Seorang gadis cantik yang saya kenal di sebuah pelatihan mengirim pesan BBM (Blackberry Messenger) yang mengabarkan akhirnya dia 'jadian' dengan seorang pria yang PDKT dengannya. Sebelumnya ia juga curhat dan 'minta petunjuk' bagaimana menghadapi kebingungannya menjawab 'proposal' lelaki tersebut. Ia bingung mau berkata iya atau menunda memberi jawaban karena ia belum 'yakin'. Ia masih diliputi 'parno' akibat pahitnya ujung hubungan cintanya dengan mantannya. Ia bilang, ia takut jatuh cinta karena takut memberi 'hati' kepada orang yang salah.
Gadis Cantik (GC) : "Semalam dia mengulangi lagi pertanyaannya yang kemarin, Pak ... Kebeneran atmosfir suasananya lagi mendukung ..."
Saya : "Pastinya ... sudah bisa menebak juga kan ?".
Sesaat sebelum ia akhirnya menjawab proposal sang pria, ia sempat BBM dengan saya sedang dibawa menuju suatu tempat yang romantis.
GC : "Hahaha, iya sih ..."
Saya : "Dia menggiring kamu masuk ke gelombang alfa lewat tempat dan suasana romantis, ditambah dengan sentuhan amigdala (emosi) lewat perilaku dan bahasa, sehinga sugesti masuk dan diterima pikiran bawah sadar karena reticular activating system (filter mental) kamu terbuka. Kamu tau kan pikiran bawah sadar sembilan kali lebih kuat daripada pikiran sadar, sehingga kalau ada konflik dengan pikiran sadar - logis dan kritis - kemungkinan besar pikiran bawah sadar (emosi) yang menang. Proses progressive induction sudah dia lakukan sejak lama. Dia berhasil melakukan pacing sehingga kemarin dia bisa melakukan leading ..Disamping itu dia tidak memaksa atau memojokkan kamu, dan yang paling penting, kamu juga suka sama dia akibat pacing dia ... Ahhhh ... kayak lagi kuliah aja nih..."."
GC : "Oooo gitu Pak teorinya ? .. hahahaha .. dan akhirnya aku ngikutin kemauannya ya Pak .. Padahal tadinya udah mau tetap bertahan untuk menunda jawaban. Masih mau 'take it slow' dulu..."
Saya : "How's your feeling ?.."
GC : "Masih nggak percaya .. finally I said yes ...."
Saya : "Itu menegaskan kerjaan pikiran bawah sadar ..."
GC : "Di satu sisi happy, di sisi lain bingung .. aku harus siap-siap jatuh cinta .. padahal aku takut jatuh cinta ..."
Saya : "Kalau kamu tanya ke pikiran bawah sadarmu, apa maksud baik ia memberi rasa takut jatuh cinta itu ..?"
GC : "Supaya aku terhindar dari rasa sakit karena jatuh cinta ..."
Saya : "Apa manfaat yang bisa kamu ambil dari rasa sakit karena jatuh cinta itu ...?"
Tadinya saya berharap, ia mengatakan agar dirinya lebih kuat dan terampil mengelola sebuah hubungan. Ternyata jawabannya sedikit meleset.
GC : "Aku jadi lebih hati-hati untuk jatuh cinta sama seseorang. Terlalu berhati-hati malah .."
Saya : "Apa yang terjadi pada diri kamu 10 tahun lagi jika selamanya kamu terlalu berhati-hati karena takut sakit jatuh cinta .. ?"
GC : "Mungkin 10 tahun lagi aku nggak bersama siapapun ... *nyadar mode on .."
Dia cerita kalau dengan 'mantan' terakhir dia pacaran delapan tahun dan berakhir dengan'tidak baik-baik'. Mantannya suka mengintit kemanapun GC pergi, mengintimidasi cowok-cowok yang dekat dengan GC, dan sempat mengancam yang 'nggak jelas'. Itu menyebabkan ia bilang paranoid.
Saya : "Jadi parno-nya kamu itu adalah takut apa ?" ..
Tadinya saya mengira ia 'parno' lebih dominan disebabkan karena takut pengalaman buruk itu terulang lagi. Tampaknya perkiraan saya meleset.
GC : "Aku jadi takut jatuh cinta, karena nggak percaya cowok, karena aku masih belum yakin ada yang namanya kesetiaan dalam relationship antara lawan jenis. Itu yang bikin aku putus dari mantan pacarku. Dia marah besar karena aku ketahuan jalan sama temen cowokku. Disamping karena menurutku dia posesif..."
Saya : "Apa mantan kamu pernah selingkuh ?"
GC : "Nggak pernah. Malah akunya ....karena jenuh. Selain itu, di sekelilingku banyak banget contoh kasus ketidaksetiaan .... Aku bahkan deket sama cowok-cowok yang 'in relationship'"
Saya ingin mengejar apakah ia melakukan generalisasi persepsi atas pengalaman ketidaksetiaan selama pacaran untuk saya bandingkan dengan ketidaksetiaan ketika berumah tangga yang belum pernah ia alami.
Saya : "Apa kamu pernah dekat dengan cowok yang sudah menikah ?"
GC : "Pernah ... sampai sekarang. Dia malah bilang perasaannya ke aku .. Tapi aku bisa mengendalikan perasaan. Aku bangun 'tembok'".
Saya : "Hmmm .. jadi kamu dikelilingi oleh pengalaman ketidaksetiaan ya .. makanya ada perasaan takut terjadi pada diri kamu nantinya ..."
GC : "Iya .. kayaknya sih gitu Pak .."
Saya : "Menurutmu, apa yang membuat pasangan menjadi setia .. ?"
GC : "Kalau dia sudah menemukan apa yang dia cari di diri pasangannya ..."
Saya : "Apa yang kamu cari .. ?"
GC : "Chemistry, saling respek, dan ketulusan .."
Saya : "Inget the law of attraction ... ?"
GC : "Inget ..."
Saya : "Like attract like .. pikiran kita akan menarik hal-hal yang serupa ..?"
GC : "Iya pak .."
Saya : "Inget rumus be-do-get .. ? Kita menDAPAT apa yang kita MENJADI ? ..."
GC : "Hmmm ... OK. I get the point ... "
Saya : "Cerdassssss..."
GC : "Makasih banyak ya Pak. You've opened my mind .."
Saya : "Sama-sama .. you've opened your own mind ..."
GC : "Mudah-mudahan aku bisa MENJADI seperti yang aku ingin DAPAT..."
Selanjutnya perbincangan ringan menjadi epilog kontak saya dengan dia hari itu ...***
Minggu, Oktober 11, 2009
Selasa, September 29, 2009
Siapa Bilang Anda Miskin ??!!!

Terinsipirasi cerita sahabat saya Melly Kiong tentang ilmu Bob Sadino, di sebuah kesempatan mengajar mahasiswa baru saya bertanya, “Siapa di antara anda yang merasa masih miskin ??” ….
Setelah terlihat ragu-ragu, beberapa orang mahasiswa mengacungkan tangan. Tindakan mereka diikuti oleh beberapa orang lainnya.
“Kalau begitu, siapa yang merasa kaya ?”. Hanya dua orang yang mengacung.
“Lha, berarti yang lain apa ??” … Para mahasiswa hanya tersenyum. Saya tahu mereka tidak mengacungkan tangan sebabnya cuma dua : bingung atau malu.
“Okeyyy .. sekarang kepada yang merasa miskin .. saya mau tanya … Karena anda mengaku miskin, dan karena saya kaya, seandainya saya kasih anda masing-masing 10 miliar rupiah, anda mau terima ?”, tanya saya.
“Beneran atau Cuma seandainya, Pak ?”, salah seorang mahasiswa iseng melontarkan pertanyaan.
“Jelas saja ini seandainya beneran ..”, jawab saya.
Sambil ragu-ragu saya serius atau main-main, mereka mengangguk sambil cengengesan.
“Eittt … no such a free lunch … tidak ada makan siang gratis … anda saya kasih 10 miliar tapi syarat dan ketentuan berlaku … Ada syaratnya …”, ujar saya.
