Selasa, Agustus 02, 2011

Lempar Batu Ngantongin Tangan

Sebuah sedan merambat mengikuti aliran lalulintas yang berjalan perlahan.  Jarak antara antrian mobil dengan trotoar tepi jalan memang sempit. Tiba-tiba … “ctakkk!” … “brakkkkk!” …  sebuah sepeda motor telah tergeletak disamping depan si mobil. Penumpang sepeda motor kemudian berdiri namun tidak segera mengangkat motornya, melainkan melangkah ke sisi kanan mobil dan menggedor-gedor kaca pengemudi.

Tidak terima dengan cara pengemudi motor menggedor kaca mobilnya, pria pengemudi mobil membuka kaca jendelanya dan berkata dengan keras, “Sudah tahu jalan sempit kenapa maksa lewat juga ?? .. “. Terjadilah adu mulut. Sepeda motor lain yang melintas menunjuk-nunjuk si pengemudi mobil tanda ikut menyalahkan si sedan. Semangatnya solidaritas antar bikers.

Untungnya polisi yang melintas segera melerai, dan akhirnya si biker melanjutkan perjalanannya dengan bersungut-sungut. Pengemudi sedan memeriksa spion kiri dan pintu kiri baret. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Si motor memaksa menyelip di antara trotoar dengan mobilnya. Sudah si pengemudi motor salah, malah menyalahkan korbannya. Rupanya si pengemudi sedan tidak tahu bahwa strategi ‘pre-emptive defense’ inilah yang kerap dipakai pengemudi motor yang merasa bersalah untuk membungkam dan ‘ambil posisi’ dulu terhadap mobil yang disenggolnya.

Itulah yang mendasari mengapa saya pernah memberikan pengarahan kepada pengemudi baru saya enam tahun yang lalu, jika mobil kita disenggol oleh motor, sebelum pengemudinya bangun, gertak duluan.  Saya bilang, kalau kita lihat ada motor di belakang saat jalanan macet, maka pilihan kita adalah memberi ruang bagi mereka untuk lewat, atau jangan beri kesempatan dengan memberi ruang yang tidak memungkinkan mereka lewat. Jangan posisikan mobil kita nanggung, sehingga mengundang motor untuk coba-coba masuk.

Pengemudi saya langsung paham karena ia mantan preman. Saat itu tanpa sadar sikap kamipun menjadi korban permainan ‘hukum rimba’ di jalan raya di Jakarta.

---

Seorang pengemudi motor disetop oleh seorang polisi pria yang tiba-tiba keluar dari rerimbunan pohon. Ini bukan cerita iklan rokok dimana si petugas menyamar sebagai pohon. Si pengemudi motor tidak berhenti saat lampu telah merah. Ia tetap saja membelok. Di tiang lampu lalin ada tulisan “belok kiri ikuti lampu”.

Dengan wajah perang, si pengemudi motor mengeluarkan dompet sambil ngomel. Ia protes, kenapa pak polisi bukannya berdiri di lampu merah untuk mengatur dan mengarahkan pengguna jalan, tapi malah ngumpet menunggu mangsa yang ‘sial’.

Saya jadi membuat dialog drama di dalam pikiran saya. Pertama, terlepas dari kelakuan polisi yang ngumpet, bukankah si pengemudi motor jelas-jelas melakukan pelanggaran lalu lintas ?. Rambunya jelas. Bahwa akhirnya si pengemudi motor itu tidak berhenti dan tetap membelok itu adalah keputusan dia. Kalau dia tidak membaca rambu yang jelas itu, itu juga sudah salah. 

Kedua, berharap polisi selalu setiap saat berada di persimpangan jalan untuk mengarahkan pengemudi, itu juga kebangetan sebagai sebuah tatanan sosial. Gejala-gejala ini mirip anak kecil yang manja selalu dibimbing orang lain. Pengusaha yang selalu minta proteksi tanpa mau berupaya memperbaiki kapabilitasnya agar mandiri dan mampu bersaing dengan asing. Kaum yang sedang berpuasa yang minta agar warung-warung tutup di siang hari karena takut tergoda puasanya. Kelompok buruh yang selalu menuntut naik gaji tanpa meningkatkan keterampilan menggunakan uangnya dengan bijak.

Ketiga, tuduhan bahwa pak polisi menunggu mangsa yang sial, itu seperti politik cuci tangan. Ia menamai dirinya sial. Siapa yang memanggil kesialan ?. Polisi ?. Siapa yang tidak membaca atau tidak mengindahkan rambu belok kiri ikuti lampu ?. Siapa yang memutuskan untuk terus membelokkan kendaraannya ?. Saya pernah menyaksikan infotainment di televisi ketika seorang artis berkomentar atas beredarnya video ‘porno’ dirinya dengan seorang anggota dewan, si artis itu berkata, “Kami sekeluarga sedang mendapat musibah. Kami sedang didzalimi …”. Pertanyaannya siapa yang mendatangkan musibah ? Siapa yang mendzalimi ?.

Mungkin anda mempertanyakan bagaimana dengan Pak Polisi yang memang memanfaatkan kelengahan orang untuk mengeruk keuntungan pribadi ?. Apakah itu bukan cermin mental polisi kita ?.  Saya baru mampu menjawab dengan pertanyaan, apakah maksud pertanyaan anda itu untuk membela atau mengurangi kadar kesalahan si pengemudi motor ? Jika tidak, maka mampukah kita menekan dan meminta polisi kita ‘bener’ tanpa kita sebagai masyarakat ‘bener’ dulu lantas bersatu-padu untuk ‘mendidik’ polisi ?.  Mengapa saat di Canberra dan Sydney sekitar 1.5 bulan, saya hanya tiga kali menemui sepasang polisi sedang bertugas? Di Singapore selama dua hari saya tidak menemukan satu orangpun polisi?

Bagaimana jika polisi kita tetap tidak ‘bener’ ?.
Apakah itu menjadi pembenaran untuk perilaku kita juga ‘tidak bener’ ?.
Memangnya kita ini bukan manusia  yang mampu bener dengan cara manusia dan bukan dengan cara binatang?
Masih mau pakai ‘tapi…’ ? ***

Senin, Agustus 01, 2011

(New) Hormatilah Orang Yang Tidak Berpuasa (3)


Tulisan saya berjudul “Hormatilah Orang Yang Tidak Berpuasa” telah membawa pro dan kontra dalam forum-forum diskusi online. Seorang teman mengabarkan bahwa di kaskus temannya sampai dihujat habis karena telah membawa tulisan ini ke forum diskusinya. Katanya, si penulis – tentu saja saya – telah melakukan menyulut propaganda perpecahan umat. Dalam konteks ini saya merasa benar-benar menjadi provokator yang bakal dicari-cari aparat.

Untung saja setelah saya telusuri satu persatu log diskusi, secara kuantitas jumlah yang mendukung tulisan saya lebih besar daripada yang menghujat. Sebagian kecil mencoba melihat tulisan saya secara netral dengan menganjurkan pembaca memasukkan unsur konteks, sehingga lebih mudah diterima.
Bukan hanya itu, dalam hitungan hari, di inbox facebook saya datang pesan dari seseorang yang saya belum kenal. Di profil facebook-nya, ia berprofesi sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta. Ia termasuk yang kontra dengan tulisan saya, dan meskipun bahasanya disopan-sopankan, tapi sangat jelas pesannya agar saya  bertobat dan memperdalam pelajaran agama saya. Tentu saja ini nasihat yang saya benarkan .

