Senin, Oktober 13, 2008

Diprovokasi Sama Kambing


Pak Wandi S. Brata, Pimpinan Gramedia Pustaka Utama tempat buku saya diterbitkan, memang grand-masternya provokasi pikiran. Bagaimana tidak, sampai sekarang saya masih saja memikirkan 'tantangan' dari Pak Wandi berupa sebuah pertanyaan yang meskipun Pak Wandi saya kira tidak menunggu jawaban saya, tapi saya perlu mencari jawabannya untuk saya sendiri.

Pak Wandi mendatangi kehidupan saya dengan menumpang hukum daya tarik -- the law of attraction -- yang menurut penyumbang definisi hukum ini dirumuskan sebagai 'like attract like' -- bahwa sesuatu itu akan menarik sesuatu yang serupa dengannya. Gara-gara intention saya untuk bisa menerbitkan buku di Gramedia (itupun diprovokasi oleh Andrias Harefa juga), saya dipertemukan atas inisiatif Bang Andri kepada Pak Wandi. Pak Wandi-lah yang memutuskan buku ini terbit hanya dalam 2 (dua) jam. Jadi dimana 'like attract like'-nya ?

Pertama, Pak Wandi dan saya punya nama belakang yang sama, yaitu Brata. Kalau ada orang yang baca perjanjian penerbitan buku antara saya dengan Gramedia, di halaman terakhir ditandatangani oleh Wandi S. Brata dan Prasetya M. Brata, sehingga bisa-bisa orang menuduh Pak Wandi mengikat kontrak dengan 'sedulur'-nya sendiri. Kedua, saya menyukai filsafat, Pak Wandi pendidikan masternya filsafat. Ketiga, Pak Wandi juga menerbitkan buku yang bangunan, gaya, dan isinya mirip buku saya, tapi bukunya jauh lebih dalam. Ibarat kata, konsep bangunan saya minimalis, Pak Wandi aristokrat, tapi bentuk bangunan dan kandungan perabotnya mirip.

What a small world ..., begitu yang sering diucapkan isteri saya kalau bertemu dengan kenalan baru yang kenal dengan orang dekatnya. Begitu juga ketika saya ngobrol dengan sahabat lama saya Fransiscus Herbayu, dia kenal baik dengan Pak Wandi. Ternyata Pak Wandi adalah pamongnya waktu sekolah di sekolah kepasturan. Belakangan, Bayu dan Pak Wandi check-out dari dunia kepasturan dan sekarang menjadi 'orang biasa'.

Lalu provokasinya bagaimana ?. Begini, menurut Riri Artakusuma, penyiar Radio Smart 95.9 FM, ada dua kapsul saya yang menjadi favorit smart listeners. Judulnya "Hormatilah Orang Yang Tidak Berpuasa" dan "Ismail dan Ishaq".

Ceritanya, Pak Wandi pas mendengar kapsul "Ismail dan Ishaq". Di Islam yang akan disembelih oleh Nabi Ibrahim adalah Ismail. Di Kristen yang akan disembelih oleh Ibrahim adalah Ishaq. Ketika ditanyakan kepada Gus Dur mana yang benar, Gus Dur menjawab, "Gitu aja kok repot, yang penting dua-duanya selamat". Selesai mendengar kapsul ini, Pak Wandi lalu meng-SMS saya. Ia bilang baru saja mendengar kapsul saya di radio. Lalu ia mengirimkan SMS lanjutan, "Coba berpikir ke tingkat yang lebih tinggi lagi, gara-gara Ismail dan Ishaq selamat, sekarang kambing dan keturunannya jadi korban".

SMS ini menghantui saya selama dua bulanan ini. Pada kesempatan bersilaturahmi ke rumah Prof. Jalaluddin Rakhmat di bilangan Jeruk Purut, saya lalu minta 'bocoran' jawaban kepada Kang Jalal. Kang Jalal terkekeh dan menjawab, "Kambing yang dipelihara itu nasibnya hampir semua berakhir dengan disembelih. Nah, lebih baik disembelih untuk qurban daripada untuk yang lain ...".

Sewaktu saya menelpon Pak Wandi untuk memberi jawaban ini (tentu saja Pak Wandi tidak menyangka saya masih mengalami 'gangguan pikiran' akibat pertanyaannya), Pak Wandi cuma ketawa tulus. Ia tidak membenarkan apapun, sehingga saya juga tidak tahu apakah jawaban ini sama dengan jawaban yang telah ada di perpustakaan wisdom Pak Wandi ... Mendingan saya bertanya langsung saja kepada kambing, apakah ia ikhlas atau tidak jadi korban. Ini juga sudah tanda-tanda saya mengalami gangguan pikiran berlanjut .. ***

2 komentar:

Dedi R mengatakan...

Kalau pendapat saya, gara-gara Ismail dan Ishak selamat. Anda masih bisa nulis di blog dan saya masih bisa ngasih komentar. Kalau tidak, kita sebagai anak cowo sudah disembelih ama bapak kita. hiiii... mending kambing aja deh.

Prasetya Maytrea Brata mengatakan...

Wahhhh .. Ternyata jawaban Pak Dedi smart dan brilyan !! .. saya berbulan2 mencari jawaban seperti ini aja sampe mentok .. hueheheheh ....