“Apa Pak ?”, tanya mereka …
“Anda saya kasih 10 miliar tapi saya minta satu ruas buku kelingking anda buat saya … MAU ?..”, kata saya.
Mereka serempak bilang tidak mau sambil ada yang menggeleng.
“Hmmm … berarti harga kelingking anda lebih dari 10 miliar …. Okeyyy .. saya kasih harga 50 miliar … mau ???”, tanya saya lagi.
Mereka masih menggeleng.
“100 miliar ???” … tanya saya lagi.
Mereka masih menggeleng.
Jadi satu ruas buku kelingkin tangan anda harganya LEBIH DARI 100 miliar bukan ??? … Bagaimana dengan seluruh tubuh anda ?? … jadi siapa bilang anda miskin ???..”, saya cecar mereka secara provokatif dengan suara meninggi.
Untuk beberapa saat suasana kelas hening …Wajah mereka terpana.
Ketika kalimat “Siapa bilang kamu miskin ??!!” ini saya posting sebagai status facebook, salah seorang sahabat FB menjawab : … “Tuhan ! …”.
Setelah terlihat ragu-ragu, beberapa orang mahasiswa mengacungkan tangan. Tindakan mereka diikuti oleh beberapa orang lainnya.
“Kalau begitu, siapa yang merasa kaya ?”. Hanya dua orang yang mengacung.
“Lha, berarti yang lain apa ??” … Para mahasiswa hanya tersenyum. Saya tahu mereka tidak mengacungkan tangan sebabnya cuma dua : bingung atau malu.
“Okeyyy .. sekarang kepada yang merasa miskin .. saya mau tanya … Karena anda mengaku miskin, dan karena saya kaya, seandainya saya kasih anda masing-masing 10 miliar rupiah, anda mau terima ?”, tanya saya.
“Beneran atau Cuma seandainya, Pak ?”, salah seorang mahasiswa iseng melontarkan pertanyaan.
“Jelas saja ini seandainya beneran ..”, jawab saya.
Sambil ragu-ragu saya serius atau main-main, mereka mengangguk sambil cengengesan.
“Eittt … no such a free lunch … tidak ada makan siang gratis … anda saya kasih 10 miliar tapi syarat dan ketentuan berlaku … Ada syaratnya …”, ujar saya.
“Apa Pak ?”, tanya mereka …
“Anda saya kasih 10 miliar tapi saya minta satu ruas buku kelingking anda buat saya … MAU ?..”, kata saya.
Mereka serempak bilang tidak mau sambil ada yang menggeleng.
“Hmmm … berarti harga kelingking anda lebih dari 10 miliar …. Okeyyy .. saya kasih harga 50 miliar … mau ???”, tanya saya lagi.
Mereka masih menggeleng.
“100 miliar ???” … tanya saya lagi.
Mereka masih menggeleng.
Jadi satu ruas buku kelingkin tangan anda harganya LEBIH DARI 100 miliar bukan ??? … Bagaimana dengan seluruh tubuh anda ?? … jadi siapa bilang anda miskin ???..”, saya cecar mereka secara provokatif dengan suara meninggi.
Untuk beberapa saat suasana kelas hening …Wajah mereka terpana.
Ketika kalimat “Siapa bilang kamu miskin ??!!” ini saya posting sebagai status facebook, salah seorang sahabat FB menjawab : … “Tuhan ! …”.
Senin, Agustus 31, 2009
Mempraktekkan Yang Diajarkan (Lagi)

Setelah merasa janggal dengan cara bicara saya sendiri saat menerima telepon, tiba-tiba kelopak mata kiri saya tidak bisa saya kedipkan. Otot pipi sebelah kiri kurang respon, dan ketika membuka mulut, bagian kiri mulut tidak seaktif otot mulut kanan. Saya segera dapat menenangkan diri. Hanya kecemasan kecil yang tersisa yang mendorong saya untuk mengirim SMS kepada isteri saya di Canberra 'call me'.
Singkat cerita, permintaan isteri saya segera memperkuat keputusan saya untuk ke rumah sakit setelah berbuka puasa. Di UGD, dokter yang memeriksa menyatakan saya kemungkinan kena mild stroke, berita yang tidak mengejutkan saya karena saya sudah menduga sebelumnya. Anehnya, mungkin karena unconscious competent, saya langsung acceptance dengan berita itu. Tapi dokter bilang, tunggu hasil CT Scan.
Di kamar perawatan, dokter Wicahya, neurologist yang memeriksa menyatakan saya tidak kena mild stroke, melainkan bell's palsy, yaitu kelumpuhan otot wajah akibat gangguan syaraf belakang terlinga. Saya belum pernah mendengar penyakit itu sebelumnya, sehingga tidak tahu, ini berita yang 'lebih melegakan' atau tidak. Tapi melihat cara dokter menjelaskan, saya menyimpulkan, penyakit ini 'jauh lebih baik' daripada kena mild stroke. Anehnya, saya tidak shock dengan keadaan ini, dan langsung menerima dengan ikhlas. Saya langsung menelpon Riri Artakusuma untuk menyampaikan berita ini kepada Mas Toto, Area Manager Smart FM yang menangani keberangkatan saya ke Banjarmasin dan Balikpapan untuk mengisi acara off-air charity, agar mengantisipasi pengganti saya. Saya juga berharap Smart FM mudah mendapat ganti pembicaranya. Belakangan, Mbak Diana Rosianti, Area Manager Smart FM Kalimantan mengabarkan mudah mendapat pengganti saya, yaitu Mas Iman Teguh Perdana. Saya juga memberitahu EO untuk membatalkan order pelatihan dan mengembalikan uang muka yang sudah diterima. Semua dilakukan dengan perasaan ikhlas dan enteng karena yakin rejeki saya akan dicukupkan oleh Tuhan dan ada proses 'penyeimbangan' kehidupan saya setelah itu.
Berita tersebar. Beberapa teman memberitahu teman atau kerabatnya, atau bahkan dia sendiri juga pernah terserang penyakit itu, dan sembuh. Ini membuat saya 'tidak sendiri'. Rupanya hanya dalam hitungan hari, penyakit yang sebelumnya tidak saya kenal, tiba-tiba karib di hadapan saya. Teman-teman saya, maupun teman-teman isteri saya, juga teman-teman ibu saya memberi berita bahwa dirinya, temannya, ayahnya, saudaranya, juga pernah kena. Ini aneh buat saya, karena sebelum kena bell's palsy, belum pernah sama sekali saya melihat orang bell's palsy, kecuali lumpuh karena stroke. Fenomena ini mirip ketika tiba-tiba saya naksir jenis mobil tertentu, tiba-tiba sepanjang jalan yang saya lalui mobil jenis itu 'ramai' saya lihat.
Saya berfokus pada menikmati proses penyembuhan karena saya tidak ingin mensugesti diri dengan 'ratapan-ratapan' dan pengibaan. Sayapun menyetel pikiran saya untuk 'biasa-biasa' saja.. Facebook-pun saya becandain. Status pertama saya setelah itu adalah 'alam menyediakan situasi untuk kita mempraktekkan apa yang kita ajarkan kepada orang lain'. Kalimat ini saya cuplik dari kapsul Mas Prie GS beberapa tahun silam.
Dalam perbincangan di telepon dengan teman yang menyapa lewat telepon, saya bilang kalau wajah saya sekarang seperti "Two Face" musuhnya Batman, cuma kalo two face asli separuh wajahnya jelek, separuh wajah saya malah mirip Tom Cruise. Kata isteri saya, sebelah lagi kayak Budi Anduk.
Ucapan, harapan, doa, saran, semangat, dan reframing-pun diberikan teman-teman saya lewat telepon, sms, facebook, BB, YM, dan email. Reframing yang paling banyak adalah terhapusnya dosa-dosa saya seperti rontoknya dedaunan, dan ujian untuk naik kelas. Mas Prie GS sendiri memberi kalimat yang 'kena' di 'peranakan' saya : "Ayo Gus, sembuh. Bismillah". SMS kedua beliau berbunyi "Ayo Sehat. Awakmu isih penting kanggo Indonesia. Insya Allah." (Ayo Sehat, dirimu masih penting untuk Indonesia. Insya Allah), jelas bahasa ketulusan yang menyetrum.
Bu Fanny Budiman sahabat saya dan isteri menulis komentar di status FB saya : 'Saya pernah dengar Pak Jansen mengatakan, berapa banyak orang yang punya kesempatan mengunjungi Alaska? Tidak banyak. Berapa banyak orang yg pernah mengalami stroke? Tidak semua orang. Hanya orang yang pernah mengalaminya yang bisa bercerita tentang hal tersebut. Jadi dinikamti dan disyukuri.... Berapa banyak orang... yg mengalami Bell's Palsy? Mas Pras adalah salah satunya yang nantinya bisa bercerita tentang hal tersebut."
Sayapun sering 'mengklarifikasi' wajah saya kepada mereka yang baru ketemu, supaya tidak salah sangka bahwa yang mereka lihat sebagai 'sinis' itu sebenarnya saya sedang tersenyum atau tertawa. Saya juga beberapa kali me-reframe teman yang tanya saya kena penyakit apa. Saya bilang, saya tidak kena penyakit, tapi mengalami keadaan yang belum pernah saya alami sebelumnya dan memerlukan treatment tertentu. Meskipun mungkin dalam hati mereka bilang, "ahhh, si Prass bisa aja menghibur diri..."
Terlebih dari semua itu, ini semua adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada saya, yang tidak perlu saya perjelas lebih jelas lagi, karena semua sudah jelas... Buktinya, kalau bukan bell's palsy ini, rasanya jauh dari mungkin teman-teman dan kolega tahu rumah saya (terimakasi tak terhingga dan doa kebaikan untuk anda yang sudah mendoakan dan menyemangati saya).
Karena bell's palsy ini pulalah isteri saya mempercepat dan memperpanjang liburannya dari Canberra. Sebelumnya, ia tak kuasa meminta izin pulang liburan lebih dari 4 minggu karena peraturan lembaga pemberi beasiswa. Tuhan mengabulkan doa saya dengan cara yang elegan .... ***
Jumat, Agustus 07, 2009
Obat Bingung

Pak FX Hadi Tjokrosusilo menutup laptopnya. Kami baru saja selesai berbincang soal materi pelatihan beliau di tempat klien saya dimana lembaga yang saya pimpin menjadi provider-nya, ketika Mbak Nancy Mokoginta bertanya, "Mas, kita nanti mau membicarakan apa ?". Saya jawab, "Nggak tahu Mbak, saya masih bingung ..".
Limabelas menit lagi jam tujuh malam. Itu adalah waktunya saya memulai siaran perdana "PROVOKASI" di Smart FM. Setelah 'mundur' hampir setahun untuk menjawab permintaan Mas Dedi Irawan dan Mas Toto untuk talkshow reguler di radio bisnis dengan jaringan stasiun terbesar di Indonesia, akhirnya saya berani juga berkomitmen waktu. Beberapa hari sebelumnya saya memang mencari-cari topik perdana apa yang cocok untuk 'memprovokasi' pendengar Smart FM seluruh Indonesia. Saya mencari masukan lewat facebook, obrolan santai dengan teman, observasi kemana-mana. Semuanya berujung kepada satu hal : bingung.
"Belum tahu Mbak, masih bingung ..", jawab saya.
Saya lihat wajah Mbak Nancy agak menegang. Saya tahu ia grogi, sama dengan saya. Bahkan untuk menentukan konsep talkshow saja, saya baru menemukan ide dua hari sebelum hari H., yaitu obrolan santai tektok antara saya dan Mbak Nancy sang host. Untuk content topik perdana, masih blank. Karena beberapa kali saya membayangkan blank untuk topik perdana, saya malah diserang gugup. Padahal 'belanda masih jauh'. Akhirnya mendingan tidak usah saya pikirkan sama sekali. Santai saja.
Tiba-tiba, seperti ada 'blink', saya langsung ngomong, "Nah, kalau begitu kita membahas soal bingung saja Mbak ..". Cling ! .. Wajah Mbak Nancy seperti terkena cipratan air yang dikepret dukun. "Pokoknya motto acara kita 'bebas, aktif, dan tidak terarah' ... hehehe .. ", imbuh saya. Belakangan, ia memang cerita bahwa apa yang saya pikirkan persis dengan apa yang ia pikirkan.
Setelah ziarah ke toilet sambil meregangkan otot menghilangkan perasaan gugup, saya memasuki ruang siaran dengan degup jantung yang ngebut. Saya nikmati saja kegugupan dan kebingungan ini dengan yakin pada satu keyakinan saya : apapun yang saya bicarakan, pasti ada manfaatnya.
Mbak Nancy berhasil membuka acara dengan sangat manis, karena kalimat pertamanya mengandung kata 'bingung'. Kuatlah konsep content acara perdana itu : bingung. Singkat cerita, kejujuran akan kebingungan ternyata membawa berkah. Listener yang bertanyapun banyak bicara soal bingung. Bahkan, penanya pertama mengaku bingung mau tanya apa.
Setelah bicara ngalor-ngidul yang kadang tidak terarah sebagaimana motto konsep acara ini, akhirnya di ujung talkshow ketemu juga learning point dari soal 'bingung' ini. Bahwa untuk menjadi tidak bingung, alias bingungnya hilang, tipsnya adalah : anggap saja tahu, lalu action saja. Nanti akan ketemu jawabannya.
Sehari sesudah talkshow, dalam briefing kepada mahasiswa yang hampir DO karena belum membuat thesis karena bingung mau menulis apa, saya membagi pengalaman dan tips di talkshow semalam soal mengatasi kebingungan.
Sebenarnya saya tidak mengada-ada. Karena justru tips mengatasi bingung itu sudah saya ujikan di talkshow perdana saya. Saya masuk ruang siaran dengan bingung, dan keluar ruang siaran sudah tidak bingung lagi. Sambil bingung, action saja, nanti keajaiban terjadi setelah itu.***
Selasa, Juli 14, 2009
Selesaikan berdua saja
"Kamu kok kayaknya mesra-mesra aja sama isterimu ? ... Nggak pernah konflik kayaknya ..", tanya teman saya.
"Siapa bilang ? ... pasti ada lah .. hanya saja semakin ke sini semakin mudah menyelesaikan konflik ..", jawab saya.
Cerita saya bertemu dan akhirnya menikah dengan isteri saya cukup unik -- bagi saya. Kami diperkenalkan oleh teman SMA. Saat itu saya masih kuliah di MM-UI, dan 'pas' kebetulan jomblo. Saya baru saja putus (lebih tepatnya diputusin) dengan seorang wanita yang menerima pinangan sahabat saya sendiri untuk menjadi isteri kedua sahabat saya itu.
Berbeda dengan kali sebelumnya, dimana kalau ada teman yang mau memperkenalkan saya, saya segera mengambil kuda-kuda dan persiapan yang membuat saya tampil prima. Dengan kata lain, saya akan jaim. Kali ini, saya sudah agak 'lelah' untuk jaim. Saya pikir, biarlah saya apa adanya, kalau frekuensinya atau rumus kimianya cocok, pasti terjadi reaksi. Kalau tidak, berpura-pura itu sangat melelahkan.
Kurang ajarnya, teman saya langsung meninggalkan kami berdua yang terpaku setelah saling diperkenalkan di Pasar Festival. Pandangan saya kali pertama mengirimkan gambaran yang mendorong self-talk keluar : 'hmm .. boleh juga nih ..". Setelah itu semuanya seperti mengalir begitu saja.
Seharian kami isi waktu dengan banyak berdiskusi. Hari kedua kami bertemu lagi dan obrolan kami mengarah kepada 'what if' .... Kami saling memberitahu definisi tentang cinta, hubungan, rumah tangga, masalah, konflik, dan seterusnya. Ternyata kok nyambung ... Akhirnya malam kedua kami bertemu, kami menyatakan 'jadian'. Alasannya, kalau visi sudah sama, buat apa lama-lama. Apalagi, lima hari lagi dia akan kembali ke California untuk kembali menyelesaikan masternya. Hari itu adalah minggu kedua dia liburan ke Jakarta.
Singkat cerita, long distance relationship setelah itu yang terjadi adalah mulai terkuaknya perbedaan-perbedaan, harapan-harapan, yang membuat situasi layak disebut 'konflik'. Mulai dari acceptance terhadap masa lalu kami masing-masing, menentukan konsep pertunangan dan pernikahan, sampai hal-hal kecil seperti nada yang kurang mesra karena kecapaian. Apalagi perbedaan waktu antara Indonesia dengan Amerika adalah siang dan malam.
Untung salah satu PR saya buat dia adalah "sebelum menikah, dia harus sudah khatam membaca buku Seven Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey". Itu terjadi tahun 1997. Kami jadi melalui proses penyelesaian konflik dengan keyakinan bahwa yang terjadi adalah perbedaan paradigma dan persepsi akibat pengalaman masa lalu kami masing-masing, bermental berbagi, berusaha mengerti lebih dulu, dan sinergi kami nantinya justru akan kuat jika dibangun di atas perbedaan-perbedaan. Apa yang saya alami sesungguhnya itu memang tidak semulus kalau diceritakan di sini.
Setelah menikah, masih ada perbedaan soal kebiasaan hidup. Kadang-kadang dia ingin selalu bercerita soal masalahnya, saya pas juga punya masalah dan cenderung diam berpikir sendiri. Belum lagi kalau sms tidak cepat dibalas karena saya sedang mengerjakan sesuatu atau rapat. Anda pasti mengalaminya juga.
Proses itu kami lalui dan nikmati. Kami memrogram diri untuk tidak tergoda pada jalan pintas. Akhirnya sekarang, kami bukannya terbebas sama sekali dari masalah dan konflik, tetapi dengan cepat masalah itu kami selesaikan. Contoh yang jelas cukup 'berat' adalah ketika ia minta izin melanjutkan pendidikan S3 di Canberra Australia selama empat tahun, sementara kami belum memiliki anak, sementara usia kami sudah seputar kepala empat. Penyelesaian atas masalah itupun telah didapatkan.
Baru-baru saja, ia tiba-tiba meng-SMS saya merasa sedih setelah melihat foto yang saya upload ke facebook, dimana saya berfoto menggendong bayi seorang karyawati saya. Ia merasa saya sudah sangat menginginkan anak, tapi dia belum bisa 'memberinya'. Saya tidak membela diri atau menasehati untuk menggiring cara pandang dia (kembali) bahwa yang belum memberi kita anak bukan dia tetap Tuhan. Yang saya lakukan saat itu adalah segera menghapus kembali dan meminta maaf karena waktunya tidak tepat. Dia kebetulan memang akan menghadapi ujian terakhirnya. Saya perlu mendukungnya agar pikirannya fokus ke ujian. Itu lebih penting buat dia.
Ternyata, setelah saya runtut ke belakang, apa yang membuat kami sekarang lebih mudah saling mengerti dan cepat menyelesaikan masalah, maka jawabannya ketemu : kami selalu membicarakan masalah berdua saja, tidak ada orang lain. Memang untuk hal-hal yang berat, saya minta pendapat orang tua atau 'ahlinya'. Tapi bukan dalam semangat curhat, melainkan mencari suatu pandangan. Kami tidak melibatkan orang lain di dalam penyelesaian masalah kami. Hanya kami berdua.
"Siapa bilang ? ... pasti ada lah .. hanya saja semakin ke sini semakin mudah menyelesaikan konflik ..", jawab saya.
Cerita saya bertemu dan akhirnya menikah dengan isteri saya cukup unik -- bagi saya. Kami diperkenalkan oleh teman SMA. Saat itu saya masih kuliah di MM-UI, dan 'pas' kebetulan jomblo. Saya baru saja putus (lebih tepatnya diputusin) dengan seorang wanita yang menerima pinangan sahabat saya sendiri untuk menjadi isteri kedua sahabat saya itu.
Berbeda dengan kali sebelumnya, dimana kalau ada teman yang mau memperkenalkan saya, saya segera mengambil kuda-kuda dan persiapan yang membuat saya tampil prima. Dengan kata lain, saya akan jaim. Kali ini, saya sudah agak 'lelah' untuk jaim. Saya pikir, biarlah saya apa adanya, kalau frekuensinya atau rumus kimianya cocok, pasti terjadi reaksi. Kalau tidak, berpura-pura itu sangat melelahkan.
Kurang ajarnya, teman saya langsung meninggalkan kami berdua yang terpaku setelah saling diperkenalkan di Pasar Festival. Pandangan saya kali pertama mengirimkan gambaran yang mendorong self-talk keluar : 'hmm .. boleh juga nih ..". Setelah itu semuanya seperti mengalir begitu saja.
Seharian kami isi waktu dengan banyak berdiskusi. Hari kedua kami bertemu lagi dan obrolan kami mengarah kepada 'what if' .... Kami saling memberitahu definisi tentang cinta, hubungan, rumah tangga, masalah, konflik, dan seterusnya. Ternyata kok nyambung ... Akhirnya malam kedua kami bertemu, kami menyatakan 'jadian'. Alasannya, kalau visi sudah sama, buat apa lama-lama. Apalagi, lima hari lagi dia akan kembali ke California untuk kembali menyelesaikan masternya. Hari itu adalah minggu kedua dia liburan ke Jakarta.
Singkat cerita, long distance relationship setelah itu yang terjadi adalah mulai terkuaknya perbedaan-perbedaan, harapan-harapan, yang membuat situasi layak disebut 'konflik'. Mulai dari acceptance terhadap masa lalu kami masing-masing, menentukan konsep pertunangan dan pernikahan, sampai hal-hal kecil seperti nada yang kurang mesra karena kecapaian. Apalagi perbedaan waktu antara Indonesia dengan Amerika adalah siang dan malam.
Untung salah satu PR saya buat dia adalah "sebelum menikah, dia harus sudah khatam membaca buku Seven Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey". Itu terjadi tahun 1997. Kami jadi melalui proses penyelesaian konflik dengan keyakinan bahwa yang terjadi adalah perbedaan paradigma dan persepsi akibat pengalaman masa lalu kami masing-masing, bermental berbagi, berusaha mengerti lebih dulu, dan sinergi kami nantinya justru akan kuat jika dibangun di atas perbedaan-perbedaan. Apa yang saya alami sesungguhnya itu memang tidak semulus kalau diceritakan di sini.
Setelah menikah, masih ada perbedaan soal kebiasaan hidup. Kadang-kadang dia ingin selalu bercerita soal masalahnya, saya pas juga punya masalah dan cenderung diam berpikir sendiri. Belum lagi kalau sms tidak cepat dibalas karena saya sedang mengerjakan sesuatu atau rapat. Anda pasti mengalaminya juga.
Proses itu kami lalui dan nikmati. Kami memrogram diri untuk tidak tergoda pada jalan pintas. Akhirnya sekarang, kami bukannya terbebas sama sekali dari masalah dan konflik, tetapi dengan cepat masalah itu kami selesaikan. Contoh yang jelas cukup 'berat' adalah ketika ia minta izin melanjutkan pendidikan S3 di Canberra Australia selama empat tahun, sementara kami belum memiliki anak, sementara usia kami sudah seputar kepala empat. Penyelesaian atas masalah itupun telah didapatkan.
Baru-baru saja, ia tiba-tiba meng-SMS saya merasa sedih setelah melihat foto yang saya upload ke facebook, dimana saya berfoto menggendong bayi seorang karyawati saya. Ia merasa saya sudah sangat menginginkan anak, tapi dia belum bisa 'memberinya'. Saya tidak membela diri atau menasehati untuk menggiring cara pandang dia (kembali) bahwa yang belum memberi kita anak bukan dia tetap Tuhan. Yang saya lakukan saat itu adalah segera menghapus kembali dan meminta maaf karena waktunya tidak tepat. Dia kebetulan memang akan menghadapi ujian terakhirnya. Saya perlu mendukungnya agar pikirannya fokus ke ujian. Itu lebih penting buat dia.
Ternyata, setelah saya runtut ke belakang, apa yang membuat kami sekarang lebih mudah saling mengerti dan cepat menyelesaikan masalah, maka jawabannya ketemu : kami selalu membicarakan masalah berdua saja, tidak ada orang lain. Memang untuk hal-hal yang berat, saya minta pendapat orang tua atau 'ahlinya'. Tapi bukan dalam semangat curhat, melainkan mencari suatu pandangan. Kami tidak melibatkan orang lain di dalam penyelesaian masalah kami. Hanya kami berdua.
Minggu, Juli 05, 2009
"L" Air Mental Fitness Center
"Mas, minta di lorong ya ..", pinta saya kepada petugas maskapai penerbangan "L" Air di konter check-in Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Suara saya yang mantap ditambah anggukan sang petugas membuat saya ayem mendapatkan posisi duduk yang saya inginkan.
Proses check-in berlangsung cepat. Saya menerima boarding pass dari secarik kertas putih dan melihat nomor kursi saya 19A, lalu langsung mengantonginya.
Waktu masih sejam lagi untuk boarding. Saya membawa buku NLP in Action karya Pak Wiwoho untuk me-refresh pengetahuan NLP saya. Sejak awal masuk ruang tunggu, saya punya feeling kali ini pesawat akan delay. Entah dari mana intuisi itu datang.
Benar ! ... Suara wanita yang lembut dan renyah mengabarkan pesawat ke Jakarta ditunda 1,5 jam. Untung buku Pak Wiwoho menemani saya. Saya segera keluar ruang tunggu, dan nongkrong di sebuah kafe sambil menyeruput teh poci.
Singkat cerita, setelah waktunya tiba, saya beranjak ke pesawat. Saya lihat label yang menempel di bagasi kabin, ternyata kursi saya ada di dekat jendela, bukan di lorong seperti yang saya minta. Meskipun sedikit kecewa, tapi karena boarding pass sudah tidak diubah lagi, saya menerima saja kenyataan ini. Sekali lagi, saya punya feeling tempat duduk saya sudah ada yang menempati. Benar ! ... Seorang bapak-bapak dengan wajah datar telah menduduki hak kursi saya.
"Bapak nomor berapa ?", tanya saya kepada bapak-bapak tadi.
"Saya di tengah, tapi saya sudah di sini, silakan ...", kata si bapak dengan wajah optimis sambil tangannya menyilakan saya duduk di posisi tengah yang seharusnya ia tempati.
Melihat adanya pelanggaran hak, amarah saya muncul. Bukannya minta izin, malah ngatur saya, begitu pikir saya. Persis seperti saya marah melihat mobil pribadi nyelonong di jalur busway dan menghalangi hak penumpang bus TransJakarta untuk cepat. Tapi kali itu ada mekanisme bawah sadar saya yang bekerja cepat memprogram saya untuk diam dan memasang wajah tidak senang saja. Hal ini karena posisi duduk pinggir jendela ataupun tengah sama-sama posisi yang tidak saya kehendaki semula. Lain halnya kalau yang direbut adalah kursi di pinggir lorong sebagaimana yang saya minta, maka saya mungkin lebih fight. Bagi bapak ini, menempati tempat saya bukanlah sesuatu yang 'masalah besar', bahkan mungkin tidak dia anggap salah. Saya bertekad, kalau bapak-bapak itu 'sok akrab', saya memutuskan akan tidak terlalu 'pacing'.
Saya kemudian tersadar untuk tidak larut dalam ketidaksenangan itu. Marah sih tetap marah, tapi ada suara yang mengatakan, siapa tahu posisi duduk di tengah itu lebih 'berkah'. Who knows? .. toh saya juga tidak memperjuangkan kursi 19A karena buat saya tidak terlalu 'worth'.
Brukkkk ! ... lha ? .. meja makan di belakang kursi depan saya terbuka. Ternyata kaitnya sudah kendor, sehingga beberapa kali saya lipat kembali tetap tidak bisa. Saya memanggil pramugari dan minta karet atau pengikat. Tunggu punya tunggu, apa yang saya minta tidak kunjung datang. Akhirnya, dengan semangat praja muda karana, dan memodel tokoh film "Mc Gyver", saya segera mencari-cari benda apa yang bisa saya gunakan untuk mengganjal meja lipat ini.
Aaaahh ..! .. saya lalu mengambil karton informasi berisi doa. Kartonnya tebal. Saya lipat tiga, lalu saya selipkan di antara kunci pengait, sehingga posisi karton terlipat itu seperti 'kepanjangan tangan' dari pengait. Problem had solved.
Sampai di Bandara Soekarno Hatta, saya berdiri di depan tempat pengambilan bagasi. Lama sekali barang-barang tidak kunjung muncul. Setelah lebih dari 15 menit, petugas "L" Air datang dan memberitahu bahwa barang masih di pesawat karena ada kesulitan membuka kompartemen. Setelah tigapuluh menit, akhirnya barang saya datang juga.
Hari itu saya sudah latihan beban di "L" Air mental fitness center. Ada rasa sakit dan lelah, tapi setelah itu mental saya merasa segar ...***
Proses check-in berlangsung cepat. Saya menerima boarding pass dari secarik kertas putih dan melihat nomor kursi saya 19A, lalu langsung mengantonginya.
Waktu masih sejam lagi untuk boarding. Saya membawa buku NLP in Action karya Pak Wiwoho untuk me-refresh pengetahuan NLP saya. Sejak awal masuk ruang tunggu, saya punya feeling kali ini pesawat akan delay. Entah dari mana intuisi itu datang.
Benar ! ... Suara wanita yang lembut dan renyah mengabarkan pesawat ke Jakarta ditunda 1,5 jam. Untung buku Pak Wiwoho menemani saya. Saya segera keluar ruang tunggu, dan nongkrong di sebuah kafe sambil menyeruput teh poci.
Singkat cerita, setelah waktunya tiba, saya beranjak ke pesawat. Saya lihat label yang menempel di bagasi kabin, ternyata kursi saya ada di dekat jendela, bukan di lorong seperti yang saya minta. Meskipun sedikit kecewa, tapi karena boarding pass sudah tidak diubah lagi, saya menerima saja kenyataan ini. Sekali lagi, saya punya feeling tempat duduk saya sudah ada yang menempati. Benar ! ... Seorang bapak-bapak dengan wajah datar telah menduduki hak kursi saya.
"Bapak nomor berapa ?", tanya saya kepada bapak-bapak tadi.
"Saya di tengah, tapi saya sudah di sini, silakan ...", kata si bapak dengan wajah optimis sambil tangannya menyilakan saya duduk di posisi tengah yang seharusnya ia tempati.
Melihat adanya pelanggaran hak, amarah saya muncul. Bukannya minta izin, malah ngatur saya, begitu pikir saya. Persis seperti saya marah melihat mobil pribadi nyelonong di jalur busway dan menghalangi hak penumpang bus TransJakarta untuk cepat. Tapi kali itu ada mekanisme bawah sadar saya yang bekerja cepat memprogram saya untuk diam dan memasang wajah tidak senang saja. Hal ini karena posisi duduk pinggir jendela ataupun tengah sama-sama posisi yang tidak saya kehendaki semula. Lain halnya kalau yang direbut adalah kursi di pinggir lorong sebagaimana yang saya minta, maka saya mungkin lebih fight. Bagi bapak ini, menempati tempat saya bukanlah sesuatu yang 'masalah besar', bahkan mungkin tidak dia anggap salah. Saya bertekad, kalau bapak-bapak itu 'sok akrab', saya memutuskan akan tidak terlalu 'pacing'.
Saya kemudian tersadar untuk tidak larut dalam ketidaksenangan itu. Marah sih tetap marah, tapi ada suara yang mengatakan, siapa tahu posisi duduk di tengah itu lebih 'berkah'. Who knows? .. toh saya juga tidak memperjuangkan kursi 19A karena buat saya tidak terlalu 'worth'.
Brukkkk ! ... lha ? .. meja makan di belakang kursi depan saya terbuka. Ternyata kaitnya sudah kendor, sehingga beberapa kali saya lipat kembali tetap tidak bisa. Saya memanggil pramugari dan minta karet atau pengikat. Tunggu punya tunggu, apa yang saya minta tidak kunjung datang. Akhirnya, dengan semangat praja muda karana, dan memodel tokoh film "Mc Gyver", saya segera mencari-cari benda apa yang bisa saya gunakan untuk mengganjal meja lipat ini.