Sampai dengan menjelang bulan ramadhan ini, ketika saya menulis di grup BBM dengan kalimat “Kepada yang berpuasa, marilah kita menghormati orang yang tidak berpuasa”, masih ada yang berkata, “Bukan sebaliknya ya Pak ?”. Biasanya dengan mudah argument saya diterima oleh teman-teman segrup BBM.  Kata saya, tujuan berpuasa adalah agar orang yang berpuasa menjadi pribadi yang tangguh dan saleh. Salah satu kesalehan adalah mampu menghormati orang lain. Kalau yang berpuasa minta dihormati oleh orang yang tidak berpuasa, itu ibarat sedang berlatih beban di gym ingin ototnya menjadi besar dan kuat tapi minta barbel yang ringan-ringan saja. Kalau yang berpuasa minta dihormati oleh orang yang tidak berpuasa, itu yang saleh adalah yang menghormati.

“Saling menghormati”, tulis Dewi salah seorang teman di Grup BBM teman se-SMA.
“Nggak perlu minta dihormati, yang penting menghormati duluan. Lebih dari itu, kita perlu menjadikan diri layak dihormati. Kalau orang tidak menghormati kita jangan-jangan karena kita memang layak untuk tidak dihormati”, balas saya.

Dewi : “Mereka udah hormat soalnya. Makanya saling menghormati ‘kan ? Dari kitanya juga”.

Saya : “Apalagi kalau mereka SUDAH hormat ke kita, jadi tidak perlu diingatkan ‘saling’ lagi ‘kan ?. Kita yang belum hormat-lah yang mengingatkan diri sendiri, hehehe”

Dewi : “Memangnya ’saling’ itu harus dari pihak sana ? Bukankah dari pihak kita juga boleh pakai kata ‘saling’ ?. Maksud ‘saling’ di sini justru mengingatkan diri sendiri, karena mereka ‘sudah’ melakukan .. Kita belum … Nggak cocok ya ?”

Saya : “Lebih kuat mana pengaruhnya kepada action ? Pakai ‘saling’ atau tidak ?( Karena mereka sudah melakukannya). Rasa-rasain saja pakai kata ‘saling’ dengan tanpa ‘saling’ …”

Dewi : “Sebentar …”.

Dewi : “Hehehe, iya … pakai kata saling action-nya kurang terasa …” ***

Tuhan Merencanakan Manusia Menentukan


Masih ingat ‘kan cerita pematung di buku PROVOKASI Menyiasati Pikiran Meraih Keberuntungan ? Yang juga pernah menjadi kapsul Smart FM ?. Seorang pematung diminta oleh raja membuat patung raja, permaisuri, anak-anak, tokoh-tokoh dalam kerajaan, termasuk akhirnya patung si pematung sendiri. Sementara patung-patung lain ia buat dengan sangat sempurna, si pematung membuat patung dirinya sendiri dengan kualitas lebih rendah, karena menyangka patungnya akan ditaruh di luar. Ia pikir kalau bikin patung KW1 percuma, karena toh di luar istana akan kehujanan, kepanasan, berdebu, berlumut, dan akhirnya lekas rusak. Yang terjadi  yang tadinya Raja ingin meletakkan patung si pematung itu di dalam istana, malah benar-benar meletakkan patung itu di luar istana, karena jika di taruh di dalam istana kualitasnya kurang bagus dan tidak sepadan berjejer dengan patung kualitas wahid lainnya.

Nasib patung itu di taruh di luar telah ditentukan sendiri oleh si pematung sejak awal dalam pikirannya melalui kata-kata (self talk). Nasib ditentukan oleh kata-kata kita. Kalau diurut-urut, kata-kata dalam menafsirkan dan memberi arti terhadap apa yang dilihat, didengar, dicium, dikecap, diraba, (yang disebut thought atau pikiran) itu terhubung dengan system pusat syaraf menghasilkan state atau perasaan tertentu. Dengan pikiran dan perasaan lalu seseorang memutuskan. Keputusan menghasilkan tindakan, dan tindakan menghasilkan outcome, nasib, keadaan, kehidupan dirinya.

Al Baqarah ayat terakhir menyatakan, seseorang mendapatkan apa yang diusahakannya. Dengan begitu, nasib dan kehidupan kita saat ini ditentukan oleh tindakan kita. Tindakan kita berasal dari keputusan kita. Keputusan kita berasal dari pikiran dan perasaan kita. Pikiran dan perasaan kita berasal dari kata-kata yang memiliki arti tertentu. Jadi kalau di bypass, nasib kita saat ini ditentukan oleh kata-kata kita di masa lalu. Itu berarti nasib kita di masa yang akan datang, ditentukan oleh kata-kata kita hari ini, saat ini. Tidak ada hubungannya dengan masa lalu, kecuali kalau kita memang mengizinkan untuk membiarkan, bahkan seringkali malah menggunakan kata-kata kita di masa lalu untuk membentuk masa depan kita.

Kalau nasib itu ditentukan oleh kata-kata kita sendiri, lantas dimana peran Tuhan dalam pembentukan nasib kita ?.

Sebentar. Banyak orang yang bingung dan tidak dapat membedakan antara nasib dan takdir. Banyak orang sepakat, takdir adalah hal-hal yang tidak dapat diubah oleh manusia, dan nasib adalah hal-hal yang dapat diubah. Saya dan Mas Prie GS itu orang Jawa, Pak Fachry CEO Smart FM keturunan Arab, Pak Tommy Siawira dan Pak FX Haditjokrosusilo keturunan Cina, itu adalah takdir. Tidak dapat diubah lagi. Kalau makan pasti kenyang itu takdir. Tapi mau makan sate atau tempe, itu nasib, karena manusia dapat memilih dan memutuskan mau makan apa. Kalau anda lahir dalam keadaan miskin itu takdir, karena anda lahir dari orang tua yang saat itu dalam keadaan miskin. Anda tidak dapat memilih lahir dari taipan kaya di negeri ini. Tapi kalau anda mati dalam keadaan miskin, itu adalah nasib, karena anda telah membiarkan hidup anda miskin terus sampai mati, padahal anda sudah diberikan sumber daya internal dan eksternal sedemikian rupa oleh Tuhan yang dapat membuat anda kaya.

Bahkan yang lebih kontroversial, umur-pun dapat diubah. Bahwa manusia itu pasti mati itu takdir, tapi mati di usia berapa itu konon adalah sejenis takdir yang berperilaku seperti nasib . Jika di sebuah daerah yang tingkat mortalitanya tinggi, lalu dilakukan program sanitasi, penyehatan ibu dan anak, kampanye safety driving dan safety riding, pemberantasan jentik nyamuk, dan berbagai program perbaikan kesehatan dan keselamatan lainnya, mengapa kok setelah itu tingkat mortalitanya menurun ?. Bukankah hal itu menunjukkan adanya intervensi manusia dalam peristiwa yang disebut kematian ?.

