Pelajaran dibuka dengan mendengarkan siaran ABC News. Hari itu adalah minggu kedua saya berada di Canberra - Australia. Dengan tertatih-tatih, kelas akhirnya berhasil paham isi berita radio pemerintah Australia itu karena aksen penyiar yang sangat 'melelahkan' untuk didengar. Berita kali itu adalah tentang people smuggling (penyelundupan manusia) ke Australia. Pelakunya adalah orang dari Indonesia, Afghanistan, dan Srilanka. Indonesia disebut pertamakali.
Di kelas itu, guru saya orang Australia kelahiran Jerman, sementara teman-teman sekelas saya orang Cina, Jepang, Korea, dan Perancis. Orang Indonesia cuma saya sendiri.
Dalam beberapa diskusi di kelas, saya merasakan alur pembicaraan sangat fokus kepada masalah dan menghindari menilai orang. Kami membicarakan the crime, bukan the criminal (pelaku). Beda dengan sewaktu saya terlibat dalam beberapa diskusi di Indonesia, peserta mudah sekali terjebak kepada 'menghakimi' pelaku, sehingga yang muncul seringkali perdebatan siapa yang salah siapa yang benar, bukan bagaimana solusinya dan apa yang perlu diperbaiki.
Sebagai orang yang lahir, besar, hidup di Indonesia, tiba-tiba saya disergap perasaan malu. Memang sih tidak ada mata yang melihat ke arah saya ketika nama Indonesia tersebut dalam diskusi itu, tapi rasa itu muncul.
Ketika masalah ini menjadi ide status saya di facebook, seorang teman lama mengomentari, 'kenapa musti malu ?'. Awalnya saya merasa aneh dengan pertanyaan ini, karena saya merasa rasa malu itu bagian dari nilai-nilai nasionalisme saya. Saya merasa, kita diminta untuk memperbaki segala sesuatu itu dari yang terdekat. Saya merasa Indonesia adalah 'keluarga', sehingga ketika anggota keluarga melakukan perbuatan yang melanggar hak 'keluarga' lain, kita perlu peduli untuk memperbaiki 'keluarga' sendiri.
Tapi setelah memikirkan lagi komentar teman saya itu, saya lantas melihat dia juga benar. Kenapa harus merasa malu ? .. Bukankah kejahatan atau kebaikan apapun dilakukan oleh individu lintas suku, agama, ras, kebangsaan, kelompok, dan sebagainya. Perzinahan juga pernah dilakukan oleh anggota sebuah organisasi keagamaan di Indonesia yang kerap melakukan penyisiran warung remang-remang dan 'pembelaan' terhadap Islam. Hanya saja, anggota itu segera dihukum. Itu artinya, perbuatan dilakukan oleh individu, bisa dari kelompok dan bangsa apapun.
Teman saya itu juga memprovokasi mengapa di kelas saya tidak mengungkapkan 'perbuatan' orang Australia di Bali soal penyelundupan heroin, fedofilia, dan sebagainya. Tentu saja saya tidak akan mengungkapkan ini di kelas, karena itu sama saja saya mencari gara-gara dan menunjukkan 'level' reaksi saya dalam diskusi. Prinsip saya, apapun perbuatan orang berkebangsaan lain di negara kita, seyogyanya kita tidak melakukan kejahatan apapun di negeri sendiri, apalagi di negeri orang lain.
Komentar teman saya itu punya makna filosofis yang tinggi - bahwa manusia berbagai bangsa itu sama - egaliter -, dimana tidak berarti suatu kejahatan yang dilakukan seseorang serta merta merendahkan atau meninggikan bangsanya, melainkan tanggungjawab orang itu sendiri di hadapan Tuhan dan manusia lainnya -- termasuk di hadapan bangsanya sendiri.
Meski begitu, saya tetap memilih untuk malu.Teman saya Irma Renata ikut memberi komentar, "beruntunglah orang-orang yang masih memiliki rasa malu". Saya setuju dengan Irma. Bagi saya, selama ada rasa malu, masih ada harapan untuk memperbaiki keadaan negeri yang saya cintai ini. Rasa malu ini memberi memberi manfaat buat saya untuk berpikir dan merencanakan apa yang perlu dilakukan di masa depan agar saya, keluarga, lingkungan dan bangsa kita benar-benar menjadi warga dunia yang baik dan mulia. ***
Gangguan pikiran akibat membaca blog ini menjadi tanggungjawab pembaca masing-masing
Kamis, April 09, 2009
Selasa, Maret 03, 2009
Mind Management

Meskipun saya tahu sinetron itu adalah sansak omelan saya kalau cerita dan adegannya jauh dari masuk akal, setiap menonton sinetron di bagian akhir setiap episode, kalau saya 'terlarut' dengan cerita sebelumnya, pasti ada perasaan 'halahhhhh ... bersambung lagi ..'. Rasanya ingin segera tahu nasib si protagonis yang teraniaya, atau apa yang akan dilakukan oleh sang antagonis itu terhadap si teraniaya tadi. Kalau ceritanya seru dan 'nanggung', maka 'penderitaan' karena tidak dapat memuaskan keinginan sang pikiran terhadap jawaban menjadi makin terperi.Lain waktu saya menyaksikan bagaimana emosi sepupu saya diaduk-aduk keras oleh sebuah sinetron. Ia 'mendiskusikan' nasib si tokoh-tokoh di sinetron itu dengan ibu saya. Sebenarnya lebih tepatnya 'bergunjing''.
"Iiih .. rasain tuh si anu, jahat sih .."
"Harusnya dia bongkar aja rahasianya, biar ketauan kedoknya .."
Saya merasakan seolah-olah apa yang dibincangkan mereka adalah nasib orang-orang yang 'dekat' dengan mereka. Seolah-olah orang yang dibicarakan itu tetangga mereka. Seolah-olah cerita dan orang-orang itu NYATA. Padahal, apa yang mereka bicarakan adalah 'barang' fiktif. Pikiran tidak membedakan mana kenyataan mana fiksi. Ketika emosi terlibat, maka apa yang seseorang 'lihat' bisa masuk ke memorinya lebih dalam dan permanen, memprogram cara berpikir dia. Lihatlah kedua kalimat yang keluar dari mulut mereka yang menunjukkan pola berpikir dia terhadap (atau malah akibat) sinetron tadi. Tidak ada nilai-nilai memaafkan menyikapi kesalahan sang antagonis -- sebagaimana keluhuran budi yang diharapkan oleh Sang Pencipta untuk menjadi manusia mulia.
Kebanyakan hidup kita menderita oleh pikiran kita sendiri -- oleh keinginan kita sendiri. Saya pernah menyaksikan ekspresi kecewa maha berat dari seorang peserta kuis, karena dia gagal mendapatkan ratusan juga rupiah dan 'jatuh' ke titik aman ketiga yang nilainya puluhan juta rupiah. Padahal, dia datang ke studio itu tanpa mengeluarkan sepeserpun -- ya ada sih, ongkos transportasi plus modal beli baju dan dandan-- lalu mendapatkan puluhan juta rupiah, tapi masih kecewa dan menderita juga !.
Suatu hari saya berada di tengah rombongan teman-teman kantor yang sedang piknik ke daerah Garut. Bis berhenti di depan sederet toko jaket kulit. Karena seluruh penumpang turun, sayapun ikut turun. Saya tiba di sebuah kios yang memajang jaket-jaket kulit yang ciamik. Pandangan saya tertuju ke sebuah jaket yang membuat saya langsung tergiur memilikinya.
"Berapa nih a' ...?" tanya saya.
"Empat ratus ribu", sodor si aa' penjual.
