Selasa, Juli 14, 2009

Selesaikan berdua saja

"Kamu kok kayaknya mesra-mesra aja sama isterimu ? ... Nggak pernah konflik kayaknya ..", tanya teman saya.

"Siapa bilang ? ... pasti ada lah .. hanya saja semakin ke sini semakin mudah menyelesaikan konflik ..", jawab saya.

Cerita saya bertemu dan akhirnya menikah dengan isteri saya cukup unik -- bagi saya. Kami diperkenalkan oleh teman SMA. Saat itu saya masih kuliah di MM-UI, dan 'pas' kebetulan jomblo. Saya baru saja putus (lebih tepatnya diputusin) dengan seorang wanita yang menerima pinangan sahabat saya sendiri untuk menjadi isteri kedua sahabat saya itu.

Berbeda dengan kali sebelumnya, dimana kalau ada teman yang mau memperkenalkan saya, saya segera mengambil kuda-kuda dan persiapan yang membuat saya tampil prima. Dengan kata lain, saya akan jaim. Kali ini, saya sudah agak 'lelah' untuk jaim. Saya pikir, biarlah saya apa adanya, kalau frekuensinya atau rumus kimianya cocok, pasti terjadi reaksi. Kalau tidak, berpura-pura itu sangat melelahkan.

Kurang ajarnya, teman saya langsung meninggalkan kami berdua yang terpaku setelah saling diperkenalkan di Pasar Festival. Pandangan saya kali pertama mengirimkan gambaran yang mendorong self-talk keluar : 'hmm .. lumayan nih ..". Setelah itu semuanya seperti mengalir begitu saja.

Seharian kami isi waktu dengan banyak berdiskusi. Hari kedua kami bertemu lagi dan obrolan kami mengarah kepada 'what if' .... Kami saling memberitahu definisi tentang cinta, hubungan, rumah tangga, masalah, konflik, dan seterusnya. Ternyata kok nyambung ... Akhirnya malam kedua kami bertemu, kami menyatakan 'jadian'. Alasannya, kalau visi sudah sama, buat apa lama-lama. Apalagi, lima hari lagi dia akan kembali ke California untuk kembali menyelesaikan masternya. Hari itu adalah minggu kedua dia liburan ke Jakarta.

Singkat cerita, long distance relationship setelah itu yang terjadi adalah mulai terkuaknya perbedaan-perbedaan, harapan-harapan, yang membuat situasi layak disebut 'konflik'. Mulai dari acceptance terhadap masa lalu kami masing-masing, menentukan konsep pertunangan dan pernikahan, sampai hal-hal kecil seperti nada yang kurang mesra karena kecapaian. Apalagi perbedaan waktu antara Indonesia dengan Amerika adalah siang dan malam.

Untung salah satu PR saya buat dia adalah "sebelum menikah, dia harus sudah khatam membaca buku Seven Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey". Itu terjadi tahun 1997. Kami jadi melalui proses penyelesaian konflik dengan keyakinan bahwa yang terjadi adalah perbedaan paradigma dan persepsi akibat pengalaman masa lalu kami masing-masing, bermental berbagi, berusaha mengerti lebih dulu, dan sinergi kami nantinya justru akan kuat jika dibangun di atas perbedaan-perbedaan. Apa yang saya alami sesungguhnya itu memang tidak semulus kalau diceritakan di sini.

Setelah menikah, masih ada perbedaan soal kebiasaan hidup. Kadang-kadang dia ingin selalu bercerita soal masalahnya, saya pas juga punya masalah dan cenderung diam berpikir sendiri. Belum lagi kalau sms tidak cepat dibalas karena saya sedang mengerjakan sesuatu atau rapat. Anda pasti mengalaminya juga.

Proses itu kami lalui dan nikmati. Kami memrogram diri untuk tidak tergoda pada jalan pintas. Akhirnya sekarang, kami bukannya terbebas sama sekali dari masalah dan konflik, tetapi dengan cepat masalah itu kami selesaikan. Contoh yang jelas cukup 'berat' adalah ketika ia minta izin melanjutkan pendidikan S3 di Canberra Australia selama empat tahun, sementara kami belum memiliki anak, sementara usia kami sudah seputar kepala empat. Penyelesaian atas masalah itupun telah didapatkan.

Ternyata, setelah saya runtut ke belakang, apa yang membuat kami sekarang lebih mudah saling mengerti dan cepat menyelesaikan masalah, maka jawabannya ketemu : kami selalu membicarakan masalah berdua saja, tidak ada orang lain. Memang untuk hal-hal yang berat, saya minta pendapat orang tua atau 'ahlinya'. Tapi bukan dalam semangat curhat, melainkan mencari suatu pandangan. Kami tidak melibatkan orang lain di dalam penyelesaian masalah kami. Hanya kami berdua.

Minggu, Juli 05, 2009

"L" Air Mental Fitness Center

"Mas, minta di lorong ya ..", pinta saya kepada petugas maskapai penerbangan "L" Air di konter check-in Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Suara saya yang mantap ditambah anggukan sang petugas membuat saya ayem mendapatkan posisi duduk yang saya inginkan.

Proses check-in berlangsung cepat. Saya menerima boarding pass dari secarik kertas putih dan melihat nomor kursi saya 19A, lalu langsung mengantonginya.

Waktu masih sejam lagi untuk boarding. Saya membawa buku NLP in Action karya Pak Wiwoho untuk me-refresh pengetahuan NLP saya. Sejak awal masuk ruang tunggu, saya punya feeling kali ini pesawat akan delay. Entah dari mana intuisi itu datang.

Benar ! ... Suara wanita yang lembut dan renyah mengabarkan pesawat ke Jakarta ditunda 1,5 jam. Untung buku Pak Wiwoho menemani saya. Saya segera keluar ruang tunggu, dan nongkrong di sebuah kafe sambil menyeruput teh poci.

