Minggu, Juli 13, 2008

Buat Apa Sedih ?


Memang belum pernah terjadi (setidaknya yang saya tahu), isteri saya tidak lulus suatu mata kuliah. Sejak kecil ia juara kelas. Kalaupun tidak nomer satu, ya masuk tiga besar lah. Kalau ketemu dengan teman-teman SMA atau kuliah dia, sering reputasinya itu disebut-sebut. Karena 'disibukkan' oleh saya, disertasi doktoralnya menjadi tertunda lama. Ketika saya nikahi, ia sudah lulus preliminary exam untuk S3, padahal waktu itu ia cuma mendapatkan beasiswa S2 di University of California-Davis. Sempat pula mendaftar di FE-UI untuk menulis disertasi, namun sekali lagi 'kesibukannya' menyebabkan tulisan tidak lahir-lahir.

Sekarang ia mendapat beasiswa Australian Leadership Award untuk melanjutkan Ph.D di Australian National University -- perguruan paling 'top' di Australia. Di sinilah, ia mendapat pengalaman itu. Ia tidak lulus mata kuliah Ekonomi Mikro. Padahal, ia pernah mengajar mata kuliah itu di Indonesia.

Seorang temannya terheran-heran, karena begitu hasil ujian diumumkan dan isteri saya tidak lulus, isteri saya tenang-tenang saja, bahkan cengengesan, tertawa-tawa, bercanda seperti biasa.

"Ti, kok eloe nggak lulus malah ketawa-tawa sih ?", ujarnya kepada isteri saya.

"Yahhh ... sekarang kalo gue sedih, tetep aja gue nggak lulus kan ?. Gue malah bersyukur karena berarti masih bisa belajar Ekonomi Mikro sampai tahun depan. Itu berarti penguasaan gue bisa makin dalem ...", jawab isteri saya.

Sebagai manusia biasa, sudah tentu setiap orang merasa kecewa tidak 'langsung' lulus ujian. Ini wajar dan normal-normal saja. Kalau seseorang tidak 'sadar', maka alam bawah sadarnya (emosi) akan mengambil alih peran pikiran sadar. Ini disebut dengan pembajakan emosi atau pembajakan amigdala. Tergantung pengalaman masa lalu dia dan cara berpikirnya, bisa saja ia melabel dirinya gagal. Padahal yang terjadi adalah apa yang ia kerjakan hasilnya belum sesuai harapan saja. Dirinya bukan gagal. We are more than our behavior.

Kalau sudah menyadari adanya kemungkinan sabotase dari emosi, toh kalaupun sedih dan menangis meraung-raung juga tidak mengubah keadaan, maka seseorang yang sudah terprogram otomatis untuk melihat ke depan akan menafsirkan pengalamannya itu sebagai keadaan yang percuma untuk diratapi, sekaligus merupakan feedback untuk tidak melakukan hal yang sama karena akan menghasilkan hal yang sama juga. Ia tidak mau dikendalikan oleh emosi. Ialah yang mengendalikan emosi. Ia kemudian berpikir, bagaimana caranya ke depan mencapai seperti yang diharapkan.

Sekarang gantian saya sedang akan dibajak amigdala, karena isteri saya tinggal seminggu lagi berada di Jakarta. Minggu depan ia kembali ke Canberra untuk menempuh pendidikan selama tiga setengah tahun lagi ... Seandainya sahabat saya Ira Maya tahu emosi saya saat ini, ia akan mengulangi nasihat saya kepadanya : Acceptance ... ***

Siasati Pikiran Raih Keberuntungan (2)


Saya menjadi semakin yakin, ketika kita melakukan sesuatu untuk suatu niat yang lebih mulia, transendental, menempatkan kepentingan Tuhan dan masyarakat sebelum kepentingan privacy, kemudian yakin akan direspon oleh Tuhan dan alam semesta, lantas acceptance -- pasrah dan bersyukur, maka keberuntungan-keberuntungan itu akan menghampiri.

Di ujung acara launching buku "PROVOKASI, Menyiasati Pikiran Meraih Keberuntungan", Pak Fachri Muhammad, CEO Smart Network yang mengelola Stasiun Radio Smart FM 95.9, meminta Riri, salah seorang anchor di radio itu untuk membuat 'kapsul' bagi saya. Riri gembira. Memang terbersit di kepalanya buku ini menjadi kapsul. Kapsul adalah monolog sekitar lima menit yang berisi tips dan inspirasi. Smart FM memang radio terkemuka dalam bidang inspirasi. Bukan cuma itu, Pak Fachri juga berencana membuat acara khusus bernama "Provokasi", dan merencanakan saya sebagai host. Namanya juga rencana, bisa terwujud bisa juga tidak. Namun begitu, baru rencana saja saya sudah amat bersyukur dan menghargai niat Pak Fachri. Kalau di wacana agama, Pak Fachri sudah mendapat satu point pahala.

Di tengah-tengah proses pembuatan kapsul, saya sempat juga dua kali 'manggung' sebagai narasumber di D-FM, 103,4. Kali ini berkat 'campur tangan' Pak Vincent dari Gramedia dan Bang Andrias Harefa Sang Manusia Pembelajar.

Dibantu oleh Riri yang sangat bersemangat kapsul ini jadi, singkat cerita, akhirnya kapsul-pun diproduksi dan diberi sentuhan voice over dan musik oleh Mas Ariel sang editor dan Mas Dedi sang produser. Ketika saya diminta mendengarkan dummy, narasi pengantar kapsul itu berbunyi : ".... oleh Prasetya M. Brata, mind provocateur dan penulis buku best-seller PROVOKASI ...". Saya segera menyela, "Mas ... saya belum dapat konfirmasi dari Gramedia lho, apakah buku saya best-seller atau tidak". Tapi kata Mas Dedi, tidak apa-apa, anggap saja sebagai intention (niat).

