Selasa, Oktober 30, 2007

Ada Rejeki Buat Yang Bekerja

"Jadi warung bakmi itu sudah lama mbak ?", tanya saya ke Mbak Anas sesaat keluar dari Bakmi Kadin di Yogyakarta. "Iya, sebelum bakmi Kadin seperti ini", Jawab Mbak Anas.

Warung itu cukup kecil dibandingkan Bakmi Kadin yang membuka tempat di kiri dan seberang warung itu. Bakmi Kadin sendiri terkenal di Yogyakarta. Hampir setiap saya ke Yogyakarta, entah dinas atau plesir, saya mampir ke Bakmi Kadin ini. Bakmi Kadin membuka 2 tempat yang jaraknya hanya 10 meteran. Nah, warung bakmi kecil tadi seolah 'diapit' kedua tempat Bakmi Kadin ini.

Di dalam warung bakmi tadi ada sekelompok orang yang makan. "Gila ya Mbak, yang punya warung berani juga jualan di sini", ujar saya.

"Ya, dia punya langganan sendiri Pak" jawab Mbak Anas.

Sebagai dosen marketing di MM-UI, pikiran saya langsung bergerak menganalisis panorama ini lewat kacamata konsep-konsep marketing yang biasa saya ajarkan di kelas. Meskipun jarak berdempetan, tapi warung bakmi kecil dan Bakmi Kadin punya segmen pasar dan positioning-nya sendiri-sendiri di benak konsumennya.

Tapi penjelajahan pikiran saya tidak berhenti sampai di situ. Pikiran saya terus 'naik' dan akhirnya berhenti pada satu tingkatan 'makna'. Bahwa, fenomena itu memberi sebuah pelajaran yang bernama keyakinan dan keikhlasan dalam bekerja. Yakin bahwa setiap usaha mencari nafkah dan keberhasilan akan direspon oleh alam dan diridhoi oleh Tuhan. Maka jika pemilik warung itu yakin akan hidup dari warung itu, maka hiduplah dia ....

Oh ya, saya menamakan warung tadi 'warung bakmi kecil' karena saya tidak sempat melihat nama warung itu. Pada kedatangan ke Yogya berikutnya, saya ingin mencicipinya ...

Tidak ada komentar: