Minggu, Desember 02, 2007

Membangun integritas

"SATU ... DUA ... TIGA ... EMPAT ... LIMA ..."

Itu adalah teriakan para 52 orang peserta Diklat Pegawai AJB Bumiputera 1912 di Depok hari Sabtu lalu (1/12) mengiringi saya yang secara sukarela menghukum diri sendiri dengan push-up karena saya terlambat memulai pelajaran saya.

Sore itu saya memberi materi 'Mind Management to be star employee' sessi kedua. Siang harinya saya menghadiri undangan walimatussafar tetangga saya. Rencana saya begitu selesai kondangan, jam 2 siang saya berangkat ke Depok, tempat pelatihan berlangsung. Di ingatan saya, saya mengajar jam 4 sore.

Usai kondangan, saya merebahkan badan di sofa dan sejenak menikmati acara TV sambil ngobrol dengan ibu saya. Singkat cerita, akhirnya saya berangkat dari rumah jam 14.30 dengan perhitungan perjalanan hari itu hanya satu jam.

Apa yang terjadi ? Di Jalan Margonda Raya macet berat. Saya lupa itu hari Sabtu. Alhasil saya sampai di tempat pelatihan jam 4 kurang. Bukan cuma itu. Di mobil saya melihat jadwal pelatihan dan ternyata materi saya bukan jam 16.00, tapi jam 15.30.

Selesai sholat Ashar, saya masuk kelas setelah sebelumnya minta panitia agar materi saya dimulai jam 16.00. Sebenarnya saya bisa saja menggunakan 'kekuasaan' saya sebagai 'petinggi' untuk men-justify dan membenarkan keputusan saya itu. Tapi saya sedang bicara tentang integritas. Apalagi dalam sessi tersebut saya akan menerangkan bahwa kalau sebenarnya kita bukannya tidak bisa, tapi tidak mau bisa.

Saya katakan, sebenarnya saya bukan tidak bisa datang jam 15.30 sesuai jadwal. Kalau mau, sebenarnya saya bisa mengecek jadwal pelatihan pagi-pagi, bukan ketika sudah di mobil. Kalau saya juga mau, begitu sampai rumah tadi saya tidak santai-santai dulu di sofa, tapi langsung ganti baju dan pergi. Tapi semua itu tidak saya lakukan. Hasilnya, saya terlambat.

Di depan peserta pelatihan, saya akui dosa tadi. Saya tanya, kalau di jadwal jam 15.30, lalu saya datang jam 4, siapa yang salah ? Kata mereka, ya yang terlambat. Kalau begitu, apa hukuman untuk yang terlambat ? .. Kata mereka, push-up lima kali. Kebetulan selama pelatihan, para peserta dilatih kesamaptaan oleh dua anggota Kopassus, sehingga merekapun akrab dengan push-up.

Di depan kelas saya push-up. Selesai saya push-up, peserta bertepuk tangan. Pelajaranpun dimulai...***

6 komentar:

frans mengatakan...

Hmmm... ini baru beda (dari yang biasa). Seorang pemimpin yg mampu mengambil tanggung jawab dari tidakannya yang menyalahi peraturan walau pun peraturan tersebut dibuat untuk anak buahnya. Memang tidak ada tidakan yang lebih efektif dari "memberi contoh..."

Inna... mengatakan...

Wah...untung udah dilatih sama mbak pingkan ya...cuma 5 kali mah kecil ya Pap hehehe (terakhir liat di ruang aula mencapai 30 kali...ck..ck..ck)

Prasetya Maytrea Brata mengatakan...

Malah puasa kemarin sampai 40 kali na ..

SILVIANI SRI RAHAYU mengatakan...

GOOD! ini baru pak guru yang kasi tauladan. Jangan mentang2 punya power trus seenaknya

gogen mengatakan...

terima kasih anda telah memberikan inspirasi untuk makalah saya, yang membahas tentang otoritas seorang pendidik. ane acungin jempol buat bapak... karena seorang pendidik orang yang bertanggung jawab atas perbuatannya,,,

Prass mengatakan...

Terimakasih mas Gogen ....
Salam Pramuka !