Senin, 14 Juli, pagi-pagi sebelum jam 7, Riri menelepon saya dengan riang gembira mengabarkan kalau kapsul PROVOKASI siap tayang hari itu Pk. 09.50, 14.50, dan sekitar jam 8-9 malam. Sekitar dua jam kemudian Pak Wandi S. Brata dari Gramedia menelepon dan memberitahu dengan gembira pula, bahwa buku saya akan dicetak ulang. Itu berarti intention Mas Dedi dan Riri hari itu terwujud bersamaan ... Segala puji bagi Allah pengatur alam...***

Siasati Pikiran Raih Keberuntungan (1)


Bulan Maret 2008 di laptop saya ada program yang bernama Intention Activator. Hanya program sederhana, yaitu kita menulis apa yang kita inginkan sebagai cita-cita, lalu jika icon program di klik, akan muncul running text bertuliskan cita-cita kita itu. Di program itu saya tulis ”Buku Provokasi terbit paling lambat 23 April 2008”. Mengapa 23 April 2008 ? Karena itu hari ulang tahun saya. Mungkin saya agak ’gendeng’ karena saya menetapkan keinginan buku terbit hanya satu bulan ke depan, padahal waktu itu saya belum mendapat penerbit.

Saya mengirimkan naskah ke empat penerbit. Salah satu penerbit merespon dengan cepat, sekitar hampir 2 minggu kemudian. Mereka mengajak bertemu dan membicarakan marketing plan. Saya naksir dengan rencana mereka yang proaktif dalam pemasaran. Dia mengirimkan draft kontrak. Keesokan harinya penerbit besar lainnya mengirimkan email yang berisi ketertarikan dewan redaksinya untuk menerbitkan buku saya. Saya bingung.

Tanggal 25 Maret 2008 saya menelepon salah satu penerbit di bawah kelompok Gramedia setelah mendapat rekomendasi seorang senior yang bukunya juga diterbitkan penerbit itu. Seorang ibu di ujung telepon berkata, ”Silakan dikirimkan naskahnya pak, nanti kami review 2-3 bulan. Kalau diputuskan untuk diterbitkan, kami akan hubungi, kalau tidak naskahnya kami kembalikan”. 2-3 bulan ? ... berarti buku ini saya perkirakan terbit sekitar Juli-Agustus. lama ya ? ya sudah lah. Mungkin memang bukan dengan Gramedia Group. Saya memang alergi dengan keputusan-keputusan yang lama.

Bang Andrias Harefa tiba-tiba menelepon dan mengajak ketemu. Ia ingin berbincang-bincang. Kami lalu bertemu di Chopstick Cilandak Town Square hari Jumat sore. Di ujung perbincangan, jam 7 kurang sedikit, Bang Andrias menelpon seseorang di Gramedia. Lalu saya diberi nomor telepon orang itu – namanya Pak Wandi S. Brata. Setelah gagal janjian di hari Minggu dan Senin, Pak Wandi minta dikirim saja naskahnya lewat kurir.

Selasa, 1 April, Pak Iman supir dinas saya, saya minta untuk mengantarkan dummy buku. Jam 10 diterima oleh Pak Wandi, jam 12 beliau telepon, tapi saya tidak bisa mengangkat karena masih berada di kelas kursus persiapan IELTS – salah satu syarat untuk melanjutkan studi ke Australia. Jam 15.30 saya telepon beliau dan beliau bilang sedang membaca buku saya sampai tulisan yang berjudul ’Ngeyel’. Beliaupun memberitahu bahwa buku saya akan diterbitkan oleh Gramedia. Belum hilang kekagetan saya, Pak Wandi malah bertanya apakah ada waktu khusus yang dikejar dimana buku itu harus terbit ?. Saya bilang, saya akan ada reuni SMP tanggal 3 Mei. Kata Pak Wandi, oke. Gembira dan bingung bercampur satu.

Seminggu kemudian Pak Wandi minta saya datang ke kantornya untuk menandatangani kontrak. Selama seminggu kami berkomunikasi lewat email, antara lain untuk menentukan sub judul. Awalnya, di dummy buku, judul buku itu saya tulis ”PROVOKASI, Memaknai Peristiwa Kehidupan Sehari-hari”. Pak Wandi dengan intuisinya memandang perlu untuk diganti karena kurang ’marketable’. Usul Pak Wandi yang akhirnya saya setujui adalah ”Menyiasati Pikiran, Meraih Keberuntungan”.

Dari kontrak penerbitan buku, saya tahu nama panjang Pak Wandi adalah Suwandi S. Brata. Tapi beliau lebih suka dengan nama Wandi S. Brata. Saya tidak tahu apakah ini kebetulan karena nama belakang saya dan Pak Wandi sama, yaitu Brata. Beliau memang lulusan filsafat, saya menyukai filsafat. Beliau ulang tahun tanggal 22 April, saya 23 April. Beliau menulis buku berjudul ”Bo Wero, Tips Mbeling Menyiasati Hidup” yang bangunan isinya hampir sama dengan tulisan saya, hanya tulisan beliau jauh lebih menghujam dalam. Kalau di dunia persilatan, buku Bo Wero adalah guru, buku saya adalah murid. Salah satu SMS Pak Wandi tentang saya dan beliau adalah ”Dua orang sejenis ketemu di jalan”. Kalau salah satu hukum alam yang bernama the law of attraction berbunyi ”like attract like” – bahwa sesuatu akan menarik sesuatu yang sejenis lainnya – saya pun tidak tahu apakah fenomena ini suatu buktinya – Brata dipertemukan dengan Brata.

Selesai menandatangani kontrak, saya bilang ke Pak Wandi bahwa saya akan memberi training pada tanggal 18 dan 25 April. Tanpa menunggu saya berkata lebih lanjut, Pak Wandi bilang, ”Kalau tanggal 18 rasanya belum sempat, kalau tanggal 25 .... hmmm ... kalau begitu tanggal 24 bukunya kami kirim Pak”. Luar biasa, saya pikir. Di kontrak tertulis tanggal 3 Mei buku itu terbit, tapi Pak Wandi berjanji tanggal 24 April terbit. Pada pelatihan tanggal 18 April saya menceritakan kisah ini, sambil menunjukkan ke laptop intention tertulis saya. Saya bilang, Alhamdulillah buku itu terbit hanya sehari bedanya dengan intention tertulis saya.