Aaaahh ..! .. saya lalu mengambil karton informasi berisi doa. Kartonnya tebal. Saya lipat tiga, lalu saya selipkan di antara kunci pengait, sehingga posisi karton terlipat itu seperti 'kepanjangan tangan' dari pengait. Problem had solved.
Sampai di Bandara Soekarno Hatta, saya berdiri di depan tempat pengambilan bagasi. Lama sekali barang-barang tidak kunjung muncul. Setelah lebih dari 15 menit, petugas "L" Air datang dan memberitahu bahwa barang masih di pesawat karena ada kesulitan membuka kompartemen. Setelah tigapuluh menit, akhirnya barang saya datang juga.
Hari itu saya sudah latihan beban di "L" Air mental fitness center. Ada rasa sakit dan lelah, tapi setelah itu mental saya merasa segar ...***
Minggu, Juni 21, 2009
25 Alasan Aku Berterimakasih Kepada Isteriku

1. Terimakasih untuk membuatkan aku susu atau teh
2. Terimakasih sudah membuatkan aku sop buntut, sop iga, tongseng, dan steak yang begitu enak
3. Terimakasih sudah mengantarkan aku ke dokter dan rumah sakit waktu aku sakit, bahkan sebelum kita menikah
4. Terimakasih sudah melindungi aku ketika aku diganggu dan dikejar wanita lain untuk dimiliki.
5. Terimakasih sudah mendengarkan aku ketika berkeluh kesah
6. Terimakasih sudah membelikan aku Blackberry
7. Terimakasih sudah membayar ongkos kursus-kursusku
8. Terimakasih sudah memberi ruang pribadi aku dan mengizinkan aku hang-out sama teman-temanku - bahkan dengan yang wanita sekalipun
9. Terimakasih telah menjaga rahasia-rahasiaku
10. Terimakasih sudah tetap menghormatiku meskipun gajimu jauh lebih besar dariku.
11. Terimakasih sudah menanggung biaya pengobatan almarhum ayahku
12. Terimakasih sudah memaafkan aku waktu lupa membelikan pesananmu
13. Terimakasih sudah menjadi ibu dari almarhum anak kita
14. Terimakasih sudah menerima aku apa adanya
15. Terimakasih untuk selalu mengingatkanku menaruh barang di tempatnya kembali
16. Terimakasih untuk cemburumu yang menyelamatkan aku
17. Terimakasih sudah mau menyupiri aku ketika aku kecapean nyupir
18. Terimakasih sudah mau mijetin aku dengan enak
19. Terimakasih mau beberapakali membayari tagihan kartu kreditku
20. Terimakasih kamu dandan cantik untukku
21. Terimakasih kamu selalu minta sholat berjemaah denganku
22. Terimakasih kamu menyayangi keluargaku dan menjadi teman dari teman-temanku
23. Terimakasih untuk hal-hal yang tidak bisa diceritakan di sini
24. Terimakasih kamu masih mencintai aku sampai sekarang
25. Terimakasih kamu masih punya banyak hal yang patut membuat aku berterimakasih
Yang diserahkan bukan jawabannya

Salah seorang dari 1.800 teman facebook mengirim pesan. Ia tanya nomor handphone saya. Ia ingin 'belajar menata pikiran dan hati'. Saya menduga, ini pasti urusan rumah tangga. Setelah beberapa hari tidak kunjung ditelepon juga, lalu saya mengirimkan pesan kalau agak kesulitan menghubungi saya, ia bisa menuliskan 'pengantar' atau 'mukaddimah' masalahnya lewat surat elektronik.
Ia menjawab, ia sudah bisa menata hati dan tegar. Suaminya sudah bercerita dari A sampai Z hubungannya dengan perempuan lain. Ia introspeksi dan minta maaf kepada suaminya karena banyak kekurangan. Ia bertahan karena ia yakin anak-anaknya pasti akan jadi orang besar. Ia bertahan demi kebahagiaan mereka.
Dari kalimat yang ia tulis, saya merasakan adanya keinsyafan dari teman saya itu untuk melihat ke depan. Sebagai peristiwa yang mengguncang emosi, mereka pasti butuh waktu untuk melalui proses recovery. Buktinya, waktu saya tawarkan suaminya ikut pelatihan saya di sebuah kota, ia bilang jangan dulu karena masih 'cooling down'. Sang perempuan lain itu masih berharap, katanya.
"Mas, betul tidak sih pikiranku ini, bahwa wanita sebaik apapun jika sudah menodai rumah tangga orang lain, apakah ia masih berstatus jadi wanita baik-baik lagi ?", tanya dia dalam perbincangan di yahoo messenger.
Keinsyafanpun akan diuji.
"Menurutmu, kalau kamu berada pada posisi perempuan itu bagaimana ?", tanya saya balik.
"Kami tidak akan melanjutkan, karena jika melanjutkan aku akan bahagia di atas penderitaan orang lain yang notabene keluarga lakiku sendiri, dimana lakiku berada bersama isterinya setiap hari. Itu bukan cinta, tapi keegoisan", kata teman saya itu.
Saya mafhum, setiap wanita yang berada posisi teman saya itu, menurut perkiraan saya jawabannya akan serupa. Itu adalah jawaban 'sadar'. Masalahnya, urusan cinta adalah urusan perasaan, sudah berada di wilayah 'bawah sadar' yang dalam satu sumber disebut punya kekuatan sembilan kali lebih kuat daripada wilayah 'sadar'.
Saya bilang, "Yang terjadi adalah ketidakberdayaan dua orang termasuk suamimu dalam mengendalikan perasaannya sendiri. Mereka dikendalikan oleh perasaan mereka sendiri."
Saya melanjutkan, "Lagipula, apakah berguna buatmu memikirkan perempuan itu ?. Mau baik-baik kek, atau sudah tidak baik-baik kek, kalau dipikirin apa ada manfaat positifnya buat recovery hubunganmu dengan suamimu ? Apa bukan yang penting buatmu itu adalah membuat suamimu 'kembali' hatinya kepada kamu ?"...
"Betul mas, aku akan menjadi wanita yang menjaga sikap dan mengerti keinginan suamiku..", katanya.
Saya lalu candain, "bukan cuma mengerti, tapi perlu juga 'dimengerti' .. Caranya dimengerti adalah menyatakan keinginan tanpa mendikte suami ..., nanti kapan-kapan kita bahas. Sekarang, apa yang kamu mau lakukan supaya menjalani 'jaga sikap' dan 'mengerti keinginan suami' itu dengan IKHLAS ?"
Jawabnya, "Tidak menuntut apapun darinya, yang penting aku melakukan apapun dengan tidak tebebani, dan bersyukur pada Tuhan. Tadinya aku berharap ini itu darinya, yaitu sholat, menutupi kekurangan keuangan atau ekonomi keluarga, karena belum ikhlas. Aku sering menangis dalam sholat, supaya bisa melewati ini semua dengan tegar..".
Saya bilang, "Menangis itu jangan-jangan karena kamu memikirkan apa yang TELAH dia lakukan dan apa yang telah terjadi ? ..."
Dia bilang, "Banyak hal yang membuat aku menangis. Yang telah dia lakukan, dan masa depan. Juga menangis karena mencintai Tuhan .. merasa Tuhan masih menyayangiku .. Aku hanya menyerahkan ujian ini kepada Allah SWT ... ".
Aku langsung menyela, "Lhoooooo .... lha wong Tuhan itu kasih ujian kepada kita untuk kita jawab, kok malah jawabannya diserahkan lagi ke Tuhan jawabannya ? ... Jangan belum apa-apa terus diserahkan kepadanya, seolah yang tanggungjawab adalah Tuhan. Ini namanya kita nggak bertanggungjawab. Tuhan itu akan mengubah keadaan kita kalau kita sendiri yang sudah usaha merubahnya. Kunci jawabannya itu sebenarnya sudah diturunkan Tuhan sekaligus besama dengan soalnya. Kita cuma tinggal disuruh mencari saja di sekitar kita. Nahh .. yang diserahkan kepada Tuhan itu hasilnya .. ponten-nya..."
