Kamis, Januari 10, 2008

Malingsia

Seorang sahabat mengirimkan surat keprihatinan dan kegeraman terhadap situs blog yang dibuat oleh orang Malaysia bernama http://ihateindon.blogspot.com. Di situs blog itu, semua tulisan menghujat dan menjelek-jelekkan Indon - sebutan untuk orang Indonesia.

Ketika saya buka situs blog tadi, saya paham 'panas'nya hati sahabat saya itu. Malaysia sudah 'merampas' kekayaan budaya Indonesia seperti angklung, batik, reog, lagu daerah melalui pengakuan kepemilikan, namun masih juga menyiksa TKI dan membuat blog semacam itu. Sahabat saya lalu mengajak kalau mau berlibur jangan ke Malingsia (plesetan dari 'Malaysia 'karena perbuatan mereka 'mencuri' kekayaan budaya kita itu). Kalau mau berlibur, keluarkan duit untuk ke Bali, Jogja, Danau Toba, Batam, Bunaken.

Ketika kami bertemu di Yahoo Messenger, dia menyapa dan bertanya komentar saya soal Malingsia itu. Saya jawab, sejujurnya pertama, saya berterimakasih kepada pembuat dan penulis blog itu karena sudah mengurangi dosa2 orang indonesia dengan memaki2 kita. Sahabat saya itu tertawa. Saya melanjutkan, kita tidak pernah punya pilihan untuk menjadi orang Indonesia ... kehendak Allah-lah kita lahir di sini ... kalau mereka memaki dan menghina kita, mereka menghujat pencipta kita ..

Kedua, kita jadi tahu siapa Malingsia itu ... ibarat teko, kita bisa tahu isi teko itu dari air yang tercurah dari mulut teko .. Jadi, kalau penulis blog ini omongan, bahasa, tulisannya seperti itu ... itu berarti menggambarkan pikiran, karakter, watak, mental dan jiwa mereka yang sesungguhnya. Kalau yang keluar dari teko itu air kopi, berarti isi teko kopi .... kalau tulisan blog mereka 'berwarna dan berbau comberan', boleh kan kalau dikatakan mental dan jiwa merekapun 'comberan' ... Apakah ada orang dengan hati dan jiwa yang mulia tapi omongannya seperti di blog tersebut ? Rasanya tidak ada bukan ?

Ketiga, .... ada tulisan mereka yang berjudul '10 things I hate about indon' ... nah, ini yang saya suka .... Mari kita pisahkan antara orang dengan perilaku .. ketika orang lain bicara tentang perilaku kita, itulah saat kita introspeksi karena sebagian dari ten things itu benar adanya.... Sebut saja soal korupsi, kemiskinan, biaya pendidikan mahal, bis kota yang memprihatinkan, dan seterusnya.

Keempat, seandainya blog itu dibuat untuk menyakiti kita, saya tidak akan pernah sakit hati. Kalau saya sakit hati, berarti mereka yang menang ...kita kalah .. So, kalau kita tenang2 aja maka mereka yang kalah ... tujuan mereka tidak tercapai .. mereka gagal total. Kalau kita balik menghujat mereka (membalas) , mungkin kita sama juga level berpikirnya dengan mereka. Sekarang ini yang penting adalah bagaimana mengembalikan citra kita menjadi bangsa yang BENAR2 .. (bukan kelihatannya) mulia ... ya mulai dari akhlak/etika keseharian kita ..

Sahabat saya lalu bertanya : "Ngomong2 bener ngga orang indonesia di Australia juga "direndahkan"?. Kebetulan isteri saya sedang berada di Canberra-Australia untuk menyelesaikan Ph.D.-nya. Saya jawab belum tahu karena belum ada laporan dari isteri. Tapi ada yang menarik dari pengalaman isteri saya. Bahwa, bagaimana orang lain memandang kita, itu sangat tergantung dari kita sendiri. Kenyataannya, waktu kerja isteri saya bekerja di kedubes AS, dia malah jadi 'bintang' dan menerima banyak award. Padahal isteri saya berjilbab. Isteri saya pernah jadi jadi ketua semacam serikat karyawan, tapi orang AS nggak alergi .. Waktu isteri saya ke Kuala Lumpur, dia diajak ngomong oleh orang Malaysia, lalu dia menjawabnya dengan Bahasa Inggris dengan sikap sebagai customer, dan dia diperlakukan dengan hormat.

Jadi, kuncinya memang kembali kepada bagaimana diri kita sendiri meningkatkan kemampuan dan membangun mindset tentang diri kita di hadapan orang lain. Kalau kita menganggap diri kita rendah, maka kemungkinan besar orang lain juga akan memperlakukan kita rendah. Kalau kita menganggap diri kita sejajar, bermitra, satu kaliber dengan orang lain itu ... ya mereka juga akan begitu terhadap kita. Kita diperlakukan sesuai dengan apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri. Saya sendiri juga sudah membuktikan. Dulu waktu saya menunduk-nunduk terhadap atasan, saya malah merasa disepelekan .. Begitu saya mengubah mindset, dengan menganggap diri partner bahkan konsultan bagi atasan, interaksi saya dengan atasan menjadi sangat kondusif. Atasan lalu sering memberi kepercayaan dan tanggungjawab yang besar.

Oh ya, di atas saya menulis 'pembuat' dan 'penulis blog', karena saya tidak ingin membuat generalisasi bahwa semua orang Malaysia punya aspirasi sama dengan blog tersebut. Soalnya -- yang jadi pertanyaan saya -- kalau mereka (orang Malaysia) benar semuanya membenci Indon, kenapa kok beberapa artis penyanyi kita menempati tangga lagu teratas di malaysia ? ***

2 komentar:

SILVIANI SRI RAHAYU mengatakan...

Setuju Prass, memang kita tidak boleh terbawa emosi "provokator" malingsia tsb. Terima kasih. Saya banyak belajar dari anda akan kasus ini. Menjadi orang bijak ternyata tidak mudah. Tapi saya dan kita semua harus berusaha. Kita harus introspeksi juga kakurangan bangsa ini.

Dewi Celfit mengatakan...

Saja jadi inget adik saya yg sempat bete dg pemerintah Indonesia yg baru sibuk promosiin angklung setelah dipaten oleh malaysia (maklum, adik saya pemain Angklung sejak kuliah).
Tapi walaupun Angklung sudah dipaten Malaysia, sepertinya Presiden SBY masih ngerasa Angklung punya Indonesia tuh buktinya berphoto ria dg Pangeran Akishino sambil pegang angklung (The Jakarta Post, edisi 21 Januari 2008).
Sepertinya Presiden SBY menganggap Malaysia hanya seekor anjing menggonggong tuh. Makanya Presiden SBY ngga bete dg Malaysia, hehehe... Capee deh bete mulu...:-)