Selasa, 22 April, saya SMS pak Wandi, apakah bukunya bisa diambil hari Kamis (tanggal 24 April). Jawaban Pak Wandi, bukunya bisa diambil besok setelah jam 12, yang berarti itu adalah tanggal 23 April 2008 PERSIS seperti apa yang saya tulis di laptop.

Perjalanan buku ini sendiri mengisahkan tentang bukti dari apa yang ditulis di dalamnya. Buku ini ’walk the talk’. Ia membuktikan sendiri sebuah keinginan dan niat akan terwujud. Bahwa ketika pikiran membayangkan suatu impian yang nyata, berbatas waktu, tertulis, lalu ikhlas – acceptance – terhadap kejadian apapun sesudahnya – ternyata Tuhan mengirimkan orang-orang, kesempatan-kesempatan, dan kejadian-kejadian untuk mewujudkannya. Ketika pikiran selalu melihat keberuntungan-keberuntungan, dan kemudian disyukuri, keberuntungan-keberuntungan berikutnya datang.

Bukti lainnya, jumat malam 2 Mei 2008 pada hari Pendidikan Nasional, Pak Vincent Tuadi dari Gramedia menelepon. Ia memberi tahu ada penulis yang dijadwalkan hari Selasa, 6 Mei, berhalangan untuk on air bedah buku di SMART FM 95.9. Ia minta saya menggantikannya. Padahal, sebelumnya saya dijadwalkan oleh Pak Vincent on air sekitar bulan Juli karena ’antri’. Suatu keberuntungan ’mendadak’.

Orang-orang hadir ketika saya membutuhkannya. Saat saya butuh revisi tulisan, hadir Peni dan Cepi. Ketika buku itu butuh kemasan, hadir Defitra dan Danny Tumbelaka. Ketika saya butuh buku ini diberi nuansa otoritas, hadir Kang Jalal, Andrias Harefa, Rhenald Kasali, Miranty Abidin, Adiwarman Karim, dan sederet nama-nama ’beken’ lainnya. Ketika saya butuh penerbit, hadir Andrias Harefa dan Pak Wandi S. Brata. Ketika saya butuh buku ini dikenal, hadir Ira Maya Sopha, Pak Vincent Tuadi, Agung Suharto, Pak Fachri, Riri, dan sahabat-sahabat yang punya segudang ide. Ketika saya butuh orang yang bisa mengkoordinasikan media, hadir Rina Suci. Bukan hanya orang yang saya sebutkan namanya, mereka yang belum saya sebutkan namanya, muncul dan menjadi bagian dari ’skenario besar’ alam yang merespon idealisme saya : menjadikan negeri ini menjadi tempat yang jauh lebih baik untuk hidup.***

Sabtu, Juli 12, 2008

Bangga karena apa ?


Seorang petinggi yang mencapai posisi atas di sebuah perusahaan memberi sambutan dalam sebuah acara pembukaan pendidikan bagi pegawai entry level.

"Contohnya saya sendiri. Ketika masuk saya juga seperti anda, berangkat dari posisi paling bawah. Sekarang saya sudah mencapai posisi seperti ini. Bagi saya ini sungguh membanggakan ....", katanya.

Saya memilih memaknai sambutan petinggi ini sebagai pemberian inspirasi agar para peserta pendidikan memiliki semangat tinggi dalam belajar, karena mereka berpeluang untuk mencapai posisi top management. Namun begitu, saya juga sekaligus melakukan 'pertahanan diri' terhadap pemaknaan yang bisa-bisa membuat saya terjebak pada manusia 'permukaan'. Maksudnya ?

Sepanjang pengalaman dan pengamatan saya, orang tidak lagi peduli apakah pemegang jabatan itu dulunya orang hebat, penuh prestasi masa lalu. Lingkungan dan Perusahaan lebih melihat, saat itu, apa yang telah diperbuat oleh pemegang jabatan itu bagi Perusahaan ? Nilai tambah apa yang telah ia berikan kepada Perusahaan selama ia menjabat ? Sama dengan Tuhan tidak akan memberi ponten terhadap berapa harta yang telah kita kumpulkan. Tetapi dari mana harta itu diperoleh, dan digunakan untuk apa harta yang diperoleh itu.

Saya sendiri punya modal terjebak pada kebanggaan akan posisi, bukan kontribusi. Di setiap level jabatan, saya selalu menjadi pejabat 'termuda'. Mulai dari asisten kepala bagian termuda, hingga pimpinan anak perusahaan termuda ketika baru menjabat. Namun begitu, saya sadar, seluruh kecepatan perjalanan karier saya, seluruh pendidikan yang telah saya tempuh, seluruh 'kehebatan' prestasi masa lalu, sama sekali tidak berguna saat ini untuk disebut-sebut, ditonjol-tonjolkan, bahkan dibangga-banggakan. Yang dinilai dan dihargai adalah, bagaimana jabatan itu sampai dipercayakan (bukan dihadiahkan) kepada saya, dan apa yang telah saya perbuat pada jabatan dan posisi saat ini bagi perusahaan dan lingkungan. Kalau kelakuan saya dan hasil kerja nol besar, atau bahkan minus, maka keberadaan saya adalah musibah bagi Perusahaan dan lingkungan. Saya katakan seperti itupun bisa anda bilang : "Prass, kamu sedang pamer 'kerendahan hati ?" ...

Mudah-mudahan Bapak petinggi itu merasa bangga karena apa yang telah ia perbuat sehingga ia mencapai posisi itu, bukan bangga karena posisinya. Banyak orang di seputar saya yang bangga mencapai karier yang tinggi, tapi lingkungan seperti tidak menaruh respek, bahkan menertawakan dia. Mengapa ? Karena ia mencapai posisi itu lebih memberdayakan kompetensi 'politik' untuk 'merapat' dan 'menempel' kepada 'anchor' yang dia berhasil 'jilat'. Kompetensi profesional ? .. Nol besar. Indikatornya biasanya cibiran orang-orang sekitar yang melemparkan pertanyaan :"mana prestasi kerja orang itu ?".