Singkat cerita, setelah waktunya tiba, saya beranjak ke pesawat. Saya lihat label yang menempel di bagasi kabin, ternyata kursi saya ada di dekat jendela, bukan di lorong seperti yang saya minta. Meskipun sedikit kecewa, tapi karena boarding pass sudah tidak diubah lagi, saya menerima saja kenyataan ini. Sekali lagi, saya punya feeling tempat duduk saya sudah ada yang menempati. Benar ! ... Seorang bapak-bapak dengan wajah datar telah menduduki hak kursi saya.

"Bapak nomor berapa ?", tanya saya kepada bapak-bapak tadi.
"Saya di tengah, tapi saya sudah di sini, silakan ...", kata si bapak dengan wajah optimis sambil tangannya menyilakan saya duduk di posisi tengah yang seharusnya ia tempati.

Melihat adanya pelanggaran hak, amarah saya muncul. Bukannya minta izin, malah ngatur saya, begitu pikir saya. Persis seperti saya marah melihat mobil pribadi nyelonong di jalur busway dan menghalangi hak penumpang bus TransJakarta untuk cepat. Tapi kali itu ada mekanisme bawah sadar saya yang bekerja cepat memprogram saya untuk diam dan memasang wajah tidak senang saja. Hal ini karena posisi duduk pinggir jendela ataupun tengah sama-sama posisi yang tidak saya kehendaki semula. Lain halnya kalau yang direbut adalah kursi di pinggir lorong sebagaimana yang saya minta, maka saya mungkin lebih fight. Bagi bapak ini, menempati tempat saya bukanlah sesuatu yang 'masalah besar', bahkan mungkin tidak dia anggap salah. Saya bertekad, kalau bapak-bapak itu 'sok akrab', saya memutuskan akan tidak terlalu 'pacing'.

Saya kemudian tersadar untuk tidak larut dalam ketidaksenangan itu. Marah sih tetap marah, tapi ada suara yang mengatakan, siapa tahu posisi duduk di tengah itu lebih 'berkah'. Who knows? .. toh saya juga tidak memperjuangkan kursi 19A karena buat saya tidak terlalu 'worth'.

Brukkkk ! ... lha ? .. meja makan di belakang kursi depan saya terbuka. Ternyata kaitnya sudah kendor, sehingga beberapa kali saya lipat kembali tetap tidak bisa. Saya memanggil pramugari dan minta karet atau pengikat. Tunggu punya tunggu, apa yang saya minta tidak kunjung datang. Akhirnya, dengan semangat praja muda karana, dan memodel tokoh film "Mc Gyver", saya segera mencari-cari benda apa yang bisa saya gunakan untuk mengganjal meja lipat ini.

Aaaahh ..! .. saya lalu mengambil karton informasi berisi doa. Kartonnya tebal. Saya lipat tiga, lalu saya selipkan di antara kunci pengait, sehingga posisi karton terlipat itu seperti 'kepanjangan tangan' dari pengait. Problem had solved.

Sampai di Bandara Soekarno Hatta, saya berdiri di depan tempat pengambilan bagasi. Lama sekali barang-barang tidak kunjung muncul. Setelah lebih dari 15 menit, petugas "L" Air datang dan memberitahu bahwa barang masih di pesawat karena ada kesulitan membuka kompartemen. Setelah tigapuluh menit, akhirnya barang saya datang juga.

Hari itu saya sudah latihan beban di "L" Air mental fitness center. Ada rasa sakit dan lelah, tapi setelah itu mental saya merasa segar ...***

Minggu, Juni 21, 2009

25 Alasan Aku Berterimakasih Kepada Isteriku


1. Terimakasih untuk membuatkan aku susu atau teh
2. Terimakasih sudah membuatkan aku sop buntut, sop iga, tongseng, dan steak yang begitu enak
3. Terimakasih sudah mengantarkan aku ke dokter dan rumah sakit waktu aku sakit, bahkan sebelum kita menikah
4. Terimakasih sudah melindungi aku ketika aku diganggu dan dikejar wanita lain untuk dimiliki.
5. Terimakasih sudah mendengarkan aku ketika berkeluh kesah
6. Terimakasih sudah membelikan aku Blackberry
7. Terimakasih sudah membayar ongkos kursus-kursusku
8. Terimakasih sudah memberi ruang pribadi aku dan mengizinkan aku hang-out sama teman-temanku - bahkan dengan yang wanita sekalipun
9. Terimakasih telah menjaga rahasia-rahasiaku
10. Terimakasih sudah tetap menghormatiku meskipun gajimu jauh lebih besar dariku.
11. Terimakasih sudah menanggung biaya pengobatan almarhum ayahku
12. Terimakasih sudah memaafkan aku waktu lupa membelikan pesananmu
13. Terimakasih sudah menjadi ibu dari almarhum anak kita
14. Terimakasih sudah menerima aku apa adanya
15. Terimakasih untuk selalu mengingatkanku menaruh barang di tempatnya kembali
16. Terimakasih untuk cemburumu yang menyelamatkan aku
17. Terimakasih sudah mau menyupiri aku ketika aku kecapean nyupir
18. Terimakasih sudah mau mijetin aku dengan enak
19. Terimakasih mau beberapakali membayari tagihan kartu kreditku
20. Terimakasih kamu dandan cantik untukku
21. Terimakasih kamu selalu minta sholat berjemaah denganku
22. Terimakasih kamu menyayangi keluargaku dan menjadi teman dari teman-temanku
23. Terimakasih untuk hal-hal yang tidak bisa diceritakan di sini
24. Terimakasih kamu masih mencintai aku sampai sekarang
25. Terimakasih kamu masih punya banyak hal yang patut membuat aku berterimakasih

Yang diserahkan bukan jawabannya


Salah seorang dari 1.800 teman facebook mengirim pesan. Ia tanya nomor handphone saya. Ia ingin 'belajar menata pikiran dan hati'. Saya menduga, ini pasti urusan rumah tangga. Setelah beberapa hari tidak kunjung ditelepon juga, lalu saya mengirimkan pesan kalau agak kesulitan menghubungi saya, ia bisa menuliskan 'pengantar' atau 'mukaddimah' masalahnya lewat surat elektronik.

