Minggu, Oktober 26, 2008

Dibangunin Kuntilanak


Senin pagi saya ada jadwal mengisi acara "Jakarta Pagi" di D Radio 103,4 FM. Saya menutup laptop saya persis jam 00.30. Saya ambil kuda-kuda untuk tidur, sambil memprogram di pikiran saya "Aku bangun jam lima kurang sepuluh". Saya katakan itu dalam hati sebanyak 6 kali sambil membayangkan sebuah jam dengan jarum pendek hampir menunjuk angka 5, jarum panjang di angka 10.

Entah mulai dari mana dan saat apa, tiba-tiba saya berada dalam setting lokasi di tengah hutan. Yang masih saya ingat, saya berada di lokasi itu setelah 'selamat' dari berpapasan dengan seorang 'zombie'. Mobil saya hentikan, dan saya melihat Ibu Miranty Abidin -- pemuka kehumasan Indonesia -- sedang duduk di sebuah bangku bambu. Ia memegang makanan, entah apa itu.

"Lagi ngapain, bu ?", sapa saya.

"Mau pulang ...", jawab bu Miranty tersenyum.

"Kalau begitu saya antar saja, bu ..", kata saya.

Kami berdua berjalan beriringan sambil ngobrol (isi obrolan sudah lupa). Kami memasuki jalan setapak di bawah rerimbunan pohon.

Tiba-tiba bu Miranty bilang, "Eh Pak Prass, saya pulang sendiri saja ke arah itu ...". Tangan bu Miranty menunjuk ke arah pohon-pohon yang rimbun. Saya heran, karena ke arah itu tidak ada jalan setapak.

"Lho, ke situ kan tidak ada jalan, bu ? ... Ibu pulang pakai apa ?", tanya saya heran.

"Terbang .....", kata bu Miranty.

Jantung saya berdegup keras. Seperti ada sesuatu yang tidak beres. Tiba-tiba bu Miranty berubah menjadi Kuntilanak ! .... lalu dengan cepat dia terbang menempel di pohon terdekat sambil tertawa, "hiii hihiii hihiiiii ....". Anehnya, saya sempat melihat kuntilanak itu memakai celana jeans.

Saya gragap terbangun.Suhu badan saya naik. Jantung berdegup dan kaos saya anyep kena keringat. Saya segera mengambil ponsel dan melihat di jamnya. Waktu menunjukkan pukul 04.47, atau 3 menit sebelum program 'alarm' yang saya tancapkan sebelum tidur berbunyi.

Waktu pengalaman ini saya ceritakan kepada isteri saya waktu chatting pada jam istirahat siang, ia bilang, "Hahahaa .. mungkin karena semalem kamu habis bunuh kecoa".

Kemunculan skenario mimpi seperti ini, kemungkinan inputnya macam-macam. Kemarin, sehari sebelum mimpi, isteri saya merekomendasikan facebook bu Miranty Abidin -- tokoh public relations Indonesia -- untuk di add (dan akhirnya memang saya add). Meskipun saya tergolong baru setahun ini bertatap muka dengan Bu Miranty, tapi nama dan reputasinya sudah saya kenal belasan tahun lalu. Bu Miranty juga sempat memberi komentar endorsement di buku perdana saya.

Malam hari sebelum tidur, saya memang berburu kecoa dengan Baygon di rumah saya dan dengan menyesal telah membunuh 58 ekor kecoa. Mimpi ini boleh jadi wujud perasaan bersalah karena melakukan pembunuhan itu (karena belum bisa menguasai 100% phobia saya terhadap kecoa -- meskipun saya sendiri seorang hypnotherapist). Atau kemungkinan lain, arwah-arwah kecoa itu melakukan konspirasi untuk membalas dendam dengan masuk lewat sosok 'zombie' di mimpi saya, hehehe.

Setidaknya, hari ini saya mendapat pengalaman untuk bangun pagi sesuai keinginan saya, dengan cara yang aneh ...***

4 komentar:

SILVIANI SRI RAHAYU mengatakan...

Lupa berdoa sebelum tidur kali pak Prass

Emanuel Setio Dewo mengatakan...

Eh, membunuh 58 kecoa?
Itu rumah tinggal atau rumah kecoa?

Prasetya Maytrea Brata mengatakan...

Hehehehe ....
Saya juga nggak tau kenapa rakyat kecoa membangun kerajaannya di rumah saya ... heheheeh ...

Sebenarnya caranya sederhana, saya cukup menyemprot baygon ke satu lubang got di belakang kira2 1 menit, tiba2 rakyat kecoa keluar menyerbu saya, dan tidak berapa lama, 58 jenazah kecoa ditemukan tergeletak. Paginya, masih ketemu lagi 3 .. artinya totalnya 61 korban

Anonim mengatakan...

rakyat akan membangun kerajaan dimana rajanya tinggal... brarti pak pras itu...???

Bu Miranty, Pak Pras pasti lg kangen tuh makanya muncul dimimpinya walopun endingnya ngga indah, yg penting muncul hehehe..

Dewi Ritasari