Kalau badan anda masih kerempeng, lalu minta baju yang lebih besar, kira-kira begitu dipakai bagaimana reaksi orang-orang sekitar anda ? Apakah mereka tidak 'membatin' anda karena anda memakai baju kedodoran ? Sepanjang pengalaman saya, sekaligus menjadi keyakinan saya saat ini, daripada mengejar jabatan, lebih penting bagi saya untuk memperbesar otot-otot kompetensi profesional seperti pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kebiasaan yang diperlukan oleh fisik, mental, emosional, dan spiritual untuk menjawab tantangan dan persoalan saat ini dan masa depan. Nanti kalau otot-otot saya sudah besar, saya yakin, pasti Tuhan melalui tangan 'manajemen' akan memberi 'baju' (jabatan) yang 'pas' dengan ukuran tubuh saya.

Kalau saya memaksakan diri untuk mengejar jabatan, tapi sesungguhnya kompetensi saya belum cukup, itu sama saja seperti saya baru punya otot yang mampu mengangkat beban 50 kg, tapi minta beban 200 kg. Bukannya ketenangan dalam menjalankan peran dan tanggungjawab, yang ada malah penderitaan yang amat sangat.

Sekali lagi, mungkin saja ada orang yang bilang ke saya, "Ahhh .. berarti kamu takut menderita dong ? ... ***

Minggu, Juli 06, 2008

Salah Sendiri Tidak Tanggungjawab

Di dalam sebuah cafe di Bandara Adisucipto Yogyakarta, TV di depan saya menayangkan acara FANS, dimana seseorang difasilitasi untuk bertemu dengan idolanya. Seorang ABG dari Pulau Dewata diskenariokan untuk bertemu dengan dMasiv, grup band yang sedang kondang. Singkat cerita, setelah pertemuan yang mengharukan, mereka menyanyikan hits kelompok band ini.

Kau membuat kuberantakan ...
Kau membuat ku tak karuan ...

Kau membuat ku tak berdaya

Kau menolak ku, acuhkan diriku


Bagaimana caranya untuk

meruntuhkan kerasnya hatimu

Kusadari, kutak sempurna

Ku tak seperti yang kau inginkan


Kau hancurkan aku dengan sikapmu ...

Tak sadarkah kau telah menyakitiku ..

Lelah hati ini meyakinkanmu ..

Cinta ini membunuhku ...


Kebetulan lirik lagu ini ditampilkan di layar televisi. Saya menyimak satu persatu, dan seketika merasa miris. Dari kacamata pengetahuan saya tentang sugesti-pikiran-perasaan-tindakan-nasib, seandainya seseorang menghayati betul lagu ini, sampai menangis-nangis (saya pernah lihat seorang presenter/host kondang meleleh airmatanya menyanyikan lagu ini), bukannya keberuntungan yang akan didapat, melainkan kesengsaraan yang lebih dalam lagi yang bakal diterimanya.

Saya berimajinasi, seandainya 'bocah-bocah' dMasiv itu datang kepada saya dan seolah-olah mereka 'curhat' dengan lagu itu kepada saya, maka jawaban saya berupa pertanyaan-pertanyaan adalah seperti ini :

Ooo ... kamu menyerahkan kuasa kepada perilaku atau sikap dia untuk bikin kamu berantakan ? membuat kamu nggak karuan ? membuat kamu hancur ? sakit ? bahkan terbunuh ? Kamu biarkan 'sikap dia' bikin kamu menderita kayak gitu ?

Bukankah itu berarti kamu kalah oleh perilaku dia dan perasaan kamu sendiri ? Kamu mau membiarkan dia mengendalikan kamu ? bukan kamu yang mengendalikan diri kamu sendiri (dan dia) ?


Dengan perasaan seperti ini, apakah kamu bisa menarik simpati dia lagi ? Apa bukannya dia makin ogah sama kamu?
bukankah itu berarti kamu menunjukkan diri sedang lemah oleh kejadian ini ? Ada nggak sih cewek yang suka apalagi mau sama cowok yang lemah dan cengeng ? Emang dengan cara begini kerasnya hatinya jadi runtuh seperti apa yang kamu harapkan ?

Kamu ingin dia mengasihanimu ? (bukan memberi kasih ?). Kamu benar-benar ingin hidup bersamanya di bawah rasa kasihan dia ? Kalau kamu sadar kamu tak sempurna dan tidak seperti yang dia inginkan, kamu mau hidup dengan orang yang tidak menginginkanmu ? Itukah yang disebut cinta ?

Kalau dengan cara selama ini dia nggak yakin sama kamu, sampai kamu lelah, lalu kamu masih pakai cara-cara yang sama untuk meyakinkan dia ?

Kalau kamu berharap dia berubah seperti yang kamu mau, lalu apakah kamu mau dan bisa berubah seperti yang dia inginkan ? Mengapa harus dia dulu yang berubah ? .. Mengapa bukan kamu dulu yang berubah jadi orang yang meyakinkan dia ? yang meluluhkan hati dia ? itu kalo kamu masih mau sama dia lhoooo .....

Nikmatilah lagu ini. Belilah kaset dan CD (asli) nya. Musikalitasnya bagus dan enak didengar. Tapi hati-hati, pikiran tidak bisa membedakan mana yang kenyataan, mana yang imajinasi, mana sugesti yang positif, dan mana sugesti yang negatif. Meskipun saya akan memberi saran jangan hayati liriknya, dan saya agak pesimis anda tidak terpengaruh ...***

Senin, Juni 30, 2008

Terfitnah

Tiba-tiba saja seorang perempuan yang saya kenal ketika ia mengikuti pelatihan saya merasa terganggu ketika ia tahu isteri saya sedang ada di Jakarta. Saya memang tidak memberitahu dia sebelumnya kalau isteri saya mau liburan ke Indonesia. Lagipula, apa perlunya saya memberitahu?

