Kamis, Januari 22, 2009

Sebaliknya ...


Umumnya pelatihan angkatan kedua akan lebih dari angkatan pertama. Pengalaman menyelenggarakan pelatihan angkatan pertama memberi pelajaran dan koreksi. Entah lebih padat materinya, lebih baik metodenya, lebih berkualitas training delivery-nya, lebih baik penyelenggaraannya. Tapi kali ini manajemen klien memutuskan pelatihan kaderisasi tingkat pegawai dikurangi waktunya cukup banyak, sehingga kalau batch pertama 14 hari, angkatan kedua hanya 10 hari, atas nama efisiensi. Akibatnya, ada materi yang diterima oleh angkatan pertama, tapi tidak diterima oleh angkatan kedua. Maklum, pejabat yang memutuskan pendidikan angkatan kedua baru.

Saya kemudian menghentikan mempermasalahkan keputusan ini, karena ini keputusan klien yang harus dihormati dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Tugas saya adalah menyelenggarakan rencana dan program pendidikan ini dengan usaha terbaik dalam lingkup batasan dan sumber daya yang tersedia. Masalahnya, peserta pendidikan angkatan kedua sudah banyak berinteraksi dengan alumni pendidikan angkatan pertama. Peserta angkatan kedua sudah 'panas' dikompori oleh alumni angkatan pertama dengan cerita-cerita keseruan diklat angkatan pertama. Mereka mengalami ini dan itu yang langsung jadi referensi sekaligus membangun ekspektasi di kalangan peserta angkatan kedua.

Ketika memimpin sessi induksi, tanda-tanda 'protes' mulai muncul dari angkatan kedua. Mereka melihat jadwal pelatihan dan mempertanyakan mengapa mereka tidak menerima materi ini dan itu, dan mengapa angkatan mereka 'cuma' sekian hari. Saya tahu materi yang 'hilang' justru amat powerful membentuk perilaku mereka karena menggunakan metode tutorial --- tapi justru dihilangkan oleh klien. Saat itu saya tentu tidak mungkin menyalahkan manajemen klien dan ikut mempertanyakan hal itu di forum tadi. Jelas tidak etis. Saya cuma bilang, "Kalau angkatan pertama 14 hari, lalu angkatan anda cuma 10 hari tapi dituntut punya kualitas seperti angkatan pertama, lalu siapa sebenarnya yang lebih baik ? Siapa yang lebih tangguh ?". Mereka saat itu lantas tampak tenang dengan 'pencerahan' yang saya lemparkan lewat pertanyaan tadi. Saya tidak tahu apakah ini pencerahan, atau manipulasi persepsi. Saya juga tidak tahu apakah mereka mendapat 'insight', atau hanya nrimo karena mereka mafhum lembaga saya cuma menyelenggarakan dan tidak bisa memutuskan mengubah program.

Saya dan tim-pun tetap melaksanakan program pendidikan kaderisasi tadi dengan semangat 'liat aja nanti .. nanti juga nyesel'. Benar saja ... masukan dan saran dari saya, tim, dan peserta sendiri kepada manajemen klien akhirnya membuat klien memutuskan memperpanjang waktu pendidikan. Akhirnya angkatan pertama dan angkatan kedua seimbang juga. Rupanya melihat sisi positif dan manfaat dari situasi yang tidak sama dengan harapan, acceptance, lalu khlas dalam perjalanannya, ternyata justru mendekatkan kepada apa yang menjadi intensi awal saya.

"Aku tadi berhasil memprovokasi Galuh", kata isteri saya saat chatting di YM.

Galuh adalah teman isteri saya yang saat ini sama-sama belajar di Canberra.

"Kenapa ?", tanya saya.

"Tadinya dia masih ngerasa minder sama mahasiswa yang sekolah dengan biaya sendiri, bukan beasiswa. Aku bilang aja justru kita yang dapat beasiswa harusnya bangga, karena kemampuan kitalah sehingga ada yang percaya dan berani investasi AUS$ 200,000 ke diri kita", kata isteri saya.

"Terus, respon Galuh ?", tanya saya.

"Dia bilang, i never think that way ...".

Dalam hati saya mengagumi soulmate saya itu dalam memberi arti. Dia bisa menunjukkan wilayah blankspot pikiran temannya.

Sebaliknya, seandainya saya berada pada posisi mahasiswa yang dibiayai orang tua, maka saya akan bilang, "Saya bukannya tidak mampu mendapat beasiswa. Saya bangga, saya bisa memberi kesempatan kepada orang lain untuk mendapat beasiswa yang jatahnya memang terbatas itu. Saya bangga kepada orang tua saya yang berkorban begitu besar untuk kesuksesan saya ..."

Dari manapun berasal, semua itu rejeki dari Allah. Ujungnya, kita mendapat pendidikan. Jadi, buat apa merasa kalah, kecil, kurang, atau justru menang, besar, lebih terhadap keadaan orang lain yang berbeda dengan kita...yang penting nantinya bekal pendidikan itu mau dipakai buat apa.

Peserta pendidikan angkatan pertama mendapat pahala karena memberi pengalaman kepada penyelenggara sehingga memperbaiki penyelenggaraan angkatan kedua. Mahasiswa yang membayar sekolah sendiri memberi pahala kepada penerima beasiswa melalui pemberian kesempatan -- kalau semua keadaan diterima dan ditujukan untuk mencari keridhoanNya. Kita mendapat apa yang kita niatkan, dengan catatan : asal dilakukan.***


***


...***

Minggu, Januari 18, 2009

Alfie


"Ya Allah, saat kami menengadahkan tangan, menundukkan kepala dan hati kami, kami segera menyadari bahwa kami ini makhluk yang lemah di hadapanMu yang memerlukan pertolongan senantiasa dariMu.

