Selasa, Oktober 30, 2007

Ngeyel

"Orang tua kita dulu punya anak banyak malah berhasil mendidik. Sekarang ini punya anak satu dua, tapi ngeyelan". Kira-kira begitu terjemahan nasihat perkawinan seorang ustadz desa yang disampaikan dalam bahasa Jawa halus.

Di resepsi pernikahan sepupu di sebuah desa yang baru saja bangkit dari gempa di Kecamatan Kretek Kabupaten Bantul Yogyakarta, saya seperti tertampar halus. Definisi keberhasilan mendidik anak begitu simpel. Tapi di balik kesederhanaan definisi tadi justru terkuak makna hakiki. Tidak ngeyelan, itu indikator keberhasilan para orang tua (setidaknya di desa itu, setidaknya menurut kacamata pak Ustadz).

Saya tidak menilai ustadz itu tidak mendorong anak-anak untuk 'modern', menyerap berbagai ilmu dari 'luar'. Tapi kalau kita sudah 'pintar', toh, tetap bukan merupakan alasan untuk kita 'ngeyel' kepada orang tua. Saya agak sulit mendefinisikan ngeyel dalam terminologi Bahasa Indonesia secara tepat. Kira-kira artinya keras kepala campur 'denial' dalam English, tambah kadang-kadang 'ngotot', tapi tidak persis seperti itu. Ngeyel biasanya ada kejadian 'bertengkar'. Itu berarti ngeyel adalah kondisi yang dihasilkan dari cara berkomunikasi. Ngeyel bukan berarti tidak boleh berbeda pendapat, tapi lebih kepada bagaimana mengkomunikasikan pendapat yang berbeda dengan orang tua tadi. Ini adalah perilaku dan keterampilan (skill).

Jadi, kalo aku selama ini sudah 'pintar', belajar sana-sini, tahu sana-sini, bisa sana-sini, itu tetap bukan alasan untuk ngeyel kepada orang tua. Kita selalu bisa mencapai kesepahaman dan kesepakatan. Masalahnya mungkin selama ini kita belum ketemu cara yang pas saja. Cara itu bisa didapat 'mak bedunduk' (istilah Srimulat yang artinya 'spontan, mendadak, tiba-tiba') jika kita mengawali ketidaksepahaman dengan orang lain itu dengan pertanyaan : 'apa maksud positif di balik perilakunya ?', "Apa pentingnya pendapat itu untuk dirinya ?". Pahami cara berpikir dan nilai-nilai dirinya. Selanjutnya sesuaikan sikap tubuh, ekspresi, bahasa kita dengan dirinya agar nyaman. Gunakan pertanyaan-pertanyaan untuk menggiring dan memasukkan ide/pendapat/pemikiran kita ke pikirannya. Mirip dengan Aikido yang menggunakan prinsip : pinjam tenaga lawan, belokkan.

Di sebuah Desa di Kecamatan Kretek Kabupaten Bantul Yogyakarta, di bawah pohon rindang angin semilir. Orang-orang guyub. Alunan gending jawa mengantarkan lamunan. Ahh, urip iki enak tenan (hidup ini enak tenan) ....

Tidak ada komentar: