebut saya akan menerangkan bahwa kalau sebenarnya kita bukannya tidak bisa, tapi tidak mau bisa.

Saya katakan, sebenarnya saya bukan tidak bisa datang jam 15.30 sesuai jadwal. Kalau mau, sebenarnya saya bisa mengecek jadwal pelatihan pagi-pagi, bukan ketika sudah di mobil. Kalau saya juga mau, begitu sampai rumah tadi saya tidak santai-santai dulu di sofa, tapi langsung ganti baju dan pergi. Tapi semua itu tidak saya lakukan. Hasilnya, saya terlambat.

Di depan peserta pelatihan, saya akui dosa tadi. Saya tanya, kalau di jadwal jam 15.30, lalu saya datang jam 4, siapa yang salah ? Kata mereka, ya yang terlambat. Kalau begitu, apa hukuman untuk yang terlambat ? .. Kata mereka, push-up lima kali. Kebetulan selama pelatihan, para peserta dilatih kesamaptaan oleh dua anggota Kopassus, sehingga merekapun akrab dengan push-up.

Di depan kelas saya push-up. Selesai saya push-up, peserta bertepuk tangan. Pelajaranpun dimulai...***

Kamis, November 29, 2007

Bu Herry tetap berkarya

Sampai sekarang saya masih terkagum-kagum dengan Bu Herry. Tahun 1991 ketika saya mengantarkan lamaran ke Bumiputera, Bu Herry adalah Kepala Bagian Pengembangan SDM yang akhirnya memanggil saya, mengetes saya, dan mewawancarai saya. Saya tahu, kalau saja waktu itu Bu Herry mengisi kolom 'tidak lulus', tidak ada yang namanya saya dalam sejarah di Bumiputera. Singkat cerita, akhirnya saya diterima bekerja sebagai clerk di Bumiputera, ditempatkan di Departemen Personalia. Meskipun saya ditempatkan di bagian lain, tapi tetap satu departemen dengan Bu Herry.

Tiga bulan berselang, terjadi restrukturisasi organisasi. Saya dan Bu Herry sama-sama dipindah ke Divisi Pemasaran II. Saya pegawai di Bagian Keagenan & Promosi, sementara Bu Herry Kepala Bagian Distribusi.

Ketika saya selesai tugas belajar 2 tahun di MM-UI, saya ditempatkan di unit yang sama lagi dengan Bu Herry. Beliau Kepala Bagian Hubungan Masyarakat, saya Asisten Kepala Bagian Hubungan Internasional. Sama-sama di bawah Sekretaris Perusahaan. Ketika saya naik pangkat lagi jadi Kepala Bagian Pengembangan SDM, bu Herry Kepala Bagian Sekretariat Direksi. Singkat cerita, akhirnya posisi saya 'agak' lebih tinggi dari Bu Herry ketika saya ditugasi menjadi pimpinan anak perusahaan di bawah Bumiputera Group.

Ketika Bu Herry pensiun dengan jabatan terakhir Pemimpin Cabang Eksekutif, Bu Herry lalu datang ke kantor saya sambil membawa lamaran. Beliau memanggil saya 'Bapak', dan ingin melamar menjadi tenaga profesional di lembaga yang saya pimpin. Meskipun saya bilang tidak usah pakai lamaran karena saya sangat tahu kualitas Bu Herry, tapi demi tertib administrasi, akhirnya lamaran itu saya terima juga.

Sekarang, Bu Herry masih sering membuat saya kikuk. Bagaimana tidak, beliau dulu yang menerima lamaran saya, sekarang saya menerima lamaran beliau. Beliau dulu memanggil saya 'Dik', sekarang memanggil saya 'Bapak' dan berkomunikasi dengan cara yang sangat santun. Satu hal yang membuat saya kagum dan selalu berguru kepada Bu Herry, yaitu semua itu beliau lakukan dengan tulus dan ikhlas. Dari dulu Bu Herry adalah orang yang bisa menempatkan diri. Bu Herry paham betul peran dan kontribusinya, dan bisa memposisikan orang lain sedemikian rupa sehingga proporsional. Di lembaga saya, Bu Herry melakukan tugas dengan 'total football', meskipun secara finansial sebenarnya jauh di bawah apa yang pernah diterima beliau pada jabatan terakhir di Bumiputera. Saya sangat terdukung dengan keberadaan beliau.

