Selasa, November 06, 2007

Ketika Ibu Ridho ...

"To, kalau kamu mau sukses, jangan makan daging kambing sama lele. Terus, kalau makan ayam bagian kepala sama dadanya, jangan paha sama brutu, nanti kamu dibelakangin orang ...", begitu pesan ibu sewaktu saya mulai masuk kerja di Bumiputera pertengahan 1991. "To" adalah singkatan dari panggilan kecilku, Broto.

Sepintas, tampaknya nasihat ibu saya seperti kebanyakan pesan 'orang tua' zaman dulu dan dianggap takhayul. Jangan berdiri di pintu, jangan memotong kuku malam-malam, jangan tidur maghrib-maghrib. Tiga 'takhayul' terakhir ini sekarang sudah mendapatkan rasionalitasnya. Jangan berdiri di depan pintu karena menghalangi orang lewat. Jangan memotong kuku malam-malam karena zaman dulu orang masih pakai lampu tempel sehingga cahaya kurang dan jika tidak hati-hati bisa terluka. Jangan tidur maghrib-maghrib maksudnya supaya kita mengaji.

Sebagai anak yang tumbuh di dunia 'logika', saya tidak serta-merta mematuhi perintah ibu tadi. Sop kambing, tongseng, gulai kambing, soto kaki kambing, sate kambing, lezat di mulut. Pecel lele ? hmmm ... sedaap. Paha dan brutu ayam ? Wuihh ... uennak dan kenyal. Satu-satunya yang saya patuhi adalah kepala ayam karena memang saya penggemar kepala ayam. Konon kata ibu, ketika mengandung saya, ibu memang gemar makan kepala ayam. Katanya, biar saya jadi pemimpin. (nyatanya memang akhirnya kebanyakan masa muda saya sering dipercaya sebagai pemimpin, mulai dari ketua kelas, ketua kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, wakil ketua kerohanian Islam, ketua karang taruna komplek Bumiputera, ketua panitia ini itu, ketua umum Badan Pembinaan Mental Islam Bumiputera, sampai ketua Yayasan Dharma Bumiputera).

Nasihat ibu itu dikumandangkan berkali-kali, terutama setiap kali sessi pesan ulang tahun (tradisi di keluarga kami, setiap acara ulang tahun, setiap anggota keluarga satu persatu menyampaikan ucapan dan pesan-pesan kepada yang berulang tahun). Kalau suatu nasihat diulang-ulang, anda sudah bisa menebak, artinya nasihat itu tidak pernah dijalankan.

Sampai suatu ketika, di ruang dosen, seorang rekan dosen MM-UI menyampaikan 'kuliah singkat' tentang lele yang kurang baik dikonsumsi kita orang Islam. Sampai suatu ketika, di sebuah buku mengenai diet yang sesuai dengan golongan darah, terkuak informasi bahwa kambing bukanlah makanan yang bagus untuk golongan darah saya. Sampai suatu ketika, saya diberi informasi kadar lemak dan kolesterol di bagian brutu dan paha lebih tinggi daripada dada. Sampai akhirnya saya belajar mengenai pikiran bawah sadar dan sugesti yang menjelaskan kaitan antara kepala ayam dan 'nasib' saya yang sering jadi pemimpin. Rupanya kepala ayam itu adalah 'anchor', jangkar emosi, untuk mensugesti saya berproses menjadi pemimpin. Semua ini dalam satu 'frame' besar : ibu ingin anaknya sehat fisik dan mental, dan sukses di kehidupan kariernya.

Satu persatu pesan-pesan 'tidak masuk akal' ibu di masa lalu, muncul penjelasan-penjelasan ilmiahnya. Yang mengagumkan, dari mana ibu bisa punya advice terbaik untuk anaknya, sementara ibu tidak belajar secara formal urusan-urusan yang seperti dinasehatkan. Ibu hanya menggunakan intuisi. Konon, intuisi itu bisa dimiliki seseorang jika ia fokus terhadap
bidang pekerjaan dan kehidupan yang digelutinya. Ada bagian di otak depan yang berfungsi mengamati lingkungan sekitar tanpa kita sadar. Informasi yang ditangkap lalu unconsciously dibandingkan dengan file memori, lalu hasil pembandingan dan 'kesimpulan' -- misalnya ada yang tidak sama dengan image'gambar, suara, bau, rasa, yang sudah tersimpan di memori bawah sadar -- dikirim 'keluar' berupa sinyal yang menghasilkan perasaan. Perasaan tidak enak. Seorang salesman yang tekun bertahun-tahun, mampu 'menerawang' apakah prospek yang dihadapinya ini sesungguhnya tidak punya duit meskipun pakaian mentereng. Seorang 'dukun' bisa menebak maksud kedatangan orang bahkan sebelum orang itu mengatakannya. Seorang polisi 'tahu' tersidik bohong atau tidak.

Sekarang, apapun yang ibu nasihatkan, saya ikuti. Pernikahan adik tanggal sekian. Pilih rumah dinas yang nomor sekian. Pindah ke rumah dinas tanggal sekian. Semua saya ikuti. Kali ini saya tidak perlu mencari penjelasan ilmiah atas nasihat itu, karena jauh lebih penting buat saya adalah kepatuhan kepada ibu. Konon, kepatuhan jauh lebih bernilai bagi orang tua daripada pemberian. Ketika ibu ridho atas kepatuhan saya, di situlah saya berharap hidup saya bahagia. Ketika ibu ridho ...

3 komentar:

Moekti P. mengatakan...

Pria yang sayang dan hormat ke ibunya pasti juga sayang sama keluarganya...

Terbukti sudah.......

Thanks for the love and care you're giving me... I'm so blessed.....

SILVIANI SRI RAHAYU mengatakan...

Dalam agama banyak yang tidak perlu pakai logika memang. Begitu juga nasehat ortu dan suami. Pernah saya ngga lakukan karena dipikir ngga ada deh masuk akalnya. Eh taunya jadi kecelakaan. Seyuju pak tulisannya. Singkat, membumi, dan mendidik kita ngga som se

Anonim mengatakan...

ada lagi Pap...
rahasia ibu membuat kita disayang suami...hehehe