"Wah, duaratus limapuluh ya" ... tawar saya.
"Nggak bisa a', tigaratuslimapuluh ...."
Saya tetap bertahan di angka 250 ribu. Sementara, si aa terus menurunkan offering price-nya. Sampai akhirnya si aa mematok final price Rp 285 ribu, dan saya di posisi Rp 260 ribu.
"Jadi nggak boleh 260 ribu nih ?", tanya saya tegas.
"Wah, nggak bisa deh a, terakhir 285", kata si penjual.
Akhirnya saya ngeloyor pergi menuju bis. Menjelang keberangkatan ke Jakarta, teman saya Slamet Sudarsono yang sedari tadi bersama saya tampak tidak habis pikir dengan tindakan saya, lalu mencoba memprovokasi saya.
"Mas, nggak jadi ngambil jaketnya ?", tanya Mas Slamet.
"Nggak .. dia nggak mau 260, mintanya 285", kata saya.
"Nggak nyesel mas ? .. cuma tinggal 25 ribu lagi lho .. di Jakarta harganya bisa 350-an".
"Nggak ..", jawab saya.
"Kok nggak nyesel ?", tanya dia keheranan.
"Gampang ... hilangkan saja keinginan beli jaket ..", jawab saya datar.
"Lho, kok gitu ?", tanya dia lagi.
"Tadi saya tidak punya keinginan untuk beli jaket, lalu lihat ada jaket bagus, lalu seketika muncul keinginan memiliki jaket itu. Kalau keinginan itu tidak tercapai, ya tinggal dihilangkan saja seolah-olah seperti sedia kala, belum lihat jaket. Itu karena berarti jaket bukanlah sesuatu yang prioritas dan urgent karena tidak ada dalam rencana saya. Kalau saya menyesal, lalu terbayang-bayang si jaket, maka hidup saya setelah itu dibikin menderita bayangan 'seandainya saya punya jaket'. .. Saya beli jaket itu untuk membuat saya bahagia. Sekarang kalau saya bisa mengontrol pikiran saya sendiri, keinginan saya sendiri, lalu saya berhasil menyembuhkan 'kekurangan' saya akan want -- bukan need -- lalu saya bahagia tanpa jaket itu, apa bedanya ? ***
Jumat, Februari 20, 2009
Anak Nakal
Seorang pendengar Smart FM mengirimkan email dan curhat, bahwa ia sewaktu kecil sangat dikekang oleh orang tua. Ia menderita bronchitis, tapi sekarang sudah sembuh. Oleh orangtuanya ia dilarang kemana-mana. Bahkan hanya untuk ke warung yang jaraknya empat blok dari rumahnya. Karena terkekang, akhirnya ia 'sengaja' berontak. Ia sudah merokok kelas 4 SD, dan minum minuman keras sepulang sekolah waktu SMP. Ia menamai dirinya anak nakal (ia menuliskannya dengan tegas, bahwa "sekarang saya nakal"). Ia lantas mengeluh kenapa orangtuanya begitu. Cara orangtuanya mendidik itulah yang membuat ia menjadi seperti ini. Ia bilang tidak akan nakal lagi kalau orang tuanya juga mengubah gaya mendidiknya.
Ayah Edy sang narasumber yang pakar pendidikan anak dan kecerdasan holistik itu menerangkan bahwa motif orangtua mendidik si anak ini sudah benar. Hanya memang orangtua perlulah mengikuti perkembangan zaman untuk menyesuaikan cara dan pendekatan kepada anak dalam mendidiknya. Lumayan dapat inspirasi untuk bekal saya jika menghadapi situasi serupa.
Di dalam mobil, saya berkhayal, seandainya anak itu bertanya kepada saya, maka saya akan memulai 'provokasi' saya dengan bertanya : "Apa maksud baik dari orangtuanya melarang sana-sini ?". Ini sama dengan Ayah Edy.
"Menurut 'bunga' (nama samaran yang saya pinjam dari koran Warta Kota atau Pos Kota kalau menyamarkan nama seorang perempuan) apa maksud baik orang tua melarang Bunga ke sana-sini ?"
"Apa artinya maksud baik itu buat Bunga ?"
"Dengan tujuan baik itu, apa yang akan terjadi terhadap bunga ?"
"Kira-kira apa yang akan Bunga lakukan seandainya tujuan baik itu benar-benar terjadi ? Apakah Bunga akan marah kepada orang tua Bunga ? atau berterimakasih ?"
"Ternyata Bunga punya keinginan sendiri bukan ? Apa yang sudah Bunga lakukan agar orang tua tahu, memahami, dan mendukung keinginan Bunga ?"
"Dengan cara yang sudah pernah Bunga lakukan, orang tua tidak setuju ? .. Lalu, apa yang belum pernah Bunga lakukan untuk membuat orang tua setuju dengan ikhlas ?"
"Kalau Bunga menyebut diri 'nakal', memangnya yang disebut 'nakal' itu seperti apa ?
"Lalu bagi Bunga, yang disebut "baik" itu seperti apa ?"
"Kalau sekarang ini Bunga menjadi apa yang Bunga sebut sebagai 'nakal', apakah ini keputusan Bunga sendiri atau keputusan orang tua Bunga sehingga Bunga menjadi 'nakal' ?
"Kalau ini akibat orang tua, sekarang seandainya orang tua Bunga sudah tiada ... mereka sudah meninggal, sehingga mereka tidak bisa melarang-larang Bunga lagi, apakah Bunga tetap memutuskan untuk 'nakal' seperti saat ini ? ... Apakah 'nakal' ini yang benar-benar Bunga mau ?
"Jadi 'nakal'nya Bunga itu keputusan Bunga atau orangtua Bunga ? Mereka yang memutuskan atau yang mempengaruhi ?"
"Jadi yang memutuskan Bunga bukan ?"
"Berarti, Bunga jugalah yang punya kuasa untuk memutuskan Bunga menjadi anak 'baik' ?"
"Dengan nakalnya Bunga seperti saat ini, kira-kira tiga tahun lagi Bunga menjadi orang yang seperti apa ? .. Lima tahun lagi seperti apa ? ... Apakah itu yang Bunga mau ?
"Kalau Bunga menganggap masalahnya dimulai dari orang tua .. okelah ... berarti mereka bermasalah .. mereka tentu butuh bantuan untuk memecahkan masalah mereka bukan ? .. Siapa yang bisa menolong masalah mereka ? ...
"Kalau Bunga menganggap mereka sendirilah yang bisa menolong dirinya sendiri, maka mereka juga melihat Bunga bermasalah dengan 'nakal'nya Bunga saat ini, sehingga mereka menganggap Bungalah yang bisa menyelesaikan masalah Bunga sendiri, bukan ?"
"Okelah, kalaupun Bunga tetap menganggap mereka bermasalah, maka nyatanya mereka sampai sekarang tetap belum bisa berubah ... berarti masalah mereka tetap ada sampai sekarang ... So, maukah Bunga menolong mereka memecahkan masalah mereka ? " ...
"Menurut Bunga, apa yang Bunga perlu lakukan untuk menolong mereka agar mengubah gaya mendidik mereka sehingga apa yang Bunga inginkan terwujud ?"
"Apakah orang yang bermasalah bisa ditolong oleh orang yang bermasalah juga ? Bisakah maling disadarkan dan diubah perilakunya oleh maling juga ?"
"Berarti, supaya Bunga bisa menolong mereka yang bermasalah, Bunga perlu jadi seperti apa?"
"Lalu, apa saja yang perlu Bunga lakukan agar Bunga sanggup untuk menolong orang tua Bunga yang bermasalah itu ?"