Kami segera menyadari, kami berada pada tempat dan waktu yg atas izinMulah ini semua terwujud. Engkau berikan kami kebahagiaan karena salah satu dari kerabat kami, Alfie Hujiansyah dan Poppy Purbasari telah Kau persatukan dalam bahtera rumah tangga. Ini menyadarkan kami juga bahwa dua keluarga besar telah Engkau persatukan untuk saling bersilaturahim, berbagi, memberi nilai dan mendukung satu sama lain.

Untuk itu tidak ada hal yangg dapat kami ungkapkan kecuali bersyukur dan berterimakasih kepadaMu ya Allah.

Ya Allah ya Tuhan yang Maha Segala... Alfie dan Poppy memiliki cita-cita menjadikan rumahtangga mereka sakinah, mawaddah, dan rahmah. Namun untuk menuju ke cita-cita itu, mereka harus memperjuangkannya. Untuk itu kami memohon kiranya Engkau berikan kesadaran dan kekuatan dalam perjalanan mereka mencapai cita-cita mereka, dan kekuatan dalam ikhlas dan mensyukuri setiap keadaan yang Kau berikan kepada mereka, sehingga bukan hanya mereka bahagia saat mencapai cita-citanya, tetapi lebih dari itu, mereka bahagia dalam perjalanannya. Mereka mencapai cita-cita DENGAN bahagia.

Ya Allah, mohon kuatkan dan beri petunjuk kepada kami dalam menafsirkan, memaknai, mengartikan segala masalah yang kami hadapi dengan arti yang Engkau harapkan, bahwa masalah adalah anugerah dariMu untuk menjadikan otot mental, emosi, dan jiwa kami menjadi kuat dan besar. Ujian menjadikan kami naik ke kelas yang lebih tinggi lagi.

Bantulah kami menjadi diri yang berkuasa atas tubuh, pikiran, perasaan, tindakan dan nasib kami. Kami sadar bahwa nasib kami saat ini adalah hasil pilihan kami di masa lalu, dan nasib kami di masa depan adalah hasil dari pilihan kami saat ini. Sebagaimana Engkau telah sabdakan, Engkau tidak akan mengubah nasib kami kecuali kami sendiri yang mengubahnya. Untuk itu bantulah kami dengan petunjukMu ketika kami perlu memilih pikiran dan tindakan kami, agar senantiasa selaras dan sebangun dengan peta kehidupan yang telah Engkau tetapkan dalam ayat-ayatMu

Mohon beri petunjuk agar kami terhindar dari nada-nada yang membawa perpecahan, dan suara-suara yang mengakibatkan perselisihan, baik pada diri kami, keluarga kami, bangsa kami dan seluruh bangsa-bangsa di dunia ini senantiasa dalam damai.

Ampunilah kami, orang tua kami, dan pemimpin-pemimpin kami. Semoga seluruh tindakan kami selama ini Engkau ampuni jika salah, dan Engkau ridhoi jika menurutMu benar.

Akhirnya serahkan diri kami, keluarga kami dan bangsa kami kpdMu untuk kau limpahi rahmat" ...

Ini adalah penggalan doa yang saya tulis di blackberry dan saya lantunkan di resepsi pernikahan adik ipar saya, Alfie -- dengan Poppy. Script itu saya buat hanya 10 menit sebelum resepsi dimulai, padahal request Alfie ke saya tiga hari yang lalu.

Ketika Ruri adik isteri saya anfal beberapa hari sebelum wafatnya, di kamar perawatan di hadapan kerabat-kerabat, Alfie menangis. Ia tidak tega melihat penderitaan Ruri. Jarang sekali saya melihat seorang suami menangisi isterinya. Ketika Ruri akhirnya menghadap Sang Khalik, dalam beberapa kesempatan Alfie rajin mengunjungi makam Ruri.

Beberapa kali isteri saya mem-forward surat-surat elektronik Alfie yang menceritakan perkembangan kehidupannya beserta dua puterinya yang masih anak-anak dan batita. Sebagian besar berisi kerisauan, kebingungan, 'penderitaan' dia dalam mengatur hidupnya yang berubah itu. Ia harus pergi keluar kota selama beberapa hari, sementara anak-anaknya perlu diurus ini-itu, supir keluar, kenangan-kenangan bersama Ruri yang muncul, dan seabrek persoalan lain. Sementara oleh kantornya, beberapa waktu mendatang ada kemungkinan ia ditempatkan di luar negeri dalam kurun waktu yang lama.

Empat bulan berlalu, akhirnya ia dihubungkan oleh staf kantornya kepada seseorang yang bernama Poppy. Yang menarik, setelah Poppy nyambung dengan anak-anak Alfie, Poppy kemudian diperkenalkan pertama kali justru kepada keluarga kami. Ia dibawa ke rumah ibu mertua saya, dan mengajak kakak ipar dan saya dan isteri berkenalan.