Ia menjawab, ia sudah bisa menata hati dan tegar. Suaminya sudah bercerita dari A sampai Z hubungannya dengan perempuan lain. Ia introspeksi dan minta maaf kepada suaminya karena banyak kekurangan. Ia bertahan karena ia yakin anak-anaknya pasti akan jadi orang besar. Ia bertahan demi kebahagiaan mereka.

Dari kalimat yang ia tulis, saya merasakan adanya keinsyafan dari teman saya itu untuk melihat ke depan. Sebagai peristiwa yang mengguncang emosi, mereka pasti butuh waktu untuk melalui proses recovery. Buktinya, waktu saya tawarkan suaminya ikut pelatihan saya di sebuah kota, ia bilang jangan dulu karena masih 'cooling down'. Sang perempuan lain itu masih berharap, katanya.

"Mas, betul tidak sih pikiranku ini, bahwa wanita sebaik apapun jika sudah menodai rumah tangga orang lain, apakah ia masih berstatus jadi wanita baik-baik lagi ?", tanya dia dalam perbincangan di yahoo messenger.

Keinsyafanpun akan diuji.

"Menurutmu, kalau kamu berada pada posisi perempuan itu bagaimana ?", tanya saya balik.

"Kami tidak akan melanjutkan, karena jika melanjutkan aku akan bahagia di atas penderitaan orang lain yang notabene keluarga lakiku sendiri, dimana lakiku berada bersama isterinya setiap hari. Itu bukan cinta, tapi keegoisan", kata teman saya itu.

Saya mafhum, setiap wanita yang berada posisi teman saya itu, menurut perkiraan saya jawabannya akan serupa. Itu adalah jawaban 'sadar'. Masalahnya, urusan cinta adalah urusan perasaan, sudah berada di wilayah 'bawah sadar' yang dalam satu sumber disebut punya kekuatan sembilan kali lebih kuat daripada wilayah 'sadar'.

Saya bilang, "Yang terjadi adalah ketidakberdayaan dua orang termasuk suamimu dalam mengendalikan perasaannya sendiri. Mereka dikendalikan oleh perasaan mereka sendiri."

Saya melanjutkan, "Lagipula, apakah berguna buatmu memikirkan perempuan itu ?. Mau baik-baik kek, atau sudah tidak baik-baik kek, kalau dipikirin apa ada manfaat positifnya buat recovery hubunganmu dengan suamimu ? Apa bukan yang penting buatmu itu adalah membuat suamimu 'kembali' hatinya kepada kamu ?"...

"Betul mas, aku akan menjadi wanita yang menjaga sikap dan mengerti keinginan suamiku..", katanya.

Saya lalu candain, "bukan cuma mengerti, tapi perlu juga 'dimengerti' .. Caranya dimengerti adalah menyatakan keinginan tanpa mendikte suami ..., nanti kapan-kapan kita bahas. Sekarang, apa yang kamu mau lakukan supaya menjalani 'jaga sikap' dan 'mengerti keinginan suami' itu dengan IKHLAS ?"

Jawabnya, "Tidak menuntut apapun darinya, yang penting aku melakukan apapun dengan tidak tebebani, dan bersyukur pada Tuhan. Tadinya aku berharap ini itu darinya, yaitu sholat, menutupi kekurangan keuangan atau ekonomi keluarga, karena belum ikhlas. Aku sering menangis dalam sholat, supaya bisa melewati ini semua dengan tegar..".

Saya bilang, "Menangis itu jangan-jangan karena kamu memikirkan apa yang TELAH dia lakukan dan apa yang telah terjadi ? ..."

Dia bilang, "Banyak hal yang membuat aku menangis. Yang telah dia lakukan, dan masa depan. Juga menangis karena mencintai Tuhan .. merasa Tuhan masih menyayangiku .. Aku hanya menyerahkan ujian ini kepada Allah SWT ... ".

Aku langsung menyela, "Lhoooooo .... lha wong Tuhan itu kasih ujian kepada kita untuk kita jawab, kok malah jawabannya diserahkan lagi ke Tuhan jawabannya ? ... Jangan belum apa-apa terus diserahkan kepadanya, seolah yang tanggungjawab adalah Tuhan. Ini namanya kita nggak bertanggungjawab. Tuhan itu akan mengubah keadaan kita kalau kita sendiri yang sudah usaha merubahnya. Kunci jawabannya itu sebenarnya sudah diturunkan Tuhan sekaligus besama dengan soalnya. Kita cuma tinggal disuruh mencari saja di sekitar kita. Nahh .. yang diserahkan kepada Tuhan itu hasilnya .. ponten-nya..."

Dia langsung bilang, "Tapi, kata suamiku, perasaan dia kepada perempuan itu karena campur tangan Tuhan .. tidak bisa dikendalikan sampai sekarang. Mereka masih tidak bisa mengendalikan perasaan itu ..".

"Hahahaha ... kata-kata suamimu itu hanyalah ketidakberdayaan dirinya mengendalikan perasaannya, lalu dia blame Tuhan. Tuhan ia kambinghitamkan ... Lagipula mau tahu masalahnya ? ... karena suamimu sudah bilang sendiri 'masih tidak bisa mengendalikan perasaan itu ..'. Sebenarnya bisa, hanya tinggal cari tahu caranya saja ...", jawab saya.

Saya melanjutkan, "Nahhh .. sekarang fokus saja kepada apa yang ada dalam kendali kamu. Bayangkan dengan jelas dan detail dalam pikiranmu setiap habis sholat, apa yang kamu inginkan akan terjadi pada dirimu, dirinya, dan rumah tanggamu. Lalu bayangkan dan rasakan sepertinya apa yang kamu inginkan itu telah terjadi ... Setelah itu bilang 'amiiiin'. Itu sudah doa .. Kalau ikhlas, Insya Allah terjadi."

Karena teman saya itu 'naga-naganya' tidak bisa lama-lama chatting dari warnet, saya langsung memberi saran, "Minta suamimu jadi imam sholat. Tapi mintanya bukan, 'ayo sholat dan imami aku ..', tapi nyatakan keinginanmu 'aku ingiin sekali sholat kali ini jadi makmum kamu ..'. Dan kalau itu dia lakukan, setelah itu ucapkan dengan lembut, 'terimakasih'. Sering-sering ucapkan 'terimakasih', nanti kan ada bedanya..."

