Sabtu, Juli 30, 2011

Kesialanmu hanya untukmu sendiri

Setelah selesai urusan merawat mobil di sebuah bengkel di dekat rumah, saya segera mengajak kendaraan saya itu meluncur di atas aspal menuju ke suatu tempat yang setengah jam sebelumnya bersemayam di pikiran saya. Karena memang sudah waktunya makan siang, tadi saat di ruang tunggu bengkel, sang lambung memberi suatu pesan kepada otak saya yang membuat sang otak  memanggil jenis makanan apa yang sedang ingin diajak berkencan oleh sang selera. Di pikiran saya ada dua makanan yang --- 'pluk'.... --- nongol, yaitu bebek goreng plus kepala ayam di Pasar Bintaro sektor 2, dan soto betawi H. Usman.  Setelah saya melakukan analisis kinestetik tanpa menggunakan metode AHP, muncullah bebek goreng yang memiliki preferensi lebih tinggi.

Namun begitu, karena selama ini saya menyantap bebek goreng itu malam hari, sementara saat itu siang hari, maka saya menurunkan level of confidence menjadi separuhnya. Maksudnya, kalau ternyata warungnya belum buka, saya sudah punya contigency plan dengan opsi kedua, yaitu soto betawi H. Usman. 

Benar saja. Opsi pertama gugur, karena realitasnya warung itu memang belum buka. Orang lain menyebutnya masih tutup. Dengan mudah saya segera acceptance dengan kondisi tersebut, lantas menghilangkan semua atribut pikiran yang berhubungan dengan bebek goreng, dan -- 'pluk' -- soto betawi H. Usman-pun segera hadir dalam layar bioskop pikiran saya. Selanjutnya atribut-atribut yang berhubungan dengan soto betawi tersebut muncul. Semangkok soto betawi plus nasi putih, kecap, sambel, dan jeruk limau. Temperatur warung yang sedikit panas dihalau dengan kipas angin yang berputar di langit-langit,  membuat keringat keluar ketika sampai pada suapan ketiga. Semua sudah begitu jelas di pikiran, sampai saya 'lupa' melakukan risk management berupa kemungkinan risiko lain yang menghalangi saya mendapatkan apa yang saya bayangkan tadi. 

Seratus meter menjelang warung soto betawi H. Usman, visual dan kinestetik saya semakin kuat. Indikatornya adalah antusiasme saya dalam menekan gas mobil serta menguatnya sensasi rasa tertentu di mulut. Begitu mobil akan dibelokkan ke arah halaman warung, tiba-tiba "Gubrakkk". Itu bukan suara saya jatuh atau mobil saya ditabrak sesuatu. Itu adalah istilah anak muda sekarang kalau mereka kaget tidak menyangka. Sang tukang parkir melambai-lambaikan tangan tanda sotonya habis. "Sial !", kata saya dalam hati. 

Tanpa perlu nggrundel panjang, saya segera berputar arah pulang, sambil mencari-cari tempat makan apa yang menarik selera. Tepat di halaman mesjid Al-Istiqomah tempat biasa saya dan beberapa sahabat penggiat pemberdayaan diri berkumpul, saya melihat ada warung kecil dengan tulisan "Gado-gado". Selera saya langsung terbit. Apalagi saya memang sedang butuh makanan yang banyak unsur sayurnya. Inipun sebuah pembenaran karena nyatanya dua mantan kandidat makanan sebelumnya miskin unsur sayuran. 

Saya segera menepikan kendaraan, dan dengan penuh percaya diri mendekati warung gado-gado tadi. "Mas, satu ya ...". Mas penjual gado-gado melihat ke arah kaca depan. Sayapun ikut-ikutan melihat ke arah yang dilihat si mas penjual. "Maaf pak, habis". Sayapun melihat di tempat bahan baku gado-gado tinggal sebiji timun. Tidak ada apa-apa lagi.

"Sial !", kata saya dalam hati sambil beranjak ke arah mobil lagi. Tiba-tiba, "PLAKKKKK!!!", ada sebuah tangan imajiner menampar pipi saya .... PLAKK! PLAKK! PLAKKK! ... lagi-lagi pipi saya tertampar. Sesosok ego state saya muncul dan langsung berkacak pinggang di hadapan saya, lantas berkata, "Hei Prass ... apa tadi kamu bilang ? ... Sial ??" ... 

Saya menjawab dengan deg-degan, "Iya ...". 

"PLAKKKK!" ... sekali lagi pipiku tertampar tangan imajiner. 

Dengan suara yang lebih keras, si ego state berkata, "Hei ! ... dasar kamu egois ! ... semestinya kamu mengucapkan "ALHAMDULILLAH", bukan malah "Sial" ...."

"Kok ?... ", tanyaku protes.

"Dasar guoblokkk! ... kalau soto betawi dan gado-gado itu siang-siang sudah habis, itu tandanya kan dagangan mereka laku keras.  Bukankah itu yang menjadi salah satu tujuan mereka berdagang ?. Mereka  itu berarti sedang menerima rezeki jatahnya dari Tuhan. Kalau kamu sedang menyaksikan sebuah peristiwa dimana Tuhan sedang memberikan anugerah kepada hambaNya hari itu, mengapa kamu tidak ikut bersyukur dengan peristiwa ini ?? .... Alih-alih mengagumi peristiwa ini dengan ucapan Allahu Akbar, Subhanallah, dan Alhamdulillah, kamu malah sibuk dengan memperhatikan kepentingan kendaraan hidupmu sendiri yang bernama perut itu, dan malah menamakan peristiwa ini sebagai sial ...!". Tiba-tiba sang ego state menghilang. 

"Astaghfirullah ....", ujarku lemas. Sejenak kemudian aku berdoa, "Ya Allah, berikanlah aku keberuntungan yang bukan merupakan kesialan orang lain ...***

Selasa, April 19, 2011

Terpeleset Makna Spiritual

Ketika dua tahun lalu saya terkena bell’s palsy, penyakit kelumpuhan separuh wajah akibat gangguan syaraf ke-7, saya segera menulis makna ‘penghiburan’ yang kemudian menjadi bagian dari buku “Provokasi 2, MANTRA Mengubah Nasib Dengan Kata” terbitan PT Gramedia Pustaka Utama.  Saat itu saya menulis bahwa akibat terkena sakit bell’s palsy, isteri saya mempercepat kepulangannya ke Indonesia, lantas saya mendapat anugerah kunjungan dan perhatian dari teman-teman baru  yang tidak mungkin berkunjung jika saya tidak sakit, dan akhirnya sakit itu adalah doa yang dikabulkan Tuhan dengan cara elegan agar saya dan isteri mempunyai waktu penuh untuk bersama.