Di pesan ponsel, perempuan yang biasa saya sapa 'mbak' itu bilang, teganya ada yang mempermainkan hati dia. katanya, informasi tentang isteri tidak harus memancing emosi bukan ?. Lalu dia juga bilang masih menyimpan sms 'misterius' beberapa bulan yang lalu. Ia bilang sms 'misterius' itu berasal dari saya.

Saya kaget dan merasa ada 'something wrong' dengan situasi ini. Saya lalu minta dia mengirimkan beberapa sms 'misterius' itu. Wowwww ... pantas. SMS itu berisi pujian dan rayuan 'maut' yang pantas kalau bikin dia klepek-klepek. Tapi tentu saja saya agak risih juga dengan bahasa SMS itu karena 'bukan gue banget'.

Setelah menerima beberapa SMS 'misterius' itu, saya membalas menyatakan SMS itu bukan dari saya. Ia tidak terima. Ia tetap ngotot SMS itu dari saya sambil memberi sejumlah argumen yang bagi saya sangat dipaksakan. Kalau awalnya saya merasa geli, sekarang merasa agak kesal bercampur kasihan kepada si Mbak. Ada satu SMS dari seseorang misterius itu yang memang tendensius. Rupanya ketika si Mbak tanya kepada pengirim SMS apakah mereka pernah bertemu, si pengirim SMS menjawab pernah. Lalu ketika si Mbak minta identitas si pengirim SMS, si pengirim SMS menyebutkan ciri-ciri : kulit bersih, tinggi gagah, pakai kacamata, sekilas jaim tapi nggak, njawani, santun, dan sederet ciri yang semuanya memang wajar jika si mbak mengarah kepada sosok saya.

Ia tanya apa saya punya nomor Esia ? Saya bilang nggak, saya cuma punya Telkomsel dan Fren. Saya bilang, kenapa selama ini dia tidak mengkonfirmasi atau cross-check SMS-SMS itu ke HP saya yang Telkomsel ? Ia tidak menjawab. Saya menduga, dalam pemahaman dia, nomor Esia adalah nomor 'khusus' saya dengan dia.Setelah satu persatu SMS itu saya beri catatan dari sisi bahasa, struktur kalimat, dan isi yang 'nggak gue banget' dan saya kirim kembali kepada si Mbak, keyakinannya mulai runtuh. Memang tidak mudah. Akhirnya ia minta maaf.

Si Mbak selama berbulan-bulan hidup, bertindak, berperasaan, digerakkan oleh 'kenyataan internal' dalam pikirannya, bahwa saya mencintai dia dan 'akhirnya' diapun 'naksir' saya dalam imajinasinya. Atau bisa juga terbalik, ia menyukai saya, dan 'saya'-pun membalasnya. Tetapi ternyata 'kenyataan internal' (peta) dalam pikirannya, tidaklah sama dengan 'kenyataan eksternal' (wilayah). Kenyataan eksternalnya, saya memang tidak punya perasaan apapun kepada si Mbak kecuali menghormati dia sebagai teman. Peta bukanlah wilayah. The map is not the territory.

Saya tidak ingin memperdalam kisah ini dengan berbagai kemungkinan skenario seperti pembunuhan karakter si pengirim SMS terhadap saya karena tidak bermanfaat lagi. Si Mbak sudah 'sadar' dan minta maaf. Saya cuma berpikir, kalau kejadian ini bisa menimpa saya yang belum jadi selebriti -- dimana saya disangka dan dipercaya oleh si Mbak naksir dia, padahal kenyataannya tidak -- maka berapa juta orang yang 'terfitnah' oleh tayangan gosip di sejumlah stasiun televisi ? Berapa besar energi : waktu, tenaga, dana masyarakat terbuang karena mempercayai sebuah kisah gosip yang ternyata apa yang mereka percayai itu tidaklah sama dengan kenyataan yang sebenarnya ? Bukan cuma selebriti yang terfitnah, hakikinya masyarakat juga terfitnah.

Kalau anda adalah bagian dari masyarakat, tidak usah menyalahkan televisi. Salahkan diri sendiri saja ...***

Jangan salah tarik pelajaran

Di suatu petang di sebuah cafe, seorang sahabat pemilik cafe bercerita. Beberapa waktu lalu ia ditipu oleh salah seorang teman lamanya yang juga teman lama saya. Ia menceritakan pengalamannya untuk memperingatkan saya agar hati-hati karena ia tahu saya berencana akan ketemuan dengan si teman lamanya ini.

Modus operandi teman lama ini adalah menawarkan suatu jasa kepada sahabat saya. Karena memang butuh dan kebetulan ada yang menawarkan -- teman lama lagi -- maka sahabat saya mempercayakan renovasi cafe-nya kepada teman lama ini. Down payment-pun berpindah rekening. Singkat cerita, batas waktu penyelesaian job lewatlah sudah dari jadwal, tapi apa yang diminta sahabat saya dan dijanjikan oleh teman lama ini tak kunjung terwujud. Meskipun akhirnya terwujud juga sekian bulan kemudian tapi kualitas pekerjaan sangatlah buruk dan tidak sepadan dengan biaya yang telah dikeluarkan. Bukan cuma itu, satu persatu teman dan kolega sahabat saya didatangi oleh teman lama ini, dan nasib mereka tidak jauh beda dengan sahabat saya ini.

Sahabat saya juga memberi bonus informasi lain-lain yang menyangkut integritas, kredibilitas, dan 'kelakuan' teman lama ini. Sahabat saya mengatakan kapok berhubungan dengan teman lama ini. Atas pengalamannya ini, ia pernah diberi nasihat oleh temannya : "Makanya, kalo cari teman pilih-pilih". Akibatnya sahabat saya mengaku sekarang berhati-hati dengan orang, dan cenderung pilih-pilih.

Setelah ia menuntaskan ceritanya, saya bilang kepadanya, "Hati-hati lho dengan saran orang lain. Dipikir dulu. Kadang-kadang kita diberi saran yang sepintas pantas diikuti dan menjadi 'pelajaran' yang benar, tapi nyatanya malah merugikan".

"Maksudnya ?", tanya dia.