"Thanks banget mas ..", katanya.

"Udah baca note-ku di facebook yang judulnya '25 alasan aku berterimakasih kepada isteriku' ?", tanya saya.

"Udah mas. Kamu hebat bisa mengucapkan terimakasih atas hal-hal kecil yang dilakukan isterimu. Suamiku belum .. Tapi aku tidak mengharapkan itu ..", kata teman saya itu ...

Kalimat teman saya ini jelas sekali menyiratkan kerinduan dan harapan dia bahwa suaminya memperhatikan dan berterimakasih terhadap hal-hal kecil yang ia lakukan juga untuk suaminya, meskipun dibungkus oleh kalimat penutup ego "tapi aku tidak mengharapkan itu ..".

Saya menjawab, "Yaa kamu tidak harus membuat note di facebook, atau menyerahkan surat ucapan terimakasih itu kepada suamimu. Tapi kalau kamu membuat 25 alasan kamu berterimakasih kepada suamimu, setidaknya akan memperkuat sinyal dan energi positifmu dalam menjalani proses recovery ini ...".

Tiba-tiba dia menghilang. Catatan di layar komputer, dia sign-off. Mungkin dia buru-buru sehingga belum sempat pamitan ...***

Selasa, Mei 26, 2009

Menafsirkan tafsir


Anjing, babi, monyet, kampret.

Itulah kata-kata yang saya tulis di status facebook. Apa yang melatari saya membuat status itu ? .. Hmm .. nanti saja saya jelaskan. Yang jelas, dalam hitungan detik ada bunyi 'krwenggg' di Blackberry saya. Itu tandanya ada notification di facebook. Setelah itu -- seperti yang saya duga -- suara itu lebih sering berbunyi lagi.

Komentar teman-teman jemaah alfesbukiyah sangat beragam-ragam.

"????? Lagi ngafal nama2 binatang, atau ..??" adalah komentar perdana yang muncul. Sang teman ini belum melakukan penyimpulan. Ia masih mengumpulkan informasi karena ia mafhum ada banyak kemungkinan maksud dari status saya tadi. Begitu juga komentar yang berbunyi, "Maksudnya Pak ?".

"nama2 binatang yang lucu deh kalo dibuat kartunnya..". Komentar ini meluncur dari seseorang yang tidak peduli apa maksud saya yang sebenarnya, tapi dia gunakan sebagai sumber daya untuk membangun image yang menyenangkan untuk dirinya.

"jd inget kapten haddock ...temennya tintin..;P". Teman saya ini langsung menghubungkan kata-kata saya dengan makian seorang tokoh kartun yang suka mengeluarkan sumpah serapah kalau sedang bete, tapi saya tidak tahu apakah teman saya itu yang dibayangkan adalah Kapten Haddock, atau saya yang sedang mengeluarkan sumpah serapah.

"ealaaaaahhhhh,,,, no koment dech". Ini komentar orang yang tidak menyangka ada kata-kata itu di status facebook.

"Kenapa pak? Wah.. Parah kata2nya..". Nah, ini sudah jelas 'tuduhannya', meskipun dibungkus dalam kalimat tanya, sebab dihubungkan dengan kalimat berikutnya. Kata-kata status saya yang netral kemudian dihakimi sebagai kata-kata parah plus diberi muatan emosi tertentu di dalamnya. Si kata-kata jadi terhakimi. Sama dengan flu babi yang menurut Departemen Kesehatan RI tidak ada hubungannya dengan babi. Makanya Depkes mengubah istilahnya menjadi swine flu. Kasihan babi namanya tercemar, begitusalah seorang direktur di Depkes.

"pasti abis serempetan ya?". Nah, ini sudah jelas menuduh bukan ?. Sudah tafsirnya tidak sama dengan kenyataannya (dalam bahasa subjektif, saya beri nama : keliru), malah dia menciptakan fiksi lainnya.

"Itu nama* hewan...(kcuali kampret)". Nah, ini awalnya benar, yaitu nama-nama hewan. tapi
ia belum tahu bahwa kampret itu adalah nama slank dari kelelawar.

"Cuman kampret yang di keluarga ku nggak ada??? kamu mau jadi ..kowe gelem jd keluarga ku??". Teman saya ini langsung menggunakan status saya sebagai sumber daya untuk bercanda, dan menurut saya ia cukup cerdas untuk bercanda. Tingkat berpikir yang lebih tinggi dalam humor.

"Pak Prasetya ini luar biasa, ternyata sangat mencintai binatang , bukan begitu pak?
try to Be positif ....". Ini adalah komentar teman yang menyodorkan proposal reframing kepada saya atau kepada dirinya sendiri, tapi terasa ada gambaran di pikirannya bahwa diri saya sedang 'negatif'.

Lalu apakah tafsir teman-teman saya itu dalam bentuk komentar benar atau salah ? ... Lha, saya ini malah sedang menafsirkan tafsir teman-teman saya. Sekali lagi, tafsir saya atas tafsir mereka-pun tidak luput dari ketidaksesuaian antara apa yang saya lihat di peta pikiran saya sendiri dengan peta pikiran mereka. Dengan kata lain, tidak jelas betul persepsi-persepsi yang terjadi berikutnya. Dan tindakan kita berasal dari persepsi-persepsi yang tidak jelas kebenarannya itu.

Yang benar, saya sedang 'iseng' ingin tahu respon teman-teman facebook kalau saya menulis nama-nama binatang yang menjadi 'carrier' penyakit, karena saya baru saja memberi pelatihan di Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Departemen Kesehatan RI.

