Senin, Juni 23, 2008

Jilbab untuk apa ?


Di halaman parkir pasar modern BSD saya membaca koran sambil menunggu ibu saya belanja. Sebuah mobil merah melintas perlahan, dan persis di depan mobil saya, jendela belakang terbuka, dan .. plukkk ... sebuah tissue dilempar ke jalan oleh seorang wanita berjilbab yang menumpang di dalam mobil itu.

"Lho ... kok buang sampah sembarangan sih ?", gumam saya dalam hati sambil memandangi wajah wanita itu dengan harapan ia juga melihat ke arah saya. Tapi ternyata tidak.

---
Memasuki sebuah mall besar di Jakarta Selatan, setelah parkir saya berjalan menyusuri teras gedung menuju pintu masuk. Berjalan di depan saya sepasang ABG. Dari gayanya, sulit untuk menghindari dugaan mereka masih SMP atau mentok-mentok SMA. Saya tahu dari gaya mereka dan isi pembicaraan mereka. Saya juga berhasil mengintip tidak ada satupun cincin melekat di jemari mereka. Mereka berpegangan tangan dan sesekali sang lelaki mendekap tubuh sang perempuan itu dengan tangan melingkar di pinggang sang perempuan. Sesekali juga kepala perempuan itu disandarkan di bahu sang lelaki. Mesra sekali. Saya tahu saya sedang berprasangka bahwa mereka masih pacaran, belum menikah. Sang perempuan memakai jilbab.

---
Kelompok ini terkenal dengan komentar-komentar yang pedas. Orang-orang menyebutnya biang gosip. Kalau saya berdekatan dengan kelompok ini dan terlibat pembicaraan di dalamnya, isinya adalah membicarakan kekurangan teman-teman, dosen-dosen, senior-senior, karyawan kampus, bahkan pacar masing-masing. Ekspresinya sangat kentara kalau sedang sinis. Pernah Sang dedengkot kelompok ini protes kepada saya karena meminjamkan buku catatan kepada kelompok lain yang sudah lama saling tidak suka dengan kelompok ini. Saya dianggap tidak 'solider' dengan kelompok ini. Si dedengkot ini memang suka mengatur orang sana-sini, seperti boss. Dedengkot kelompok ini memakai jilbab.

---
Di sebuah mall, sebuah godaan keras datang. Seorang perempuan berparas sedang-sedang saja melintas. Ia mengenakan kaos berlengan panjang ketat berwarna putih, dimasukkan ke celana panjang. Celana panjangnya terbuat dari bahan yang tipis (tapi bukan stoking), berwarna krem. Tentu pakaian dalamnya tampak samar-samar. Bagian belakang tubuh perempuan yang aduhai ini jelas tampak lekukannya. Dia mengenakan jilbab berwarna krem berbahan kaos juga.

---
Seorang perempuan berjilbab kecewa. Ia marah kepada suaminya yang dianggapnya kurang memperhatikan dirinya. Ia menyebutkan sebuah nama hewan yang ditujukan kepada suaminya. Ia kemudian menuntut cerai. Setelah bercerai, ia dendam sekali kepada suaminya. Sekarang ia sering sekali mengeluh soal anak-anak, urusan rumah tangga, urusan pekerjaan, urusan jodoh lagi yang belum kunjung datang. Ia mengeluh. Ia menyalahkan suaminya atas semua penderitaannya ini. Ia masih mengenakan jilbabnya.

---
Beberapa tahun lalu seorang wanita berjilbab datang kepada saya karena dianggap bisa membantu persoalan yang sedang membelitnya. Ia bercerita, dirinya hamil. Ia belum menikah.

---

........................ ***

8 komentar:

Anonim mengatakan...

Assalamu'alaikum.Wr.Wb,

Sebelumnya, seneng banget ada tulisan ini. Thumbs UP!