Secara wacana agama, guru saya yang ahli tasawuf dari UIN Syarif Hidayatullah mengatakan, kontrak usia itu dapat diperpanjang dengan tiga cara : hidup sehat, banyak amal baik, dan silaturahmi. Misalnya soal silaturahmi. Seandainya anda tidak punya uang sama sekali untuk makan, lalu anda ketemu tetangga anda, apabila silaturahmi anda bagus, ia pasti memberi anda makan, sehingga hidup anda dapat diperpanjang. Bayangkan apa yang terjadi jika silaturahmi anda sangat buruk dengan tetangga-tetangga anda. Bisa-bisa mereka baru tahu anda wafat setelah mencium bau busuk dari rumah anda.

Bagaimana dengan memperpendek umur ?. Gampang, tiduran saja di rel kereta api yang masih aktif. Besok saya akan cari beritanya di koran.

Kembali ke soal pembentukan nasib. Jika nasib itu berasal dari kata-kata dan tindakan manusia sendiri, apakah itu berarti peran Tuhan tidak ada ?. Bukankah atom bergerak dan dedaunan jatuh itu tidak akan terjadi tanpa seizin Tuhan ?. Simak kalimat yang sangat klasik ini. Kata Allah “Aku tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaannya sendiri”. See ? Bahkan dalam pembentukan keadaan alias nasib saja Tuhan telah mendelegasikan kepada manusia. Tuhan akan mengubah keadaan atau nasib, tetapi ada sebabnya, yaitu tindakan si manusia sendiri. Selalu ada sebab, dari akibat Tuhan mengubah keadaan kita. Sebab itu kita sendiri yang memutuskan dan melakukannya.

Dengan demikian, dalam konteks tertentu jangan-jangan bunyi kata-kata mutiara bukan  “manusia berusaha, Tuhan menentukan”, tetapi “Tuhan merencanakan, manusia menentukan”.  Wah, apa ini tidak terpeleset menjadikan manusia lebih tinggi dari Tuhan ?.

Tuhan telah membuat sistem. “Aku tinggikan langit, dan Aku letakkan mizan”, begitu bunyi surat Ar-Rahman ayat 7.  Tuhan mengizinkan segala hasil itu muncul dari sistem itu. Inputnya adalah niat dan tindakan manusia. Tuhan sudah menetapkan bahwa manusia diminta bersedekah. Jika ingin hartanya bersih dan aman, sedekahkan 2.5 persen. Jika hartanya ingin bertumbuh, silakan sedekah lebih besar, misalnya 10%. Jika hartanya ingin bertumbuh lebih cepat, silakan sedekah lebih besar lagi, misalnya 20%. Nah, Tuhan sudah merencanakan tingkat pengembalian tertentu untuk anda jika mengambil skema sedekah tertentu. Sekarang anda sendirilah yang menentukan, mau ambil skema 2.5 persen, 10 persen, 20 persen, atau bahkan 0 persen. Itu sepenuhnya pilihan dan keputusan anda. 

Sehingga kalau harta anda itu tiba-tiba lenyap, ya tanggungjawab,  jangan salahkan Tuhan dan melakukan politik cuci tangan dengan mengatakan, “Tuhan sedang memberi ujian dan cobaan kepada saya”, seolah-olah hilangnya harta anda itu adalah karya Tuhan, bukan karya dirinya sendiri.***

Minggu, Juli 31, 2011

Kecil Berbalas Besar

Tiba-tiba saja saya mendapat SMS dari Bank Mandiri yang mengabari adanya uang masuk ke rekening saya. Tidak ada satu menit, datang lagi SMS dari seorang yang saya kenal, sebut saja namanya Dewi.

"Pak Prass, saya baru aja transfer cicilan hutang yg ke-4. Tolong dicek ya... Makasih banyak ...".

Dewi adalah orang yang pertamakali meng-organize saya untuk mengadakan public training. Awal saya berkenalan dengan Dewi adalah ketika saya 'menyusul' isteri saya join di sebuah klub kebugaran untuk menyehatkan badan saya, sekaligus memundurkan kemajuan perut saya. Saat itu terjadi insiden dimana personal trainer saya -- Pingkan -- hampir dikeluarkan oleh pihak manajemen fitness center. Karena alasan PHK tersebut tidak masuk akal, maka seluruh klien Pingkan di fitness center itu bersatu padu untuk melakukan advokasi. Dewi adalah inisiator awal perjuangan tersebut.

Setelah berhasil mempertahankan Pingkan di fitness center tersebut, para klien Pingkan menjadi akrab. Ketika tahu kebisaan saya di bidang pemberdayaan diri, Dewi lantas tertarik untuk 'menjual' saya. Kebetulan saat itu perusahaan tempat dia bekerja membutuhkan diversifikasi jasa untuk menambah pundi-pundi perusahaannya.

"Tarif Pak Prass kalo ngajar sehari berapa ?", tanya Dewi di tempat duduk istirahat fitness center. Saat itu tarif saya masih belasan juta sehari.

"Kalau begitu, Pak Prass saya bayar segitu, dan saya privat sehari dengan Pak Prass, " Katanya mantap.

Saya kaget bukan kepalang. Edan ini orang, begitu pikir saya. Ibarat dia mengundang grup musik untuk dinikmati sendiri. Ketika saya tanya mengapa maunya begitu, Dewi menjawab, "Saya perlu tahu dan menguasai ilmu ini dulu sebelum saya menjual Pak Prass".

Pikiran mendidik saya muncul. Sebenarnya ia bisa saja mengunduh ilmu saya dengan hanya membayar 1-2 juta rupiah jika ikut kelas publik saya. Untuk  Saya biarkan saja Dewi membayar saya dengan tarif in-house training, lalu saya akan memberi bonus sehari lagi plus dua kali follow-up session, dan akhirnya akan saya berikan coaching session. Pembayaranpun beres, tapi saya yang wanprestasi untuk melakukan follow-up session.

Namun karena Dewi merasa apa yang didapat dari saya sangat membantunya, ia melanjutkan rencananya untuk menjual saya secara publik. Tekadnya begitu kuat. Ia merencanakan sebuah public training bagi saya. Di sinilah asal muasal hutang itu muncul. Target peserta tidak tercapai. Saat itu Dewi hanya mampu membayar saya sepersekian.

Sebenarnya saat itu saya sudah menerima dibayar sepersekian itu tanpa mau menagih sisanya, karena begitu kagum dengan apa yang dilakukan Dewi, sekaligus mengkompensasi wanprestasi saya untuk follow-up session yang tidak sempat ia nikmati.

Rupanya tidak demikian buat Dewi. Dewi terus mencatat hutang itu, sampai suatu ketika ia telah menjelma menjadi instruktur pilates profesional. Seperti yang pernah saya ceritakan di siaran PROVOKASI Smart FM, hari Senin saya memberi santunan kepada kelompok pendidikan anak-anak kurang mampu, esoknya Mbak Dewi telepon dan menyatakan akan membayar hutangnya. Saya katakan saya sudah tidak mencatatnya sebagai hutang, tapi Dewi tetap memaksa akan mencicilnya setiap bulan. Saya kaget, kagum, dan haru.

Hari itu, saya membalas SMS Dewi, "Mbak Dewi, bagaimana jika saya memberi diskon harga kepada mbak Dewi sehingga saya nyatakan hutang mbak Dewi telah lunas ?".