Yang tahu maksud sebenarnya dari status itu hanyalah saya dan Tuhan, tapi hidup kita dibisingkan, di-tek-tok-an, dan diombang-ambingkan oleh pemahaman-pemahaman yang 'berayun-anyun', 'ngambang', fragile, kebenaran subjektif. Bayangkan persepsi-persepsi yang lahir, keyakinan-keyakinan yang terbentuk, dari hanya dengan membaca headline di koran, sepenggal kalimat yang diucapkan oleh acara gosip di televisi, bisik-bisik dari tetangga ?. Dan kita akan mengalami dari apa yang kita yakini, meskipun keyakinan itu terbangun dari ilusi yang fiktif.

Jadi, yang bikin hidup kita ribet siapa ? ***

Senin, Mei 18, 2009

Bukan Siapa, Tapi Apa

Selesai mengevaluasi kegiatan pelatihan untuk sebuah instansi pemerintah, pimpinan tim segera melaporkan kepada saya apa yang sudah dibicarakan. Di hadapan saya, wajah beliau tampak tidak terlalu ceria seperti biasanya. Saya sudah merasa, pasti ada kekurangan yang dianggap fatal.

Beliau menyampaikan bahwa tim lupa membagikan slayer kepada peserta pelatihan. Meskipun peserta tampak tidak terlalu peduli soal slayer, dan di lembar evaluasi pelatihan tidak kami temui sedikitpun peserta menyinggung soal slayer, tapi karena slayer sudah jadi bagian dari rencana tim kami, maka ketika kenyataannya tidak sama dengan rencananya, itu kami anggap masalah.

Apa itu namanya memperpanjang masalah ? .. Toh, klien juga tidak terlalu peduli. Oh, tidak ... Masalah ini sengaja kami permasalahkan karena berguna untuk melatih kecermatan tim kami nantinya dalam mengeksekusi rencana yang sudah dibuat matang. Jadi mempermasalahkan masalah ini masih bermanfaat.

Selama laporan lisan itu, saya lebih banyak mendengarkan dan bertanya saja karena saya lihat proses evaluasi dan pembelajaran yang dilakukan sudah benar.

Seperti biasa, saya paling suka menindaklanjuti laporan apapun dengan mendatangi mereka yang terlibat dalam proses suatu kegiatan di lain waktu. Saya sengaja 'pasang badan' untuk menunggu dicurhati lagi, siapa tahu ada informasi yang belum saya dengar bisa muncul, sehingga menggenapkan pemahaman saya tentang apa yang sudah terjadi.

"Saya memperhatikan akhir-akhir ini master of training maupun training officer sudah tidak lagi memegang rundown dan check-list. Saya paham karena program ini sudah berkali-kali kita lakukan, jadi kita merasa hafal. Nyatanya, kemarin ada yang kelupaan kan ? .." kata saya menanggapi salah seorang staf saya yang akhirnya menyinggung lagi soal evaluasi pelatihan itu.

"Ya memang itu salahku ...", kata salah seorang anggota tim yang merasa 'bersalah' atas beberapa kekurangan yang terjadi.

"Oh, bukan ... kita tidak bicara soal siapa yang salah karena tidak bermanfaat untuk ke depannya. Semua orang bisa salah kok. Yang kita bicarakan adalah apa yang salah. Dengan tahu apa yang salah kita jadi tahu apa yang benar, dan semua orang bisa melakukan apa yang benar", timpal saya.

"Lagipula, yang kamu lakukan itu bagi saya bukan 'salah'. Sebenarnya kamu cuma tidak melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu, sehingga hasil dan dampaknya seperti ini - sesuatu yang tidak kita inginkan. Itu saja ... Kita menjadi 'salah' kalau kita tidak tahu apa yang tidak sesuai dengan harapan itu, lalu tidak merencanakan tindakan yang ada dalam kendali kita yang akan mendekatkan hasil dan dampaknya kepada yang diinginkan ...", tambah saya. "Tapi menjadi salah pangkat tak terhingga kalau kita tidak melakukan tindakan yang sudah direncanakan untuk mencegah kejadian ini terulang kembali ...".

Ia kelihatan sedikit lega karena saya tidak menyalahkan dia. Kenapa saya tidak menyalahkan dia ? Karena dia sudah tahu apa yang telah dan tidak dia lakukan sehingga masalah itu terjadi. Saya juga menangkap nada dia waktu mengucapkan menunjukkan semangat belajar dari kesalahan untuk perbaikan ke depan. Lain halnya kalau misalkan staf saya itu tidak mau ikut bertanggungjawab alias ngeles, lalu membelokkan tanggungjawab kepada orang lain atau situasi lain. Ia bisa jadi 'makanan empuk' saya.

"Yang sudah terjadi toh tidak bisa kita ubah. Ya sudah, yang penting bagaimana kita membuat klien kita yang mungkin kecewa bisa senang dan percaya lagi. Lalu ke depannya, kita kembali ke standard operating procedure untuk membaca rundown dan melakukan recheck bersama sebelum kegiatan dimulai ..." ***

Kamis, April 09, 2009

Malu

Pelajaran dibuka dengan mendengarkan siaran ABC News. Hari itu adalah minggu kedua saya berada di Canberra - Australia. Dengan tertatih-tatih, kelas akhirnya berhasil paham isi berita radio pemerintah Australia itu karena aksen penyiar yang sangat 'melelahkan' untuk didengar. Berita kali itu adalah tentang people smuggling (penyelundupan manusia) ke Australia. Pelakunya adalah orang dari Indonesia, Afghanistan, dan Srilanka. Indonesia disebut pertamakali.

Di kelas itu, guru saya orang Australia kelahiran Jerman, sementara teman-teman sekelas saya orang Cina, Jepang, Korea, dan Perancis. Orang Indonesia cuma saya sendiri.

Dalam beberapa diskusi di kelas, saya merasakan alur pembicaraan sangat fokus kepada masalah dan menghindari menilai orang. Kami membicarakan the crime, bukan the criminal (pelaku). Beda dengan sewaktu saya terlibat dalam beberapa diskusi di Indonesia, peserta mudah sekali terjebak kepada 'menghakimi' pelaku, sehingga yang muncul seringkali perdebatan siapa yang salah siapa yang benar, bukan bagaimana solusinya dan apa yang perlu diperbaiki.