Wah, ... namanya juga menghayal, bisa susah disetop pertanyaan-pertanyaan lanjutannya ...***
Ayah Edy sang narasumber yang pakar pendidikan anak dan kecerdasan holistik itu menerangkan bahwa motif orangtua mendidik si anak ini sudah benar. Hanya memang orangtua perlulah mengikuti perkembangan zaman untuk menyesuaikan cara dan pendekatan kepada anak dalam mendidiknya. Lumayan dapat inspirasi untuk bekal saya jika menghadapi situasi serupa.
Di dalam mobil, saya berkhayal, seandainya anak itu bertanya kepada saya, maka saya akan memulai 'provokasi' saya dengan bertanya : "Apa maksud baik dari orangtuanya melarang sana-sini ?". Ini sama dengan Ayah Edy.
"Menurut 'bunga' (nama samaran yang saya pinjam dari koran Warta Kota atau Pos Kota kalau menyamarkan nama seorang perempuan) apa maksud baik orang tua melarang Bunga ke sana-sini ?"
"Apa artinya maksud baik itu buat Bunga ?"
"Dengan tujuan baik itu, apa yang akan terjadi terhadap bunga ?"
"Kira-kira apa yang akan Bunga lakukan seandainya tujuan baik itu benar-benar terjadi ? Apakah Bunga akan marah kepada orang tua Bunga ? atau berterimakasih ?"
"Ternyata Bunga punya keinginan sendiri bukan ? Apa yang sudah Bunga lakukan agar orang tua tahu, memahami, dan mendukung keinginan Bunga ?"
"Dengan cara yang sudah pernah Bunga lakukan, orang tua tidak setuju ? .. Lalu, apa yang belum pernah Bunga lakukan untuk membuat orang tua setuju dengan ikhlas ?"
"Kalau Bunga menyebut diri 'nakal', memangnya yang disebut 'nakal' itu seperti apa ?
"Lalu bagi Bunga, yang disebut "baik" itu seperti apa ?"
"Kalau sekarang ini Bunga menjadi apa yang Bunga sebut sebagai 'nakal', apakah ini keputusan Bunga sendiri atau keputusan orang tua Bunga sehingga Bunga menjadi 'nakal' ?
"Kalau ini akibat orang tua, sekarang seandainya orang tua Bunga sudah tiada ... mereka sudah meninggal, sehingga mereka tidak bisa melarang-larang Bunga lagi, apakah Bunga tetap memutuskan untuk 'nakal' seperti saat ini ? ... Apakah 'nakal' ini yang benar-benar Bunga mau ?
"Jadi 'nakal'nya Bunga itu keputusan Bunga atau orangtua Bunga ? Mereka yang memutuskan atau yang mempengaruhi ?"
"Jadi yang memutuskan Bunga bukan ?"
"Berarti, Bunga jugalah yang punya kuasa untuk memutuskan Bunga menjadi anak 'baik' ?"
"Dengan nakalnya Bunga seperti saat ini, kira-kira tiga tahun lagi Bunga menjadi orang yang seperti apa ? .. Lima tahun lagi seperti apa ? ... Apakah itu yang Bunga mau ?
"Kalau Bunga menganggap masalahnya dimulai dari orang tua .. okelah ... berarti mereka bermasalah .. mereka tentu butuh bantuan untuk memecahkan masalah mereka bukan ? .. Siapa yang bisa menolong masalah mereka ? ...
"Kalau Bunga menganggap mereka sendirilah yang bisa menolong dirinya sendiri, maka mereka juga melihat Bunga bermasalah dengan 'nakal'nya Bunga saat ini, sehingga mereka menganggap Bungalah yang bisa menyelesaikan masalah Bunga sendiri, bukan ?"
"Okelah, kalaupun Bunga tetap menganggap mereka bermasalah, maka nyatanya mereka sampai sekarang tetap belum bisa berubah ... berarti masalah mereka tetap ada sampai sekarang ... So, maukah Bunga menolong mereka memecahkan masalah mereka ? " ...
"Menurut Bunga, apa yang Bunga perlu lakukan untuk menolong mereka agar mengubah gaya mendidik mereka sehingga apa yang Bunga inginkan terwujud ?"
"Apakah orang yang bermasalah bisa ditolong oleh orang yang bermasalah juga ? Bisakah maling disadarkan dan diubah perilakunya oleh maling juga ?"
"Berarti, supaya Bunga bisa menolong mereka yang bermasalah, Bunga perlu jadi seperti apa?"
"Lalu, apa saja yang perlu Bunga lakukan agar Bunga sanggup untuk menolong orang tua Bunga yang bermasalah itu ?"
Wah, ... namanya juga menghayal, bisa susah disetop pertanyaan-pertanyaan lanjutannya ...***
Gratisan bisa sukses ?

"Bozz ... seminar ente ada biayanya nggak ?", salah seorang kawan bertanya.

"Ya ada lah ...", jawab saya.
"Wahhh ... ntar aja kalo udah gratis yeee", katanya.
Seorang kawan lainnya juga bilang dalam sms-nya, "Ama temen gratis dong ...".
"Diskon 100% ya bro' ..", sms lainnya masuk.
Itu adalah sebagian dari lebih banyak lagi orang yang saya kenal berharap (dan meminta) mereka bisa mengikuti workshop saya tanpa bayar.
Sebagai binatang ekonomi, permintaan-permintaan itu tentu wajar-wajar saja. Doktrin pelajaran Ekop (Ekonomi dan Koperasi) masa SMP dan SMA adalah 'manfaat maksimal, pengorbanan minimal'. Kalau teman-teman saya tadi malah 'pengorbanan maksimal, tanpa pengorbanan sama sekali'. Bagi saya lebih wajar lagi karena dalam kamus saya, itulah ciri-ciri orang yang tidak sukses.
Buat mereka yang menyadari adanya keinginan sukses (dan apa yang ada dalam alam pikir bawah sadarnya, itu yang akan mewujud menjadi kenyataan), mereka juga tahu menyadari akan keikhlasan untuk berkorban. Sukses itu dengan pengorbanan. Jer basuki mowo beo. Tidak ada suatu sukses-pun tanpa pengorbanan.
Ketika issue peminta gratis ini saya bincangkan dengan Pak Hari Subagya, trainer yang saat itu ilmunya sedang saya 'download', Pak Hari biasanya mengatakan "Bayar aja penuh dulu, nanti saya kembalikan 100%".
Saya bilang ke Pak Hari, bahwa saya telah menjawab permintaan gratis itu dengan, "Saya bukannya tidak bisa memberi gratis, tapi tidak mau. Kalau saya mau beri gratis, saya akan beri karena saya mau, bukan karena ada yang minta. Saya ingin anda sukses. Ada nggak sih orang sukses tanpa pengorbanan ?. Uang yang anda bayarkan untuk mendapat ilmu itu hanyalah simbol dari besarnya pengorbanan anda. Makin kuat keinginan anda sukses, makin sanggup anda membayar harganya. Kalau anda membayar, maka proses menanam ada dalam genggaman anda. Buah sukses yang dihasilkan sepenuhnya hak anda. Tapi kalau anda ingin buah tapi tidak mau menanam, maka pohon kesuksesan tidak berada di genggaman anda. Kesuksesan tidak berada dalam kontrol anda. Anda menunggu belas kasihan dari orang lain yang punya buah agar mau berbagi untuk anda". Panjang bukan khotbah saya lewat sms ini ?
Lain waktu, saya berbalas comment di facebook dengan provokator bangkotan Prie GS. Yang saya sukai dari Mas Prie adalah bahasanya yang benar-benar lugas dan mantap. Pernah ia menulis status, dia menyukai sambal buatan sang isteri karena pedasnya brutal. Ia menamakan sambal itu dengan 'sambal iblis'.
"Mas, mbok aku dikirimi bukunya, biar pinter", katanya.
Saya yang sudah lama mengagumi Mas Prie lalu memanfaatkan momen ini untuk melakukan manuver politik agar bisa bertemu langsung dengan beliau dan tukar-tukar pendapat (siapa tau bisa juga tukar pendapatan). Tapi pelajaran yang saya dapat adalah bahwa politik praktis yang rumit-rumit itu kalah oleh kesederhanaan esensial. Saya menjawab :
"Wah, lha wong saya ini justru belajar dari Mas Prie. Pak Fachri saja bilang kalau saya ini Mas Prie versi muda (mohon kata 'muda' ini diterima dengan ikhlas). Jadi siapa sebenarnya yang jadi gurunya ? Sebaiknya ijab kabul penyerahan buku ini pas Mas Prie lagi di Jakarta saja, sambil kongkow-kongkow minum teh (karena saya tidak ngopi)".
Mas Prie langsung membalas lagi, "Alahhh, sampeyan itu cuma diminta ngirim buku kok banyak alasan .." ***
Sabtu, Februari 07, 2009
Terampil itu menghindarkan dosa

Saya memberi tanda lampu dim kepada mobil di depan yang berjalan sangat lambat. Jalan dua jalur itu justru sebelah kiri lebih cepat daripada kanan. Padahal, kelaziman etika berlalu lintas, jalur kanan mustinya lebih cepat karena dipakai untuk menyalib. Karena sudah telanjur menyandang 'gelar' sebagai 'Mind Provocateur', sekalian saja saya jalankan 'identitas' saya itu.
Saya masih mengambil posisi di belakang sedan silver tadi. Beberapa mobil di belakang saya sudah dari tadi pindah ke jalur kiri dan tancap gas mendahului kami. Kembali jari tengah dan telunjuk saya menekan gagang lampu dim. Berkali-kali saya dim tetap tidak mau minggir. "Gila nih orang, kagak ngarti apa kalo jalur kanan buat cepat ?", kata saya dalam hati. Kalimat itu langsung diproses oleh otak saya dengan menghubungkannya ke memori yang berisi image pengalaman dan hal-hal yang menimbulkan perasaan-perasaan negatif. Dalam sepersekian detik, respon yang muncul tanpa intervensi kesadaran saya itu adalah makian 'geblekkkk', tapi dalam hati.
Saya melongok ke arah lebih depan. Jarak antara sedan ini dengan mobil depannya sangat jauh. "Busetttt .. orang ini bisa nyetir nggak sih ??" ... Gambaran dan kata-kata ini memicu kembali munculnya berbagai perasaan jengkel, lantas terakumulasi. Saya menekan klakson beberapa kali. Pada tekanan klakson terakhir, bunyi klakson mobil saya sudah ada muatan emosi marah. Bukan bunyi klakson persahabatan lagi. Sesuai dengan prosedur defense driving, setelah 'puas' mengintimidasi pengemudi sedan silver itu (persisnya hopeless), saya menoleh ke spion dalam, menghidupkan lampu sein kiri, melihat ke arah spion kiri, dan menyalib sedan silver itu dari kiri dan bergegas meninggalkan mobil 'terkutuk' itu. Saya melihat dari spion, jarak saya dengan mobil itu semakin jauh. Di belakang mobil itu masih banyak 'korban' kelambanan mobil itu.
Apakah saya berhasil memprovokasi mobil itu ? ... Sama sekali tidak. Mobil itu tidak beringsut sedikitpun baik jalur maupun kecepatannya. Yang terprovokasi adalah saya sendiri. Kemungkinan besar saya berdosa karena 'kalah' terbajak oleh emosi, sehingga melontarkan makian-makian dalam pikiran saya sendiri. Saya mengalami 'mental disorder' tadi.
Tapi apakah kekalahan saya itu merugikan ? .. Tidak bermanfaat ?. Kalau saya diam-diam saja, saya tentu saja rugi total. Maka, saya share kepada anda, bahwa berjalan di jalur paling kanan dengan kecepatan yang lebih lambat dari jalur kiri amat sangat menyusahkan orang lain.
"Sebentar .. anda harus tahu dong masalahnya kenapa orang itu ada di jalur kanan ..., nggak boleh berprasangka apa-apa dulu ... siapa tau dia mengira orang bisa bebas menyalib dia dari jalur kiri. Atau dia belum terampil mengemudi, jadi takut ngebut, atau dia bawa anak kecil sehingga jalannya pelan-pelan, atau apapun itu ... Lagipula kamu maki dia juga dia nggak dengar .. kamunya bisa berdosa memaki orang lain ... ?", mungkin anda bilang begitu.
Ooo .. jadi maksudnya saya disuruh 'biarin aja' ? .. Hmmm ... mungkin sekali saya berdosa ... Tapi buat apa saya perlu tahu kenapa orang itu lambat di jalur kanan ? Sama dengan buat apa saya perlu tahu kenapa seseorang korupsi. Kalaupun sudah dapat alasannya, tetap saja orang itu korupsi. Korupsi itu salah. Berjalan lambat di jalur kanan dalam konteks keadaan lalulintas yang seperti saya alami tadi itu salah.
Jadi dengan berusaha memahami, berempati -- atau kalau orang-orang NLP bilang perlu dilakukan reframing --, itu membuat saya jadi permisif dengan perilaku berkendara tadi ? Lain kali kalau ada kejadian serupa, saya cuekin mobil itu dan salib saja dari kiri. .... Kalau semua orang permisif, membiarkan perilaku seperti itu, kapan negeri ini jadi tertib dan berkah ?
Seandainya dia ternyata tidak tahu bahwa berjalan lambat di jalur kanan itu salah, pertanyaan saya, bagaimana caranya dia dapat SIM ? Bukankah sebelum ujian SIM seharusnya dia sudah baca-baca buku aturan dan etika berlalu lintas ? Kalau dia tidak tahu, itu sendiri sudah salah. SIM 'nembak' ? ... Ya mbok kalau 'nembak' -- yang berarti berhutang kompetensi -- dibayar dengan cara belajar lalu lintas setelah 'nembak' itu. Ngono yo ngono, ning ojo ngono orang Jawa bilang. Tidak terampil mengemudi kendaraan ? Pengemudi baru ? ...
Saya jadi dapat insight baru, bahwa ternyata kalau saya menerampilkan diri dalam hal apapun, selain saya 'selamat' mencapai tujuan, juga tidak mengganggu orang lain. Bayangkan kalau saya ini seekor kuda yang menarik sebuah kereta kencana bersama-sama sembilan teman-teman kuda lainnya, maka kecepatan kereta kencana bukan ditentukan oleh kuda yang paling cepat, tapi oleh kuda yang paling lambat. Nah, kalau kalau yang paling lambat itu saya, berarti gara-gara saya, kecepatan kereta kencana jadi lambat. Kuda yang harusnya cepat jadi frustrasi harus menyesuaikan kecepatannya dengan kemampuan berlari saya. Sebaliknya, kalau kesembilan kuda lainnya terampil berlari cepat, memaksa untuk berlari cepat dan mengabaikan saya, maka saya akhirnya seperti 'terseret-seret' dan 'numpang' power kuda-kuda lain. Bisa-bisa saya mati terseret. Apapun itu, ujung-ujungnya kecepatan kereta kencana tidak optimal. Inilah yang mungkin mendasari ajaran di defense driving, bahwa kalau kita mengemudi kendaraan di jalan yang lebarnya sulit untuk membuat mobil lain menyalib, maka hendaknya kecepatan mobil kita sama dengan kecepatan rata-rata kendaraan-kendaraan di depan. Jangan karena egois merasa punya power yang bersumber dari apapun, atau memakai 'name tag' sunday driver, lalu mengorbankan kepentingan orang lain.