Agak lama, iapun membalas, "Waduuh, gimana ya ? ... Saya sudah menyatakan punya utangnya XX juta dan udah dicatet ama malaikat. Utang dunia kudu dibayar di dunia. Kalo ga lunas di dunia, ditagih di akherat, repot saya gimana bayarnya :-)"

Saya membalas lagi, "Itu kan kalau krediturnya mencatat dan mengakui kalau ada utang. Lha ini sudah saya hapus utangnya. Gimana, ikhlas kan ?"

Dewi : "Saya mau tanya, kenapa pak Prass mau menghapus utang saya ?"

Saya : "Karena saya mau begitu...".

Dewi : "Waduuuhh jadi gini ya perasaan office boy studio waktu saya bilang utangnya ke saya gak perlu dibayar tapi dia nolak ... now i understand him .. :-)."

SMS lanjutan Dewi : "Ok. Makasih banyak ya atas kebaikan Pak Prass. Semoga Allah membalasnya dengan kemudahan rezeki di masa depan ..."

Saya termenung sebentar, lalu membalas : "Hehehe, terimakasih doanya mbak. Btw, jangan-jangan karena mbak Dewi membebaskan utang office boy, maka Allah menggerakkan hati saya untuk membebaskan utang Mbak Dewi, karena saya juga nggak tau tiba-tiba memutuskan untuk menghapus utang mbak Dewi. No other reason kecuali ingin berbuat baik meringankan hidup orang lain. Hmmm, satu lagi bukti kebesaranNya. Saya kok malah dapat pelajaran dari sini ya ....".

Dewi : "Mungkin kali ya ... Beda nominal utangnya jauuuuh! Beda 10 juta ! Tapi saya gak tau cara Allah bekerja :-)".

Saya bermenung. Selain makin meyakini sistem Allah bekerja, dimana kebaikan akan berbuah kebaikan yang lebih besar, satu lagi keinsyafan yang saya dapat dari peristiwa ini : bahwa sebuah kebaikan bukan cuma dinikmati diri sendiri, tetapi akan berefek domino kepada kebaikan orang lain. Dewi telah membebaskan utang dan meringankan hidup office boy studionya, dan dia sendiri terbebaskan dari utang yang jauh lebih besar. Dengan terbebaskannya dari utang, dia dapat membuat kebaikan lebih banyak kepada orang lain. Saya sendiri meyakini setelah ini Insya Allah rezeki saya semakin besar, sehingga orang-orang sekeliling saya kebagian manfaat dari rezeki tadi. Pamrih ?. Efek sedekah tetap bekerja kok meskipun pamrih, tidak ikhlas, atau riya. Tidak percaya ?. Memang jangan percaya sebelum anda membuktikannya sendiri.

Itulah yang membuat saya dengan yakin meng 'quote tweet' sebuah tweet sahabat saya Arin di twitter. Arin menawarkan siapa yang mau ikutan sarapan berbagi. Lalu ada temannya yang reply, "nanti kalau ada rezeki". Lantas saya nimbrung dan menulis, "Cara ampuh memanggil rezeki adalah sedekah". ***

Sabtu, Juli 30, 2011

Andai ...

Andai saya koruptor di sebuah perusahaan, dan berhasil menjaring uang hasil korupsi 'kecil-kecilan' sebesar 250 miliar rupiah -- sebuah angka yang pada posisi saya sekarang sangatlah besar -- maka apa yang akan saya lakukan dengan uang itu ?... Lagipula, angka ini adalah angka yang paling feasible saya dapat dari perusahaan swasta, bukan dari uang rakyat.

Eits, sebentar, saya kasih tau dulu cara saya korupsi : mark-up anggaran proyek dan menyiapkan bukti-bukti pendukung yang saya rekayasa ; mark-up pengadaan barang ; meminta komisi dari para vendor dan supplier yang memasukkan barang atau mendapatkan pekerjaan dari Perusahaan tempat saya bekerja ; memperlama proses kerja agar diberikan uang pelicin ; membuat berbagai perusahaan sendiri lantas semua procurement dan pekerjaan di perusahaan harus lewat perusahaan saya itu ; minta 'bagian' dari penempatan dana investasi perusahaan ke penyelenggara outlet investasi ; menerima 'upeti' dari orang-orang yang ingin naik pangkat dan jabatan ; minta komisi kepada pihak pembeli atas penjualan aset-aset Perusahaan, seperti tanah, mobil, bangunan ; dan sederet modus operandi lainnya yang konvensional maupun yang supercanggih.

Uang Rp 250 miliar itu saya gunakan untuk :

- Membeli rumah seharga 20 miliar, tanah, dan properti lain untuk disewakan dan menjadi passive income.
- Membeli kendaraan-kendaraan kelas atas sebesar 5 miliar untuk mendongkrak derajat dan martabat saya.
- Memperganteng penampilan saya sehari-hari dengan pakaian bermerek dan mahal, sehingga lebih mentereng dan keren. Mulai bergaul di kalangan 'sosialita' agar makin 'dipandang'.
- Tidak lupa melakukan spiritual money laundring dengan menyumbang sebagaian harta ke mesjid dan panti-panti asuhan.
- Melakukan risk management dengan cara mengalokasikan premi 50 miliar untuk proses hukum dan biaya hidup di lembaga pemasyarakatan untuk mengantisipasi jika suatu saat tertangkap.

Itulah visi saya yang saya sadari terlalu 'sederhana' bagi seorang koruptor bersahaja.

Cukup bahagiakah saya dengan keadaan itu ?. Saya juga tidak yakin, karena jika dengan pendapatan yang hari ini saya terima saja saya merasa belum cukup, maka pada saat pendapatan saya sudah mencapai ratusan miliar itu kemungkinan saya juga belum merasa cukup. Lha wong biaya hidup juga melonjak.

Apa tujuannya saya punya visi kehidupan koruptor seperti itu ?. Supaya saya merasa 'enak' hidup di tengah lantai dan perabot kinclong, disiapkan segala kebutuhan oleh para pembantu saya. Supaya saya merasa 'enak' dianggap, dihormati, di-VIP-kan, dan disanjung-sanjung oleh orang-orang. Supaya saya merasa enak tidak perlu repot-repot kerja yang bikin capek. Supaya saya merasa 'enak' bisa jalan-jalan semaunya, makan enak semaunya. Supaya saya merasa 'enak'. Merasa enak. Selamanya.

Sebentar. Apa iya selamanya ?. Bagaimana kalau seluruh makanan sudah pernah saya cicipi ? Bagaimana kalau seluruh tempat sudah saya kunjungi ? Bagaimana kalau seluruh kendaraan sudah saya tumpangi ?. Apa iya masih terasa enak yang sama ?. Jadi semua itu hanya untuk memenuhi kepuasan jasmani dan emosi semata ?. Bagaimana dengan kepuasan rohani ?.

Saya belum memperhitungkan betapa malunya dan terpukulnya jiwa ibu dan isteri saya begitu saya di penjara. Masyarakat mencibir mereka. Saya belum memperhitungkan jika saya di penjara, tidak dapat menemani ibu saya di saat-saat akhir usianya. Saya belum memperhitungkan efek kepada anak-anak saya nantinya ketika mereka ke sekolah. Kenikmatan buat saya harus dibayar dengan kesengsaraan kepada orang-orang yang saya kasihi. Belum kalau akibat uang haram, darah keluarga saya tercemar, dan akibatnya kena penyakit fisik dan jiwa. Durhaka, narkoba, pergaulan bebas.