Saya melakukan reframing positif dengan menamakan keadaan yg saya alami bukanlah ‘sakit’, namun hanya ‘mengalami kondisi tertentu yang memerlukan treatment khusus’.  Saya juga mengutip penghiburan dari salah seorang teman facebook yang mengatakan bahwa tidak semua orang mendapat kesempatan mengalami bell’s palsy. Saya adalah orang yang dapat bercerita panjang lebar tentang bell’s palsy karena saya pernah mengalaminya.

Saat saya mengalami vertigo kambuh, terkena gastritis, dan sakit-sakit berikutnya, maka saya menganggukkan kepala sambil tersenyum ketika beberapa sahabat mengutip dogma ajaran agama  bahwa sakit itu adalah sebuah anugerah Tuhan untuk mengugurkan dosa-dosa saya. Saya terhibur.

Ketika makna-makna itu saya pasang sebagai bingkai berpikir, maka perasaan sayapun menjadi tenang dan damai. Saya dapat menjalani hari-hari penyembuhan saya dengan lebih antusias. Tuhan yang memberi penyakit, Tuhan pula yang memberi obat.

Sepintas memang makna itu bermanfaat buat diri saya. Tetapi jika saya tidak waspada, saya dapat terjerumus menjadi manusia yang tidak bertanggungjawab.  Kok bisa ? ... Karena saya menganggap penyakit ini diberikan Tuhan sebagai ujian dan cobaan, maka saya lupa bahwa segala sesuatu itu ada penyebabnya. Seringkali sebabnya diciptakan oleh manusia sendiri, tapi karena saya tidak mau disalahkan, maka saya perlu mencari kambinghitam.

Berapa banyak orang yang terkena penyakit jantung atau stroke mengatakan, “Siapa sih yang minta kena penyakit ini ? ... Saya juga tidak mau kena penyakit ini. Penyakit ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang telah memberi ujian kepada saya agar saya bersabar ...”.  Pertanyaannya, siapakah yang merokok ? siapakah yang makan makanan penuh kolesterol tinggi dan nutrisi tidak seimbang ? Siapakah yang abai terhadap mengistirahatkan tubuh yang cukup ? Siapakah yang kurang olahraga ? Siapa yang tidak update dengan informasi dan pengetahuan kesehatan ? Kok lantas dengan entengnya dia menuduh Tuhan sebagai ‘sebab’ dari keadaan dirinya ?

Soal kekuasaan Tuhan dalam menjadikan segala sesuatu itu tidak perlu diperdebatkan. Tidak terbantahkan. Tetapi kalau kita ingat ayat Tuhan di segala agama yang bermakna universal : “tidak akan Tuhan ubah nasib manusia sebelum manusia itu mengubah apa-apa yang ada dalam dirinya”, maka kita akan tahu bahwa Tuhanpun mengajarkan soal sebab di wilayah kendali manusia yang memberi akibat berubahnya keadaan manusia itu sendiri.

Suatu siang saya sedang berbincang dengan seorang teman tentang keadaan perusahaannya. Katanya, atasannya berkata bahwa selamat tidaknya perusahaannya itu tergantung dari kuasa Tuhan. Sang atasan mencontohkan Briptu Norman. Jika bukan karena kehendak Tuhan, tidak mungkin dalam waktu singkat Briptu Norman terkenal.

Saya lantas menyitir budayawan Prie GS yang mengatakan bahwa kepopuleran Briptu Norman itu disebabkan oleh  adanya niat menghibur temannya yang sedang kesusahan. Saya menambahkan, jika saja Briptu Norman tidak ‘kompeten’ dalam berjoged dan lypsinc, maka kemungkinan penampilannya tidak enak dilihat. Kompetensi Briptu Norman itu merupakan hasil dari minat dan latihan yang ia lakukan bertahun-tahun. Kompetensi dan niat tulus itulah yang menjadi sebab akhirnya Tuhan ‘menjadikan’ perubahan kehidupan Briptu Norman.

Kali ini, di atas ranjang kamar perawatan sebuah rumah sakit akibat infeksi viral yang berwujud gejala tipus, saya memisahkan diri dari diri saya sendiri, kemudian membaca kembali seluruh makna yang pernah saya beri terhadap keadaan saya saat itu. Saya kemudian berkata kepada saya sendiri, “Prass, boleh saja kamu beri arti bahwa setiap sakit kamu ini sebagai kesempatan untuk menyeimbangkan hak tubuhmu dan kesempatan gugurnya dosa-dosamu .... tapi apapun makna yang kamu beri, tetap saja sekarang ini pekerjaanmu terlantar, jadwal-jadwal terkait dengan orang lain terganggu, dan banyak orang yang kepentingannya terhambat karena ketidakhadiranmu ...”.

Makna sakit yang saya gunakan berpotensi melenakan saya. Dengan makna-makna itu sakit menjadi begitu indah. Saking indahnya, saya kalau sakit lagi tinggal pakai saja makna serupa. Beres. Saya lupa, bahwa esensi sakit adalah sebuah kesadaran dan rencana tindakan agar kita tahu bagaimana menjadi sehat dengan bertindak, sehingga tidak sakit lagi. Karena kalau saya sakit, akan ada banyak orang lain yang kesusahan... ***

Minggu, Maret 13, 2011

Mengubah Nasib Dengan Kata, oleh Rahmadsyah Nurdin


Assalamu’alaikum wr.wb
Shahabat saya yang baik. Semoga sapaan salam saya hadir dalam suasana usaha-usaha terbaik yang sedang Anda lakukan untuk menciptakan nasib baik bagi kehidupan Anda. Mudahan, Anda dan saya selalu terbimbing, supaya terus dan terus mengupayakan diri menjadi pribadi-pribadi yang semakin bertambah baik amalnya.