Jilbab, satu kata beribu arti...
Alhamdulillah saya dah pake 'kerudung' hampir 8 tahun.. dan luar biasa perjalanannya.

Ngaku juga, pernah kok ngalamin salah satu dari tulisan di atas pas jaman masih kuliah. Pas terjadi memang ga kerasa bahwa itu 'dosa'.. tapi sesudahnya nyesel luar biasa trus bertanya sendiri buat apa pake jilbab??

Kok masih sering ga menghargai jilbab sendiri.. Kok masih suka pake yang pas badan?(Alhamdulillah sekarang dah berkurang-red) Kok masih pecicilan, kok masih seneng ngecengin cowo, kok abis subuh masih suka tidur lagi, kok masih suka lupa ngucap salam, dan kok-kok lainnya...

Subhanallah pokoknya, banyak banget ujian pake jilbab ini. Jangan kira kami sudah ahli ibadah ya. Jilbaber juga manusia loh...

Tapi one day saya pasti pake jilbab yang bener.. Pasti, itu cita-cita dan kudu tercapai. Amiin. Nutupin dada, nutupin paha&belakang, longgar, ga transparan, ga mencolok, ga neko-neko lah..

Tapi suka banget ma warna Merah ni, itukan mencolok ya, hehe. Btw, kemaren masih pake baju ngepas badan euy pas naek motor,hehehe... Jadi malu:P

Anyway, makasih ni buat'kick'masalah jilbab ini. Sering-sering aja biar kita para jilbaber diingetin juga.

Jilbab untuk apa? hanya salah satu cara untuk menggapai cinta Allah SWT, pakde... Insya Allah.

-nong-

Katadia mengatakan...

Halo Pak Pras, saya ketemu blog anda melaui review buku Provakasi yang di posting Berly.

Setuju banget dengan posting ini. Saya suka pikir kenapa busana muslim dan segala macam aksesorisnya yang matching malah jadi semacam alat untuk menonjolkan elitisme fashionista muslimah) dan bukan untuk menonjolkan kesahajaan kaum muslimin.

SILVIANI SRI RAHAYU mengatakan...

Jangan menilai orang dari "casing" luarnya saja. Saya tidak pernah menilai orang dari pakaiannya saja. Meskipun saya juga berjilbab, tapi saya juga malu kalau banyak para jilbabers berperilaku tidak sesuai dengan busananya. Yang penting kita berusaha dan selalu berusaha berperilaku sesuai yang Allah minta dan Rasul ajarkan. Dan saling mengingatkan ke arah kebenaran

andrini mengatakan...

jadi lebih baik ga pake jilbab to mas?

i was thinking really hard about it...

Lita mengatakan...

Posting menarik dan dilematik.
Jujur aja, kebanyakan teman saya yang memakai jilbab hanya berusaha 'fit in' dan diterima oleh lingkungannya.

Buat saya, dare to be true to yourself jauh lebih baik.Makanya sejak lama saya sudah memutuskan, bahwa saya gak akan pernah pakai jilbab.

Arif Rahman Hakim mengatakan...

Pak Prass, sebelumnya perkenankan saya memperkenalkan jati diri saya terlebih dahulu.
Nama saya Arif Rahman Hakim. Keseharian saya, bekrja sebagai praktisi IT di sebuah perusahaan Konsultan IT di Jakarta, tepatnya di Kuningan.

Tulisan anda tentang Fenomena "wanita berjilbab" ini pada dasarnya cukup menarik untuk di Konsumsi. Mungkin fenomena yang anda temui ini meng-inspirasi anda, sehingga tertuanglah ide tersebut dalam suatu halaman Blog yang cukup Provokatif ini.

Saya baca dengan seksama. Bait perbait, hingga selesai. Kemudian saya coba mencari prifile tentang Anda. Hasilnya...?, wow...., sungguh saya cukup terkesima dengan existensi diri anda. Salut pak Prass. Saya ingin menjadi seperti Anda. Dan sejujurnya, hal ini menjadi motifator dan inspirasi baru bagi saya.