Ketika acara lamaran, Ibu mertua dan kami juga diajak. Selesai acara lamaran, Alfie dan anak-anak langsung mendatangi makam Ruri. Saya lihat Alfie menangis di depan makam Ruri. Saya tidak tahu benar atau tidak, tapi dalam pikiran saya, seolah-olah Alfie berkata dalam hati, "Bun .. alhamdulillah sudah ada yang meneruskan perjuanganmu .. ada yang ikhlas mau mengasihi anak-anak kita .. kamu tetap ada di hati kami sampai kapanpun ..."

Akhirnya Alfie menikah dengan Poppy hampir lima bulan setelah wafatnya Ruri. Yang mendampingi Alfie saat berada di pelaminan adalah ayahnya dan ibu mertua saya, bukan isteri ayahnya (ibu kandung Alfie sudah wafat).

"Denger-denger Alfie udah nikah lagi ya ? ... cepet banget ya ? ... belom juga kering tanah makamnya Ruri ...", begitu sebuah komentar dari seorang teman yang kenal dengan Ruri. Saya memang sudah merasa pertanyaan ini bakal muncul entah dari siapa.

Saya pikir, seandainya orang itu berada pada posisi Alfie, maka empat bulan hidup dalam kesendirian dengan berbagai kepelikan untuk mempertahankan hidup lahir batin seperti yang dialami Alfie, bukanlah waktu yang singkat. Tidak ada alasan untuk menunda hadirnya ibu pengganti untuk Abit dan Fira -- anak Alfie -- keponakan saya -- untuk mendapatkan kasih sayang seorang bunda, karena saya merasa keluaga yang baru ini tidak akan menghapus keberadaan Ruri dalam sejarah kehidupan mereka. Ruri adalah hal yang terbaik buat Alfie dan anak-anaknya, dan Poppy adalah hal yang terbaik berikutnya untuk mereka. Life must go on.

Di ujung resepsi pernikahan, seorang sepupu ipar berbisik kepada saya, "Saya banyak belajar dari keluarga Soejachmoen. Ibu begitu tegar (waktu Ruri meninggal, dan waktu mendampingi Alfie di pelaminan). Saya lihat ia menyeka pipinya. Matanya berlinang.***

Kamis, Januari 15, 2009

Jangan cuma menuntut dosen enak


"Kecuali anda, anda, dan anda -- saya menunjuk ke tiga orang mahasiswa karena sedari tadi mereka aktif menjawab dan bertanya -- saya ingin bertanya kepada yang lain", ujar saya.

"Bagaimana pendapat Anda mengenai (bla bla bla) ...... ?"
".............................", hening.
"Anda (saya menatap kepada seorang mahasiswi) ... bagaimana menurut anda ?"
" ...........................", sepi.
"Anda (saya mempersilakan mahasiswi lainnya) .. bagaimana menurut anda ?"
" ............................", sunyi.

"Apakah anda paham dengan maksud pertanyaan saya ?"

Para mahasiswa sebagian besar mengangguk.

"Kalau begitu saya bertanya dengan cara lain. Kalau ....(bla bla bla) .. bagaimana tindakan anda ?".
" ...................................", hening.

Saya segera mengakhiri sessi tadi karena memang waktu pelajaran habis. Emosi saya membajak pikiran saya. Saya perlu mengumpulkan power untuk kembali berkuasa atas perasaan saya sendiri.

Cukup lama saya duduk terdiam sambil introspeksi, apa yang membuat kali itu mahasiswa tidak menunjukkan keaktifan sama sekali. Apakah cara saya menerangkan yang 'ketinggian', atau justru 'terlalu cetek', atau ada 'pengkondisian' sedemikian rupa oleh pengajar dan metode belajar materi lain sehingga mahasiswa terprogram menjadi enggan bicara ? ... Sewaktu saya menjelaskan materi sih mereka 'trance' dan dari kalibrasi saya cukup 'menikmati'. Tapi pas ditanya, ibarat menggali sumur, saya ketemu dengan bebatuan cadas.

"Lha, supaya jelas tanya dong kepada mereka kenapa mereka begitu ?". Sebuah suara terdengar di telinga mental. Yaa bagaimana saya tahu apa yang ada di pikiran mereka, lha wong waktu saya tanya "apa yang terjadi yang anda rasakan yang membuat anda tidak menjawab pertanyaan saya ?", itu saja mereka diam.

Dalam beberapa kesempatan, saya sering dicurhati mahasiswa, kalau dosen ini atau dosen itu mengajarnya tidak enak. Yang kurang ini lah, yang terlalu itu lah. Biasanya, saya meneruskan informasi ini kepada pihak yang berwenang untuk mengevaluasi kinerja dosen.

Kalau mahasiswa punya tempat dan saluran untuk komplain dosennya tidak enak, lalu sekarang kalau saya mau komplain mahasiswanya tidak enak, saya harus kemana ?

"Lho, ya mahasiswa kan sudah membayar, jadi dosen yang tanggungjawab untuk melayani mereka mendapat ilmu dengan cara yang mereka senangi. Kan mereka customer ..", mungkin seseorang menyanggah saya seperti itu. Kalau ibarat dosen itu penjual dan mahasiswa adalah pembeli, 'kan W. Clement Stone sudah bilang, "Penjualan itu tergantung pada sikap penjualnya, bukan pada sikap prospek".