Dia langsung bilang, "Tapi, kata suamiku, perasaan dia kepada perempuan itu karena campur tangan Tuhan .. tidak bisa dikendalikan sampai sekarang. Mereka masih tidak bisa mengendalikan perasaan itu ..".
"Hahahaha ... kata-kata suamimu itu hanyalah ketidakberdayaan dirinya mengendalikan perasaannya, lalu dia blame Tuhan. Tuhan ia kambinghitamkan ... Lagipula mau tahu masalahnya ? ... karena suamimu sudah bilang sendiri 'masih tidak bisa mengendalikan perasaan itu ..'. Sebenarnya bisa, hanya tinggal cari tahu caranya saja ...", jawab saya.
Saya melanjutkan, "Nahhh .. sekarang fokus saja kepada apa yang ada dalam kendali kamu. Bayangkan dengan jelas dan detail dalam pikiranmu setiap habis sholat, apa yang kamu inginkan akan terjadi pada dirimu, dirinya, dan rumah tanggamu. Lalu bayangkan dan rasakan sepertinya apa yang kamu inginkan itu telah terjadi ... Setelah itu bilang 'amiiiin'. Itu sudah doa .. Kalau ikhlas, Insya Allah terjadi."
Karena teman saya itu 'naga-naganya' tidak bisa lama-lama chatting dari warnet, saya langsung memberi saran, "Minta suamimu jadi imam sholat. Tapi mintanya bukan, 'ayo sholat dan imami aku ..', tapi nyatakan keinginanmu 'aku ingiin sekali sholat kali ini jadi makmum kamu ..'. Dan kalau itu dia lakukan, setelah itu ucapkan dengan lembut, 'terimakasih'. Sering-sering ucapkan 'terimakasih', nanti kan ada bedanya..."
"Thanks banget mas ..", katanya.
"Udah baca note-ku di facebook yang judulnya '25 alasan aku berterimakasih kepada isteriku' ?", tanya saya.
"Udah mas. Kamu hebat bisa mengucapkan terimakasih atas hal-hal kecil yang dilakukan isterimu. Suamiku belum .. Tapi aku tidak mengharapkan itu ..", kata teman saya itu ...
Kalimat teman saya ini jelas sekali menyiratkan kerinduan dan harapan dia bahwa suaminya memperhatikan dan berterimakasih terhadap hal-hal kecil yang ia lakukan juga untuk suaminya, meskipun dibungkus oleh kalimat penutup ego "tapi aku tidak mengharapkan itu ..".
Saya menjawab, "Yaa kamu tidak harus membuat note di facebook, atau menyerahkan surat ucapan terimakasih itu kepada suamimu. Tapi kalau kamu membuat 25 alasan kamu berterimakasih kepada suamimu, setidaknya akan memperkuat sinyal dan energi positifmu dalam menjalani proses recovery ini ...".
Tiba-tiba dia menghilang. Catatan di layar komputer, dia sign-off. Mungkin dia buru-buru sehingga belum sempat pamitan ...***
Selasa, Mei 26, 2009
Menafsirkan tafsir

Anjing, babi, monyet, kampret.
Itulah kata-kata yang saya tulis di status facebook. Apa yang melatari saya membuat status itu ? .. Hmm .. nanti saja saya jelaskan. Yang jelas, dalam hitungan detik ada bunyi 'krwenggg' di Blackberry saya. Itu tandanya ada notification di facebook. Setelah itu -- seperti yang saya duga -- suara itu lebih sering berbunyi lagi.
Komentar teman-teman jemaah alfesbukiyah sangat beragam-ragam.
"????? Lagi ngafal nama2 binatang, atau ..??" adalah komentar perdana yang muncul. Sang teman ini belum melakukan penyimpulan. Ia masih mengumpulkan informasi karena ia mafhum ada banyak kemungkinan maksud dari status saya tadi. Begitu juga komentar yang berbunyi, "Maksudnya Pak ?".
"nama2 binatang yang lucu deh kalo dibuat kartunnya..". Komentar ini meluncur dari seseorang yang tidak peduli apa maksud saya yang sebenarnya, tapi dia gunakan sebagai sumber daya untuk membangun image yang menyenangkan untuk dirinya.
"jd inget kapten haddock ...temennya tintin..;P". Teman saya ini langsung menghubungkan kata-kata saya dengan makian seorang tokoh kartun yang suka mengeluarkan sumpah serapah kalau sedang bete, tapi saya tidak tahu apakah teman saya itu yang dibayangkan adalah Kapten Haddock, atau saya yang sedang mengeluarkan sumpah serapah.
"ealaaaaahhhhh,,,, no koment dech". Ini komentar orang yang tidak menyangka ada kata-kata itu di status facebook.
"Kenapa pak? Wah.. Parah kata2nya..". Nah, ini sudah jelas 'tuduhannya', meskipun dibungkus dalam kalimat tanya, sebab dihubungkan dengan kalimat berikutnya. Kata-kata status saya yang netral kemudian dihakimi sebagai kata-kata parah plus diberi muatan emosi tertentu di dalamnya. Si kata-kata jadi terhakimi. Sama dengan flu babi yang menurut Departemen Kesehatan RI tidak ada hubungannya dengan babi. Makanya Depkes mengubah istilahnya menjadi swine flu. Kasihan babi namanya tercemar, begitusalah seorang direktur di Depkes.
"pasti abis serempetan ya?". Nah, ini sudah jelas menuduh bukan ?. Sudah tafsirnya tidak sama dengan kenyataannya (dalam bahasa subjektif, saya beri nama : keliru), malah dia menciptakan fiksi lainnya.
"Itu nama* hewan...(kcuali kampret)". Nah, ini awalnya benar, yaitu nama-nama hewan. tapi
ia belum tahu bahwa kampret itu adalah nama slank dari kelelawar.
"Cuman kampret yang di keluarga ku nggak ada??? kamu mau jadi ..kowe gelem jd keluarga ku??". Teman saya ini langsung menggunakan status saya sebagai sumber daya untuk bercanda, dan menurut saya ia cukup cerdas untuk bercanda. Tingkat berpikir yang lebih tinggi dalam humor.
"Pak Prasetya ini luar biasa, ternyata sangat mencintai binatang , bukan begitu pak?
try to Be positif ....". Ini adalah komentar teman yang menyodorkan proposal reframing kepada saya atau kepada dirinya sendiri, tapi terasa ada gambaran di pikirannya bahwa diri saya sedang 'negatif'.
Lalu apakah tafsir teman-teman saya itu dalam bentuk komentar benar atau salah ? ... Lha, saya ini malah sedang menafsirkan tafsir teman-teman saya. Sekali lagi, tafsir saya atas tafsir mereka-pun tidak luput dari ketidaksesuaian antara apa yang saya lihat di peta pikiran saya sendiri dengan peta pikiran mereka. Dengan kata lain, tidak jelas betul persepsi-persepsi yang terjadi berikutnya. Dan tindakan kita berasal dari persepsi-persepsi yang tidak jelas kebenarannya itu.
Yang benar, saya sedang 'iseng' ingin tahu respon teman-teman facebook kalau saya menulis nama-nama binatang yang menjadi 'carrier' penyakit, karena saya baru saja memberi pelatihan di Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Departemen Kesehatan RI.
Yang tahu maksud sebenarnya dari status itu hanyalah saya dan Tuhan, tapi hidup kita dibisingkan, di-tek-tok-an, dan diombang-ambingkan oleh pemahaman-pemahaman yang 'berayun-anyun', 'ngambang', fragile, kebenaran subjektif. Bayangkan persepsi-persepsi yang lahir, keyakinan-keyakinan yang terbentuk, dari hanya dengan membaca headline di koran, sepenggal kalimat yang diucapkan oleh acara gosip di televisi, bisik-bisik dari tetangga ?. Dan kita akan mengalami dari apa yang kita yakini, meskipun keyakinan itu terbangun dari ilusi yang fiktif.
