Kamis, Mei 29, 2008

Sudahkah dirimu ... ?

Melongok ke dapur. Ooo .. ibu di dapur toh ... pantas saja saya cari di ruang tengah tidak ada. Ibu menengok ke arah saya. Dia tersenyum bahagia melihat anaknya pulang kerja. Matanya lebih berbinar. Saya bisa merasakan itu. Padahal, setiap hari memang saya kerja. Ibu sedang memegang panci bergagang. Di dalamnya tampak mie instan. Ekspresi wajahnya persis seperti Bapak saya almarhum di suatu ketika, saat ia diperbolehkan makan makanan yang selama ini dipantang. Tiba-tiba saja memori tentang ayah saya muncul. Emosi itu menyelimuti pandangan saya yang terus memperhatikan ibu mengolah masakannya. Jalannya agak tertatih.

"Kok masak indomie bu ? Memangnya Rina nggak masak ?", tanya saya akhirnya.
"Nggak, ... makanan di kulkas udah habis .." jawab ibu ..

Saya tersadar. Senyum ibu saya itu adalah senyum bersyukur masih ada indomie yang tersisa untuk dimakan. Saya tersadar, sudah beberapa hari yang lalu waktunya belanja tapi saya belum memberi uang belanja. Ibu tidak banyak menuntut sebenarnya. Bahkan ketika saya tanya, berapa yang dibutuhkan untuk belanja bulanan ? Ibu bilang, ya terserah kamu, berapa saja. Nanti belanjanya sesuai dengan uangnya.

Air mata hampir membendung, menyesali ketidak perhatian saya terhadap ibu saat itu.

Ibu yang menghabiskan masa mudanya untuk merawat dan membesarkan saya, seperti kurang mendapat balasan yang sepadan dari saya. Bayangkan, waktu kecil saya adalah anak paling nakal di antara adik-adik. Melempari angkot yang lewat dengan tanaman got, menghisap rokok yang dibuang di pinggir jalan, melempari pasir ke jendela kantor, melempar lampu taman tetangga jauh lalu kabur, melempar ayam pakai pisau pramuka sampai mati, adalah beberapa 'kejahatan' saya masa kecil. Biarpun nakal tapi jago kandang. Kalau sudah kepepet, ya berlindung di bawah ketiak Bapak atau Ibu. Semua dilalui oleh ibu dan bapak saya dengan penuh kesabaran. Saya tidak pernah merasakan pukulan atau jeweran ibu sedikitpun, kecuali bapak saya pernah menyabet saya pakai sapu lidi gara-gara saya mengetok kepala bapak saya dengan martil waktu kecil (apa tidak keterlaluan itu ?).

Kelalaian saya memperhatikan ibu saya membuat saya tersadar, bahwa saat itu saya menempatkan Ibu pada prioritas ke sekian. Saya telah diringkus oleh nafsu memuaskan ego akibat 'kesuksesan kecil' terbitnya buku saya, panggilan training sana-sini, kegiatan yang 'sok' sosial. Saya memang bersemangat 45 ingin mengubah lingkungan melalui 'provokasi' saya agar negeri ini menjadi tempat yang indah untuk dihuni dan dihidupi. Saya lupa, semua seharusnya dimulai dari diri sendiri, lalu orang sekitar kita dulu, apalagi itu adalah tanggungan saya : isteri, ibu, dan saudara-saudara yang memerlukan pertolongan.

Ahhh .. kenapa saya jadi begini ?. Eh iya .. jangan terlalu berfokus kepada kenapa. Lebih baik berpikir, sekarang BAGAIMANA caranya biar saya bisa melihat ibu lebih 'enteng' hidupnya, dan Tuhan tidak melontarkan pernyataan dalam pertanyaan seperti ini : "Prass, kamu gembar-gembor mengajak lingkungan dan bangsamu hidup lebih tertib, saling memperhatikan, saling tolong menolong, dan sejahtera, tapi kok kamu sendiri tidak membuktikannya pada dirimu dan keluargamu sendiri ?"***

3 komentar:

nilma hoffmann mengatakan...

iya..Prass, kadang2 kita lupa orang yang seharusnya lebih kita perhatikan (biasanya orang2 yang mencintai kita tanpa tuntutan) ... malah sering kita abaikan..., itu sudah sifat manusia kali ya...?

nilma hoffmann

SILVIANI SRI RAHAYU mengatakan...

ya, saya juga sering melupakan ortu kita yang sudah susah payah membesarkan kita. Kasih ibu sepanjang masa. Kasih anak kalo ada maunya... Wah Ampunin aku Mama

a. makhali mengatakan...

nah itu bener sekali pak, ketika ada pertarungan terkadang ego pribadilah yang menang berlabel pencitraan kesuksesan diri.