Hehehe, saya cuma berpikir, itu cara pandang jual beli -- transaksional. Customer model seperti itu tujuannya untuk 'mengkonsumsi' barang yang kita jual. Saya memilih pemahaman bahwa belajar bukanlah mengkonsumsi. Belajar adalah memproduksi. Belajar adalah transformasi. Belajar adalah berubah. Mereka datang ke kampus untuk mendapat ilmu bukan untuk dikonsumsi -- apalagi sampai tuwok kata orang Jawa --, melainkan untuk direproduksi menjadi pengetahuan, gagasan, dan rencana tindakan. Lebih jauh lagi, mereka belajar untuk menjadi apa dan bagaimana. Dosen tugasnya memfasilitasi mereka memproduksi apa yang mereka butuhkan dan bertransformasi menjadi apa yang mereka inginkan. Jadi, kalau mereka tidak mau difasilitasi, ya sudah, itu tanggungjawab mereka sendiri.

Kalau saya jadi mahasiswa, kalau saya menuntut harus mendapat dosen yang enak, maka saya juga mengharuskan diri saya sendiri menjadi menjadi mahasiswa yang enak.

"Alaaah, pakai sok proaktif ala seven habits. Emang dulu waktu kamu masih mahasiswa, mikirnya kayak gitu ? Itu kan karena sekarang kamu lagi bete gara-gara kelakuan mahasiswa itu tadi kan. Lagipula, mereka sadar nggak tujuan mereka belajar?. Mereka paham nggak kalau belajar itu mereproduksi dan bertransformasi ?", sang suara bilang begitu.

Keengganan atau penolakan seseorang, penyebabnya pasti karena belum terciptanya 'hubungan' yang baik. Saya menduga, masalahnya adalah mereka masih tidak merasa nyaman untuk bicara. Kalau saja saya bisa menciptakan suasana dan 'cuaca' yang membuat mereka nyaman bicara, tentu kejadiannya tidak seperti yang saya alami tadi. "Resistance indicates the lack of rapport", begitu Judith de Lozier mengajarkan.

Yang pasti di ujung perenungan, saya menetapkan yang salah adalah cara komunikasi saya yang tidak manjur untuk membuat para mahasiswa 'bicara', lalu memutuskan yang perlu memperbaiki diri adalah diri saya sendiri, dengan menemukan cara jitu bagaimana membuat mereka nanti mau 'bicara'. Satu lagi, saya berasumsi para mahasiswa itu hanya belum terbiasa saja. Maklum, mungkin selama SMA, ibarat koper, isi otak mereka diisi oleh tumpukan-tumpukan materi yang dijejalkan oleh pekerja pendidikan yang sedang mengejar pemenuhan target silabus. Saya bilang 'pekerja pendidikan' karena di kacamata saya berbeda dengan 'guru'. Sama dengan saya membedakan pekerja seni dan seniman. Saya bisa merasakan mana yang transaksional, dan mana yang transformasional.

Lamunan saya pecah karena sekretaris saya Inna masuk ruangan membawa segelas kopi ginseng panas.

"Pap, kopi ... dari Bang Daus ..."
"Sruuppppp ..... hmmm .... makasih, Na."...***

Selasa, Januari 06, 2009

Pelan-pelan lah ...

Sebagai biker baru, kalau ada yang mengajak touring, saya langsung sambut dengan gumbira (tidak sekedar gembira). Saking getolnya, saya ikut memprovokasi teman-teman kantor untuk ikut touring.

"Lu, ikut nggak ke Ujung Genteng ?", tanya saya kepada Lulu.
"Nggak, Pak..", jawab Lulu.

Teman saya Supri dan Defit langsung teriak, "Nhaaaaa .... kita tanya-tanya Pak ...". Defit adalah orang yang pernah jadi 'korban' provokasi saya sehingga dia akhirnya ikut touring ke Sumedang walaupun awalnya tidak mau ikut.

"Apa yang membuat Lulu nggak ikut ?", kejar saya.
"Nggak berani, Pak", kata Lulu.
"Nggak berani karena apa ?", tanya saya lagi.
"Karena belum pernah naik motor jauh ..", kata Lulu memelas.
"Jadi nggak berani karena belum pernah naik motor jauh ? Kalau begitu, begitu nanti pernah naik motor jauh, jadinya berani kan ?"
Lulu diam saja, sambil mikir jawaban untuk 'ngeles', tapi tidak dapat-dapat.

Berikutnya Viva mendekat mengambil air minum di dispenser.

"Va .. ikut touring ke Ujung Genteng ?", tanya saya.

Viva agak 'bengong' sebentar kebingungan saya tanya begitu. "Nhaaaa, sini deh kita ngobrol-ngobrol dulu ..."

Supri dan Defit cengengesan.

"Ikut kan ?", tanya saya.
"Asik sih ya ? .. tapi ... Nggak ahhhh .. takut ...", kata dia
"Sekarang kalau ada skala dari 1 sampai 10, maka skor kemungkinan loe ikut touring ada di angka brapa ?", tanya saya.
"Lima ...", jawab Viva.
"Takut apa ?", kejar saya lagi
"Ngebut ...", kata dia dengan muka merinding.
"Artinya kalau kita tidak ngebut, Viva ikut ?", tanya saya.
"Kita nggak ngebut kok, cuma jalan dengan kecepatan sama ..." jelas Supri dan Defit.
"Jalannya siang ya ? ... item panas matahari ...", sergah Viva.
Saya lalu nyamber, "Ehhh .. eloe kan liat gue nggak item abis dari Sumedang ? .. Soalnya pake sunblock 50'... Kalau ada pelindung sinar matahari yang mujarab kayak ini, eloe ikut ?"
"Ntar tidurnya dimane ?", katanya dengan logat sedikit Arab.
"Ya kita nanti sewa cottage tidur rame-rame ...".

