Kamis, Desember 20, 2007

Harta Berkah

Dulu, saya tertarik dengan kisah seorang pemimpin negara pasca kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Suatu ketika ia sedang bekerja, lalu kedatangan anaknya ingin berbincang dengan dirinya. Ia lalu tanya kepada anaknya, ini urusan pribadi atau urusan negara. Anaknya bilang, urusan pribadi. Ia lalu mematikan lentera yang sedang digunakan, dengan alasan lentera dan minyaknya itu dibiayai oleh negara, jadi untuk urusan negara. Kalau urusan pribadi jangan pakai fasilitas negara.

Kisah ini begitu kuatnya melekat di benak saya, hingga saatnya saya mendapat kesempatan menjadi 'pejabat', sayapun menerapkan prinsip ini, dengan penyesuaian sana-sini. Misalnya saya sudah sampaikan ke isteri saya permintaan maaf tidak boleh menggunakan mobil dinas dan supir untuk mengantarkan dia ke kantor atau kemanapun. Bahkan kalau menumpang, hanya sampai kantor saya, atau kalau diturunkan di jalan, hanya di jalur yang saya lewati menuju tempat tujuan dinas saya.

Lalu ketika tagihan telepon datang (saya mendapat fasilitas pulsa handphone ditanggung penuh oleh kantor), saya kurangi sekian ratus ribu untuk mengantisipasi pemakaian telepon dan sms untuk keperluan pribadi, keluarga, atau pertemanan. Kalau saya pulang malam karena urusan pribadi -- misalnya belanja ke mall -- maka lembur supir langsung saya bayar, tidak dibebankan di kantor.

Kalau saya pakai kertas kantor beberapa puluh lembar untuk kepentingan pribadi, saya ganti dengan satu rim kertas untuk mengkompensasi tinta yang sudah saya pakai juga. Sesekali BBM mobil dinas saya bayar dari kantong pribadi, tidak di-reimburse, untuk mengganti BBM yang saya pakai ke mall atau perjalanan non-dinas lainnya. Saya tahu perhitungan saya tidak akurat benar, tapi paling tidak dengan cara itu, jauh lebih mudah bagi saya untuk membuat lembaga yang saya pimpin menjadi lebih 'bersih' dan berkembang.

Jika anda belajar tentang manajemen strategi atau manajemen pemasaran baik di kuliah ataupun membaca buku, biasanya disebutkan aneka tujuan perusahaan : profit, pertumbuhan, pangsa pasar, kepemimpinan pasar, dan seterusnya sampai kepuasan pelanggan. Tapi ada satu tujuan perusahaan yang menurut saya seharusnya ada tapi tidak pernah masuk ke konsep di buku atau di kuliah itu. Saat mengajar di MM-UI, saya menambahkan satu lagi tujuan perusahaan yang harus disetel oleh para stakeholders-nya, yaitu 'keberkahan'. Berkah, berarti akan terjadi perkembangan yang berkesinambungan (sustainable growth) yang membahagiakan seluruh stakeholders.

Harta yang berkah adalah harta yang diperoleh dan dibelanjakan sesuai dengan hak kita. Kalau ada yang memberi 'sesuatu' (di luar gaji dan honorarium) kepada kita, periksa dulu motif dan konteksnya. Caranya ? Coba saja tanya kepada diri kita sendiri, seandainya saya tidak berada pada jabatan ini, apakah orang itu akan memberi 'sesuatu' itu kepada saya ? Kalau jawabannya tidak, berarti 'sesuatu' itu bukan hak saya. Anda boleh mengatakan itu masih grey area, tapi buat saya sudah jelas itu black area. ***

2 komentar:

SILVIANI SRI RAHAYU mengatakan...

Kalau semua pemimpin dan pejabat di negeri ini seperti anda, bangsa ini cepat keluar dari krisis. Coba kita lihat, mobil plat merah sering beredar di hari Ahad di mall. Keluarganya yang pakai. Kita tidak tahu ada kompensasi atau tidak sebagai penggantian dari pejabat ybs.Pak Prass, kapan anda jadi pemimpin di level yang lebih tinggi lagi, misalnya negara ini? Harus masuk partai yang sudah mapan kali ya pak biar jadi RI 1, RI2....?

Prasetya Maytrea Brata mengatakan...

Heheheh .. bu dokter .. sayangnya saya belum ada mimpi jadi RI 1,2,3 ... Bahkan ikut pilkada tingkat RT-pun belum punya niat ... hehehehe