Saya melanjutkan, "Kenapa eloe dapet pengalaman buruk bekerjasama dengan orang, terus ditarik pelajarannya adalah : ke depan harus pilih-pilih orang?. Coba lihat, apa akibatnya ? Akibatnya adalah eloe menutup kesempatan untuk bersilaturahmi dengan banyak orang. Padahal, justru dengan silaturahmi kita panjang umur dan banyak rejeki".

"Jadi, mustinya gimana dong ?", kejar dia.

Meskipun saya belajar tentang coaching dimana seorang coach tidak boleh langsung memberi jawaban dan hanya memancing jawaban keluar dari mulut klien sendiri, tapi kali ini saya ingin memberi nasihat dengan cepat.

"Emang sih, sakit ditipu temen sendiri. Kalo gue jadi eloe, gue bersyukur, karena dikasih pengalaman berharga ini. Ini berarti kan ilmu loe tentang berbisnis dan bekerjasama makin tambah. Kalau gue jadi eloe, pelajaran yang gue tarik adalah, gue akan belajar lebih dalam dan luas tentang ilmu berbisnis, khususnya ilmu mencari pasangan kerjasama, jadinya besok-besok nggak ketipu lagi. Di saat yang sama, gue tetep nggak akan pilih-pilih temen, nggak akan pilih-pilih orang. Gue bergaul sama siapa saja. Seringkali rejeki dateng dari orang yang nggak kita sangka-sangka sebelumnya ..."

Matanya melirik ke kanan atas. KLIK. Seperti mendapatkan pencerahan, warna wajahnya berubah. Tadinya wajahnya agak 'tertekan', sekarang lebih sumringah. Dia tertawa.

"Wuihhhhh ! ... bener juga loe Prass .... Tapiiii .. kenapa sih nasihat ini yang ngasih harus eloe ??***

Senin, Juni 23, 2008

Jilbab untuk apa ?


Di halaman parkir pasar modern BSD saya membaca koran sambil menunggu ibu saya belanja. Sebuah mobil merah melintas perlahan, dan persis di depan mobil saya, jendela belakang terbuka, dan .. plukkk ... sebuah tissue dilempar ke jalan oleh seorang wanita berjilbab yang menumpang di dalam mobil itu.

"Lho ... kok buang sampah sembarangan sih ?", gumam saya dalam hati sambil memandangi wajah wanita itu dengan harapan ia juga melihat ke arah saya. Tapi ternyata tidak.

---
Memasuki sebuah mall besar di Jakarta Selatan, setelah parkir saya berjalan menyusuri teras gedung menuju pintu masuk. Berjalan di depan saya sepasang ABG. Dari gayanya, sulit untuk menghindari dugaan mereka masih SMP atau mentok-mentok SMA. Saya tahu dari gaya mereka dan isi pembicaraan mereka. Saya juga berhasil mengintip tidak ada satupun cincin melekat di jemari mereka. Mereka berpegangan tangan dan sesekali sang lelaki mendekap tubuh sang perempuan itu dengan tangan melingkar di pinggang sang perempuan. Sesekali juga kepala perempuan itu disandarkan di bahu sang lelaki. Mesra sekali. Saya tahu saya sedang berprasangka bahwa mereka masih pacaran, belum menikah. Sang perempuan memakai jilbab.

---
Kelompok ini terkenal dengan komentar-komentar yang pedas. Orang-orang menyebutnya biang gosip. Kalau saya berdekatan dengan kelompok ini dan terlibat pembicaraan di dalamnya, isinya adalah membicarakan kekurangan teman-teman, dosen-dosen, senior-senior, karyawan kampus, bahkan pacar masing-masing. Ekspresinya sangat kentara kalau sedang sinis. Pernah Sang dedengkot kelompok ini protes kepada saya karena meminjamkan buku catatan kepada kelompok lain yang sudah lama saling tidak suka dengan kelompok ini. Saya dianggap tidak 'solider' dengan kelompok ini. Si dedengkot ini memang suka mengatur orang sana-sini, seperti boss. Dedengkot kelompok ini memakai jilbab.

---
Di sebuah mall, sebuah godaan keras datang. Seorang perempuan berparas sedang-sedang saja melintas. Ia mengenakan kaos berlengan panjang ketat berwarna putih, dimasukkan ke celana panjang. Celana panjangnya terbuat dari bahan yang tipis (tapi bukan stoking), berwarna krem. Tentu pakaian dalamnya tampak samar-samar. Bagian belakang tubuh perempuan yang aduhai ini jelas tampak lekukannya. Dia mengenakan jilbab berwarna krem berbahan kaos juga.

---
Seorang perempuan berjilbab kecewa. Ia marah kepada suaminya yang dianggapnya kurang memperhatikan dirinya. Ia menyebutkan sebuah nama hewan yang ditujukan kepada suaminya. Ia kemudian menuntut cerai. Setelah bercerai, ia dendam sekali kepada suaminya. Sekarang ia sering sekali mengeluh soal anak-anak, urusan rumah tangga, urusan pekerjaan, urusan jodoh lagi yang belum kunjung datang. Ia mengeluh. Ia menyalahkan suaminya atas semua penderitaannya ini. Ia masih mengenakan jilbabnya.

---
Beberapa tahun lalu seorang wanita berjilbab datang kepada saya karena dianggap bisa membantu persoalan yang sedang membelitnya. Ia bercerita, dirinya hamil. Ia belum menikah.

---

........................ ***

Selasa, Juni 17, 2008

Pisang Den ...


"Pisang den .....", tawaran seorang nenek memecah obrolan saya bersama teman-teman fasilitator pelatihan di suatu malam minggu di Batu Malang.

Guratan wajah nenek itu tampak jelas sekali. Saya memperkirakan umurnya sekitar 70-an. Ia mengenakan pakaian kebaya yang tampak rapi berkerudung sederhana, menenteng sebuah tas di tangan kiri, dan tangan kanan menenteng sesisir pisang. Ia menatap kami dengan mata berharap, lalu menjulurkan tangan kanan yang memegang sesisir pisang berwarna hijau. Rupanya ia sedang menawarkan pisang kepada kami. Entah apa yang ada di pikiran saya, tiba-tiba saya langsung membuka telapak tangan saya, tanda menolak.