Saya lalu menunjukkan daftar nama yang cukup panjang yang rencananya akan ikut touring. Sementara Supri membuka internet, lalu memperlihatkan foto-foto lokasi Ujung Genteng hasil pencarian google gambar.

"Tuhhh, liat .. eloe bakal liat ini pemandangan bagus banget ... sunset dan sunrise di pantai .. pokoknya asik dehhh", kata Supri.

Saya lihat Viva sudah lebih 'positif'. Saya tanya dia, "Va, sekarang dari 1 sampai 10, angka kemungkinan loe ikut di brapa ?"
"Tujuh ...", kata Viva.
"Apa yang diperlukan sehingga angkanya jadi 9 ?", tanya saya
"Izin orang tua ?", tanya Viva.
"Gampang laaaah, kan nanti bisa ada surat dari Pak Prass ..", kata Supri.
"Yo'i"... kata saya.

Keesokannya, saya tanya Viva, angkanya ternyata masih tetap tujuh. Sementara itu, angka Lulu terakhir yang tadinya 5 sekarang 6. Tidak apa-apa, wong masih dua minggu lagi, masih banyak kesempatan memprovokasi mereka. Optimis kok, soalnya kata Supri, Viva sudah mulai tanya-tanya kalau touring musti bawa baju berapa ...***

Minggu, Desember 21, 2008

Berani Salah


Seperti biasa, kalau saya mengajar, saya menghindari memulai kuliah dengan definisi yang saya sodorkan langsung kepada mereka. Kalau saya jadi mahasiswa, biasanya langsung bete, apalagi seandainya saya mahasiswa sore yang sudah bekerja. Bagi saya, biarlah mahasiswa sendiri yang memberi definisi dari pengalaman mereka 'bermain-main' dengan pembicaraan yang membicarakan hidup mereka itu.

Kali itu saya memberi kuliah tentang Teknik Presentasi. Saya bertanya, kalau anda mendengar tentang 'p r e s e n t a s i', apa yang terlintas dalam pikiran ?. Selain kata-kata 'menjelaskan', 'ide', 'gagasan', 'produk', 'menjual', 'depan umum', 'sistematis', 'paham', 'action', juga muncul 'deg-degan', 'blank', 'grogi', 'takut salah'. Sudah tentu perasaan ini muncul dari pengalaman mereka kalau presentasi.

Saya tiba pada giliran menyoroti 'takut salah'. Saya tanya, "Apa akibatnya takut salah ?"
Mahasiswa : "Ya jadi salah beneran, Pak."
Saya : "Naaah .. itu dia kan ? ... Salah kan pasti terjadi bagi setiap orang yang 'baru' memulai sesuatu kan ?. Jadi SALAH adalah pasti terjadi. Tinggal kita mau menghadapinya dengan TAKUT atau BERANI saja ... Trus apa manfaatnya BERANI menghadapi salah ?"
Mahasiswa : (terdiam sejenak) ... "Jadi belajar dari kesalahan Pak".
Saya : "Anda jadi makin pinter kan ? Anda jadi tahu cara-cara yang ditempuh sehingga akhirnya menjadi salah ..."
Mahasiwa : "Betul, Pak".
Saya : "Berarti anda dapat ilmu kan dari berani menghadapi salah ?. Sekarang apa ruginya BERANI menghadapi salah ?"
Mahasiswa : (diam sejenak) ..."Tidak ada, Pak.."
Saya : "Apa ruginya TAKUT menghadapi salah ?"
Mahasiswa : "Tidak dapat pelajaran ... jadinya gitu-gitu aja, Pak... Nggak maju-maju .."
Saya : "Apa manfaatnya TAKUT menghadapi salah ?"
Mahasiswa : (diam lagi sejenak) .. "nggak ada, Pak.."
Saya : "Nahhh .. kalau lebih banyak manfaatnya kalau BERANI menghadapi salah, dan banyak ruginya kalau TAKUT menghadapi salah, ... lalu anda pilih TAKUT menghadapi salah atau BERANI menghadapi salah ?"
Mahasiswa : "BERANI menghadapi salah, Pak".

Ketika saya bertanya pertanyaan yang sama soal bagaimana menyikapi kesalahan-kesalahan dalam bekerja kepada sekitar 40-an karyawan ketika memberi 'provokasi' di bengkel Setya Jaya Motor di Jatiwaringin , Pak Warto seorang teknisi berkata, "Pak ... menurut saya kalau dalam pekerjaan kita boleh BERANI menghadapi salah ... tapi dalam beribadah kepada Allah kita harus TAKUT menghadapi salah .."***

Sabtu, November 22, 2008

Makin deh...


Ini cerita waktu saya masih takut bukan main sama kecoa. Karena saya bermusuhan dengan kecoa, otomatis segala yang terkait dengan kecoa masuk ke dalam daftar hitam saya. Radar mental saya aktifkan 24 jam dan alarm akan berbunyi ketika radar mental menangkap tanda-tanda yang mendekati musuh saya itu. Tanda-tanda itu bisa gambar, suara, bau.

Suatu malam saya nongkrong makan nasi goreng bersama teman-teman. Tiba-tiba saya mencium bau musuh saya itu.

"hmmm .. ada kecoa nih ...", kata saya.

Teman yang tidak takut dengan kecoa heran kenapa saya bisa tahu kalau di sekitar saya ada kecoa.

Benar saja, dari jarak 3 meteran, tampak sesosok kecoa sedang mengendap-endap di pinggir got. Maklum, saya nongkrong di Amigos (Agak minggir got sedikit). Sungutnya bergoyang-goyang. Saya tidak tahu dia sedang apa, tapi buat saya dia sedang 'meledek' saya.

Saya kembali meneruskan suapan nasi goreng berjubah suwiran ayam dan bermahkota telur ceplok setengah matang -- tentu dengan level kewaspadaan yang meningkat.

Tiba-tiba .... wushhhhhh ... ada 'sesuatu' yang 'terbang' dari atas menuju bawah, dan ketika benda itu tepat di samping pipi kanan saya ...... zeeeeppppppp .... tangan saya refleks men-smash benda itu. Saya mengira itu kecoa terbang. Akibatnya, tangan kiri saya yang memegang piring nasi berguncang keras, dan nasi-nasi berceceran di lantai. Teman-teman langsung menoleh ke arah saya. Saya terengah-engah kaget.

Begitu tahu benda yang saya smash itu adalah daun kering yang jatuh dari pohon, teman-teman yang tahu soal phobia saya langsung tertawa berbonus nyela.

Suatu ketika saya habis nonton film horor, dimana di film tadi tokoh sentralnya adalah kuntilanak. Saya masuk kamar mandi dan mengambil air wudhu. Tiba-tiba, entah karena tersenggol atau apa, kepala shower jatuh, dan dalam sepersekian detik saya loncat mengambil kuda-kuda silat !. Saya mengira ada serangan kuntilanak. Padahal, sebelum-sebelumnya, kalau ada benda jatuh, reaksi saya tidak terlalu theatrical.

Ketika kita takut terhadap atau kepada sesuatu, sebenarnya tanpa sadar fokus perhatian kita kepada hal yang kita takutkan tadi makin besar. Tanpa sadar kita makin sadar akan hal tadi. Segala yang terasosiasi dengan apa yang kita takutkan itu menjadi 'dekat' dengan perhatian kita. Akibatnya, justru ketakutan itu makin nyata dan hadir dalam kehidupan kita.

Seorang teman yang kuper (kurang perhatian) sehingga dia sering caper (cari perhatian) mengirim SMS kepada saya. Dia tanya apa saya tersinggung atau marah karena beberapa SMS 'caper'nya tidak saya jawab. Saya jawab, tidak. Kalau marah saya pasti bilang, tidak diam.

Lalu dia melanjutkan, "Aku paling takut konflik dan berusaha menghindari konflik. Aku nggak mau berantem".

Dia tidak sadar, bahwa justru mindset semacam itu nyatanya membawa dia sering berada dalam keadaan konflik. Kenapa bisa begitu ? Konflik adalah salah satu 'mahluk' ciptaan manusia yang akan terus ada selama kita berhubungan dengan orang lain. Konflik itu netral. Konflik itu hanyalah situasi perbedaan pikiran antara satu orang dengan orang lain. Pikiran mewujud menjadi tindakan dan hasil.

Sama dengan saya yang tidak bisa menolak kehadiran kecoa. Kecoa pasti ada, tinggal bagaimana kita bersikap tenang dan bertindak agar kecoa itu pergi (pergi dalam keadaan hidup atau mati, hehehe). Kita tidak bisa menolak kehadiran konflik. Yang bisa kita lakukan dalam kendali kita adalah bersikap tenang, dan mencari cara menyelesaikannya. Itu saja. Judulnya adalah berani. Berani menerima konflik dan menyelesaikan konflik.

Nah, ketika teman saya itu tidak mau ada konflik, sementara selama hidup dia pasti bertemu konflik, bukankah itu sudah konflik itu sendiri? Jadi konflik itu dia ciptakan sendiri.

"Ah, ngomong doang... memangnya kamu sudah bisa tenang kalau didatangi kecoa ?" Mungkin itu pertanyaan anda kepada saya.

Saya jawab,"alhamdulillah ... belum".***

Sabtu, November 15, 2008

Yakin Aja (by. Inna Indryani)


November 12th, 2008 by ladyfi06


Selasa tanggal 11 November 2008 ada acara wisuda Mahasiswa S1 STIE Dharma Bumiputera yang notabene nya saya menjadi MC…ga lucu kan kalo mbak MC nya berambut gondrong dan awut-awutan (secara rambut ku kruwel binti ikal plus suara cempreng lagi)…hehehe, yup suara ku emang terlalu melengking sedemikian sehingga kalo mau jadi MC masih rada-rada ga pede sama suara sendiri…dibandingkan dengan mbak-mbak MC yang biasa kita liat diacara-acara resmi…
Akhirnya dapet deh salon baru di pinggir jalan….pekerjanya mayoritas laki-laki kemayu yang lihai sekali memangkas rambut wanita…
Sedang asyik-asyiknya memangkas rambut saya, sang pemangkas rambut diajak ngobrol sama temannya :
Temannya : Mas, kita kan disini baru ya…udah gitu disini sepi lagi…
Gimana kalo salon kita ga laku ya?
Sang Pemangkas : Hus…hindari berpikiran kayak gitu…
Pikirkan kita sedang melayani buanyak tamu…
Bayangkan antrian tamu yang menunggu jasa kita…
Yakin aja lagi kita pasti mampu memuaskan pelanggan dengan keterampilan kita
Sehingga salon kita laku, jadinya kita semangat kerja…
Temannya : Yah kalo yakin doang mah gampang, tapi kenyataannya kan disini sepi
Sang Pemangkas : Nah kan udah gampang tuh yakin…sekarang mantabkan keyakinan ditambah dengan hati yang ikhlas..betul ga?
Temannya : hahaha…bisa aja lu, dapet darimana tuh kata-kata…
Sang Pemangkas : hehehe…ada aja…
Ups…disaat hati lagi ga pede sama suara sendiri, tiba-tiba dikasih pelajaran yang ga disangka-sangka…yup…kita harus yakin dengan kemampuan kita sehingga mampu memuaskan pelanggan…yup…yakin…
Yakin jadi MC nanti…hehehe…
Tapi ngomong-ngomong, tukang pangkas rambut dapet dari mana ya kata-kata kayak gitu…apa karena dia suka buka website http://www.provokasi-prass.blogspot.com…atau juga dia sering dengerin Smart FM….hehehe…