Mengubah nasib dengan kata. Itulah tema yang akan di bahas oleh Bapak Prasetya M Brata, pembicara siaran Provokasi di Smart FM pada event The 2nd Indonesia NLP Confence, 2 April 2011. Saya tidak begitu tau bagaimana persisnya maksud dari tema tersebut. Bahkan mungkin Anda pun bertanya-tanya di dalam hati, seperti saya juga.

Tulisan ini saya tulis, bukan karena sudah ada bisikan bocoran atau kisi-kisi (seperti ujian di sekolah dulu ya, ada kisi-kisinya) dari beliau. Namun, berdasarkan pengalaman yang saya alami, yang tiba-tiba saja muncul di fikiran saya, saat saya duduk di depan simungil Acer untuk menulis.

Tema ”Mengubah Nasib dengan Kata” pun, menjadi pilihan kupasan ide-ide gila di fikiran saya. Berbicara mengenai nasib, tidaklah lepas dengan freewill. Ada yang mengartikan freewill itu sebagai sesuatu yang masih ada wewenang dalam diri kita untuk menentukan mana yang mau kita pilih.

Ini sangat sesuai kalau di lanjutkan dengan penjelasan yang saya dapatkan saat mengikuti training Ummat Terbaik Hidup Berkah, yang diselenggarakan oleh Dinar Coach. Bapak Syamsul Arifin sebagai trainernya menjelaskan, yang namanya Nasib itu terbagi dua.Pertama, nasib yang sudah di tentukan. Kedua, nasib yang masih bisa kita tentukan.Sebagai contoh, nasib yang sudah ditentukan itu seperti kecelakan pesawat, lahir dari ayah ibu siapa, dan dari suku apa. Sementara yang masih bisa kita tentukan, Contoh : Seperti saya sekarang ini, mau menulis ”Mengubah Nasib dengan kata-kata”. Padahal saya masih punya kesempatan dan pilihan untuk menulis tema lain kan? Dan ini sifatnya bukan paksaan atau keharusan. Berbeda dengan nasib yang petama tadi.

Kembali ke tema, ngomong-ngomong mengenai ”Mengubah Nasib Dengan Kata”. Kalau Anda mau tau lebih detil dan lebih rinci, bisa ikuti The 2nd Indonesian NLP Conference, pada 2 April 2011, ikut kelas Pak Prasetya M.Brata. Sementara saya sekarang akan membahas menurut versi saya.

Sebelumnya saya mau mengetahui, siapa diantara Anda pernah mengalami kondisi seperti di bawah ini:

  1. Anda Melakukan presentasi / prospecting ke klien / nasabah Anda, ternyata hasilnya, nasabah merespon tidak sesuai dengan harapan Anda. Dan kejadian ini Anda alami berulang-ulang sampai 7 kali.
    1. Anda seorang lelaki sedang melakukan PDKT, dengan seorang gadis pujaan hati. Apabila Anda mendengar, melihat apalagi berdekatan dengannya, memunculkan gejolak nan membara pada bagian tertentu di tubuh Anda. Kemudian Anda menyampaikan isi hati Anda kepadanya. Namun, si wanita merespon tidak sebagaimana Anda harapkan. Anda mencoba berulang kali, tapi hasilnya tetap sama. Demikian pula terjadi dengan usaha Anda kepada wanita lain (yang menjadi pujaan hati Anda setelah di tolak oleh pertama, ceritanya cari lain lagi).
      1. Anda seorang wanita, telah didatangi oleh 10 orang lelaki yang menyatakan niat serius untuk menikahi Anda. Namun, ditengah perjalanan proses perkenalan antar keluarga dan persiapan lainnya, selalu saja ada kendala yang menyebabkan, niat baik itu tidak terjadi. Hingga sampai sekarang Anda masih tetap sendiri.
        1. Anda seorang yang dulu pekerja (employee) sudah memutuskan pensiun dini. Kemudian mulai membuka usaha sendiri. Jenis usaha pertama anda kerjakan ”Bisnis pulsa”. Sayang, hasilnya tidak sesuai harapan Anda. Kemudian anda coba dengan ”Bisnis EO”, pun hasilnya tidak sesuai harapan Anda. Bahkan mencoba berganti dengan jenis usaha lain, hingga sampai sekarang, belum ada hasil sebagaimana Anda harapkan.

          Pertanyaan saya, pada contoh kondisi di atas  ;
          1. Apakah Anda akan mengatakan kepada diri anda ”Aku memang tidak cocok jadi Sale/penjual, buktinya sudah beberapa kali aku melakukan penawaran/prospect tidak ada yang beli”.
          2. Apakah Anda akan berpendapat tentang diri Anda ”Aku memang tidak layak untuk di cintai, memang aku tidak pantas dengan nya, lebih baik aku menjomblo saja”. 
          3. Apakah Anda akan memutuskan mengenai diri Anda ”Seperti nya aku memang terlahir untuk sendiri selamanya, karena sudah 10 orang lelaki mencoba membangun hubungan, toh hasilnya nihil”.
          4. Apakah Anda akan menganggap diri Anda ”Ternyata aku memang tidak bakat dan cocok jadi pedagang (pengusaha), lebih baik aku melamar bekerja kembali. Sudah 4 kali ganti usaha, hasilnya tetap aku rugi”.

          Empat contoh gambaran peristiwa di atas, hanyalah sebagian kecil dari banyaknya peristiwa dalam kehidupan ini, yang amat mengasyikkan untuk kita bahas. Namun, cukuplah itu saja dulu untuk menjelaskan ”Mengubah Nasib dengan Kata”. Entah seperti apa kata-kata yang terbingkai dalam fikiran Anda, seandainya perumpamaan di atas, Anda yang mengalaminya. Apakah akan seperti anggapan di atas tadi? Mudah-mudahan saja tidak.

          Pada akhirnya, Mengubah Nasib dengan kata adalah keahlian, kesadaran, kejelian, dalammemutuskan memilih dan menyusun kata-kata untuk memaknai, mengartikan dan menyikapi suatu peristiwa dan kejadian yang Anda alami. Sekali lagi, Nasib Anda dan saya, sangatlah tergantung dari keputusan kata-kata yang Kita pilih, gunakan, ambil untuk membingkai suatu kejadian. Karena, hampir keseluruhan tindakan dan perilaku kita, sangat tergantung pada kata-kata yang tersusun dalam fikiran kita. Baik itu disadari atau tidak. Jadi, dengan mengubah kata, kita telah mengubah nasib kita. Dan mengubah nasih adalah dengan menstruktur kata-kata yang tepat pada konteksnya. 