Jadi saya cuma ingin enak sendiri, enak jangka pendek, enak sebentar, dan enak jasmani dan emosi. Padahal jasmani dan emosi adalah kendaraan untuk saya hidup. Ibarat kata, saya cari duit cuma buat mengurusi dan mempercantik kendaraan saya, tapi saya lupa kendaraan saya itu mau saya bawa mengantarkan saya kemana ...

Mungkin koruptor sejati yang membaca tulisan ini akan menertawakan saya, karena saya ini cuma menghayal saja. "Sok tau lu !", begitu kata mereka lantas menyindir saya dengan mengatakan, "Jangan percaya dengan apa yang kamu hayalkan sebelum membuktikannya sendiri...".  Saya tidak tahu, apakah itu ajakan kepada saya untuk benar-benar merasakan hidup enak sebagai koruptor, atau sebaliknya ...***

Kesialanmu hanya untukmu sendiri

Setelah selesai urusan merawat mobil di sebuah bengkel di dekat rumah, saya segera mengajak kendaraan saya itu meluncur di atas aspal menuju ke suatu tempat yang setengah jam sebelumnya bersemayam di pikiran saya. Karena memang sudah waktunya makan siang, tadi saat di ruang tunggu bengkel, sang lambung memberi suatu pesan kepada otak saya yang membuat sang otak  memanggil jenis makanan apa yang sedang ingin diajak berkencan oleh sang selera. Di pikiran saya ada dua makanan yang --- 'pluk'.... --- nongol, yaitu bebek goreng plus kepala ayam di Pasar Bintaro sektor 2, dan soto betawi H. Usman.  Setelah saya melakukan analisis kinestetik tanpa menggunakan metode AHP, muncullah bebek goreng yang memiliki preferensi lebih tinggi.

Namun begitu, karena selama ini saya menyantap bebek goreng itu malam hari, sementara saat itu siang hari, maka saya menurunkan level of confidence menjadi separuhnya. Maksudnya, kalau ternyata warungnya belum buka, saya sudah punya contigency plan dengan opsi kedua, yaitu soto betawi H. Usman. 

Benar saja. Opsi pertama gugur, karena realitasnya warung itu memang belum buka. Orang lain menyebutnya masih tutup. Dengan mudah saya segera acceptance dengan kondisi tersebut, lantas menghilangkan semua atribut pikiran yang berhubungan dengan bebek goreng, dan -- 'pluk' -- soto betawi H. Usman-pun segera hadir dalam layar bioskop pikiran saya. Selanjutnya atribut-atribut yang berhubungan dengan soto betawi tersebut muncul. Semangkok soto betawi plus nasi putih, kecap, sambel, dan jeruk limau. Temperatur warung yang sedikit panas dihalau dengan kipas angin yang berputar di langit-langit,  membuat keringat keluar ketika sampai pada suapan ketiga. Semua sudah begitu jelas di pikiran, sampai saya 'lupa' melakukan risk management berupa kemungkinan risiko lain yang menghalangi saya mendapatkan apa yang saya bayangkan tadi. 

Seratus meter menjelang warung soto betawi H. Usman, visual dan kinestetik saya semakin kuat. Indikatornya adalah antusiasme saya dalam menekan gas mobil serta menguatnya sensasi rasa tertentu di mulut. Begitu mobil akan dibelokkan ke arah halaman warung, tiba-tiba "Gubrakkk". Itu bukan suara saya jatuh atau mobil saya ditabrak sesuatu. Itu adalah istilah anak muda sekarang kalau mereka kaget tidak menyangka. Sang tukang parkir melambai-lambaikan tangan tanda sotonya habis. "Sial !", kata saya dalam hati. 

Tanpa perlu nggrundel panjang, saya segera berputar arah pulang, sambil mencari-cari tempat makan apa yang menarik selera. Tepat di halaman mesjid Al-Istiqomah tempat biasa saya dan beberapa sahabat penggiat pemberdayaan diri berkumpul, saya melihat ada warung kecil dengan tulisan "Gado-gado". Selera saya langsung terbit. Apalagi saya memang sedang butuh makanan yang banyak unsur sayurnya. Inipun sebuah pembenaran karena nyatanya dua mantan kandidat makanan sebelumnya miskin unsur sayuran. 

Saya segera menepikan kendaraan, dan dengan penuh percaya diri mendekati warung gado-gado tadi. "Mas, satu ya ...". Mas penjual gado-gado melihat ke arah kaca depan. Sayapun ikut-ikutan melihat ke arah yang dilihat si mas penjual. "Maaf pak, habis". Sayapun melihat di tempat bahan baku gado-gado tinggal sebiji timun. Tidak ada apa-apa lagi.

"Sial !", kata saya dalam hati sambil beranjak ke arah mobil lagi. Tiba-tiba, "PLAKKKKK!!!", ada sebuah tangan imajiner menampar pipi saya .... PLAKK! PLAKK! PLAKKK! ... lagi-lagi pipi saya tertampar. Sesosok ego state saya muncul dan langsung berkacak pinggang di hadapan saya, lantas berkata, "Hei Prass ... apa tadi kamu bilang ? ... Sial ??" ... 

Saya menjawab dengan deg-degan, "Iya ...". 

"PLAKKKK!" ... sekali lagi pipiku tertampar tangan imajiner. 

Dengan suara yang lebih keras, si ego state berkata, "Hei ! ... dasar kamu egois ! ... semestinya kamu mengucapkan "ALHAMDULILLAH", bukan malah "Sial" ...."

"Kok ?... ", tanyaku protes.

"Dasar guoblokkk! ... kalau soto betawi dan gado-gado itu siang-siang sudah habis, itu tandanya kan dagangan mereka laku keras.  Bukankah itu yang menjadi salah satu tujuan mereka berdagang ?. Mereka  itu berarti sedang menerima rezeki jatahnya dari Tuhan. Kalau kamu sedang menyaksikan sebuah peristiwa dimana Tuhan sedang memberikan anugerah kepada hambaNya hari itu, mengapa kamu tidak ikut bersyukur dengan peristiwa ini ?? .... Alih-alih mengagumi peristiwa ini dengan ucapan Allahu Akbar, Subhanallah, dan Alhamdulillah, kamu malah sibuk dengan memperhatikan kepentingan kendaraan hidupmu sendiri yang bernama perut itu, dan malah menamakan peristiwa ini sebagai sial ...!". Tiba-tiba sang ego state menghilang. 

"Astaghfirullah ....", ujarku lemas. Sejenak kemudian aku berdoa, "Ya Allah, berikanlah aku keberuntungan yang bukan merupakan kesialan orang lain ...***

Selasa, April 19, 2011

Terpeleset Makna Spiritual

Ketika dua tahun lalu saya terkena bell’s palsy, penyakit kelumpuhan separuh wajah akibat gangguan syaraf ke-7, saya segera menulis makna ‘penghiburan’ yang kemudian menjadi bagian dari buku “Provokasi 2, MANTRA Mengubah Nasib Dengan Kata” terbitan PT Gramedia Pustaka Utama.  Saat itu saya menulis bahwa akibat terkena sakit bell’s palsy, isteri saya mempercepat kepulangannya ke Indonesia, lantas saya mendapat anugerah kunjungan dan perhatian dari teman-teman baru  yang tidak mungkin berkunjung jika saya tidak sakit, dan akhirnya sakit itu adalah doa yang dikabulkan Tuhan dengan cara elegan agar saya dan isteri mempunyai waktu penuh untuk bersama.