Sabtu, November 08, 2008

Dari bayangan jadi beneran (kisah cukur)

Sudah beberapa hari saya agak bingung memikirkan bagaimana saya memperindah penampilan kepala saya, alias cukur. Ini bukan karena Dede sahabat saya di Ksatria Atma Mahakam (alumni Pramuka SMA 6) mengatakan kepada isteri saya bahwa saya 'lagi cakep-cakepnya', tapi memang karena sudah tiga minggu rambut saya tidak dipangkas. Maklum, model rambut semi plontos kayak punya saya ini daur hidupnya lebih pendek daripada model panjang sepuluh tahun yang lalu.

Tiga hari ini saya agak hectic memikirkan dan menangani beberapa pekerjaan di kantor, termasuk acceptance karena ada dua program pendidikan dan pelatihan yang tertunda gara-gara dari 18 dan 14 hari durasi diklat yang saya ajukan, dipangkas hanya tinggal 5 dan 4 hari. Saya tidak mau ribut dulu karena saya tahu akar masalahnya adalah belum adanya dialog langsung antara pihak saya dan direksi yang memutuskan untuk 'sambung-pikir' alias memahami konsep masing-masing, jadi saya juga tidak tahu outcome apa yang diinginkan oleh Direksi dengan 5 dan 4 hari.

Ketika menulis blog ini, saya sedang menunggu ibu saya belanja di Pasar Ciputat. Ini hari Minggu. Besok Senin saya punya agenda seabrek, mulai dari rencana siaran langsung di D-FM, rekaman kapsul 'Provokasi' di Smart FM, dan gladiresik wisuda, dimana saya perlu turun langsung memberi 'roh' dan memastikan lagu "Menjelang" yang saya buat tahun 1986 bisa dinyanyikan dengan 'soul' yang pas oleh Paduan Suara. Hari Selasa-nya adalah wisuda sarjana STIE Dharma Bumiputera dimana saya akan memberi pidato selaku Ketua Yayasan. Itu berarti kebutuhan untuk berambut rapi memang sudah mendesak.

Di rumah sebelum berangkat, saya berharap, sembari menunggu ibu saya menelusuri pasar, mudah-mudahan ada barber shop yang buka, meskipun saya agak ragu karena masih terlalu pagi. Hanya saat inilah waktu untuk saya bercukur, karena siangnya saya kondangan walimatussafaar Pak Harsanto, lalu doa bersama untuk sahabat saya Yoyok-Padmono di rumah Ical, dan malamnya kondangan mantan mahasiswa bimbingan saya Danang.

Di Pasar Ciputat, saya parkir di sebuah tempat mirip pertokoan. Saya parkir di depan deretan toko yang masih tutup. Saya online sebentar dan tiba-tiba 'terusik' oleh aktivitas pemilik toko di depan mobil saya parkir membuka rolling door tokonya. Saya masih meneruskan chatting saya dengan isteri saya, Uwie, Chandi, dan Mira. Begitu saya 'tersadar', saya melihat ke arah toko yang sudah siap kunjung. Ternyata itu bukan toko, tapi tempat Pangkas Rambut !

Problem solved! Thought becomes thing. Oh ya, biasanya saya bercukur di beberapa tempat, nuansanya Nyunda Pisan karena juru pangkasnya berasal dari Jawa Barat seputar Tasikmalaya. Baru kali ini saya dipangkas dengan ambience bahasa dan logat Padang karena ternyata juru pangkasnya dari Sumatera Barat...***

Kamis, November 06, 2008

Lontoooooong


"Ini semua gara-gara Yasmin !!! .... awas ... tunggu pembalasanku ... akan aku buat hidupmu menderita selamanya ...!", geram seorang 'tante' yang gagal untuk merebut posisi enak di kehidupan 'Alfino'.

"Hehhhhh !! .. ngapain kamu masih di sini ?? .. kamu itu pembawa sial ! .. cepet sana keluar ! .."

Klik ... pindah ke stasiun sebelah...

"Mumpung ibunya pergi .... anak itu bisa aku manfaatkan buat mengemis ... aku bakal dapet banyak duit ... iiihihihihiiii .."

Klik .. pindah ke stasiun sebelah...

"Hehhhhh!!! ... Carissa ...Kamu anak kampung ! ... tidak pantas kamu hidup bersama Mario !"

Klik .. pindah ke stasiun sebelah

"Kalau dia hamil, itu karena gue di jebak ! .... Eh, Son, denger ya .... gue tidak akan bertanggungjawab !" ...