Sekarang secara formal saya memang atasan beliau. Tapi secara batin, sebenarnya saya murid beliau. Saya ingat sms Pak Mawarto, Direktur SDM AJB Bumiputera 1912 semalam yang mengirimkan sebuah ayat pendek yang sebenarnya sering saya baca dalam sholat, tapi jarang ingat artinya : ".. dan apabila kamu telah selesai dengan suatu tugas, maka lakukan tugas berikutnya ..., dan hanya kepada Allah perhatian kamu tujukan"...***

Tidak Mau Bisa

Kalau ada orang yang mengatakan kepada kita 'tidak bisa', jangan percaya. Mbak Atty, salah seorang staf Pak Suroto kolega saya, minta saya memberi training motivasi untuk timnya hari Senin pagi. Karena waktunya mendadak, hari itu hari Jumat, saya telanjur membuat rencana hari Senin ada dua pertemuan penting di kantor saya. Saya mengatakan tidak bisa dan minta maaf.

Hari Minggunya Pak Suroto secara langsung menelpon saya dan minta bantuan saya. Saya katakan, karena permintaannya mendadak saya tidak bisa. Atas permintaan beliau juga saya berjanji mencarikan speaker/trainer pengganti. Saya menelpon dua orang rekan saya, tapi semuanya berhalangan. Karena unit kerja kolega adalah almamater saya, dan saya punya hubungan baik dengan beliau, akhirnya saya minta pertimbangan teman-teman kantor saya. Mereka menyatakan dukungannya untuk saya memenuhi permintaan kolega saya itu. Akhirnya saya sampaikan ke Pak Suroto bersedia membantu. Hari Senin, menurut kabar, peserta pertemuan tersebut puas dengan materi saya. Sayapun puas bisa membantu Pak Suroto.

Jadi, kalau pada awalnya saya mengatakan 'tidak bisa', ternyata bukannya tidak bisa, tapi tidak MAU bisa. Buktinya akhirnya saya bisa.

Seandainya saya seorang salesperson lalu mengatakan kepada boss : "Maaf pak, saya sudah berusaha, tapi tetap tidak bisa memenuhi target". Itu sebenarnya saya bukannya tidak bisa, tapi tidak mau bisa. Kalau saya menolak ajakan atau undangan seseorang dan bilang tidak bisa karena ada acara lain, sebenarnya saya bukannya tidak bisa, tapi tidak mau bisa. Kalau mau, pasti bisa. Buktinya kalau detik itu saya tiba-tiba ambruk sakit, saya langsung minta diantarkan ke dokter. Acara lainnya jadi batal dan digantikan acara ke dokter bukan ?

Satu-satunya yang memang benar-benar tidak bisa adalah ketika saya minta kepada malaikat : "tolong kembalikan saya ke dunia dan beri kesempatan saya berbuat baik', lalu malaikat itu menjawab : "tidak bisa, anda sudah mati". ***

Rabu, November 28, 2007

Tidak bisa mencoba

Teman SMA saya datang ke kantor dan cerita dia baru saja bergabung dengan sebuah perusahaan sebagai 'marketing'. Sebelumnya dia seorang guru dan belum pernah kerja di bidang marketing (sebenarnya lebih tepat dalam bidang selling). Ceritanya dia direkomendasikan oleh teman SMA lainnya untuk 'belajar' ke saya tentang marketing.

"Ane mau coba sebulan ini. Kalau nggak berhasil ya ane balik jadi ngajar di tempat lama lagi .. Ane udah bilang sama pengurusnya ..", katanya kepada saya.

"Coba sebulan ?" tanya saya. Saya lalu mengambil sebuah bolpen. Lalu dia saya minta untuk mengambil bolpen dari tangan saya ini. "Coba ambil bolpen ini dari tangan saya ..". Dia menjulurkan tangannya lalu, hap, bolpen itu dia pegang.

Saya bilang, "Nahhh ... Itu namanya mengambil .. bukan mencoba mengambil .."

Dia bingung sejenak, lalu ketawa. "Sekarang, sekali lagi coba ambil bolpen ini .."
Dia menjulurkan tangannya ke tangan saya, tapi dia hanya menggapai-gapai.

Dalam beberapa kesempatan saya menganjurkan orang-orang untuk sedapat mungkin menghindari kata 'mencoba', 'berusaha', 'akan', 'harus', bahkan 'Insya Allah'. Mengapa? Sebab tubuh kita sebenarnya tidak bisa mencoba. Buktinya, teman saya itu tidak bisa mencoba mengambil bolpen dari tangan saya. Kalau anda bilang 'coba', itu berarti anda tidak terlalu yakin. Padahal keyakinan membuat fisik kita jadi 'full power'. Maka keberhasilan seringkali lebih kita capai kalau kita yakin. Maka, kalau anda ingin jadi apapun, melakukan apapun, ya tidak usah pakai kata 'coba', tapi lakukan saja. Just do it ... dengan sepenuh fokus dan keyakinan. Kalau sudah fokus & yakin, nanti kalau ada masalah kita bergairah untuk belajar. Nanti kita makin lama makin piawai di pekerjaan kita.