Ya ya ya ... Rupanya, kalau saya terampil mengemudi, maka saya telah berjasa juga menghindarkan orang lain terjerumus dalam dosa karena memaki saya ...***
Kamis, Januari 22, 2009
Sebaliknya ...

Umumnya pelatihan angkatan kedua akan lebih dari angkatan pertama. Pengalaman menyelenggarakan pelatihan angkatan pertama memberi pelajaran dan koreksi. Entah lebih padat materinya, lebih baik metodenya, lebih berkualitas training delivery-nya, lebih baik penyelenggaraannya. Tapi kali ini manajemen klien memutuskan pelatihan kaderisasi tingkat pegawai dikurangi waktunya cukup banyak, sehingga kalau batch pertama 14 hari, angkatan kedua hanya 10 hari, atas nama efisiensi. Akibatnya, ada materi yang diterima oleh angkatan pertama, tapi tidak diterima oleh angkatan kedua. Maklum, pejabat yang memutuskan pendidikan angkatan kedua baru.
Saya kemudian menghentikan mempermasalahkan keputusan ini, karena ini keputusan klien yang harus dihormati dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Tugas saya adalah menyelenggarakan rencana dan program pendidikan ini dengan usaha terbaik dalam lingkup batasan dan sumber daya yang tersedia. Masalahnya, peserta pendidikan angkatan kedua sudah banyak berinteraksi dengan alumni pendidikan angkatan pertama. Peserta angkatan kedua sudah 'panas' dikompori oleh alumni angkatan pertama dengan cerita-cerita keseruan diklat angkatan pertama. Mereka mengalami ini dan itu yang langsung jadi referensi sekaligus membangun ekspektasi di kalangan peserta angkatan kedua.
Ketika memimpin sessi induksi, tanda-tanda 'protes' mulai muncul dari angkatan kedua. Mereka melihat jadwal pelatihan dan mempertanyakan mengapa mereka tidak menerima materi ini dan itu, dan mengapa angkatan mereka 'cuma' sekian hari. Saya tahu materi yang 'hilang' justru amat powerful membentuk perilaku mereka karena menggunakan metode tutorial --- tapi justru dihilangkan oleh klien. Saat itu saya tentu tidak mungkin menyalahkan manajemen klien dan ikut mempertanyakan hal itu di forum tadi. Jelas tidak etis. Saya cuma bilang, "Kalau angkatan pertama 14 hari, lalu angkatan anda cuma 10 hari tapi dituntut punya kualitas seperti angkatan pertama, lalu siapa sebenarnya yang lebih baik ? Siapa yang lebih tangguh ?". Mereka saat itu lantas tampak tenang dengan 'pencerahan' yang saya lemparkan lewat pertanyaan tadi. Saya tidak tahu apakah ini pencerahan, atau manipulasi persepsi. Saya juga tidak tahu apakah mereka mendapat 'insight', atau hanya nrimo karena mereka mafhum lembaga saya cuma menyelenggarakan dan tidak bisa memutuskan mengubah program.
Saya dan tim-pun tetap melaksanakan program pendidikan kaderisasi tadi dengan semangat 'liat aja nanti .. nanti juga nyesel'. Benar saja ... masukan dan saran dari saya, tim, dan peserta sendiri kepada manajemen klien akhirnya membuat klien memutuskan memperpanjang waktu pendidikan. Akhirnya angkatan pertama dan angkatan kedua seimbang juga. Rupanya melihat sisi positif dan manfaat dari situasi yang tidak sama dengan harapan, acceptance, lalu khlas dalam perjalanannya, ternyata justru mendekatkan kepada apa yang menjadi intensi awal saya.
"Aku tadi berhasil memprovokasi Galuh", kata isteri saya saat chatting di YM.
Galuh adalah teman isteri saya yang saat ini sama-sama belajar di Canberra.
"Kenapa ?", tanya saya.
"Tadinya dia masih ngerasa minder sama mahasiswa yang sekolah dengan biaya sendiri, bukan beasiswa. Aku bilang aja justru kita yang dapat beasiswa harusnya bangga, karena kemampuan kitalah sehingga ada yang percaya dan berani investasi AUS$ 200,000 ke diri kita", kata isteri saya.
"Terus, respon Galuh ?", tanya saya.
"Dia bilang, i never think that way ...".
Dalam hati saya mengagumi soulmate saya itu dalam memberi arti. Dia bisa menunjukkan wilayah blankspot pikiran temannya.
Sebaliknya, seandainya saya berada pada posisi mahasiswa yang dibiayai orang tua, maka saya akan bilang, "Saya bukannya tidak mampu mendapat beasiswa. Saya bangga, saya bisa memberi kesempatan kepada orang lain untuk mendapat beasiswa yang jatahnya memang terbatas itu. Saya bangga kepada orang tua saya yang berkorban begitu besar untuk kesuksesan saya ..."
Dari manapun berasal, semua itu rejeki dari Allah. Ujungnya, kita mendapat pendidikan. Jadi, buat apa merasa kalah, kecil, kurang, atau justru menang, besar, lebih terhadap keadaan orang lain yang berbeda dengan kita...yang penting nantinya bekal pendidikan itu mau dipakai buat apa.
Peserta pendidikan angkatan pertama mendapat pahala karena memberi pengalaman kepada penyelenggara sehingga memperbaiki penyelenggaraan angkatan kedua. Mahasiswa yang membayar sekolah sendiri memberi pahala kepada penerima beasiswa melalui pemberian kesempatan -- kalau semua keadaan diterima dan ditujukan untuk mencari keridhoanNya. Kita mendapat apa yang kita niatkan, dengan catatan : asal dilakukan.***
***
...***
Minggu, Januari 18, 2009
Alfie

"Ya Allah, saat kami menengadahkan tangan, menundukkan kepala dan hati kami, kami segera menyadari bahwa kami ini makhluk yang lemah di hadapanMu yang memerlukan pertolongan senantiasa dariMu.
Kami segera menyadari, kami berada pada tempat dan waktu yg atas izinMulah ini semua terwujud. Engkau berikan kami kebahagiaan karena salah satu dari kerabat kami, Alfie Hujiansyah dan Poppy Purbasari telah Kau persatukan dalam bahtera rumah tangga. Ini menyadarkan kami juga bahwa dua keluarga besar telah Engkau persatukan untuk saling bersilaturahim, berbagi, memberi nilai dan mendukung satu sama lain.
Untuk itu tidak ada hal yangg dapat kami ungkapkan kecuali bersyukur dan berterimakasih kepadaMu ya Allah.
Ya Allah ya Tuhan yang Maha Segala... Alfie dan Poppy memiliki cita-cita menjadikan rumahtangga mereka sakinah, mawaddah, dan rahmah. Namun untuk menuju ke cita-cita itu, mereka harus memperjuangkannya. Untuk itu kami memohon kiranya Engkau berikan kesadaran dan kekuatan dalam perjalanan mereka mencapai cita-cita mereka, dan kekuatan dalam ikhlas dan mensyukuri setiap keadaan yang Kau berikan kepada mereka, sehingga bukan hanya mereka bahagia saat mencapai cita-citanya, tetapi lebih dari itu, mereka bahagia dalam perjalanannya. Mereka mencapai cita-cita DENGAN bahagia.