          Ciganjur, 10 Maret 2011

          Selasa, Januari 11, 2011

          Kabar Buruk benar-benar Buruk ?

          "Tingggggg!", blackberry saya berbunyi.

          "Hallo Mas Prass ... mau nanya sesuatu nih .. boleh ?", begitu tulisan berita blackberry messenger  dari sahabat di Pekanbaru yang berprofesi sebagai dokter.

          "Boleeeehhh...", jawab saya singkat.

          "Bagaimana cara yang efektif menyampaikan kabar buruk tanpa menjatuhkan mental orang yang menerima kabar buruk tersebut mas ? Karena kabar kali ini adalah kabar buruk kedua lainnya yang bakal dia terima kenyataannya, yaitu dia tidak lulus untuk memperoleh kursi sebagai calon pegawai negeri sipil ...", tanya dr. Abi, sahabat saya itu.

          Kali itu 'mood' saya untuk memprovokasi sedang bagus.

          "Yang menamakan hal itu 'kabar buruk' siapa ya ?", tanya saya.

          "Secara umum, memang kabar itu 'kabar buruk' karena yang disampaikan nggak ada bagus-bagusnya ..", jawabnya. "Hmmm .. mas Prass mau menggiring saya ke arah 'negative motivation' ya ?", lanjutnya.

          "Apa bagusnya tidak lulus CPNS ?", tanya saya.

          "Bagusnya .. ? .. ya bisa mencoba peluang lain ...", jawabnya.

          "Saya punya teman yang ketinggalan pesawat ... Dia bilang kabar buruk !. Dua jam kemudian pesawat itu jatuh di Berastagi. Semua penumpangnya tewas. Dua jam kemudian 'kabar buruk' itu menjadi 'kabar baik'. Dia sangka musibah, ternyata penyelamatan ... Ini real story ...", ujar saya.

          "Iya mas ... saya juga membaca kisah itu di buku PROVOKASI mas Prass ...", jawabnya.

          "Mas menyangka tidak lulus CPNS itu kabar buruk. Siapa tahu itu sebenarnya kabar baik ?", pancing saya. "Jangan-jangan misi hidup dia yang sesungguhnya bukan menjadi CPNS ?"

          "Jadi sebaiknya bagaimana cara menyampaikannya ?", tanya dia lagi.

          Saya sebenarnya ingin 'mengacak-acak' dulu mindset dia terlebih dahulu karena justru teman saya itu yang duluan menamakan berita itu sebagai 'kabar buruk'.

          "Tidak ada orang yang suka mendengar kabar buruk. Lha, kalau mas Abi sendiri sudah bilang itu kabar buruk, lantas mau dibungkus apapun, tetap saja yang sampai adalah 'kabar buruk' dan tidak disukai ..", jawab saya. "Yang membikin buruk itu 'kan arti yang diberikan sendiri oleh yang mendengar berita itu. Jadi biarkan dia bertanggungjawab atas arti yang dia berikan sendiri kepada sebuah berita dan peristiwa,  juga bertanggungjawab atas perasaan-perasaan yang muncul akibat arti yang ia berikan sendiri tersebut .."

          "Lantas yang 'ideal' dilakukan saat sekarang apa dong mas ?", kejar dia.

          "Tanyakan saja dulu, seandainya dia nggak lulus CPNS, bagaimana sikap dia ... Dari situ 'kan mas Abi akan paham apa arti yang ia berikan kepada berita itu  ... Barulah setelah itu mas Abi bisa tahu cara menyampaikan yang lebih netral dan membangun dirinya itu yang bagaimana ...", jawab saya.

          "Iya juga ... Nggak terpikirkan sama saya ... that's something new for me ...", jawabnya.

          "Jadi tadi mas Abi kan bermain dengan pikiran sendiri ? ... hehehe ...", ledek saya.

          "Iyaaaa ... mungkin kabar buruk itu saya sendiri yang menciptakannya, karena saya sebenarnya berharap besar dia lulus CPNS. Jadi sebenarnya saya yang menciptakan aura dan suasana seperti itu dan seolah-olah dia juga menanggapi dengan cara yang serupa ...", jawabnya. "Maklum mas, terbawa cara menyampaikan prognosis ke pasien tentang penyakitnya  ...".

          "Hehehehe ...", respon saya.

          "Mas Prass angkat saja topik "kabar buruk apakah benar-benar buruk?" di siaran PROVOKASI. Pasti seru !. Nanti saya ikut SMS menanyakan yang aneh-aneh biar mas Prass berat mikirnya ..", jawabnya.

          "Hehehee ... maksudnya 'berat' buat anda 'kan ?", kilik saya.

          "Wkwkwkwk ... i'm playing with my own thought again ....", jawabnya ***

          Senin, Januari 10, 2011

          Makna Ikhlas

          Saya menyapa kolega saya, direktur sebuah perusahaan jasa investasi. Sebulan sebelumnya saya baru saja memfasilitasi pelatihan dua hari mengenai personal mastery dan hypnotic selling skill. Saya ingin tahu bagaimana dampak pelatihan yang saya fasilitasi terhadap perubahan perilaku dan kinerja mereka karena saya akan bertemu lagi dengan peserta untuk follow-up class. Jawabannya mengejutkan : sebulan setelah dilakukan pelatihan, sales menurun !.

          "Apa yang membuat sales itu turun mbak ?", tanya saya.

          "Lha ya itu, mereka sekarang pasrah. Alasannya, 'kan diajarin Pak Prass pakai the law of attraction. Kalau sudah membayangkan dengan jelas apa yang diinginkan dan minta dalam doa, terus yakin, terus ikhlas siap menerima apapun jalannya. Jadi kalau mereka mau prospek terus hujan deres, atau nggak dapat janji, ya sudah terima saja ... ikhlas ..", jelas kolega saya.

          "Hahaha .... ! Salah kaprah .... Kalau begitu, kita kumpulkan mereka lebih cepat saja, mbak ..", pinta saya.