Kata 'akan' tidak memerintahkan bawah sadar kita untuk bertindak. Misalnya, anak buah kita telat melulu. Lalu ketika kita tegor, dia bilang, "Baik pak, baik bu, .. saya akan disiplin ..". Jangan percaya !. Pikiran bawah sadar yang menguasai 88% tindakan hanya bisa diperintah dengan kalimat present tense. Jadi mustinya kalimatnya, "Baik Pak, mulai sekarang saya disiplin..".

Bagaimana dengan harus ? Kata 'harus' memaksa pikiran kita, bahkan sampai menyentuh emosi. Kata harus sering menimbulkan perasaan kurang nyaman. Pikiran menjadi tidak rileks. Padahal, prestasi kita justru lebih optimal jika pikiran kita rileks. Daripada berkata : "Mulai sekarang anda harus memperhatikan hal ini", lebih baik diganti "Mulai sekarang anda PERLU memperhatikan hal ini".

Insya Allah ? Ini sama. Insya Allah-nya orang Indonesia belakangan ini biasanya basa-basi. "Kamu bisa datang ke undangan saya?", lalu dijawab, "Insya Allah deh .." (pakai deh lagi..), maka keyakinan si orang ini tidak 100% .. bisa-bisa cuma lip service. Kecuali kata ini diucapkan oleh mereka yang terbukti memiliki integritas (membuktikan kata dan tindakan sama). Ini PR para pendakwah untuk mengubah arti kata Insya Allah ala basa-basi di pikiran umat dengan Insya Allah versi aslinya dulu.

Ketika saya jelaskan konsep di atas dengan gaye betawi kepada teman saya yang orang Betawi tadi, dia manggut-manggut. Sorot matanya menyiratkan optimisme...***

Pingkan mencubit

ini sekedar cerita ringan pengalaman saya. Kebetulan atas 'desakan' istri, saya ikut latihan kebugaran untuk mengecilkan perut saya yang sudah tampak 'tidak indah' .. alias one pack (bukan six pack). Nama fitness center di Pondok Indah Mall 2 itu saya rahasiakan. Yang jelas di situ banyak selebriti (ini mah percuma dirahasiakan). Supaya progressnya jelas dan terukur, saya pakai personal trainer.

Tibalah waktu 'penyiksaan' itu terjadi. Di matras saya 'diolah' sedemikian rupa ... mulai disuruh angkat kaki sepuluh kali tanpa menyentuh tanah, sit up, push up, lalu angkat kaki tahan di atas, dan seterusnya, dengan modifikasi gaya yang selama ini belum pernah saya lihat dan alami.

Nahhh ... karena personal trainernya perempuan (sengaja biar semangat), gengsi rasanya kalo saya tidak bisa menuntaskan jumlah hitungan. Masalahnya, otot-otot saya sudah gemetaran. Sebagai praktisi hipnosis, saya ingat kalau kita masuk ke trance sedang kita bisa 'body catalepsy' ... Lalu saya memejamkan mata, konsentrasi, atur nafas, hitung 10 sampai 1, rileks, dan saya perintahkan diri saya untuk 'kaku' dan saya bayangkan saya seperti besi baja, sehingga kaki saya tetap bisa digerakkan atau diam dengan tanpa merasa sakit. Ehhh .. ternyata hitungannya bisa dilampaui semua, walaupun habis itu badan sakit-sakit ...

Nah .. ketika saya 'membuka rahasia' sedikit ke Pingkan -- personal trainer saya itu -- saya dimarahi. "Bapak jangan pakai hipnotis ya ... kalau memang nggak kuat hitungan kelima ambruk juga nggak apa-apa ...". Saya yakin dia bilang begitu karena belum tahu seluk-beluk hipnosis.

Sekarang, kalau pas latihan beban dia melihat saya mulai merem, dia langsung mencubit lengan saya. "Ayo, bangun Pak .. bangun .. jangan pakai hipnotis ... ". Salah seorang sahabat yang tahu cerita ini langsung komentar, "Alaaaah ... ngelesss aja loe ... bilang aja sengaja merem biar dicubit ..." ... Hehehehehee ... ketauan ..

Selasa, November 27, 2007

Kita punya pilihan

Masih soal sukses. Setelah menggiring peserta pelatihan pegawai bahwa mereka sebenarnya sudah sukses dalam hidup mereka, karena banyak sekali impian dan keinginan mereka di masa lalu telah tercapai sekarang, saya kembali meminta peserta yang merasa sukses untuk berdiri.

Ada salah seorang peserta yang tidak ikut berdiri. Setelah saya tanya, ternyata ia memiliki keyakinan -- termasuk doktrin orang tuanya -- bahwa manusia tidak boleh merasa sukses, tidak boleh merasa puas diri. Katanya, ia takut sebab kalau kita sudah merasa sukses kadang-kadang kita menjadi lupa diri.