Ya Allah, mohon kuatkan dan beri petunjuk kepada kami dalam menafsirkan, memaknai, mengartikan segala masalah yang kami hadapi dengan arti yang Engkau harapkan, bahwa masalah adalah anugerah dariMu untuk menjadikan otot mental, emosi, dan jiwa kami menjadi kuat dan besar. Ujian menjadikan kami naik ke kelas yang lebih tinggi lagi.
Bantulah kami menjadi diri yang berkuasa atas tubuh, pikiran, perasaan, tindakan dan nasib kami. Kami sadar bahwa nasib kami saat ini adalah hasil pilihan kami di masa lalu, dan nasib kami di masa depan adalah hasil dari pilihan kami saat ini. Sebagaimana Engkau telah sabdakan, Engkau tidak akan mengubah nasib kami kecuali kami sendiri yang mengubahnya. Untuk itu bantulah kami dengan petunjukMu ketika kami perlu memilih pikiran dan tindakan kami, agar senantiasa selaras dan sebangun dengan peta kehidupan yang telah Engkau tetapkan dalam ayat-ayatMu
Mohon beri petunjuk agar kami terhindar dari nada-nada yang membawa perpecahan, dan suara-suara yang mengakibatkan perselisihan, baik pada diri kami, keluarga kami, bangsa kami dan seluruh bangsa-bangsa di dunia ini senantiasa dalam damai.
Ampunilah kami, orang tua kami, dan pemimpin-pemimpin kami. Semoga seluruh tindakan kami selama ini Engkau ampuni jika salah, dan Engkau ridhoi jika menurutMu benar.
Akhirnya serahkan diri kami, keluarga kami dan bangsa kami kpdMu untuk kau limpahi rahmat" ...
Ini adalah penggalan doa yang saya tulis di blackberry dan saya lantunkan di resepsi pernikahan adik ipar saya, Alfie -- dengan Poppy. Script itu saya buat hanya 10 menit sebelum resepsi dimulai, padahal request Alfie ke saya tiga hari yang lalu.
Ketika Ruri adik isteri saya anfal beberapa hari sebelum wafatnya, di kamar perawatan di hadapan kerabat-kerabat, Alfie menangis. Ia tidak tega melihat penderitaan Ruri. Jarang sekali saya melihat seorang suami menangisi isterinya. Ketika Ruri akhirnya menghadap Sang Khalik, dalam beberapa kesempatan Alfie rajin mengunjungi makam Ruri.Beberapa kali isteri saya mem-forward surat-surat elektronik Alfie yang menceritakan perkembangan kehidupannya beserta dua puterinya yang masih anak-anak dan batita. Sebagian besar berisi kerisauan, kebingungan, 'penderitaan' dia dalam mengatur hidupnya yang berubah itu. Ia harus pergi keluar kota selama beberapa hari, sementara anak-anaknya perlu diurus ini-itu, supir keluar, kenangan-kenangan bersama Ruri yang muncul, dan seabrek persoalan lain. Sementara oleh kantornya, beberapa waktu mendatang ada kemungkinan ia ditempatkan di luar negeri dalam kurun waktu yang lama.
Empat bulan berlalu, akhirnya ia dihubungkan oleh staf kantornya kepada seseorang yang bernama Poppy. Yang menarik, setelah Poppy nyambung dengan anak-anak Alfie, Poppy kemudian diperkenalkan pertama kali justru kepada keluarga kami. Ia dibawa ke rumah ibu mertua saya, dan mengajak kakak ipar dan saya dan isteri berkenalan.
Ketika acara lamaran, Ibu mertua dan kami juga diajak. Selesai acara lamaran, Alfie dan anak-anak langsung mendatangi makam Ruri. Saya lihat Alfie menangis di depan makam Ruri. Saya tidak tahu benar atau tidak, tapi dalam pikiran saya, seolah-olah Alfie berkata dalam hati, "Bun .. alhamdulillah sudah ada yang meneruskan perjuanganmu .. ada yang ikhlas mau mengasihi anak-anak kita .. kamu tetap ada di hati kami sampai kapanpun ..."
Akhirnya Alfie menikah dengan Poppy hampir lima bulan setelah wafatnya Ruri. Yang mendampingi Alfie saat berada di pelaminan adalah ayahnya dan ibu mertua saya, bukan isteri ayahnya (ibu kandung Alfie sudah wafat).
"Denger-denger Alfie udah nikah lagi ya ? ... cepet banget ya ? ... belom juga kering tanah makamnya Ruri ...", begitu sebuah komentar dari seorang teman yang kenal dengan Ruri. Saya memang sudah merasa pertanyaan ini bakal muncul entah dari siapa.
Saya pikir, seandainya orang itu berada pada posisi Alfie, maka empat bulan hidup dalam kesendirian dengan berbagai kepelikan untuk mempertahankan hidup lahir batin seperti yang dialami Alfie, bukanlah waktu yang singkat. Tidak ada alasan untuk menunda hadirnya ibu pengganti untuk Abit dan Fira -- anak Alfie -- keponakan saya -- untuk mendapatkan kasih sayang seorang bunda, karena saya merasa keluaga yang baru ini tidak akan menghapus keberadaan Ruri dalam sejarah kehidupan mereka. Ruri adalah hal yang terbaik buat Alfie dan anak-anaknya, dan Poppy adalah hal yang terbaik berikutnya untuk mereka. Life must go on.
Di ujung resepsi pernikahan, seorang sepupu ipar berbisik kepada saya, "Saya banyak belajar dari keluarga Soejachmoen. Ibu begitu tegar (waktu Ruri meninggal, dan waktu mendampingi Alfie di pelaminan). Saya lihat ia menyeka pipinya. Matanya berlinang.***
Kamis, Januari 15, 2009
Jangan cuma menuntut dosen enak

"Kecuali anda, anda, dan anda -- saya menunjuk ke tiga orang mahasiswa karena sedari tadi mereka aktif menjawab dan bertanya -- saya ingin bertanya kepada yang lain", ujar saya.
"Bagaimana pendapat Anda mengenai (bla bla bla) ...... ?"
".............................", hening.
"Anda (saya menatap kepada seorang mahasiswi) ... bagaimana menurut anda ?"
" ...........................", sepi.
"Anda (saya mempersilakan mahasiswi lainnya) .. bagaimana menurut anda ?"
" ............................", sunyi.
"Apakah anda paham dengan maksud pertanyaan saya ?"
Para mahasiswa sebagian besar mengangguk.
"Kalau begitu saya bertanya dengan cara lain. Kalau ....(bla bla bla) .. bagaimana tindakan anda ?".
" ...................................", hening.
Saya segera mengakhiri sessi tadi karena memang waktu pelajaran habis. Emosi saya membajak pikiran saya. Saya perlu mengumpulkan power untuk kembali berkuasa atas perasaan saya sendiri.
Cukup lama saya duduk terdiam sambil introspeksi, apa yang membuat kali itu mahasiswa tidak menunjukkan keaktifan sama sekali. Apakah cara saya menerangkan yang 'ketinggian', atau justru 'terlalu cetek', atau ada 'pengkondisian' sedemikian rupa oleh pengajar dan metode belajar materi lain sehingga mahasiswa terprogram menjadi enggan bicara ? ... Sewaktu saya menjelaskan materi sih mereka 'trance' dan dari kalibrasi saya cukup 'menikmati'. Tapi pas ditanya, ibarat menggali sumur, saya ketemu dengan bebatuan cadas.