          Di pelatihan sebelumnya, saya memang menjelaskan sedikit soal the law attraction yang sedang menjadi 'selebriti' dan digandrungi oleh para pencari ilmu kesuksesan hidup saat itu. Karena saya hanya menyinggung sedikit dan 'kulit'nya saja, saya menjadi mafhum mengapa oleh peserta ditangkap, dicerna, dan diartikan sebagaimana yang diceritakan kolega saya itu.

          Di hadapan para peserta yang telah dikumpulkan, saya lantas menggali dulu pemahaman mereka soal materi pelatihan yang telah mereka ikuti, khususnya soal the law of attraction yang rumusnya ask-believe-receive.

          "Teman-teman, memang banyak yang 'meleset' di pemahaman soal ask-believe-receive.  Minta dalam doa dengan visualisasi yang jelas - yakin Tuhan dan alam merespon untuk mewujudkan keinginan kita itu - lantas siap menerima dengan ikhlas apapun jalannya. Tetapi banyak yang keliru dalam implementasinya. Mereka menyangka hanya dengan visualisasi dan yakin, nanti apa yang diminta akan datang sendiri. Hasil diraih dengan tindakan...", buka saya.

          Peserta masih menunggu penjelasan lebih lanjut.

          "Jadi, kalau anda sudah punya impian yang jelas dan yakin dapat meraihnya, lalu paham dan sadar untuk mencapai target anda perlu berangkat menemui calon klien untuk prospecting, maka prospecting-lah dengan menerima perasaan apapun saat prospecting. Kalau saat mau prospecting tiba-tiba hujan deras, kemudian anda tidak berangkat, membatalkan janji, dan mengatakan 'ikhlas menerima pembatalan', maka itu bukan ikhlas namanya. Yang namanya ikhlas itu adalah ... anda sadar perlu melakukan kunjungan sebagai syarat untuk terjadi closing, kemudian ketika hujan lebat atau macet anda tetap berangkat menemui calon klien dengan menembus hujan dan macet, dan MENERIMA rasa berat dan susah selama saat menembus hujan dan macet itu dengan ikhlas ! ...".

          Saya melihat para peserta 'kesetrum'.

          Lain waktu, alam menyediakan keadaan dimana saya diminta untuk mempraktekkan apa yang saya ajarkan sendiri. Di suatu malam larut Ibu saya tiba-tiba bilang, "Aku pengen martabak, Prass". Malam itu hujan lebat. Mobil baru dicuci sore harinya.

          Karena ibu saya sudah ahli soal ikhlas, saya bisa saja mengatakan, "Bu, ini 'kan hujan deres, ikhlas aja dulu ya malam ini nggak makan martabak ... ". Tapi manuver 'politik ikhlas' itu akan membuat saya kehilangan kesempatan untuk membahagiakan dan membalas budi ibu saya, dan saya tahu apa yang dapat saya katakan itu hanyalah sebuah 'akal-akalan' alias pembenaran atas kemalasan saya.

          Malam itu, saya tembus hujan dan menerima segala 'rasa' yang muncul dalam perjalanan mencari tukang martabak. Tindakan 'ikhlas' saya berbuah manis. Malam itu saya amat bahagia melihat ibu saya melahap martabak impiannya... ***

          Kamis, Desember 23, 2010

          Tanggungjawab Siapa ?


          Di sebuah pelatihan saya sedang bicara soal tanggungjawab.

          “Bapak dan Ibu, sekarang kalau saya katakan begini : Bapak dan Ibu ANJING … Bagaimana perasaan Bapak dan Ibu ?”, ujar saya.

          Saya melihat peserta pelatihan sebagian kentara sekali berubah roman wajah.

          “Ya marah lah pak ! “
          “Tersinggung ..”
          “Jengkel !”

          Begitu beberapa jawaban mereka.

          “Lantas, perasaan-perasaan itu merupakan tanggungjawab siapa ?”, tanya saya.

          Mereka terdiam. Saya tahu mereka sedang berpikir untuk menimpakan tanggungjawab perasaan tersebut kepada diri sendiri. Tapi perkiraan saya meleset.

          “Pak, saya marah Bapak bilang begitu ke saya,” ujar seorang ibu.

          “Ibu setuju kata-kata saya bahwa ibu adalah anjing ?”, Tanya saya tersenyum.

          “Ya tidak setuju dong, Pak,” jawab dia.

          “Lha, kalau tidak setuju, kenapa marah ? Hehehe …”, jawab saya dan disambung gelak tawa peserta lainnya.

          Dengan spidol di tangan, saya lantas menggambar sebuah bentuk di kertas flipchart.

          “Bapak dan ibu … saya menggambar apa ?”, Tanya saya.

          “Kucing !”
          “Anjing !”
          “Macan !”
          “Kucing kurus !”
          “Anak macan !”

          Begitu jawaban-jawaban mereka.

          “Bapak dan ibu yakin kalau jawaban yang bapak  dan ibu berikan masing-masing itu BENAR ?”, Tanya saya.

          “Yakin !!! ..”, jawab peserta.

          Karena saya menggambar hanya satu bentuk, lalu saya jadi bingung nih, realitas yang benarnya gambar ini gambar apa sih ? Kucing, anjing, atau macan ?”, Tanya saya lagi.

          Peserta masing-masing menyebutkan gambar yang benar adalah jawaban mereka, lengkap dengan argumennya.

          Setelah cukup bereksperimen dengan mental mereka, saya lantas berkata, “Pak, bu, yang bapak dan ibu sebutkan tadi dan dianggap benar adalah realitas internal bapak-ibu sendiri. Realitas eksternalnya saya ini menggambar garis-garis !”.

          Mereka diam sambil bingung.

          “Saya hanya menggambar garis-garis. Itu realitas eksternalnya. Lantas bapak dan ibu memberi ARTI kepada gambar garis-garis itu berdasarkan pengalaman masa lalu Bapak-Ibu bahwa gambar garis-garis itu adalah kucing, anjing, macan, dan seterusnya, “ jelas saya.

          “Jadi, sebuah gambar, suara, kata, tidak akan ada artinya apa-apa sampai kita sendiri memberi ARTI kepadanya. Nah, kalau begitu, saat saya bilang “ANJING” tadi, sebenarnya saya apa sih ?”, lanjut saya bertanya.

          “Binatang, Pak !”, jawab seorang bapak.