Klik ... pindah ke stasiun lain setelah 1 jam.

"Hmmm ... kalian semua bodoh ! .... lihat, .. sebentar lagi perusahaan itu akan jatuh ke tanganku ..."

Toloooooooonggggg .... ibuku dan mungkin ibu-ibu lain di Indonesia ini menikmati tayangan sinetron Indonesia kayak gini ....***

Selasa, November 04, 2008

Etika Berkendara for bikers


Sudah lama saya ingin memposting artikel yang saya 'copy' dari blog lain. Memang ada sih tulisan isteri atau keponakan yang saya pajang di blog ini, tapi kali ini saya dapat tulisan yang pas sama 'soul' saya saat ini, yaitu topik yang saya ingin kampanyekan ke publik. Karena sekarang saya biker penunggang Yamaha Scorpio ala Touring, saya ambil artikel dari blog Jakarta Owners Yamaha Scorpio.

Etika Berkendaraan

Walau sehari-hari naek motor, kadang-kadang kite ‘apes’ dan terpaksa naik mobil. Eh.., pas di belakang kemudi banyak biker kadang ngeselin. Mereka nyemplak motor, lagaknya jalanan milik moyangnya. Padahal kalau kegebok, bikerlah yang cedera paling besar. Iyalah.

Nah, biar kita nggak ngeselin dan terhindar dari celaka, nggak salah menyimak tips hasil rangkuman pengalaman.

HINDARI PELAN TAPI DI TENGAH JALAN

Ini sering terjadi. Mereka adem ayem aje jalan pelan di tengah jalan. Pengemudi mobil bakal kesulitan melewatinya. Apalagi kalau mereka lagi tanggung ngebejek gas.

Biker paham etika harusnya ngerti kalau mau pelan, ya minggir. Supaya kagak jadi handicap pengendara mobil.

WAJIB KASIH TANDA SEBELUM BELOK

Di belakang kemudi mobil, sopir sering bertanya. Nih, motor mau belok ape lempeng. Soalnya dia ngambil posisi di tengah jalan dan di depannya ada pertigaan atau gang.

Nggak sabar, dia ngambil keputusan dan langsung nyusul. Eeh.., tiba-tiba bikernya belok dan jeedaaar! Mobil menghantam motor. Atau motor nyamperin mobil.

Ini akibat biker cuek mau belok. Tanpa sein atau kode tangan. Enak aje dia belok, nggak sadar di belakangnya mobil melaju kencang. Ente wajib melihat ke belakang, kasih tanda kalau mau belok. Jadinya, sopir kagak bingung dan bisa mengantisipasi manuver sobat.

JANGAN NYUSUL MOBIL SEENAK UDELE DEWE

Biasanya terjadi saat lalu lintas lambat merayap alias semimacet. Mobil terpaksa pasrah dalam antrean, sedangkan motor leluasa selimpat-selimpet di antara moncong dan pantat mobil.

Sering terjadi, biker memotong antrean dari kiri ke kanan atau sebaliknya dengan jarak tipis banget. Kalau tiba-tiba mobil menambah kecepatan, bisa dipastikan menabrak motor karena jarak sempit tadi. Kalau toh nggak terjadi tabrakan, sopir biasanya kaget dan mengumpat, ”Sialan!”

Idealnya, penyemplak memperhitungkan betul kalau mau ‘menggunting’. Perkirakan jarak aman atau saat mobil betul-betul berhenti.

KELUAR GANG JANGAN KAYAK TIKUS GOT

Tikus keluar dari got, tanpa tengok kiri-kanan. Biker jangan begitu dong! Pernah kejadian, seorang rekan lagi nyopir mobil dalam kecepatan tinggi, langsung banting setir. Gara-gara motor keluar gang ke jalan gede seenak udele dewe. “Gue kaget. Akibatnya, mobil terguling dan salah satu keluarga gue luka parah,” cerita Faisal Mahbub yang kala itu ada acara ke luar kota.

Ini bener-bener dosa biker. Dalam situasi lain mungkin sopir nggak sempat menghindar dan melabrak biker slonong boy tadi. Prediksi betul kondisi lalu lintas sebelum gabung ke jalur besar.

JANGAN KELEWAT DEKET MOBIL DI STOPAN

Persis lampu merah, sampeyan harus waspada. Nggak sadar, kaki penyemplak nangkring di ban depan mobil.

Lampu ijo nyala, mobil jalan dan menggilas kaki penyemplak motor. Serem, orang itu marah-marah sambil ngegedor kaca mobil.

Ayo salah siapa? Kenapa nyimpen kaki dekat sama ban mobil. Waspada dong!

BE GENTLEMAN KALAU NYENGGOL MOBIL

Macet, buru-buru… ente pasti selimpetan. Biasanya, setang motor nggak sengaja melabrak spion mobil. Payah banget kalau biker langsung kabur atau belagak bego. Harusnya gentleman dong… Dekati sopir dan minta maaf.

Kalau dimaki-maki, ya risiko!

KIAT BALIK ARAH

Mau balik arah pada jalan dengan pemisah jalur, ada kiatnya. Sipnya, semua bodi motor masuk ke pemisah jalan tadi dengan posisi nyerong. Dengan begitu pantat dan moncong motor kagak ada yang nongol. Otomatis, kecil kemungkinan dihantam mobil dari belakang atau depan. Dengan posisi seperti itu pengemudi mobil nggak terhalang.