Minggu, Juli 06, 2008

Salah Sendiri Tidak Tanggungjawab

Di dalam sebuah cafe di Bandara Adisucipto Yogyakarta, TV di depan saya menayangkan acara FANS, dimana seseorang difasilitasi untuk bertemu dengan idolanya. Seorang ABG dari Pulau Dewata diskenariokan untuk bertemu dengan dMasiv, grup band yang sedang kondang. Singkat cerita, setelah pertemuan yang mengharukan, mereka menyanyikan hits kelompok band ini.

Kau membuat kuberantakan ...
Kau membuat ku tak karuan ...

Kau membuat ku tak berdaya

Kau menolak ku, acuhkan diriku


Bagaimana caranya untuk

meruntuhkan kerasnya hatimu

Kusadari, kutak sempurna

Ku tak seperti yang kau inginkan


Kau hancurkan aku dengan sikapmu ...

Tak sadarkah kau telah menyakitiku ..

Lelah hati ini meyakinkanmu ..

Cinta ini membunuhku ...


Kebetulan lirik lagu ini ditampilkan di layar televisi. Saya menyimak satu persatu, dan seketika merasa miris. Dari kacamata pengetahuan saya tentang sugesti-pikiran-perasaan-tindakan-nasib, seandainya seseorang menghayati betul lagu ini, sampai menangis-nangis (saya pernah lihat seorang presenter/host kondang meleleh airmatanya menyanyikan lagu ini), bukannya keberuntungan yang akan didapat, melainkan kesengsaraan yang lebih dalam lagi yang bakal diterimanya.

Saya berimajinasi, seandainya 'bocah-bocah' dMasiv itu datang kepada saya dan seolah-olah mereka 'curhat' dengan lagu itu kepada saya, maka jawaban saya berupa pertanyaan-pertanyaan adalah seperti ini :

Ooo ... kamu menyerahkan kuasa kepada perilaku atau sikap dia untuk bikin kamu berantakan ? membuat kamu nggak karuan ? membuat kamu hancur ? sakit ? bahkan terbunuh ? Kamu biarkan 'sikap dia' bikin kamu menderita kayak gitu ?

Bukankah itu berarti kamu kalah oleh perilaku dia dan perasaan kamu sendiri ? Kamu mau membiarkan dia mengendalikan kamu ? bukan kamu yang mengendalikan diri kamu sendiri (dan dia) ?


Dengan perasaan seperti ini, apakah kamu bisa menarik simpati dia lagi ? Apa bukannya dia makin ogah sama kamu?
bukankah itu berarti kamu menunjukkan diri sedang lemah oleh kejadian ini ? Ada nggak sih cewek yang suka apalagi mau sama cowok yang lemah dan cengeng ? Emang dengan cara begini kerasnya hatinya jadi runtuh seperti apa yang kamu harapkan ?

Kamu ingin dia mengasihanimu ? (bukan memberi kasih ?). Kamu benar-benar ingin hidup bersamanya di bawah rasa kasihan dia ? Kalau kamu sadar kamu tak sempurna dan tidak seperti yang dia inginkan, kamu mau hidup dengan orang yang tidak menginginkanmu ? Itukah yang disebut cinta ?

Kalau dengan cara selama ini dia nggak yakin sama kamu, sampai kamu lelah, lalu kamu masih pakai cara-cara yang sama untuk meyakinkan dia ?

Kalau kamu berharap dia berubah seperti yang kamu mau, lalu apakah kamu mau dan bisa berubah seperti yang dia inginkan ? Mengapa harus dia dulu yang berubah ? .. Mengapa bukan kamu dulu yang berubah jadi orang yang meyakinkan dia ? yang meluluhkan hati dia ? itu kalo kamu masih mau sama dia lhoooo .....

Nikmatilah lagu ini. Belilah kaset dan CD (asli) nya. Musikalitasnya bagus dan enak didengar. Tapi hati-hati, pikiran tidak bisa membedakan mana yang kenyataan, mana yang imajinasi, mana sugesti yang positif, dan mana sugesti yang negatif. Meskipun saya akan memberi saran jangan hayati liriknya, dan saya agak pesimis anda tidak terpengaruh ...***

4 komentar:

Anonim mengatakan...

SETUJUUUU!!!

:D

-nong-

Anonim mengatakan...

andai semua orang berpikir seperti mas prass...bisa ga laku semua lagu patah hati ya mas? LOL

piss,
-Galuh, si pencinta lagu patah hati

rhany7201 mengatakan...

makasih ya mas pras untuk berbagi ilmu n pengalamannya....
asyik juga baca tulisan seorang "provokator"....hehehe....

dwiprazetyo mengatakan...

wah dasar PROVOKATOR...
saya cuma bisa berharap,
semoga aja semakin banyak yang bisa di PROVOKASI sama bapak...hahha...

salam sukses pak :)