Namun pak Prass. Dengan segala kerendahan hati, dan dengan tidak mengurangi rasa hormat, ijinkanlah saya membrikan komentar untuk tulisan anda tentang JILBAB ini. Menurut saya, tulisan ini hanya subyektivitas pribadi diri anda semata. Disadari atau tidak, tulisan anda ini memuat tentang Wanita Berjilbab yang kemudian -secara normatif- berlaku sebagai peran antagonis dalam lingkungannya. Saya menemukan kesan dalam tulisan anda ini memiliki pesan bahwa Wanita Berjilbab itu "Buruk". Ujung-ujungnya, akan bisa ditarik kesimpulan "Buat apa berjilbab".

Fenomena yang saya temukan justru berkebalikan dengan anda. Saya banyak sekali menemukan wanita yang berpakaian begitu ketatnya, hingga dadanya nyaris meletus, merokok di tempat-tempat umum. Mereka duduk, belahan pantatnya kelihatan laksana balon udara yang di bungkus dengan kain seketat-ketatnya. Dalam benak saya, tergambar andaisaja ada jarum yang nyenggol saja ke pantantnya ini, pasti akan meletus "Dor.......!!!!!!". Dengan santainya mereka makan dan minum, merokok, kemudian puntung dan bungkus makanan itu dibuang se-enak perutnya sendiri. Ini bener lho pak. Saya tidak mengada-ada.

Kemudaian, fenomena yang lain; Banyak wanita-wanita yang berpakaian rapi, memakai blazer, cantik nan anggun. Namun, -walaupun mereka sudah bersuami- mereka bergaul hampir tidak ada batasan. Berciuman dengan pria yang bukan suaminya. Bertemu di suatu cafe pada jam-jam yang tidak wajar, hingga larut malam. Bahkan..., tragisnya lagi.., tidak sedikit dari mereka yang menganggap selingkuh itu suatu hal yang wajar.

Rupanya pak Prass, tidak melihat fenomena-fenomena yang saya sebutkan itu. Dan sayangnya, justru yang diangkat adalah hanya "Wanita yang berjilbab" saja. Atau mungkin belum ya pak..???.

Mohon maaf pak, saya ini hanya salah satu dari sekian banyaknya korban Provokasi Bapak. Dan saya ini bukan apa-apa di banding bapak. Saya cuman merasa punya hak untuk Bertafsir tentang fenomena yang sering saya temui dalam perjalanan hidup saya. Mohon dimaafkan jika ada yang tida berkenan.

Best regards,
Arif Rahman Hakim
http://arifrahmanhakim.wordpress.com
http://goresanpena-arifrahmanhakim.blogspot.com

Prasetya Maytrea Brata mengatakan...

Mas Arief, terimakasih atas provokasi baliknya, hehehehe, salam persahabatan.

Kalau mereka yang berpakaian ketat & liar itu mah kalau sy nggak usah saya angkat, nggak menarik buat saya, hehehehe. Saya mengangkat para jilbaber yang masih level permukaan krn sy ingin mereka berperilaku seperti yang seharusnya ditunjukkan oleh perempuan muslim (yang sebenarnya).

Kepercayaan, respek, penghormatan, penghargaan, TIDAK BISA DIMINTA, melainkan DIBUKTIKAN. So, para jilbaber permukaan, BUKTIKAN menjadi jilbaber sejati.

Karena tulisan ini tentu saja subjektif, maka tentu saja bukan masalah benar atau salah, melainkan, bermanfaat atau tidak ?

Anonim mengatakan...

kalau memang belum bisa melakukan semua (e.g. berperilaku sesuai persepsi orang atas jilbaber) apakah itu berarti harus meninggalkan semuanya dulu (e.g. tidak berjilbab sama sekali)..?

-OCI-