"Lha, supaya jelas tanya dong kepada mereka kenapa mereka begitu ?". Sebuah suara terdengar di telinga mental. Yaa bagaimana saya tahu apa yang ada di pikiran mereka, lha wong waktu saya tanya "apa yang terjadi yang anda rasakan yang membuat anda tidak menjawab pertanyaan saya ?", itu saja mereka diam.
Dalam beberapa kesempatan, saya sering dicurhati mahasiswa, kalau dosen ini atau dosen itu mengajarnya tidak enak. Yang kurang ini lah, yang terlalu itu lah. Biasanya, saya meneruskan informasi ini kepada pihak yang berwenang untuk mengevaluasi kinerja dosen.
Kalau mahasiswa punya tempat dan saluran untuk komplain dosennya tidak enak, lalu sekarang kalau saya mau komplain mahasiswanya tidak enak, saya harus kemana ?
"Lho, ya mahasiswa kan sudah membayar, jadi dosen yang tanggungjawab untuk melayani mereka mendapat ilmu dengan cara yang mereka senangi. Kan mereka customer ..", mungkin seseorang menyanggah saya seperti itu. Kalau ibarat dosen itu penjual dan mahasiswa adalah pembeli, 'kan W. Clement Stone sudah bilang, "Penjualan itu tergantung pada sikap penjualnya, bukan pada sikap prospek".
Hehehe, saya cuma berpikir, itu cara pandang jual beli -- transaksional. Customer model seperti itu tujuannya untuk 'mengkonsumsi' barang yang kita jual. Saya memilih pemahaman bahwa belajar bukanlah mengkonsumsi. Belajar adalah memproduksi. Belajar adalah transformasi. Belajar adalah berubah. Mereka datang ke kampus untuk mendapat ilmu bukan untuk dikonsumsi -- apalagi sampai tuwok kata orang Jawa --, melainkan untuk direproduksi menjadi pengetahuan, gagasan, dan rencana tindakan. Lebih jauh lagi, mereka belajar untuk menjadi apa dan bagaimana. Dosen tugasnya memfasilitasi mereka memproduksi apa yang mereka butuhkan dan bertransformasi menjadi apa yang mereka inginkan. Jadi, kalau mereka tidak mau difasilitasi, ya sudah, itu tanggungjawab mereka sendiri.
Kalau saya jadi mahasiswa, kalau saya menuntut harus mendapat dosen yang enak, maka saya juga mengharuskan diri saya sendiri menjadi menjadi mahasiswa yang enak.
"Alaaah, pakai sok proaktif ala seven habits. Emang dulu waktu kamu masih mahasiswa, mikirnya kayak gitu ? Itu kan karena sekarang kamu lagi bete gara-gara kelakuan mahasiswa itu tadi kan. Lagipula, mereka sadar nggak tujuan mereka belajar?. Mereka paham nggak kalau belajar itu mereproduksi dan bertransformasi ?", sang suara bilang begitu.
Keengganan atau penolakan seseorang, penyebabnya pasti karena belum terciptanya 'hubungan' yang baik. Saya menduga, masalahnya adalah mereka masih tidak merasa nyaman untuk bicara. Kalau saja saya bisa menciptakan suasana dan 'cuaca' yang membuat mereka nyaman bicara, tentu kejadiannya tidak seperti yang saya alami tadi. "Resistance indicates the lack of rapport", begitu Judith de Lozier mengajarkan.
Yang pasti di ujung perenungan, saya menetapkan yang salah adalah cara komunikasi saya yang tidak manjur untuk membuat para mahasiswa 'bicara', lalu memutuskan yang perlu memperbaiki diri adalah diri saya sendiri, dengan menemukan cara jitu bagaimana membuat mereka nanti mau 'bicara'. Satu lagi, saya berasumsi para mahasiswa itu hanya belum terbiasa saja. Maklum, mungkin selama SMA, ibarat koper, isi otak mereka diisi oleh tumpukan-tumpukan materi yang dijejalkan oleh pekerja pendidikan yang sedang mengejar pemenuhan target silabus. Saya bilang 'pekerja pendidikan' karena di kacamata saya berbeda dengan 'guru'. Sama dengan saya membedakan pekerja seni dan seniman. Saya bisa merasakan mana yang transaksional, dan mana yang transformasional.
Lamunan saya pecah karena sekretaris saya Inna masuk ruangan membawa segelas kopi ginseng panas.
"Pap, kopi ... dari Bang Daus ..."
"Sruuppppp ..... hmmm .... makasih, Na."...***
Selasa, Januari 06, 2009
Pelan-pelan lah ...
Sebagai biker baru, kalau ada yang mengajak touring, saya langsung sambut dengan gumbira (tidak sekedar gembira). Saking getolnya, saya ikut memprovokasi teman-teman kantor untuk ikut touring.
"Lu, ikut nggak ke Ujung Genteng ?", tanya saya kepada Lulu.
"Nggak, Pak..", jawab Lulu.
Teman saya Supri dan Defit langsung teriak, "Nhaaaaa .... kita tanya-tanya Pak ...". Defit adalah orang yang pernah jadi 'korban' provokasi saya sehingga dia akhirnya ikut touring ke Sumedang walaupun awalnya tidak mau ikut.
"Apa yang membuat Lulu nggak ikut ?", kejar saya.
"Nggak berani, Pak", kata Lulu.
"Nggak berani karena apa ?", tanya saya lagi.
"Karena belum pernah naik motor jauh ..", kata Lulu memelas.
"Jadi nggak berani karena belum pernah naik motor jauh ? Kalau begitu, begitu nanti pernah naik motor jauh, jadinya berani kan ?"
Lulu diam saja, sambil mikir jawaban untuk 'ngeles', tapi tidak dapat-dapat.
Berikutnya Viva mendekat mengambil air minum di dispenser.
"Va .. ikut touring ke Ujung Genteng ?", tanya saya.
Viva agak 'bengong' sebentar kebingungan saya tanya begitu. "Nhaaaa, sini deh kita ngobrol-ngobrol dulu ..."
Supri dan Defit cengengesan.
"Ikut kan ?", tanya saya.
"Asik sih ya ? .. tapi ... Nggak ahhhh .. takut ...", kata dia
"Sekarang kalau ada skala dari 1 sampai 10, maka skor kemungkinan loe ikut touring ada di angka brapa ?", tanya saya.
"Lima ...", jawab Viva.
"Takut apa ?", kejar saya lagi
"Ngebut ...", kata dia dengan muka merinding.
"Artinya kalau kita tidak ngebut, Viva ikut ?", tanya saya.
"Kita nggak ngebut kok, cuma jalan dengan kecepatan sama ..." jelas Supri dan Defit.
"Jalannya siang ya ? ... item panas matahari ...", sergah Viva.
Saya lalu nyamber, "Ehhh .. eloe kan liat gue nggak item abis dari Sumedang ? .. Soalnya pake sunblock 50'... Kalau ada pelindung sinar matahari yang mujarab kayak ini, eloe ikut ?"
"Ntar tidurnya dimane ?", katanya dengan logat sedikit Arab.
"Ya kita nanti sewa cottage tidur rame-rame ...".
Saya lalu menunjukkan daftar nama yang cukup panjang yang rencananya akan ikut touring. Sementara Supri membuka internet, lalu memperlihatkan foto-foto lokasi Ujung Genteng hasil pencarian google gambar.
"Tuhhh, liat .. eloe bakal liat ini pemandangan bagus banget ... sunset dan sunrise di pantai .. pokoknya asik dehhh", kata Supri.
Saya lihat Viva sudah lebih 'positif'. Saya tanya dia, "Va, sekarang dari 1 sampai 10, angka kemungkinan loe ikut di brapa ?"
"Tujuh ...", kata Viva.
