Jumat, Januari 04, 2008

Untuk Tuhan atau untuk diri sendiri ?

Di sebuah mesjid, antrian di depan keran wudhu begitu panjang. Dari tujuh keran, hanya bisa dibuka tiga keran karena airnya kecil. Saya berada di urutan ketiga. Seorang laki-laki mulai membasuh tangannya dengan perlahan dan telaten. Ia mulai berkumur. Ia tampung kucuran air dengan tangannya hingga penuh, lalu dia masukkan ke mulutnya. Ia berkumur lama. Ia lakukan tiga kali. Begitu juga ketika memasukkan air ke hidungnya. Ketika ia membasuh wajahnya, orang yang wudhu di sebelahnya sudah sampai membasuh kaki. Air semakin menipis. Saya rasakan orang di belakang saya gelisah.

Saya anggap orang yang sedang wudhu itu belum terprogram suatu nilai bahwa memperhatikan, membantu, dan melayani orang lain adalah ibadah untuk Tuhan yang sebenarnya. Saya ingat sebuah kisah Tuhan bertanya kepada Nabi Musa.

Tuhan : "Mana ibadah untukKu ?"
Musa : "Bukankah aku selama ini sudah sembahyang dan berpuasa untukMu ?"
Tuhan : "Bukan..., itu adalah ibadah untukmu sendiri. Itu untuk kepentinganmu sendiri (mendapat pahala). Ibadahmu untukKu yang sebenarnya adalah ketika engkau menolong orang lain ..."

Kalau saya jadi orang yang sedang wudhu, maka saya akan mempercepat wudhu saya dengan tetap khusyu'. Karena airnya makin lama makin sedikit, agar orang di belakang saya kebagian -- apalagi antriannya begitu panjang ---, maka kalau perlu saya hanya membasuh yang wajib-wajib saja, dan itupun hanya sekali usap. Yang penting apa yang dianggap sah wudhunya, -- yaitu seluruh bidang yang harus dibasuh terkena air -- terpenuhi. Saya akan lakukan itu dalam konteks agar orang lain juga kebagian wudhu.

Lain soal kalau saya mempercepat wudhu, membasuh bidang yang wajib-wajib saja, dan hanya sekali usap, dalam keadaan air melimpah dan tidak ada antrian. Anda boleh bilang saya bokis.

Bukan cuma urusan wudhu. Ketika antri makanan, perlulah kita melihat konteks, yaitu keadaan lingkungan yang terjadi pada saat itu. Kalau makanan masih melimpah, boleh ambil yang disuka. Tapi kalau makanan terbatas, sementara yang antri banyak, boleh jadi kita perlu menahan diri untuk mengambil secukupnya, bahkan kalau perlu dengan takaran yang sedikit saja, agar orang lain yang antri di belakang kita juga kebagian.

Saya pernah mampir ke rest area di tol Cikampek. Saya dan seorang ibu tiba bersamaan di sebuah konter tahu sumedang. Kelihatannya tahu yang ada adalah tahu terakhir. Si Penjual tidak lagi menyalakan kompor dan tidak tampak lagi tahu mentah di situ. Saya berdiri di samping ibu itu dan membiarkan ibu tadi duluan memesan. Saya lihat ibu itu melirik saya, dan tiba-tiba berkata kepada si penjual, "Bang, saya ambil semua ...". Ibu tadi mendapat 23 potong tahu goreng, dan bergegas meninggalkan saya yang menatap kepergian ibu tadi sambil bertanya-tanya dalam hati, apa yang ada di peta pikiran ibu tadi sehingga saya tidak mendapat beberapa potong tahu ? ...***

1 komentar:

ANTON mengatakan...

Mantaaapp Bro... Hmmm... memang di dunia ini banyak orang egois, menyebalkan...
Kalo dilihat dari sisi si ibu, wah kesempatan nih, aku beli semua tahu yg enak ini "untuk orang2 rumah" walau pun Kang Prass jadi sebel ga kebagian... Udah dibaikin dikasih kesempatan duluan beli, eh malah ngabisin... Lain lagi cerita seorang teman, dia kasih recehan Rp 500 2 bh kepada pengamen cilik. Kata pengamen cilik, pak ini 2 biji, saya cuma sendiri, yg satu buat siapa? Ya terserah kamu... buat temen mu... Ma kasih ya pak... Pengamen itu pergi dan datang lagi bertiga, pak, saya dan teman saya ini sudah satu2, tinggal satu lagi yg ini... Temanku terharu dan memberi 1 keping lagi... Ternyata anak kecil jauh lebih mulia hatinya dibanding kita orang2 dewasa...

Bayu