          “Bukan ! … it’s just a voice. Itu tadi cuma sebuah suara saja … Lantas bapak dan ibu memberi arti kepada suara tadi sebagai binatang. Pikiran tidak berhenti di situ. Otak bapak-ibu kemudian membuat pikiran tentang pikiran sebelumnya. Bapak ibu lalu memberi arti lagi kepada soal binatang tadi dengan ‘penghinaan’. Bapak dan ibu memberi arti kata-kata saya adalah penghinaan. Saya sedang menghina, makanya Bapak dan Ibu marah, jengkel, tersinggung, “ jelas saya.

          Sebelum sempat mereka bereaksi, saya melanjutkan, “Nah, ketika saya bilang ‘anjing’, siapa yang memberi arti ?”, Tanya saya.

          “Saya sendiri …”, jawab mereka.

          “Lantas kalau dari arti yang diberikan oleh anda sendiri tadi menimbulkan perasaan tertentu, maka perasaan tertentu itu tanggungjawab siapa ?”, Tanya saya.

          “Saya sendiri ..”, jawab mereka.

          “Tapi Pak, kalau ternyata orang itu memang mau menghina saya, apa saya harus diam saja ?”, interupsi salah seorang peserta.

          “Apa tujuan orang itu menghina anda ?”, Tanya saya.
          “Agar saya jatuh …”, jawabnya.

          Saya kemudian menimpali, “Nah, kalau setelah penghinaan itu lantas anda jatuh, pertanyaan saya, siapa yang mengizinkan anda jatuh ?” …***

          Jumat, September 03, 2010

          Kaya khilaf, atau Miskin khilaf ?

          Saya terlibat chatting dengan seorang mahasiswi saya.

          Saya : "Semalem jadi pergi sama "X" ?
          Dia : "Jadi Pak ... kenapa Pak ?"
          Saya : "Ooo, nggak apa-apa, hehehehehehe"
          Dia : "Ketawanya ngeledekkkk"
          Saya : "ya itu kan tergantung tafsir kamu. Kalau kamunya menafsirkan ngeledek, ya sudah, hahaha".
          Dia : "Itu ketawanya malah nggak jelas .."
          Saya : "Wah, kalau saya sih jelas. Jelas sekali bahwa ketawa saya itu tidak jelas .."
          Dia : "Nahhh, kalau ini saya sependapat .."
          Saya : "Meskipun tidak sependapatan ..."
          Dia : "Iya deeeh nggak sama ..."

          Saya : "Saya doakan nanti pendapatan kamu tinggi selangit"
          Dia : "Amiiin Pak. Tapi kalau bisa jangan tinggi-tinggi Pak. Takut khilaf".
          Saya : "Kamu mau penghasilan tinggi tapi khilaf, atau penghasilan rendah tapi sadar, atau penghasilan tinggi yang sadar ?"
          Dia : "Penghasilan tinggi yang sadar".
          Saya : "Jadi ? ... masih mau minta jangan tinggi-tinggi penghasilannya ?"
          Dia : "Iya kalau misalkan saya diberi rizki yang berlebih cuma takut kekhilafan aja pak. Saya kan cuma manusia biasa .."
          Saya : "Emang kalau rejekinya sedikit akan terbebas dari khilaf ?"
          Dia : "Nggak juga sih Pak. Habis saya lihat contoh real-nya Pak .. para pejabat-pejabat negara itu kan sudah dikasih rejeki cukup dengan posisi enak, eh, masih bisa-bisanya korupsi.."
          Saya : "Apakah kalau rejekinya banyak PASTI korupsi, dan apakah kalau rejekinya sedikit PASTI tidak korupsi ?"

          Dia : "Ya tidak juga pak. Tapi persentasinya seperti itu kan Pak .."
          Saya : "Di penjara, rutan, LP, yang lebih banyak yang khilaf itu yang hartanya banyak atau yang hartanya sedikit alias miskin ?"
          Dia : "Saya sih belum pernah datang langsung ke rumah tahanan Pak. Memang sih lebih banyak orang miskinnya, tapi kebanyakan dari mereka kan korban ketidakadilan hukum ?"
          Saya : "Jadi, yang salah ketidakadilan hukum ?"
          Dia : "Banyak orang-orang kaya membeli hukum di Indonesia kan Pak. Koruptor sampai bermiliar-miliar bisa begitu saja bebas dengan uangnya, tapi kalau orang miskin nyolong ayam saja dihukum berat. Apa itu namanya ketidakadilan hukum Pak ?"

          Saya : "Kenapa orang nyolong ayam itu dihukum ? Karena miskinnya atau karena nyolong ayamnya ?"
          Dia : "Karena nyolongnya Pak. Tapi kenapa orang-orang kaya bisa bebas dari hukum padahal mereka korupsi uang rakyat ?"
          Saya : "Nyolong itu khilaf bukan ?"
          Dia : "Iya pak, termasuk khilaf ..."
          Saya : "Jadi kaya atau miskin bukan merupakan SEBAB orang khilaf bukan ?"
          Dia : "Benar pak ..."
          Saya : "Jadi balik lagi ke soal pendapatan tadi, karena tidak ada hubungan antara kaya-miskin dengan khilaf-sadar, maka Charin mau jadi kaya dan sadar, atau jadi miskin dan sadar ?"
          Dia : "Jadi kaya dan sadar pastinya Pak". ***

          Senin, Juli 05, 2010

          Cinta Dia atau Cinta Diri Sendiri ?

          "Prass, bisa bantu terapi'in suamiku nggak ?", tanya seorang teman kepada saya.

          "Kenapa suamimu ?", tanya saya balik.

          "Dia masih punya rasa kemarahan dengan mantan isterinya. Dia pengen ngilangin rasa itu. Dia keganggu dengan perasaannya itu", jawabnya.

          Buat teman saya ini, pernikahannya dengan suaminya yang sekarang adalah pernikahan ketiga. Saya sendiri mengikuti perkembangan kehidupan teman saya ini sejak ia akan bercerai dengan suami pertama. Selama 'kosong' ia sering gelisah dengan keadaan hidupnya. Beberapa curhatnya menyangkut kepahitan dan kepedihan menjalankan peran sebagai kepala rumah tangga dan orang tua tunggal. Ia ingin segera menikah lagi sehingga masalah-masalah yang menimpanya sebagian lenyap.

          "Ini yang minta terapi kamu atau suamimu ?", tanya saya untuk memastikan kemauan 'sembuh' itu datangnya dari siapa.