Saya melakukan reframing positif dengan menamakan keadaan yg saya alami bukanlah ‘sakit’, namun hanya ‘mengalami kondisi tertentu yang memerlukan treatment khusus’.  Saya juga mengutip penghiburan dari salah seorang teman facebook yang mengatakan bahwa tidak semua orang mendapat kesempatan mengalami bell’s palsy. Saya adalah orang yang dapat bercerita panjang lebar tentang bell’s palsy karena saya pernah mengalaminya.

Saat saya mengalami vertigo kambuh, terkena gastritis, dan sakit-sakit berikutnya, maka saya menganggukkan kepala sambil tersenyum ketika beberapa sahabat mengutip dogma ajaran agama  bahwa sakit itu adalah sebuah anugerah Tuhan untuk mengugurkan dosa-dosa saya. Saya terhibur.

Ketika makna-makna itu saya pasang sebagai bingkai berpikir, maka perasaan sayapun menjadi tenang dan damai. Saya dapat menjalani hari-hari penyembuhan saya dengan lebih antusias. Tuhan yang memberi penyakit, Tuhan pula yang memberi obat.

Sepintas memang makna itu bermanfaat buat diri saya. Tetapi jika saya tidak waspada, saya dapat terjerumus menjadi manusia yang tidak bertanggungjawab.  Kok bisa ? ... Karena saya menganggap penyakit ini diberikan Tuhan sebagai ujian dan cobaan, maka saya lupa bahwa segala sesuatu itu ada penyebabnya. Seringkali sebabnya diciptakan oleh manusia sendiri, tapi karena saya tidak mau disalahkan, maka saya perlu mencari kambinghitam.

Berapa banyak orang yang terkena penyakit jantung atau stroke mengatakan, “Siapa sih yang minta kena penyakit ini ? ... Saya juga tidak mau kena penyakit ini. Penyakit ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang telah memberi ujian kepada saya agar saya bersabar ...”.  Pertanyaannya, siapakah yang merokok ? siapakah yang makan makanan penuh kolesterol tinggi dan nutrisi tidak seimbang ? Siapakah yang abai terhadap mengistirahatkan tubuh yang cukup ? Siapakah yang kurang olahraga ? Siapa yang tidak update dengan informasi dan pengetahuan kesehatan ? Kok lantas dengan entengnya dia menuduh Tuhan sebagai ‘sebab’ dari keadaan dirinya ?

Soal kekuasaan Tuhan dalam menjadikan segala sesuatu itu tidak perlu diperdebatkan. Tidak terbantahkan. Tetapi kalau kita ingat ayat Tuhan di segala agama yang bermakna universal : “tidak akan Tuhan ubah nasib manusia sebelum manusia itu mengubah apa-apa yang ada dalam dirinya”, maka kita akan tahu bahwa Tuhanpun mengajarkan soal sebab di wilayah kendali manusia yang memberi akibat berubahnya keadaan manusia itu sendiri.

Suatu siang saya sedang berbincang dengan seorang teman tentang keadaan perusahaannya. Katanya, atasannya berkata bahwa selamat tidaknya perusahaannya itu tergantung dari kuasa Tuhan. Sang atasan mencontohkan Briptu Norman. Jika bukan karena kehendak Tuhan, tidak mungkin dalam waktu singkat Briptu Norman terkenal.

Saya lantas menyitir budayawan Prie GS yang mengatakan bahwa kepopuleran Briptu Norman itu disebabkan oleh  adanya niat menghibur temannya yang sedang kesusahan. Saya menambahkan, jika saja Briptu Norman tidak ‘kompeten’ dalam berjoged dan lypsinc, maka kemungkinan penampilannya tidak enak dilihat. Kompetensi Briptu Norman itu merupakan hasil dari minat dan latihan yang ia lakukan bertahun-tahun. Kompetensi dan niat tulus itulah yang menjadi sebab akhirnya Tuhan ‘menjadikan’ perubahan kehidupan Briptu Norman.

Kali ini, di atas ranjang kamar perawatan sebuah rumah sakit akibat infeksi viral yang berwujud gejala tipus, saya memisahkan diri dari diri saya sendiri, kemudian membaca kembali seluruh makna yang pernah saya beri terhadap keadaan saya saat itu. Saya kemudian berkata kepada saya sendiri, “Prass, boleh saja kamu beri arti bahwa setiap sakit kamu ini sebagai kesempatan untuk menyeimbangkan hak tubuhmu dan kesempatan gugurnya dosa-dosamu .... tapi apapun makna yang kamu beri, tetap saja sekarang ini pekerjaanmu terlantar, jadwal-jadwal terkait dengan orang lain terganggu, dan banyak orang yang kepentingannya terhambat karena ketidakhadiranmu ...”.

Makna sakit yang saya gunakan berpotensi melenakan saya. Dengan makna-makna itu sakit menjadi begitu indah. Saking indahnya, saya kalau sakit lagi tinggal pakai saja makna serupa. Beres. Saya lupa, bahwa esensi sakit adalah sebuah kesadaran dan rencana tindakan agar kita tahu bagaimana menjadi sehat dengan bertindak, sehingga tidak sakit lagi. Karena kalau saya sakit, akan ada banyak orang lain yang kesusahan... ***

Minggu, Maret 13, 2011

Mengubah Nasib Dengan Kata, oleh Rahmadsyah Nurdin


Assalamu’alaikum wr.wb
Shahabat saya yang baik. Semoga sapaan salam saya hadir dalam suasana usaha-usaha terbaik yang sedang Anda lakukan untuk menciptakan nasib baik bagi kehidupan Anda. Mudahan, Anda dan saya selalu terbimbing, supaya terus dan terus mengupayakan diri menjadi pribadi-pribadi yang semakin bertambah baik amalnya.

Mengubah nasib dengan kata. Itulah tema yang akan di bahas oleh Bapak Prasetya M Brata, pembicara siaran Provokasi di Smart FM pada event The 2nd Indonesia NLP Confence, 2 April 2011. Saya tidak begitu tau bagaimana persisnya maksud dari tema tersebut. Bahkan mungkin Anda pun bertanya-tanya di dalam hati, seperti saya juga.

Tulisan ini saya tulis, bukan karena sudah ada bisikan bocoran atau kisi-kisi (seperti ujian di sekolah dulu ya, ada kisi-kisinya) dari beliau. Namun, berdasarkan pengalaman yang saya alami, yang tiba-tiba saja muncul di fikiran saya, saat saya duduk di depan simungil Acer untuk menulis.

Tema ”Mengubah Nasib dengan Kata” pun, menjadi pilihan kupasan ide-ide gila di fikiran saya. Berbicara mengenai nasib, tidaklah lepas dengan freewill. Ada yang mengartikan freewill itu sebagai sesuatu yang masih ada wewenang dalam diri kita untuk menentukan mana yang mau kita pilih.