Sebagai orang yang lahir, besar, hidup di Indonesia, tiba-tiba saya disergap perasaan malu. Memang sih tidak ada mata yang melihat ke arah saya ketika nama Indonesia tersebut dalam diskusi itu, tapi rasa itu muncul.

Ketika masalah ini menjadi ide status saya di facebook, seorang teman lama mengomentari, 'kenapa musti malu ?'. Awalnya saya merasa aneh dengan pertanyaan ini, karena saya merasa rasa malu itu bagian dari nilai-nilai nasionalisme saya. Saya merasa, kita diminta untuk memperbaki segala sesuatu itu dari yang terdekat. Saya merasa Indonesia adalah 'keluarga', sehingga ketika anggota keluarga melakukan perbuatan yang melanggar hak 'keluarga' lain, kita perlu peduli untuk memperbaiki 'keluarga' sendiri.

Tapi setelah memikirkan lagi komentar teman saya itu, saya lantas melihat dia juga benar. Kenapa harus merasa malu ? .. Bukankah kejahatan atau kebaikan apapun dilakukan oleh individu lintas suku, agama, ras, kebangsaan, kelompok, dan sebagainya. Perzinahan juga pernah dilakukan oleh anggota sebuah organisasi keagamaan di Indonesia yang kerap melakukan penyisiran warung remang-remang dan 'pembelaan' terhadap Islam. Hanya saja, anggota itu segera dihukum. Itu artinya, perbuatan dilakukan oleh individu, bisa dari kelompok dan bangsa apapun.

Teman saya itu juga memprovokasi mengapa di kelas saya tidak mengungkapkan 'perbuatan' orang Australia di Bali soal penyelundupan heroin, fedofilia, dan sebagainya. Tentu saja saya tidak akan mengungkapkan ini di kelas, karena itu sama saja saya mencari gara-gara dan menunjukkan 'level' reaksi saya dalam diskusi. Prinsip saya, apapun perbuatan orang berkebangsaan lain di negara kita, seyogyanya kita tidak melakukan kejahatan apapun di negeri sendiri, apalagi di negeri orang lain.

Komentar teman saya itu punya makna filosofis yang tinggi - bahwa manusia berbagai bangsa itu sama - egaliter -, dimana tidak berarti suatu kejahatan yang dilakukan seseorang serta merta merendahkan atau meninggikan bangsanya, melainkan tanggungjawab orang itu sendiri di hadapan Tuhan dan manusia lainnya -- termasuk di hadapan bangsanya sendiri.

Meski begitu, saya tetap memilih untuk malu.Teman saya Irma Renata ikut memberi komentar, "beruntunglah orang-orang yang masih memiliki rasa malu". Saya setuju dengan Irma. Bagi saya, selama ada rasa malu, masih ada harapan untuk memperbaiki keadaan negeri yang saya cintai ini. Rasa malu ini memberi memberi manfaat buat saya untuk berpikir dan merencanakan apa yang perlu dilakukan di masa depan agar saya, keluarga, lingkungan dan bangsa kita benar-benar menjadi warga dunia yang baik dan mulia. ***

Selasa, Maret 03, 2009

Mind Management


Meskipun saya tahu sinetron itu adalah sansak omelan saya kalau cerita dan adegannya jauh dari masuk akal, setiap menonton sinetron di bagian akhir setiap episode, kalau saya 'terlarut' dengan cerita sebelumnya, pasti ada perasaan 'halahhhhh ... bersambung lagi ..'. Rasanya ingin segera tahu nasib si protagonis yang teraniaya, atau apa yang akan dilakukan oleh sang antagonis itu terhadap si teraniaya tadi. Kalau ceritanya seru dan 'nanggung', maka 'penderitaan' karena tidak dapat memuaskan keinginan sang pikiran terhadap jawaban menjadi makin terperi.

Lain waktu saya menyaksikan bagaimana emosi sepupu saya diaduk-aduk keras oleh sebuah sinetron. Ia 'mendiskusikan' nasib si tokoh-tokoh di sinetron itu dengan ibu saya. Sebenarnya lebih tepatnya 'bergunjing''.

"Iiih .. rasain tuh si anu, jahat sih .."
"Harusnya dia bongkar aja rahasianya, biar ketauan kedoknya .."

Saya merasakan seolah-olah apa yang dibincangkan mereka adalah nasib orang-orang yang 'dekat' dengan mereka. Seolah-olah orang yang dibicarakan itu tetangga mereka. Seolah-olah cerita dan orang-orang itu NYATA. Padahal, apa yang mereka bicarakan adalah 'barang' fiktif. Pikiran tidak membedakan mana kenyataan mana fiksi. Ketika emosi terlibat, maka apa yang seseorang 'lihat' bisa masuk ke memorinya lebih dalam dan permanen, memprogram cara berpikir dia. Lihatlah kedua kalimat yang keluar dari mulut mereka yang menunjukkan pola berpikir dia terhadap (atau malah akibat) sinetron tadi. Tidak ada nilai-nilai memaafkan menyikapi kesalahan sang antagonis -- sebagaimana keluhuran budi yang diharapkan oleh Sang Pencipta untuk menjadi manusia mulia.

Kebanyakan hidup kita menderita oleh pikiran kita sendiri -- oleh keinginan kita sendiri. Saya pernah menyaksikan ekspresi kecewa maha berat dari seorang peserta kuis, karena dia gagal mendapatkan ratusan juga rupiah dan 'jatuh' ke titik aman ketiga yang nilainya puluhan juta rupiah. Padahal, dia datang ke studio itu tanpa mengeluarkan sepeserpun -- ya ada sih, ongkos transportasi plus modal beli baju dan dandan-- lalu mendapatkan puluhan juta rupiah, tapi masih kecewa dan menderita juga !.

Suatu hari saya berada di tengah rombongan teman-teman kantor yang sedang piknik ke daerah Garut. Bis berhenti di depan sederet toko jaket kulit. Karena seluruh penumpang turun, sayapun ikut turun. Saya tiba di sebuah kios yang memajang jaket-jaket kulit yang ciamik. Pandangan saya tertuju ke sebuah jaket yang membuat saya langsung tergiur memilikinya.