"Mboten bu ....(tidak, bu)".

Ia lalu pergi ke belakang dan menawarkan pisang itu kepada pemilik warung. Jalannya tertatih-tatih. Tapi setelah berdiri sesaat di hadapan pemilik warung itu, saya melihat bayangan gelengan kepala sang pemilik warung. Pemilik warung juga menolak. Nenek itu beranjak hendak meninggalkan warung.

Tiba-tiba ada perasaan menggemuruh di dada. Saya baru saja menerima honor mengajar, dan nenek itu sedang memerlukan nafkah. Kalau malam-malam jam delapan seseorang masih menawarkan jualannya yang hanya sesisir pisang, dalam tafsir saya, ia memang sedang memerlukan uang.

Begitu nenek tadi melintas di depan saya, segera saya memanggilnya dan bertanya,

"Bu ... berapa pisangnya ?", tanya saya.

Ia menengok ke arah saya. Wajahnya menyiratkan perasaan lega ada yang memanggil dirinya. Ia bilang "pitu setengah".

Saya tanya lagi, 'berapa bu ?', karena saya tidak begitu jelas.

"Tujuh ribu limaratus", katanya lagi.

Sekelebat yang ada di kepala saya adalah : berarti nenek tadi cuma untung beberapa ribu rupiah. Apa bisa ya untuk makan di tengah harga BBM dan bahan pokok melambung tinggi?.

Seketika saya ingin memberi nenek itu rejeki lebih. Setelah mengambil pisang dari tangannya, saya mengeluarkan dompet dan memberi uang duapuluh ribuan.

"Tidak usah dikembalikan, bu", kata saya.

Mungkin karena pendengarannya kurang, atau kata-kata saya yang kurang jelas, atau memang sengaja mengabaikan kata-kata saya, ia tetap mengeluarkan dompet recehan dari tasnya dan membukanya. Saya segera mengulangi "Bu, mboten sah diwangsuli (Bu, tidak usah dikembalikan)".

Ia melihat ke arah saya sejenak, lalu tetap kembali mencari uang receh sambil berkata "Kulo wangsuli nggih ? (saya kembalikan ya ?)".

Kembali saya bilang, "oooh .. mboten sah bu .. sedoyo mawon .. (oooh, tidak usah bu, semuanya saja)".

Ia menatap saya dan tampak tidak percaya. Lalu wajahnya seperti menyiratkan rasa syukur. Kemudian ia meluncurkan kalimat yang cukup panjang dalam bahasa jawa yang intinya berterimakasih sekali dan mendoakan mudah-mudahan saya banyak rejeki.

Saya trenyuh. Nenek ini benar-benar memberi pelajaran luar biasa tentang hidup dan bekerja. Saya yakin nenek ini tidak tinggal di sekitar warung tempat saya nongkrong tadi, karena warung tadi berada di wilayah perumahan menengah dan perkantoran. Itu artinya, ia berjalan cukup jauh menyusuri jalan malam-malam. Yang ia punyai cuma sesisir pisang dan harapan akan datangnya rejeki Tuhan. Ia tidak meminta-minta. Ia malah hampir bersikeras mengembalikan uang saya karena ia menjual pisang itu dengan hanya dengan harga Rp 7.500,-.

Setelah sang nenek menghilang dari pandangan mata, pengalaman emosional ini saya ringkas dalam pesan SMS dan saya kirimkan kepada beberapa orang dekat saya. Sahabat saya Maya membalas dengan SMS "Nenek itu kaya banget ya Prass .. Lebih kaya dari presiden, pemilik microsoft, dll ..".

Saya cukup lama merenungkan pesan pendek Maya -- panggilan 'rumah' Ira Maya Sopha. Akhirnya saya mengerti bahwa yang dimaksud dengan 'kaya' oleh Maya adalah, nenek itu merasa cukup dengan harga 7.500 rupiah, sehingga ia bermaksud mengembalikan uang saya, meskipun saya minta uang itu untuknya semua. Entah karena memang jualannya cuma sesisir, atau tinggal sesisir, tapi menjual sesisir pisang yang tidak tampak 'sale-able' malam-malam dalam kacamata saya tidaklah lazim dan termasuk perbuatan 'nekat'. Kalau fenomena nenek penjual sesisir pisang ini dianalisis dengan teori-teori pemasaran yang canggih-canggih mungkin tidak 'masuk'. Nyatanya, karena sang Nenek berusaha, ia dipertemukan oleh Tuhan dengan rejeki yang menjadi jatahnya malam itu ... Sang Nenek telah menjemput rejekinya. Ia diberi rejeki bukan karena pisangnya, tapi karena usahanya.

Seseorang memprovokasi saya, "Ahh, terlalu sensitif bin melankolis kamu ... Nenek itu kan cuma iseng-iseng aja jualan pisang malem-malem. Siapa tau anak-anaknya juga udah menyokong hidup nenek itu dengan cukup ?". Bisa jadi begitu, pikir saya. Tapi dengan memilih tafsir seperti di tulisan ini, buat saya jauh lebih bermanfaat. Saya jadi punya 'ladang' amal, nenek itu jadi punya rejeki tambahan, dan kita mendapat pesan dan pelajaran hidup tentang rejeki dan usaha. Orang yang memprovokasi itu bilang : "Kita ? Eloe aja kali gua kagak ..."***

Sabtu, Mei 31, 2008

Bowo's Wisdom

Tuhan memang tidak pernah putus memberi anugerah buat saya. Tiba-tiba saat ini saya berada pada situasi konflik dengan seorang teman lama. SMS 'provokasi' saya ndilalah ditafsirkan sebagai sesuatu yang 'tidak ada tenggang rasa' bagi dia, dan dia tidak suka. SMS terakhir dia menyatakan, dia mau mundur saja dari forum alumni. Saya makin terheran-heran kok bisa sampai kesitu tafsir dan keputusannya. Tapi begitulah faktanya.