Ini sangat sesuai kalau di lanjutkan dengan penjelasan yang saya dapatkan saat mengikuti training Ummat Terbaik Hidup Berkah, yang diselenggarakan oleh Dinar Coach. Bapak Syamsul Arifin sebagai trainernya menjelaskan, yang namanya Nasib itu terbagi dua.Pertama, nasib yang sudah di tentukan. Kedua, nasib yang masih bisa kita tentukan.Sebagai contoh, nasib yang sudah ditentukan itu seperti kecelakan pesawat, lahir dari ayah ibu siapa, dan dari suku apa. Sementara yang masih bisa kita tentukan, Contoh : Seperti saya sekarang ini, mau menulis ”Mengubah Nasib dengan kata-kata”. Padahal saya masih punya kesempatan dan pilihan untuk menulis tema lain kan? Dan ini sifatnya bukan paksaan atau keharusan. Berbeda dengan nasib yang petama tadi.

Kembali ke tema, ngomong-ngomong mengenai ”Mengubah Nasib Dengan Kata”. Kalau Anda mau tau lebih detil dan lebih rinci, bisa ikuti The 2nd Indonesian NLP Conference, pada 2 April 2011, ikut kelas Pak Prasetya M.Brata. Sementara saya sekarang akan membahas menurut versi saya.

Sebelumnya saya mau mengetahui, siapa diantara Anda pernah mengalami kondisi seperti di bawah ini:

  1. Anda Melakukan presentasi / prospecting ke klien / nasabah Anda, ternyata hasilnya, nasabah merespon tidak sesuai dengan harapan Anda. Dan kejadian ini Anda alami berulang-ulang sampai 7 kali.
    1. Anda seorang lelaki sedang melakukan PDKT, dengan seorang gadis pujaan hati. Apabila Anda mendengar, melihat apalagi berdekatan dengannya, memunculkan gejolak nan membara pada bagian tertentu di tubuh Anda. Kemudian Anda menyampaikan isi hati Anda kepadanya. Namun, si wanita merespon tidak sebagaimana Anda harapkan. Anda mencoba berulang kali, tapi hasilnya tetap sama. Demikian pula terjadi dengan usaha Anda kepada wanita lain (yang menjadi pujaan hati Anda setelah di tolak oleh pertama, ceritanya cari lain lagi).
      1. Anda seorang wanita, telah didatangi oleh 10 orang lelaki yang menyatakan niat serius untuk menikahi Anda. Namun, ditengah perjalanan proses perkenalan antar keluarga dan persiapan lainnya, selalu saja ada kendala yang menyebabkan, niat baik itu tidak terjadi. Hingga sampai sekarang Anda masih tetap sendiri.
        1. Anda seorang yang dulu pekerja (employee) sudah memutuskan pensiun dini. Kemudian mulai membuka usaha sendiri. Jenis usaha pertama anda kerjakan ”Bisnis pulsa”. Sayang, hasilnya tidak sesuai harapan Anda. Kemudian anda coba dengan ”Bisnis EO”, pun hasilnya tidak sesuai harapan Anda. Bahkan mencoba berganti dengan jenis usaha lain, hingga sampai sekarang, belum ada hasil sebagaimana Anda harapkan.

          Pertanyaan saya, pada contoh kondisi di atas  ;
          1. Apakah Anda akan mengatakan kepada diri anda ”Aku memang tidak cocok jadi Sale/penjual, buktinya sudah beberapa kali aku melakukan penawaran/prospect tidak ada yang beli”.
          2. Apakah Anda akan berpendapat tentang diri Anda ”Aku memang tidak layak untuk di cintai, memang aku tidak pantas dengan nya, lebih baik aku menjomblo saja”. 
          3. Apakah Anda akan memutuskan mengenai diri Anda ”Seperti nya aku memang terlahir untuk sendiri selamanya, karena sudah 10 orang lelaki mencoba membangun hubungan, toh hasilnya nihil”.
          4. Apakah Anda akan menganggap diri Anda ”Ternyata aku memang tidak bakat dan cocok jadi pedagang (pengusaha), lebih baik aku melamar bekerja kembali. Sudah 4 kali ganti usaha, hasilnya tetap aku rugi”.

          Empat contoh gambaran peristiwa di atas, hanyalah sebagian kecil dari banyaknya peristiwa dalam kehidupan ini, yang amat mengasyikkan untuk kita bahas. Namun, cukuplah itu saja dulu untuk menjelaskan ”Mengubah Nasib dengan Kata”. Entah seperti apa kata-kata yang terbingkai dalam fikiran Anda, seandainya perumpamaan di atas, Anda yang mengalaminya. Apakah akan seperti anggapan di atas tadi? Mudah-mudahan saja tidak.

          Pada akhirnya, Mengubah Nasib dengan kata adalah keahlian, kesadaran, kejelian, dalammemutuskan memilih dan menyusun kata-kata untuk memaknai, mengartikan dan menyikapi suatu peristiwa dan kejadian yang Anda alami. Sekali lagi, Nasib Anda dan saya, sangatlah tergantung dari keputusan kata-kata yang Kita pilih, gunakan, ambil untuk membingkai suatu kejadian. Karena, hampir keseluruhan tindakan dan perilaku kita, sangat tergantung pada kata-kata yang tersusun dalam fikiran kita. Baik itu disadari atau tidak. Jadi, dengan mengubah kata, kita telah mengubah nasib kita. Dan mengubah nasih adalah dengan menstruktur kata-kata yang tepat pada konteksnya. 

          Ciganjur, 10 Maret 2011

          Selasa, Januari 11, 2011

          Kabar Buruk benar-benar Buruk ?

          "Tingggggg!", blackberry saya berbunyi.

          "Hallo Mas Prass ... mau nanya sesuatu nih .. boleh ?", begitu tulisan berita blackberry messenger  dari sahabat di Pekanbaru yang berprofesi sebagai dokter.

          "Boleeeehhh...", jawab saya singkat.

          "Bagaimana cara yang efektif menyampaikan kabar buruk tanpa menjatuhkan mental orang yang menerima kabar buruk tersebut mas ? Karena kabar kali ini adalah kabar buruk kedua lainnya yang bakal dia terima kenyataannya, yaitu dia tidak lulus untuk memperoleh kursi sebagai calon pegawai negeri sipil ...", tanya dr. Abi, sahabat saya itu.

          Kali itu 'mood' saya untuk memprovokasi sedang bagus.

          "Yang menamakan hal itu 'kabar buruk' siapa ya ?", tanya saya.

          "Secara umum, memang kabar itu 'kabar buruk' karena yang disampaikan nggak ada bagus-bagusnya ..", jawabnya. "Hmmm .. mas Prass mau menggiring saya ke arah 'negative motivation' ya ?", lanjutnya.

          "Apa bagusnya tidak lulus CPNS ?", tanya saya.

          "Bagusnya .. ? .. ya bisa mencoba peluang lain ...", jawabnya.

          "Saya punya teman yang ketinggalan pesawat ... Dia bilang kabar buruk !. Dua jam kemudian pesawat itu jatuh di Berastagi. Semua penumpangnya tewas. Dua jam kemudian 'kabar buruk' itu menjadi 'kabar baik'. Dia sangka musibah, ternyata penyelamatan ... Ini real story ...", ujar saya.

