Sabtu, Agustus 09, 2008

Seolah-olah (2)

Masih di Batu Malang, Fachri, seorang teman anggota tim fasilitator baru saja keluar dari kamar mandi. Sepanjang mandi, ia melakukan perjuangan hebat untuk menaklukan dinginnya air di kota Batu tempat outbound training berlangsung. Teman saya Ari yang berniat mau mandi, kemudian bertanya kepada Fachri, "Dingin banget ya ?".

Kata Fachri, "Nggak ... lu bayangin aja SEOLAH-OLAH anget .."
Ari : "Ahhh ... dingin tuh ...."
Fachri : "Nggakkk ... bayangin aja seolah-olah anget ..."

Ari langsung menjawab, "Kalo gitu gue bayangin aja seolah-olah gue udah mandi .."

Manajemen 'seolah-olah' ini bahasa kerennya 'visualisasi'. Visualisasi sering digunakan oleh pelatih olahraga untuk melakukan mental exercise bagi para atletnya, dengan cara membayangkan jalannya pertandingan dan hasil yang diinginkan. Konon, cara ini meningkatkan prestasi sang atlet menjadi juara. Visualisasi juga dimanfaatkan oleh perusahaan multilevel marketing untuk memotivasi distributornya, yaitu dengan diminta membuat 'dream book'. Distributor atau business owner diminta menempelkan gambar-gambar hal-hal yang diimpikannya di sebuah buku, atau di depan kaca, atau di meja kerja. Emosi yang kuat terhadap impiannya yang tergambar dengan jelas, akan memperlebar jalan meraihnya.

Saking pentingnya manajemen 'seolah-olah' ini, Dr. Robert Anthony pernah menyampaikan hasil risetnya, bahwa jika kita hanya mengucapkan afirmasi saja, tingkat keberhasilan kita 10%. Kalau selain afirmasi juga membayangkan apa yang kita ingin capai dengan sangat jelas, maka tingkat keberhasilannya naik jadi 55%. Tapi, kalau selain afirmasi, membayangkan hasil akhir, kita juga merasakan emosi seolah-olah apa yang kita bayangkan itu telah tercapai, maka tingkat keberhasilannya bisa 100%.

Kenapa di Indonesia banyak orang sholat tapi korupsi, ketidaktertiban, penindasan, kejahatan, jalan terus ? Saya cuma menduga, karena sholatnya pakai otak kiri : menghafal. Kita membaca ayat atau bacaan sholat, tapi tidak ada 'bayangan' apapun tentangnya, bahkan kita seringkali tidak merasakan apapun (karena perasaan itu berasal dari apa yang kita bayangkan). Bagaimana bisa membayangkan, lha wong artinya saja tidak tahu. Hanya hafal, itu saja. Padahal tubuh hanya mau merespon pikiran yang 'membayangkan'. Pantas saja, sholat tidak ada pengaruhnya kepada tindakan. Di mesjid sholat dengan ritual lengkap, malah ditambah dengan sholat-sholat sunnah, tapi di toko berbohong kepada pembeli sambil mengurangi timbangan, di kantor menyulap kuitansi tidak sesuai dengan angka aslinya, di jalan menyerobot jalur orang tanpa peduli dia sudah antri duluan.

Padahal, Tuhan sendiri bilang, "Sholatlah SEOLAH-OLAH engkau melihatKu. Dan apabila engkau tidak melihatku, yakinlah Aku melihatmu". Bahkan Tuhanpun meminta kita bervisualisasi waktu sembahyang ...

Ngomong-ngomong, ini nasihat untuk diri saya sendiri lho ...***

2 komentar:

demustaine mengatakan...

Hahaha, Asyik juga manajemen se"olah-olah" ini, untuk aktifitas ibadah, emm ada benarnya sih, mereka hanya hafalan mas. tapi jika visualisasi ini ternyata kosong gimana mas?? artinya seringnya orang menvisualisasikan suatu kejadian yang diinginkan tapi yang terjadi justru malah sebaliknya gimana? ini yang sering saya alami dan kuakali saja dengan tehnik kebalikannya, seperti model logotherapinya Viktor Frankl.

Prasetya Maytrea Brata mengatakan...

Hehhee ... salah seorang kerabat saya menggoda bayi keponakan sambil bilang, "jelekk .. jelekkk .. jelekk" ... Pas saya tanya, lho kok disugesti jelek ? .. Katanya -- yang punya kepercayaan di Jawa -- malah harus dikatain sebaliknya, biar nanti jadi cakep ...

Wah .. ini sedang saya pikirkan dan cari tau penjelasannya ...

hehehehee