"Berapa nih a' ...?" tanya saya.
"Empat ratus ribu", sodor si aa' penjual.
"Wah, duaratus limapuluh ya" ... tawar saya.
"Nggak bisa a', tigaratuslimapuluh ...."

Saya tetap bertahan di angka 250 ribu. Sementara, si aa terus menurunkan offering price-nya. Sampai akhirnya si aa mematok final price Rp 285 ribu, dan saya di posisi Rp 260 ribu.

"Jadi nggak boleh 260 ribu nih ?", tanya saya tegas.

"Wah, nggak bisa deh a, terakhir 285", kata si penjual.

Akhirnya saya ngeloyor pergi menuju bis. Menjelang keberangkatan ke Jakarta, teman saya Slamet Sudarsono yang sedari tadi bersama saya tampak tidak habis pikir dengan tindakan saya, lalu mencoba memprovokasi saya.

"Mas, nggak jadi ngambil jaketnya ?", tanya Mas Slamet.

"Nggak .. dia nggak mau 260, mintanya 285", kata saya.

"Nggak nyesel mas ? .. cuma tinggal 25 ribu lagi lho .. di Jakarta harganya bisa 350-an".

"Nggak ..", jawab saya.

"Kok nggak nyesel ?", tanya dia keheranan.

"Gampang ... hilangkan saja keinginan beli jaket ..", jawab saya datar.

"Lho, kok gitu ?", tanya dia lagi.

"Tadi saya tidak punya keinginan untuk beli jaket, lalu lihat ada jaket bagus, lalu seketika muncul keinginan memiliki jaket itu. Kalau keinginan itu tidak tercapai, ya tinggal dihilangkan saja seolah-olah seperti sedia kala, belum lihat jaket. Itu karena berarti jaket bukanlah sesuatu yang prioritas dan urgent karena tidak ada dalam rencana saya. Kalau saya menyesal, lalu terbayang-bayang si jaket, maka hidup saya setelah itu dibikin menderita bayangan 'seandainya saya punya jaket'. .. Saya beli jaket itu untuk membuat saya bahagia. Sekarang kalau saya bisa mengontrol pikiran saya sendiri, keinginan saya sendiri, lalu saya berhasil menyembuhkan 'kekurangan' saya akan want -- bukan need -- lalu saya bahagia tanpa jaket itu, apa bedanya ? ***

Jumat, Februari 20, 2009

Anak Nakal

Seorang pendengar Smart FM mengirimkan email dan curhat, bahwa ia sewaktu kecil sangat dikekang oleh orang tua. Ia menderita bronchitis, tapi sekarang sudah sembuh. Oleh orangtuanya ia dilarang kemana-mana. Bahkan hanya untuk ke warung yang jaraknya empat blok dari rumahnya. Karena terkekang, akhirnya ia 'sengaja' berontak. Ia sudah merokok kelas 4 SD, dan minum minuman keras sepulang sekolah waktu SMP. Ia menamai dirinya anak nakal (ia menuliskannya dengan tegas, bahwa "sekarang saya nakal"). Ia lantas mengeluh kenapa orangtuanya begitu. Cara orangtuanya mendidik itulah yang membuat ia menjadi seperti ini. Ia bilang tidak akan nakal lagi kalau orang tuanya juga mengubah gaya mendidiknya.

Ayah Edy sang narasumber yang pakar pendidikan anak dan kecerdasan holistik itu menerangkan bahwa motif orangtua mendidik si anak ini sudah benar. Hanya memang orangtua perlulah mengikuti perkembangan zaman untuk menyesuaikan cara dan pendekatan kepada anak dalam mendidiknya. Lumayan dapat inspirasi untuk bekal saya jika menghadapi situasi serupa.

Di dalam mobil, saya berkhayal, seandainya anak itu bertanya kepada saya, maka saya akan memulai 'provokasi' saya dengan bertanya : "Apa maksud baik dari orangtuanya melarang sana-sini ?". Ini sama dengan Ayah Edy.

"Menurut 'bunga' (nama samaran yang saya pinjam dari koran Warta Kota atau Pos Kota kalau menyamarkan nama seorang perempuan) apa maksud baik orang tua melarang Bunga ke sana-sini ?"

"Apa artinya maksud baik itu buat Bunga ?"

"Dengan tujuan baik itu, apa yang akan terjadi terhadap bunga ?"

"Kira-kira apa yang akan Bunga lakukan seandainya tujuan baik itu benar-benar terjadi ? Apakah Bunga akan marah kepada orang tua Bunga ? atau berterimakasih ?"

"Ternyata Bunga punya keinginan sendiri bukan ? Apa yang sudah Bunga lakukan agar orang tua tahu, memahami, dan mendukung keinginan Bunga ?"

"Dengan cara yang sudah pernah Bunga lakukan, orang tua tidak setuju ? .. Lalu, apa yang belum pernah Bunga lakukan untuk membuat orang tua setuju dengan ikhlas ?"

"Kalau Bunga menyebut diri 'nakal', memangnya yang disebut 'nakal' itu seperti apa ?

"Lalu bagi Bunga, yang disebut "baik" itu seperti apa ?"

"Kalau sekarang ini Bunga menjadi apa yang Bunga sebut sebagai 'nakal', apakah ini keputusan Bunga sendiri atau keputusan orang tua Bunga sehingga Bunga menjadi 'nakal' ?

"Kalau ini akibat orang tua, sekarang seandainya orang tua Bunga sudah tiada ... mereka sudah meninggal, sehingga mereka tidak bisa melarang-larang Bunga lagi, apakah Bunga tetap memutuskan untuk 'nakal' seperti saat ini ? ... Apakah 'nakal' ini yang benar-benar Bunga mau ?

"Jadi 'nakal'nya Bunga itu keputusan Bunga atau orangtua Bunga ? Mereka yang memutuskan atau yang mempengaruhi ?"

"Jadi yang memutuskan Bunga bukan ?"