          "Iya mas ... saya juga membaca kisah itu di buku PROVOKASI mas Prass ...", jawabnya.

          "Mas menyangka tidak lulus CPNS itu kabar buruk. Siapa tahu itu sebenarnya kabar baik ?", pancing saya. "Jangan-jangan misi hidup dia yang sesungguhnya bukan menjadi CPNS ?"

          "Jadi sebaiknya bagaimana cara menyampaikannya ?", tanya dia lagi.

          Saya sebenarnya ingin 'mengacak-acak' dulu mindset dia terlebih dahulu karena justru teman saya itu yang duluan menamakan berita itu sebagai 'kabar buruk'.

          "Tidak ada orang yang suka mendengar kabar buruk. Lha, kalau mas Abi sendiri sudah bilang itu kabar buruk, lantas mau dibungkus apapun, tetap saja yang sampai adalah 'kabar buruk' dan tidak disukai ..", jawab saya. "Yang membikin buruk itu 'kan arti yang diberikan sendiri oleh yang mendengar berita itu. Jadi biarkan dia bertanggungjawab atas arti yang dia berikan sendiri kepada sebuah berita dan peristiwa,  juga bertanggungjawab atas perasaan-perasaan yang muncul akibat arti yang ia berikan sendiri tersebut .."

          "Lantas yang 'ideal' dilakukan saat sekarang apa dong mas ?", kejar dia.

          "Tanyakan saja dulu, seandainya dia nggak lulus CPNS, bagaimana sikap dia ... Dari situ 'kan mas Abi akan paham apa arti yang ia berikan kepada berita itu  ... Barulah setelah itu mas Abi bisa tahu cara menyampaikan yang lebih netral dan membangun dirinya itu yang bagaimana ...", jawab saya.

          "Iya juga ... Nggak terpikirkan sama saya ... that's something new for me ...", jawabnya.

          "Jadi tadi mas Abi kan bermain dengan pikiran sendiri ? ... hehehe ...", ledek saya.

          "Iyaaaa ... mungkin kabar buruk itu saya sendiri yang menciptakannya, karena saya sebenarnya berharap besar dia lulus CPNS. Jadi sebenarnya saya yang menciptakan aura dan suasana seperti itu dan seolah-olah dia juga menanggapi dengan cara yang serupa ...", jawabnya. "Maklum mas, terbawa cara menyampaikan prognosis ke pasien tentang penyakitnya  ...".

          "Hehehehe ...", respon saya.

          "Mas Prass angkat saja topik "kabar buruk apakah benar-benar buruk?" di siaran PROVOKASI. Pasti seru !. Nanti saya ikut SMS menanyakan yang aneh-aneh biar mas Prass berat mikirnya ..", jawabnya.

          "Hehehee ... maksudnya 'berat' buat anda 'kan ?", kilik saya.

          "Wkwkwkwk ... i'm playing with my own thought again ....", jawabnya ***

          Senin, Januari 10, 2011

          Makna Ikhlas

          Saya menyapa kolega saya, direktur sebuah perusahaan jasa investasi. Sebulan sebelumnya saya baru saja memfasilitasi pelatihan dua hari mengenai personal mastery dan hypnotic selling skill. Saya ingin tahu bagaimana dampak pelatihan yang saya fasilitasi terhadap perubahan perilaku dan kinerja mereka karena saya akan bertemu lagi dengan peserta untuk follow-up class. Jawabannya mengejutkan : sebulan setelah dilakukan pelatihan, sales menurun !.

          "Apa yang membuat sales itu turun mbak ?", tanya saya.

          "Lha ya itu, mereka sekarang pasrah. Alasannya, 'kan diajarin Pak Prass pakai the law of attraction. Kalau sudah membayangkan dengan jelas apa yang diinginkan dan minta dalam doa, terus yakin, terus ikhlas siap menerima apapun jalannya. Jadi kalau mereka mau prospek terus hujan deres, atau nggak dapat janji, ya sudah terima saja ... ikhlas ..", jelas kolega saya.

          "Hahaha .... ! Salah kaprah .... Kalau begitu, kita kumpulkan mereka lebih cepat saja, mbak ..", pinta saya.

          Di pelatihan sebelumnya, saya memang menjelaskan sedikit soal the law attraction yang sedang menjadi 'selebriti' dan digandrungi oleh para pencari ilmu kesuksesan hidup saat itu. Karena saya hanya menyinggung sedikit dan 'kulit'nya saja, saya menjadi mafhum mengapa oleh peserta ditangkap, dicerna, dan diartikan sebagaimana yang diceritakan kolega saya itu.

          Di hadapan para peserta yang telah dikumpulkan, saya lantas menggali dulu pemahaman mereka soal materi pelatihan yang telah mereka ikuti, khususnya soal the law of attraction yang rumusnya ask-believe-receive.

          "Teman-teman, memang banyak yang 'meleset' di pemahaman soal ask-believe-receive.  Minta dalam doa dengan visualisasi yang jelas - yakin Tuhan dan alam merespon untuk mewujudkan keinginan kita itu - lantas siap menerima dengan ikhlas apapun jalannya. Tetapi banyak yang keliru dalam implementasinya. Mereka menyangka hanya dengan visualisasi dan yakin, nanti apa yang diminta akan datang sendiri. Hasil diraih dengan tindakan...", buka saya.

          Peserta masih menunggu penjelasan lebih lanjut.

          "Jadi, kalau anda sudah punya impian yang jelas dan yakin dapat meraihnya, lalu paham dan sadar untuk mencapai target anda perlu berangkat menemui calon klien untuk prospecting, maka prospecting-lah dengan menerima perasaan apapun saat prospecting. Kalau saat mau prospecting tiba-tiba hujan deras, kemudian anda tidak berangkat, membatalkan janji, dan mengatakan 'ikhlas menerima pembatalan', maka itu bukan ikhlas namanya. Yang namanya ikhlas itu adalah ... anda sadar perlu melakukan kunjungan sebagai syarat untuk terjadi closing, kemudian ketika hujan lebat atau macet anda tetap berangkat menemui calon klien dengan menembus hujan dan macet, dan MENERIMA rasa berat dan susah selama saat menembus hujan dan macet itu dengan ikhlas ! ...".

          Saya melihat para peserta 'kesetrum'.

          Lain waktu, alam menyediakan keadaan dimana saya diminta untuk mempraktekkan apa yang saya ajarkan sendiri. Di suatu malam larut Ibu saya tiba-tiba bilang, "Aku pengen martabak, Prass". Malam itu hujan lebat. Mobil baru dicuci sore harinya.

          Karena ibu saya sudah ahli soal ikhlas, saya bisa saja mengatakan, "Bu, ini 'kan hujan deres, ikhlas aja dulu ya malam ini nggak makan martabak ... ". Tapi manuver 'politik ikhlas' itu akan membuat saya kehilangan kesempatan untuk membahagiakan dan membalas budi ibu saya, dan saya tahu apa yang dapat saya katakan itu hanyalah sebuah 'akal-akalan' alias pembenaran atas kemalasan saya.

          Malam itu, saya tembus hujan dan menerima segala 'rasa' yang muncul dalam perjalanan mencari tukang martabak. Tindakan 'ikhlas' saya berbuah manis. Malam itu saya amat bahagia melihat ibu saya melahap martabak impiannya... ***