Di Yahoo Messenger saya menyapa dia, dan dia masih menyatakan ketidaksukaannya dengan cara saya 'memotivasi' dia. Ketika saya tanya seharusnya bagaimana, dia bilang : ya gak tau, anda pakarnya! ... Setidaknya saya tiga kali memberi ilustrasi untuk 'memaksa' dia melihat dari kacamata yang berbeda dengan persepsi dia saat ini. Semua gagal.

Saya : "Bozz (ini kata ganti di blog ini untuk nama dia), ada seorang laki-laki yang sedang melaju dengan mobilnya, di sebuah belokan di jalan pegunungan dia tiba-tiba berhadapan dengan seorang wanita bermobil. Laki-laki itu adalah eloe. Tiba-tiba wanita tadi berteriak : "BABIIII" ke arah loe. Apa reaksi loe ?"

Dia : "Teriak balik, ELO YANG BABI !"

Saya : "Tiba-tiba .. dalam hitungan sepersekian detik .. di belokan itu .. karena eloe berteriak sambil ngeliatin dia .. mobil loe nabrak segerombolan babi yang menyeberang jalan .. mobil loe terjungkal .. eloe luka parah"

Dia : "Trus ?"

Saya : "So, di peta pikiran loe, eloe menafsirkan perempuan itu sedang MENGHINA eloe. Ngatain eloe. Tapi kenyataannya, dia sedang MEMPERINGATKAN eloe kalo ada babi nyebrang. Dalam kecepatan mobil, dia harus memilih satu kata agar kedengeran eloe, maka dia memilih kata BABI. Maksud sebenarnya MENYELAMATKAN.

Dia : "Trus ?"

Saya : "Tapi eloe tafsirkan di peta internal loe sebagai PENGHINAAN". Begitulah yang eloe alami terhadap gue barusan. Got it ?

Dia : "Nope. Loe menyelamatkan apa ke gue ??"

Waktu itu, kalau saya ini anak ABG di sinetron, saya membayangkan akan mengatakan 'Cape deeeh'. Tapi tentu itu ciri-ciri orang yang tidak 'acceptance', tidak ikhlas, dan cenderung meremehkan orang lain. Saya tidak ingin seperti itu. Jika kita menjelaskan sesuatu kepada seseorang dan orang itu tidak mengerti saat itu, sama sekali BUKAN salah dia. Kalau di awal perdebatan dengan teman saya itu, saya bilang kita tidak pernah bisa mengharapkan orang lain berperilaku seperti apa yang saya inginkan (maka kitalah yang menyesuaikan respon terhadapnya), dengan harapan dia bisa menerima 'gaya komunikasi' saya, maka sekarang saatnya saya yang menerima begitulah dia apa adanya.

Di tengah 'debat' dengan teman lama saya itu, tiba-tiba teman saya yang lain, Bowo, menginterupsi saya dengan pesan YM "Uwisss .. istirahat ...". Maksudnya, sudahlah, istirahat saja dulu. Jam memang sudah menunjukkan hampir pukul 1 dini hari. Dari situ saya tahu teman saya itu 'mengadukan' persoalan kami ke Bowo. Sewaktu SMP saya 'tidak mengenal' Suro Adi Wibowo -- nama komplit Bowo. Sekarang dia termasuk 'suhu' untuk banyak hal, terutama yang menyangkut urusan motor dan riding. Dia adalah 'anak motor' yang sudah 'karatan', sementara saya baru 'magang' jadi 'anak motor'. Saya sempat 'belajar' dari kisah hidupnya dalam berbagai kesempatan ngobrol. Pengalaman kegagalannya telah mematangkan dirinya.

Karena pikiran sudah terbajak emosi, maka saya juga setuju dengan Bowo, tidak bermanfaat untuk diteruskan. Akhirnya kami 'berpisah' di alam maya itu dengan 'su'ul khotimah'. Karena teman saya itu sudah 'mengadu' ke Bowo, akhirnya saya memutuskan sekalian saja saya mengirimkan log pembicaraan YM dengan harapan Bowo bisa memahami konteks dan isi konflik, dan bisa ikut membantu penyelesaiannya.

Dalam balasannya, email Bowo berbunyi : "Semua benar, karena kalian berdua memandang satu hal dari persepsi yang berbeda. Lha, kapan ketemunya ? Mungkin salah satu harus menyamakan pola pikirnya, biar balance. Apa bisa balance ? Yang satu Honda CBR 900 cc yang satu Honda Astrea Star. Berarti yang CBR 900 harus menyelaraskan kecepatan dengan Astrea. Karena tidak mungkin Astrea yang ngebut biar mengikuti CBR 900 ! Bisa jatuh atau malah berhenti total. Frustrasi. Nah kalau CBR 900 dan Astrea sudah bisa seiring jalannya, jadi forerider pasti lebih mudah, lebih gampang, karena bisa dipantau di spion. Dalam hal ini kamu CBR 900, dan temen kita Astrea. Dan ini lebih sulit, karena ini ada unsur manusia. Ada emosi!. Anda harus bisa 'ngerem' Pak, biar bisa memantau Astrea. Nanti pasti akan balance dan pengarahan gampang. Good luck bro'".

Bowo memang luar biasa. Jika seseorang sudah mendedikasikan dirinya kepada hal apapun -- termasuk dunia motor -- asal dia hidup dan menghidupi bidangnya, ayat-ayat cinta (baca : ayat ayat Tuhan) akan terpancar dari dalamnya. Bahkan motorpun menjadi rangkaian ayat yang bisa membelajarkan dan mencerahkan. Bowo benar, seandainya saya dianggap oleh Bowo sebagai pelari 'sprint', Bowo mengingatkan jangan 'meninggalkan' teman yang pelari 'fun-marathon'. Kebersamaan jauh lebih penting. Jangan sampai finish sendirian, tapi bersama-sama. Membiarkan silaturahmi porak poranda setelah sekian lama terbangun, hanya karena persoalan perbedaan mainan yang dinamakan 'tafsir', hanyalah sebuah kebodohan.... Maturnuwun Mas Bowo...***