"Berarti, Bunga jugalah yang punya kuasa untuk memutuskan Bunga menjadi anak 'baik' ?"

"Dengan nakalnya Bunga seperti saat ini, kira-kira tiga tahun lagi Bunga menjadi orang yang seperti apa ? .. Lima tahun lagi seperti apa ? ... Apakah itu yang Bunga mau ?

"Kalau Bunga menganggap masalahnya dimulai dari orang tua .. okelah ... berarti mereka bermasalah .. mereka tentu butuh bantuan untuk memecahkan masalah mereka bukan ? .. Siapa yang bisa menolong masalah mereka ? ...

"Kalau Bunga menganggap mereka sendirilah yang bisa menolong dirinya sendiri, maka mereka juga melihat Bunga bermasalah dengan 'nakal'nya Bunga saat ini, sehingga mereka menganggap Bungalah yang bisa menyelesaikan masalah Bunga sendiri, bukan ?"

"Okelah, kalaupun Bunga tetap menganggap mereka bermasalah, maka nyatanya mereka sampai sekarang tetap belum bisa berubah ... berarti masalah mereka tetap ada sampai sekarang ... So, maukah Bunga menolong mereka memecahkan masalah mereka ? " ...

"Menurut Bunga, apa yang Bunga perlu lakukan untuk menolong mereka agar mengubah gaya mendidik mereka sehingga apa yang Bunga inginkan terwujud ?"

"Apakah orang yang bermasalah bisa ditolong oleh orang yang bermasalah juga ? Bisakah maling disadarkan dan diubah perilakunya oleh maling juga ?"

"Berarti, supaya Bunga bisa menolong mereka yang bermasalah, Bunga perlu jadi seperti apa?"

"Lalu, apa saja yang perlu Bunga lakukan agar Bunga sanggup untuk menolong orang tua Bunga yang bermasalah itu ?"

Wah, ... namanya juga menghayal, bisa susah disetop pertanyaan-pertanyaan lanjutannya ...***

Gratisan bisa sukses ?


"Bozz ... seminar ente ada biayanya nggak ?", salah seorang kawan bertanya.
"Ya ada lah ...", jawab saya.
"Wahhh ... ntar aja kalo udah gratis yeee", katanya.

Seorang kawan lainnya juga bilang dalam sms-nya, "Ama temen gratis dong ...".
"Diskon 100% ya bro' ..", sms lainnya masuk.

Itu adalah sebagian dari lebih banyak lagi orang yang saya kenal berharap (dan meminta) mereka bisa mengikuti workshop saya tanpa bayar.

Sebagai binatang ekonomi, permintaan-permintaan itu tentu wajar-wajar saja. Doktrin pelajaran Ekop (Ekonomi dan Koperasi) masa SMP dan SMA adalah 'manfaat maksimal, pengorbanan minimal'. Kalau teman-teman saya tadi malah 'pengorbanan maksimal, tanpa pengorbanan sama sekali'. Bagi saya lebih wajar lagi karena dalam kamus saya, itulah ciri-ciri orang yang tidak sukses.


Buat mereka yang menyadari adanya keinginan sukses (dan apa yang ada dalam alam pikir bawah sadarnya, itu yang akan mewujud menjadi kenyataan), mereka juga tahu menyadari akan keikhlasan untuk berkorban. Sukses itu dengan pengorbanan. Jer basuki mowo beo. Tidak ada suatu sukses-pun tanpa pengorbanan.

Ketika issue peminta gratis ini saya bincangkan dengan Pak Hari Subagya, trainer yang saat itu ilmunya sedang saya 'download', Pak Hari biasanya mengatakan "Bayar aja penuh dulu, nanti saya kembalikan 100%".

Saya bilang ke Pak Hari, bahwa saya telah menjawab permintaan gratis itu dengan, "Saya bukannya tidak bisa memberi gratis, tapi tidak mau. Kalau saya mau beri gratis, saya akan beri karena saya mau, bukan karena ada yang minta. Saya ingin anda sukses. Ada nggak sih orang sukses tanpa pengorbanan ?. Uang yang anda bayarkan untuk mendapat ilmu itu hanyalah simbol dari besarnya pengorbanan anda. Makin kuat keinginan anda sukses, makin sanggup anda membayar harganya. Kalau anda membayar, maka proses menanam ada dalam genggaman anda. Buah sukses yang dihasilkan sepenuhnya hak anda. Tapi kalau anda ingin buah tapi tidak mau menanam, maka pohon kesuksesan tidak berada di genggaman anda. Kesuksesan tidak berada dalam kontrol anda. Anda menunggu belas kasihan dari orang lain yang punya buah agar mau berbagi untuk anda". Panjang bukan khotbah saya lewat sms ini ?

Lain waktu, saya berbalas comment di facebook dengan provokator bangkotan Prie GS. Yang saya sukai dari Mas Prie adalah bahasanya yang benar-benar lugas dan mantap. Pernah ia menulis status, dia menyukai sambal buatan sang isteri karena pedasnya brutal. Ia menamakan sambal itu dengan 'sambal iblis'.

"Mas, mbok aku dikirimi bukunya, biar pinter", katanya.

Saya yang sudah lama mengagumi Mas Prie lalu memanfaatkan momen ini untuk melakukan manuver politik agar bisa bertemu langsung dengan beliau dan tukar-tukar pendapat (siapa tau bisa juga tukar pendapatan). Tapi pelajaran yang saya dapat adalah bahwa politik praktis yang rumit-rumit itu kalah oleh kesederhanaan esensial. Saya menjawab :

"Wah, lha wong saya ini justru belajar dari Mas Prie. Pak Fachri saja bilang kalau saya ini Mas Prie versi muda (mohon kata 'muda' ini diterima dengan ikhlas). Jadi siapa sebenarnya yang jadi gurunya ? Sebaiknya ijab kabul penyerahan buku ini pas Mas Prie lagi di Jakarta saja, sambil kongkow-kongkow minum teh (karena saya tidak ngopi)".
Mas Prie langsung membalas lagi, "Alahhh, sampeyan itu cuma diminta ngirim buku kok banyak alasan .." ***