Jadi, yang bikin hidup kita ribet siapa ? ***
Senin, Mei 18, 2009
Bukan Siapa, Tapi Apa
Selesai mengevaluasi kegiatan pelatihan untuk sebuah instansi pemerintah, pimpinan tim segera melaporkan kepada saya apa yang sudah dibicarakan. Di hadapan saya, wajah beliau tampak tidak terlalu ceria seperti biasanya. Saya sudah merasa, pasti ada kekurangan yang dianggap fatal.
Beliau menyampaikan bahwa tim lupa membagikan slayer kepada peserta pelatihan. Meskipun peserta tampak tidak terlalu peduli soal slayer, dan di lembar evaluasi pelatihan tidak kami temui sedikitpun peserta menyinggung soal slayer, tapi karena slayer sudah jadi bagian dari rencana tim kami, maka ketika kenyataannya tidak sama dengan rencananya, itu kami anggap masalah.
Apa itu namanya memperpanjang masalah ? .. Toh, klien juga tidak terlalu peduli. Oh, tidak ... Masalah ini sengaja kami permasalahkan karena berguna untuk melatih kecermatan tim kami nantinya dalam mengeksekusi rencana yang sudah dibuat matang. Jadi mempermasalahkan masalah ini masih bermanfaat.
Selama laporan lisan itu, saya lebih banyak mendengarkan dan bertanya saja karena saya lihat proses evaluasi dan pembelajaran yang dilakukan sudah benar.
Seperti biasa, saya paling suka menindaklanjuti laporan apapun dengan mendatangi mereka yang terlibat dalam proses suatu kegiatan di lain waktu. Saya sengaja 'pasang badan' untuk menunggu dicurhati lagi, siapa tahu ada informasi yang belum saya dengar bisa muncul, sehingga menggenapkan pemahaman saya tentang apa yang sudah terjadi.
"Saya memperhatikan akhir-akhir ini master of training maupun training officer sudah tidak lagi memegang rundown dan check-list. Saya paham karena program ini sudah berkali-kali kita lakukan, jadi kita merasa hafal. Nyatanya, kemarin ada yang kelupaan kan ? .." kata saya menanggapi salah seorang staf saya yang akhirnya menyinggung lagi soal evaluasi pelatihan itu.
"Ya memang itu salahku ...", kata salah seorang anggota tim yang merasa 'bersalah' atas beberapa kekurangan yang terjadi.
"Oh, bukan ... kita tidak bicara soal siapa yang salah karena tidak bermanfaat untuk ke depannya. Semua orang bisa salah kok. Yang kita bicarakan adalah apa yang salah. Dengan tahu apa yang salah kita jadi tahu apa yang benar, dan semua orang bisa melakukan apa yang benar", timpal saya.
"Lagipula, yang kamu lakukan itu bagi saya bukan 'salah'. Sebenarnya kamu cuma tidak melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu, sehingga hasil dan dampaknya seperti ini - sesuatu yang tidak kita inginkan. Itu saja ... Kita menjadi 'salah' kalau kita tidak tahu apa yang tidak sesuai dengan harapan itu, lalu tidak merencanakan tindakan yang ada dalam kendali kita yang akan mendekatkan hasil dan dampaknya kepada yang diinginkan ...", tambah saya. "Tapi menjadi salah pangkat tak terhingga kalau kita tidak melakukan tindakan yang sudah direncanakan untuk mencegah kejadian ini terulang kembali ...".
Ia kelihatan sedikit lega karena saya tidak menyalahkan dia. Kenapa saya tidak menyalahkan dia ? Karena dia sudah tahu apa yang telah dan tidak dia lakukan sehingga masalah itu terjadi. Saya juga menangkap nada dia waktu mengucapkan menunjukkan semangat belajar dari kesalahan untuk perbaikan ke depan. Lain halnya kalau misalkan staf saya itu tidak mau ikut bertanggungjawab alias ngeles, lalu membelokkan tanggungjawab kepada orang lain atau situasi lain. Ia bisa jadi 'makanan empuk' saya.
"Yang sudah terjadi toh tidak bisa kita ubah. Ya sudah, yang penting bagaimana kita membuat klien kita yang mungkin kecewa bisa senang dan percaya lagi. Lalu ke depannya, kita kembali ke standard operating procedure untuk membaca rundown dan melakukan recheck bersama sebelum kegiatan dimulai ..." ***
Beliau menyampaikan bahwa tim lupa membagikan slayer kepada peserta pelatihan. Meskipun peserta tampak tidak terlalu peduli soal slayer, dan di lembar evaluasi pelatihan tidak kami temui sedikitpun peserta menyinggung soal slayer, tapi karena slayer sudah jadi bagian dari rencana tim kami, maka ketika kenyataannya tidak sama dengan rencananya, itu kami anggap masalah.
Apa itu namanya memperpanjang masalah ? .. Toh, klien juga tidak terlalu peduli. Oh, tidak ... Masalah ini sengaja kami permasalahkan karena berguna untuk melatih kecermatan tim kami nantinya dalam mengeksekusi rencana yang sudah dibuat matang. Jadi mempermasalahkan masalah ini masih bermanfaat.
Selama laporan lisan itu, saya lebih banyak mendengarkan dan bertanya saja karena saya lihat proses evaluasi dan pembelajaran yang dilakukan sudah benar.
Seperti biasa, saya paling suka menindaklanjuti laporan apapun dengan mendatangi mereka yang terlibat dalam proses suatu kegiatan di lain waktu. Saya sengaja 'pasang badan' untuk menunggu dicurhati lagi, siapa tahu ada informasi yang belum saya dengar bisa muncul, sehingga menggenapkan pemahaman saya tentang apa yang sudah terjadi.
"Saya memperhatikan akhir-akhir ini master of training maupun training officer sudah tidak lagi memegang rundown dan check-list. Saya paham karena program ini sudah berkali-kali kita lakukan, jadi kita merasa hafal. Nyatanya, kemarin ada yang kelupaan kan ? .." kata saya menanggapi salah seorang staf saya yang akhirnya menyinggung lagi soal evaluasi pelatihan itu.
"Ya memang itu salahku ...", kata salah seorang anggota tim yang merasa 'bersalah' atas beberapa kekurangan yang terjadi.
"Oh, bukan ... kita tidak bicara soal siapa yang salah karena tidak bermanfaat untuk ke depannya. Semua orang bisa salah kok. Yang kita bicarakan adalah apa yang salah. Dengan tahu apa yang salah kita jadi tahu apa yang benar, dan semua orang bisa melakukan apa yang benar", timpal saya.
"Lagipula, yang kamu lakukan itu bagi saya bukan 'salah'. Sebenarnya kamu cuma tidak melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu, sehingga hasil dan dampaknya seperti ini - sesuatu yang tidak kita inginkan. Itu saja ... Kita menjadi 'salah' kalau kita tidak tahu apa yang tidak sesuai dengan harapan itu, lalu tidak merencanakan tindakan yang ada dalam kendali kita yang akan mendekatkan hasil dan dampaknya kepada yang diinginkan ...", tambah saya. "Tapi menjadi salah pangkat tak terhingga kalau kita tidak melakukan tindakan yang sudah direncanakan untuk mencegah kejadian ini terulang kembali ...".
Ia kelihatan sedikit lega karena saya tidak menyalahkan dia. Kenapa saya tidak menyalahkan dia ? Karena dia sudah tahu apa yang telah dan tidak dia lakukan sehingga masalah itu terjadi. Saya juga menangkap nada dia waktu mengucapkan menunjukkan semangat belajar dari kesalahan untuk perbaikan ke depan. Lain halnya kalau misalkan staf saya itu tidak mau ikut bertanggungjawab alias ngeles, lalu membelokkan tanggungjawab kepada orang lain atau situasi lain. Ia bisa jadi 'makanan empuk' saya.
"Yang sudah terjadi toh tidak bisa kita ubah. Ya sudah, yang penting bagaimana kita membuat klien kita yang mungkin kecewa bisa senang dan percaya lagi. Lalu ke depannya, kita kembali ke standard operating procedure untuk membaca rundown dan melakukan recheck bersama sebelum kegiatan dimulai ..." ***
Langgan:
Entri (Atom)