"Apa yang diperlukan sehingga angkanya jadi 9 ?", tanya saya
"Izin orang tua ?", tanya Viva.
"Gampang laaaah, kan nanti bisa ada surat dari Pak Prass ..", kata Supri.
"Yo'i"... kata saya.
Keesokannya, saya tanya Viva, angkanya ternyata masih tetap tujuh. Sementara itu, angka Lulu terakhir yang tadinya 5 sekarang 6. Tidak apa-apa, wong masih dua minggu lagi, masih banyak kesempatan memprovokasi mereka. Optimis kok, soalnya kata Supri, Viva sudah mulai tanya-tanya kalau touring musti bawa baju berapa ...***
"Lu, ikut nggak ke Ujung Genteng ?", tanya saya kepada Lulu.
"Nggak, Pak..", jawab Lulu.
Teman saya Supri dan Defit langsung teriak, "Nhaaaaa .... kita tanya-tanya Pak ...". Defit adalah orang yang pernah jadi 'korban' provokasi saya sehingga dia akhirnya ikut touring ke Sumedang walaupun awalnya tidak mau ikut.
"Apa yang membuat Lulu nggak ikut ?", kejar saya.
"Nggak berani, Pak", kata Lulu.
"Nggak berani karena apa ?", tanya saya lagi.
"Karena belum pernah naik motor jauh ..", kata Lulu memelas.
"Jadi nggak berani karena belum pernah naik motor jauh ? Kalau begitu, begitu nanti pernah naik motor jauh, jadinya berani kan ?"
Lulu diam saja, sambil mikir jawaban untuk 'ngeles', tapi tidak dapat-dapat.
Berikutnya Viva mendekat mengambil air minum di dispenser.
"Va .. ikut touring ke Ujung Genteng ?", tanya saya.
Viva agak 'bengong' sebentar kebingungan saya tanya begitu. "Nhaaaa, sini deh kita ngobrol-ngobrol dulu ..."
Supri dan Defit cengengesan.
"Ikut kan ?", tanya saya.
"Asik sih ya ? .. tapi ... Nggak ahhhh .. takut ...", kata dia
"Sekarang kalau ada skala dari 1 sampai 10, maka skor kemungkinan loe ikut touring ada di angka brapa ?", tanya saya.
"Lima ...", jawab Viva.
"Takut apa ?", kejar saya lagi
"Ngebut ...", kata dia dengan muka merinding.
"Artinya kalau kita tidak ngebut, Viva ikut ?", tanya saya.
"Kita nggak ngebut kok, cuma jalan dengan kecepatan sama ..." jelas Supri dan Defit.
"Jalannya siang ya ? ... item panas matahari ...", sergah Viva.
Saya lalu nyamber, "Ehhh .. eloe kan liat gue nggak item abis dari Sumedang ? .. Soalnya pake sunblock 50'... Kalau ada pelindung sinar matahari yang mujarab kayak ini, eloe ikut ?"
"Ntar tidurnya dimane ?", katanya dengan logat sedikit Arab.
"Ya kita nanti sewa cottage tidur rame-rame ...".
Saya lalu menunjukkan daftar nama yang cukup panjang yang rencananya akan ikut touring. Sementara Supri membuka internet, lalu memperlihatkan foto-foto lokasi Ujung Genteng hasil pencarian google gambar.
"Tuhhh, liat .. eloe bakal liat ini pemandangan bagus banget ... sunset dan sunrise di pantai .. pokoknya asik dehhh", kata Supri.
Saya lihat Viva sudah lebih 'positif'. Saya tanya dia, "Va, sekarang dari 1 sampai 10, angka kemungkinan loe ikut di brapa ?"
"Tujuh ...", kata Viva.
"Apa yang diperlukan sehingga angkanya jadi 9 ?", tanya saya
"Izin orang tua ?", tanya Viva.
"Gampang laaaah, kan nanti bisa ada surat dari Pak Prass ..", kata Supri.
"Yo'i"... kata saya.
Keesokannya, saya tanya Viva, angkanya ternyata masih tetap tujuh. Sementara itu, angka Lulu terakhir yang tadinya 5 sekarang 6. Tidak apa-apa, wong masih dua minggu lagi, masih banyak kesempatan memprovokasi mereka. Optimis kok, soalnya kata Supri, Viva sudah mulai tanya-tanya kalau touring musti bawa baju berapa ...***
Minggu, Desember 21, 2008
Berani Salah

Seperti biasa, kalau saya mengajar, saya menghindari memulai kuliah dengan definisi yang saya sodorkan langsung kepada mereka. Kalau saya jadi mahasiswa, biasanya langsung bete, apalagi seandainya saya mahasiswa sore yang sudah bekerja. Bagi saya, biarlah mahasiswa sendiri yang memberi definisi dari pengalaman mereka 'bermain-main' dengan pembicaraan yang membicarakan hidup mereka itu.
Kali itu saya memberi kuliah tentang Teknik Presentasi. Saya bertanya, kalau anda mendengar tentang 'p r e s e n t a s i', apa yang terlintas dalam pikiran ?. Selain kata-kata 'menjelaskan', 'ide', 'gagasan', 'produk', 'menjual', 'depan umum', 'sistematis', 'paham', 'action', juga muncul 'deg-degan', 'blank', 'grogi', 'takut salah'. Sudah tentu perasaan ini muncul dari pengalaman mereka kalau presentasi.
Saya tiba pada giliran menyoroti 'takut salah'. Saya tanya, "Apa akibatnya takut salah ?"
Mahasiswa : "Ya jadi salah beneran, Pak."
Saya : "Naaah .. itu dia kan ? ... Salah kan pasti terjadi bagi setiap orang yang 'baru' memulai sesuatu kan ?. Jadi SALAH adalah pasti terjadi. Tinggal kita mau menghadapinya dengan TAKUT atau BERANI saja ... Trus apa manfaatnya BERANI menghadapi salah ?"
Mahasiswa : (terdiam sejenak) ... "Jadi belajar dari kesalahan Pak".
Saya : "Anda jadi makin pinter kan ? Anda jadi tahu cara-cara yang ditempuh sehingga akhirnya menjadi salah ..."
Mahasiwa : "Betul, Pak".
Saya : "Berarti anda dapat ilmu kan dari berani menghadapi salah ?. Sekarang apa ruginya BERANI menghadapi salah ?"
Mahasiswa : (diam sejenak) ..."Tidak ada, Pak.."
Saya : "Apa ruginya TAKUT menghadapi salah ?"
Mahasiswa : "Tidak dapat pelajaran ... jadinya gitu-gitu aja, Pak... Nggak maju-maju .."
Saya : "Apa manfaatnya TAKUT menghadapi salah ?"
Mahasiswa : (diam lagi sejenak) .. "nggak ada, Pak.."
Saya : "Nahhh .. kalau lebih banyak manfaatnya kalau BERANI menghadapi salah, dan banyak ruginya kalau TAKUT menghadapi salah, ... lalu anda pilih TAKUT menghadapi salah atau BERANI menghadapi salah ?"
Mahasiswa : "BERANI menghadapi salah, Pak".
Ketika saya bertanya pertanyaan yang sama soal bagaimana menyikapi kesalahan-kesalahan dalam bekerja kepada sekitar 40-an karyawan ketika memberi 'provokasi' di bengkel Setya Jaya Motor di Jatiwaringin , Pak Warto seorang teknisi berkata, "Pak ... menurut saya kalau dalam pekerjaan kita boleh BERANI menghadapi salah ... tapi dalam beribadah kepada Allah kita harus TAKUT menghadapi salah .."***
Langganan:
Postingan (Atom)