Senin, September 29, 2008

Perjalanan menuju kesempurnaan

Memandangi Berti, Ubay, Ucup, dan belasan anak lain penderita cacat terlantar, lidah terasa kelu. Teman saya Dian bahkan mengusap air matanya yang mengalir begitu saja. Batin seperti di-'buzz' kenyataan bahwa ada 'dunia lain' yang berdampingan dengan dunia saya selama ini.

Mereka 'dibuang' oleh orang tua yang malu mempunyai anak cacat -- anak tidak sempurna menurut mereka. Sebagian lagi dititipkan karena orang tua mereka tidak mampu. Ada juga yang ditemukan entah di rumah sakit karena ditinggal 'kabur' orang tuanya, atau ditinggal sendirian di suatu tempat. Seorang kawan yang saya ceritakan bertanya, kenapa ya kok ada orangtua yang tega seperti itu kepada anaknya sendiri ?. Saya tidak pernah menjadi seperti mereka. Atau juga menjadi seperti orang tua mereka. Saya jawab, saya tidak tahu sampai kita sendiri bertanya langsung kepada orang tua mereka itu.

Berti seorang anak penderita hydrocephalus. Kepalanya sudah sangat besar. Pengasuhnya bilang, ia tidak mungkin lagi dioperasi karena otaknya juga sudah mengecil. Batok kepalanya juga sudah lembek. Ia seperti tinggal 'menunggu waktu'. Di tempat pembaringannya, ia seperti tertawa menikmati candaan teman saya Nanang yang hari itu ikut menghibur penghuni panti dengan permainan dan candaannya. Yang terlihat kasat mata menikmati hiburan Nanang adalah para mbak pengasuh anak-anak itu. Tapi saat Nanang menyanyikan lagu riang, saya masuk ke salah satu kamar dimana lima anak tergeletak tanpa daya. Salah satu anak perempuan saya lihat mengeluarkan suaranya, "aaaa ... aaaa ... aaaa", sambil kepalanya mendongak ke atas dan badannya kaku. Ia cuma mendengar sayup lagu dari dalam kamar, tapi sudah cukup membuat dia ikut gembira.

Ubay -- panggilan Nurbaiti, penderita kelainan otak, dengan wajah sangat sumringah dan berapi-api, berusaha keluar dari kamar dengan cara ngesot. Senti demi senti ia lewati. Saya kasihan dan ingin sekali membantu menggendongnya, tapi urung karena seperti ada suara di dalam benak saya yang mengatakan, "Prass ... mereka itu anak-anak sempurna ..". Saya menyaksikan bagaimana Ubay akhirnya sampai juga di sebelah Berti dan ikut menyaksikan aksi Nanang. Ia sampai di tempat tujuannya tanpa belas kasihan orang lain.

Sempurna ?. Sejenak saya guncang-guncang kata 'sempurna' untuk mereka, dan akhirnya saya memang menemukan bahwa mereka sempurna. Justru kita yang tidak sempurna. Ketakutan, rasa malu, memaksa keinginan bahwa anak itu harus 'sempurna' secara fisik, justru menunjukkan kelemahan kita. Seorang bayi ber-ras Tionghoa digendong oleh teman saya Mindar. Menurut pengasuhnya, ia ditinggal di panti itu karena orang tuanya malu 'hanya' karena anak itu sumbing. Bahkan, ibunya mau bunuh diri begitu melihat sang bayi berbibir sumbing. Siapa yang tidak sempurna ?

Kalau mereka sejak lahir hidup seperti itu, dan mereka tidak pernah merasakan apa yang dirasakan 'orang normal' seperti kita, lalu mereka menerima dan bersukacita dengan keadaan mereka, bukan itu hidup mereka yang sempurna ?. 'Ketidaksempurnaan' mereka justru panggilan untuk kita menjadi sempurna. Bukankah ini sendiri suatu kesempurnaan ?. Siapa yang akan banyak memproduksi dosa ? Mereka atau kita ?. Mereka hadir justru untuk membahagiakan kita. "Tunggu dulu....", mungkin anda bilang begitu. "Nyatanya banyak orang merasa kesusahan atas kehadiran mereka ?". Mungkin sama dengan ketika kita disajikan makanan terenak di dunia, lalu kita tidak menikmati makanan itu -- bahkan mengeluh -- karena bibir kita sariawan !. Jadi masalahnya bukan makanannya, tetapi diri kita sendiri yang sedang 'sakit'.

Hari itu -- di Yayasan Sayap Ibu -- rasanya bukan saya yang mengunjungi kehidupan mereka, tetapi mereka yang mengunjungi kehidupan saya. Saya bukan menyaksikan mereka, tetapi mereka seperti sedang menyaksikan pergolakan batin saya. Bahkan untuk berfoto bersama merekapun awalnya saya ragu. Jangan-jangan saya merasa seperti sedang plesir -- kunjungan wisata. Jangan-jangan nanti saya bercerita ke orang-orang dengan perasaan bangga telah melakukan bakti sosial kepada anak-anak cacat. Tuh buktinya, saya foto sama anak-anak cacat itu. Kalau saya melakukannya seperti itu, apa bedanya dengan ketika saya berfoto bersama mahluk tontonan?. Dan seandainya Tuhan yang melihat foto saya, maka jangan-jangan Tuhan akan bilang, "Tuh, ada orang sempurna berfoto bersama orang cacat.". Pas Tuhan bilang, "orang cacat", Dia menunjuk ke arah gambar saya. Meskipun saya juga beriman, atas kasih sayangNya, Dia memberi kesempatan saya untuk menyadari kecacatan saya, dan memberi kesempatan untuk saya bertransformasi menjadi manusia sempurna. Salah satunya, melalui anak-anak ini.

Riri Satria sahabat saya malah memprovokasi saya, "Bukannya ente menulis soal mereka di blog juga merupakan eksploitasi terhadap mereka ?". Saya ragu, jangan-jangan Riri benar. Meskipun akhirnya saya foto mereka juga, dan menulis blog ini, lebih didasari niat untuk sharing dari tacit knowledge saya memaknai suatu pengalaman -- meminjam istilah Riri. Siapa tahu berguna buat orang lain.

"Gila !... hidup gue berat banget .." ;
"Aduuuuh ...! Kenapa gue musti menderita kayak gini ?" ;

Waktu mengucapkan kalimat itu, kita sepertinya tidak melihat hadirnya keberuntungan di ruang benak kita. Padahal, sang keberuntungan telah hadir di ruang itu, cukup dengan bertanya kepada diri sendiri, "... dibandingkan apa ? ... dibandingkan siapa ?" ...***

2 komentar:

Dedi R mengatakan...

Sangat setuju dengan Pak Brata. Mereka adalah mahluk ciptaan Allah yang sempurna. Buktinya meskipun sumbing tapi bisa tetap menberi senyum ikhlas, meskipun ngesot, tapi tetap sampai ke tujuan. Meskipun mereka cacat, tapi mereka masih bisa memberi kebaikan buat orang2 disekelilingnya.. antara lain dengan membuat orang lain tersenyum, tertawa dan menjadi bersyukur pada Sang Pencipta. Buktinya setelah acara itu, perasaan kita menjadi lebih ikhlas.

adjie mengatakan...

"Dalem" euy. Aku suka tulisan ini. Menggugah, mengantar ku ke gelombang yang menyejukkan.

Sukses ya Mas.