          "Suamiku Prass ..", jawabnya

          "Bener ?", tanya saya lagi.

          "Beneeerr. Dia keingetan terus sama mantan-nya. Aku jealous", katanya.

          Mendengar kata 'jealous', tiba-tiba saya seperti punya peluang untuk memprovokasi dia.

          "Apa alasan kamu untuk jealous ? Apa akibatnya dengan suami kamu kalo kamu jealous ?", tanya saya.
          "Nggak tau ... ", katanya sedikit gelagapan.

          "Dia sedang bermasalah trus kamu tambahin masalah. Kamu cinta dia apa cinta dirimu sendiri ?", tanya saya.

          "Kok .. ?", katanya.

          "Kalo kamu cinta dia, apa yang telah kamu lakukan untuk membantu menyelesaikan masalahnya ?", tanya saya lagi.

          "I love him so much. Gue pengen dia bahagia .." katanya.

          "Proses perceraian suami loe itu kan alot, lama, artinya ada kemungkinan dia mengalami luka emosi cukup dalam. Lantas kamu menuntut dia sembuh dengan segera ?", cecar saya.

          "Nggak ... aku nggak menuntut itu ..", katanya. Sebuah kalimat yang tidak kongruen dengan pernyataan sebelumnya tentang jealous.

          "Kondisi suamimu memang tanggungjawab dia sendiri. Kalau kamu memang tidak menuntut itu, maka jealous itu tidak perlu ada ..", provoke saya.

          "Jealous itu bukannya tanda cinta ?", tanya dia.

          "Bukan ! .. itu tanda kamu mencintai dirimu sendiri ... Itulah kalau menyamakan cinta dengan senang, demen, suka, nafsu." kata saya.

          Saya langsung melanjutkan.

          "Tergantung konteksnya. Kalau kamu jealous karena suamimu 'dekat' dengan wanita lain, itu wajar. Tapi dalam konteks yang kamu alami, kalau kamu jealous karena suamimu masih keinget mantan dalam keadaan marah, apa itu namanya .. ?

          "......", teman saya diam.

          "Mengapa kamu cinta dia ? .. Apa yang membuat kamu cinta dia ?".

          ".. karena dia kasih apa yang aku harapkan dari pasangan. Tanggungjawab, sayang ke aku dan anak-anak ..", jawabnya agak mantap.

          "Nah tuh kan ... kamu cinta dirimu sendiri ..", sahut saya.

          "Kok ... ?", dia heran.

          "Kamu cinta dia karena dia bisa memenuhi keinginanmu. Karena itu kamu cinta ... Kalau nanti sudah tidak begitu, kamu tidak cinta lagi .. ?".

          Dia diam saja.

          "Kalau kamu tadi pas aku tanya 'apa yang bikin kamu cinta dia', lalu kamu jawab misalnya 'aku nggak tau .. pokoknya aku cinta dia ...', kemungkinan besar kamu memang cinta dia. Cinta itu tidak ada 'karena', kecuali karena mendapatkan ridho Allah. Kalau sudah begitu cinta jadi 'walaupun'. Walaupun bagaimana, kamu tetap mencintai dia ...", cecar saya.

          "Ahhh ... kamu memprovokasi aku !", jawabnya tersadar.

          "Ya memang !. Biar fondasi kamu kuat. Kalau anakmu sakit, kamu bawa ke dokter untuk disuntik, dan biarpun anakmu nangis kejer-kejer, kamu tetap tega demi si anak sehat dan kuat. Begitu juga aku, biar kata kamu bete dengan kata-kata dan omonganku barusan ini, aku tegain biar kamu kuat nantinya. Biar kamu tanggungjawab sama hidup dan perasaanmu sendiri. Jangan sampai kamu kayak pernikahan yang lalu, kamu menikah untuk menghindari tanggungjawab !", cerocos saya.

          Ini adalah reka ulang perbincangan di blacberry messenger. Tak lama, di BBM saya muncul icon wajah tersenyum di belakang kalimat "Terimakasih ya Prass". ***

          Dunia Tidak Suka Kekosongan


          Seorang sahabat yang saya kenal 'gila' karena di kartu namanya ia mencantumkan gelarnya "Ph.G" yang dia artikan 'Pengusaha Gila', menulis status di facebook : "Giving, Giving, and Giving".

          Karena saya dan dia terbiasa saling memprovokasi dan saling meneror, saya lantas tergoda untuk meledek dia dengan komentar "Jangan cuma ngomong doang, buktinya mana ? ... Belum ada yang nambah di rekening gue nih ..".

          "Wis, alamatnya mana ...?", balas dia lagi.

          Dengan enteng saya tulis, "Warung Jati Barat 41. Rekening BCA Nomor sekian sekian ..".

          Sejenak saya melanjutkan tour de facebook ke 'buku muka' teman-teman lainnya.

          Tiba-tiba 'tinggggg!' ada bunyi SMS saya di blackberry. Daniel Suwandi sahabat saya tadi mengirim SMS berupa konfirmasi transfer uang sebesar 5 juta rupiah ke rekening saya !.

          "Saraaaappppp!!!!!", teriak saya dalam hati.

          Saya konfirmasi kembali ke Daniel untuk memastikan SMS itu bukan sandiwara. Ternyata benar !.

          Saya masih geleng-geleng tidak percaya. Saya tulis lagi komen di facebook-nya soal keheranan saya atas keberanian dia nekat mengirimi saya uang hanya karena komentar saya.

          Dia hanya tertawa dan menulis, 'I always do what i said..'.

          Saya mengenal Daniel beberapa tahun lalu saat bertemu di sebuah pelatihan aplikatif berbasis neurosemantics. Saat itu dia termasuk pattern breaker, alias suka bikin heboh suasana dengan pikiran-pikiran dan komentar-komentarnya yang 'nyeleneh'. Meskipun begitu, ia tetap seorang pembelajar dengan metode eksperimen.

          Beberapa saat kemudian saya sering kontak-kontakan dengan dia. Pembicaraannya mulai dari rencana dia berbisnis ini itu, tanya buku ini itu, seminar ini itu. Idenya kadang menembus dinding logika saya, tapi saya terus menikmati ide-ide gilanya. Sampai akhirnya ia mulai berhasil dalam bisnis dan jualannya. Di facebook ia memproklamirkan dirinya Sang Terrorist.