Saya langsung menganalisis struktur kalimat yang meluncur dari peserta tersebut. Seperti biasa, saya bermain-main dengan menggunakan kata-kata dia.

"Anda takut lupa diri ? .... " tanya saya

"Ya", jawabnya.

"Bagaimana kalau anda BERANI eling ?, bisa ?" tanya saya lagi.

Ia mulai berpikir.

"Lalu anda bilang, KADANG-KADANG kalau sudah sukses jadi lupa diri. Kadang-kadang berarti TIDAK SELALU bukan ?. Berarti ada juga yang sukses, tapi tetap tidak lupa diri alias tetap eling dan rendah hati ... Ada kan orang yang sukses tapi tetap eling dan rendah hati?"

Ia mengangguk.

"Berarti di depan anda ada dua pilihan, anda takut sukses jadi lupa diri, atau anda berani sukses tapi tetap eling dan rendah hati. Anda pilih yang mana ?"

Ia bilang pilih yang berani sukses tapi eling dan rendah hati.

Lalu saya kembali bertanya ke 52 orang peserta pelatihan. "Oke, kembali saya mempersilakan anda yang merasa sukses untuk berdiri ..."

Semuanya berdiri, termasuk peserta yang saya ajak dialog tadi. ..***

Senin, November 26, 2007

Kelelawar sayapnya hitam

Saya mendengar dongeng ini dari Pak Mu'allim, mantan boss saya yang juga banyak memberi inspirasi kepada saya. Suatu ketika di dunia fauna dikuasai oleh dua bangsa binatang, yaitu bangsa mamalia dan bangsa burung. Bangsa mamalia dan bangsa burung saling bermusuhan. Mereka berperang satu sama lain. Lalu hiduplah segerombolan kelelawar. Kelelawar ini melihat di daratan yang dikuasai mamalia ada makanan berlimpah. Lalu mereka terbang masuk ke kawasan mamalia. Namun belum sampai ke tempat yang dituju, sudah dicegat oleh pasukan tentara mamalia. Mereka diusir karena dianggap sebagai bangsa burung.

"Hai kawan, aku ini bangsa mamalia ..." ujar para kelelawar ...
"Tidak mungkin, kamu kan ke sini terbang ... kalian pasti burung", jawab tentara mamalia
"Tapi aku kan punya taring seperti kalian, dan aku melahirkan dan menyusui. Jadi aku termasuk bangsa kalian ...", kata pimpinan kelelawar.

Tentara mamalia berpikir sejenak. Hmm .. iya juga ya .. pikirnya. Akhirnya mereka dipersilakan memasuki teritori bangsa mamalia.

Setelah puas menghabiskan makanan di situ, mereka lalu melihat di teritori bangsa burung terdapat makanan yang berlimpah pula. Lalu mereka pergi menuju ke wilayah bangsa burung. Ketika mendekati wilayah bangsa burung, mereka dicegat oleh tentara burung dan diusir karena dianggap anggota gerombolan mamalia.

"Lho, kami ini terbang seperti kalian .. Jadi kami ini bangsa burung ..." kata pimpinan kelelawar.

Tentara burung berpikir sejenak, dan akhirnya mempersilakan mereka bergabung dengan bangsa burung. Akhirnya para kelelawar itupun bersukacita mendapat makanan yang berlimpah.

Nasihat Pak Mu'allim : jangan jadi kelelawar, yang tidak punya integritas, bermuka dua. Ke sana iya, ke sini iya. Milikilah karakter yang jelas dan tegas. Anda termasuk bangsa mamalia, atau burung.

Pada suatu konteks, tafsir Pak Mu'allim ini saya sepakati. Pilihlah satu peran : protagonis, atau antagonis. Kalau dibawa ke dunia wayang, anda ini termasuk kelompok Pandawa, atau Kurawa. Baik, atau jahat.

Dalam konteks lain, artinya bisa kebalikan. Contohlah kelelawar. Dalam ilmu NLP, atau hipnosis yang diaplikasikan pada komunikasi atau selling, kemampuan kelelawar untuk 'matching' dengan lawan bicara dengan menyesuaikan atau menyamakan beberapa hal dengan kawan bicara, menjadi salah satu teknik untuk mempercepat mendapatkan trust dari kawan bicara (saya ogah pakai istilah 'lawan' bicara). Kalau kawan bicara sudah trust, maka saran-saran kita kemungkinan besar lebih didengarnya. Bukan cuma untuk jualan. Orang tua yang ingin nasihat atau arahannya di dengar oleh anaknya, silakan matching dulu dengan dunia anaknya, baru kemudian giring mereka pada dunia kita. Begitu juga pimpinan terhadap anak buahnya. Dokter terhadap pasiennya. Guru terhadap muridnya. Rasakan bedanya ...