          "Pak Prass, saya ingin jadi penjahat ..", katanya suatu ketika.

          Saya tertawa kecil. Saya tahu dia sedang memprovokasi saya, atau malah sedang minta 'dukungan'.

          "Apa maksud baik ente jadi penjahat ?", begitu tanya saya.

          "Supaya terkenal ...", jawabnya.

          "Apakah jadi penjahat satu-satunya cara untuk menjadi terkenal ..?", tanya saya lagi.

          Rupanya dia sudah hafal pertanyaan-pertanyaan saya. Singkatnya, dialog inipun berlanjut sehingga berakhir saat ia mengatakan, "Kalau gitu saya tidak mau jadi penjahat".

          Ketika saya menulis kisah tentang 'transfer 5 juta' dalam bentuk status facebook, Lely -seorang teman lain berkomentar : "Mas Pras berarti nggak pernah lihat pengajian ustadz Yusuf Mansyur. Yang sumbangannya rumah 1 Miliar saja ada ...".

          Sepertinya teman lain itu ingin memprovokasi apa yang dilakukan Daniel masih berskala 'kecil'. Lantas, saya menimpali :

          "Mbak, sepertinya teman kita ini punya keyakinannya sendiri. Maklum, dia kan mengaku belum punya agama. Dia ingin membuktikan hukum alam ini bekerja atau tidak ...".

          Daniel lantas nimbrung : "Jangan cuma ngomongin sedekah doang. Praktik dong. Apalagi sedekah di kala kafir, tanpa ilusi surgawi. Jadi kafir dulu deh baru you bisa rasain bedanya".

          Pernyataan ini menarik buat saya. Ia tampak percaya adanya hukum-hukum alam yang jika diikuti membawa kepada kesuksesan, tanpa dimotivasi oleh cerita-cerita mengenai surga dan neraka di alam kehidupan nanti. Saya pikir, kalau Daniel saja yang mengaku belum punya agama sudah melakukan ini, saya yang mengaku punya agama juga mustinya melakukannya bahkan bisa 'lebih' lagi, karena persepsi manfaat dan kenikmatan atau penderitaan ditarik jauh kepada nasib diri pada kehidupan selanjutnya setelah mati.

          "Ada the law of vacuum", katanya. "Coba ente keluarin baju-baju yang sudah tidak ente pakai dari lemari, kasih ke orang, maka nanti kan lemari ente ada baju-baju baru lagi. Dunia tidak suka kekosongan ..".

          Saya memutuskan untuk tidak segera mengirimkan uang itu kembali kepada Daniel. Saya ingin membuat 'permainan' ini menjadi serius. Tentu saja, dengan masih membawa keheranan sekaligus kekaguman atas 'kelakuan' Daniel Sang Teroris.

          Lantas uang kiriman Daniel mau dibuat apa ? Kan anda bukan termasuk orang-orang yang diberi sedekah ?, mungkin itu pertanyaan anda kepada saya. Hmmmm ... saya juga sedang menunggu efek yang dialami Daniel setelah memberi uang yang saya namakan 'hibah' itu kepada saya...***

          Lebih Menyesal Mana ?


          Eka Raqueen, seorang Smart Listeners (pendengar radio Smart FM) 'senior -- karena ia sudah mendengarkan Smart FM sejak kuliah -- saya tawari untuk menemani siaran PROVOKASI. Saya tidak tahu bagaimana persisnya perasaan dia, tapi dari hasil kalibrasi singkat saya duga ia gembira bukan kepalang. Kamis malam itu ia sengaja datang ke Smart FM untuk menemui saya karena sudah lama ingin bertemu.

          Ia gemar sekali 'menggauli' orang-orang yang ia anggap bisa dijadikan mentor kehidupannya. Menurut pengakuannya, nama saya termasuk salah satu yang ia tempel di dinding kamar untuk ditemui. Nama lainnya adalah Mario Teguh dan impian itu sudah terwujud.

          Ketika ia mengabari kerabatnya pernah chatting melalui blackberry messenger dengan saya, kerabatnya itu malah tidak percaya dan mengira yang melayani Eka bukan saya, melainkan asisten saya. Saya memang pernah punya manajer, tetapi soal chatting, tidak saya serahkan kepadanya.

          Saya pernah tanya, apa cita-citanya ? Ia jawab, menjadi motivator perempuan termuda. Saya mengangguk-angguk dalam hati -- tentu otomatis kepala saya juga mengangguk-angguk.

          Sehari sebelum siaran, ia mengirim pesan BBM, "Pak saya takut ..., hehehe ..."

          Seperti sudah otomatis, saya langsung melakukan meta model, yaitu mengurai persepsi yang ada di kepalanya karena terjadi generalisation, distortion, atau deletion saat melihat suatu perkara, yang berakibat menimbulkan perasaan takut itu.

          "Takut apa ?", tanya saya.

          "Takut .. kan baru pertamakali siaran pak. Takut salah bicara... Pak, Provokasi'in saya dong biar berani ...?", katanya.

          Sejenak saya 'menerawang' apa yang ada di balik pikiran Eka untuk minta provokasi. Saya lihat ia tidak punya masalah apa-apa selain fenomena alamiah berupa 'grogi' untuk hal kali pertama. Apalagi di pesan pertama ia menulis 'hehehe...'.

          "Lebih menyesal mana Ka, datang siaran dan salah bicara, atau tidak datang dan melewatkan kesempatan ini ?" ...

          Pertanyaan saya ini memaksa ia untuk masuk ke dalam dirinya sendiri, lantas tidak lama kemudian ia menjawab : "Oke .... Saya akan gunakan kesempatan ini ... Saya tidak pernah menyangka akan hal ini saya alami ... ".

          Meskipun saya melihat 'penderitaan' ia mulai saat datang ke studio dengan tangan dingin, deg-degan, tegang, tapi detik demi detik mengantarkannya kepada pengalaman yang saya lihat ia nikmati sekali. Beberapa kali ia bicara, ternyata isi bicaranya bermutu dan pas dengan content dan konsep siaran. Ternyata ia bisa.

          Selesai siaran, wajahnya sumringah. "Dulu saya mendengar Smart FM, sekarang saya tidak menyangka berada di ruang studionya ...".***