Selasa, Juni 17, 2008

Pisang Den ...


"Pisang den .....", tawaran seorang nenek memecah obrolan saya bersama teman-teman fasilitator pelatihan di suatu malam minggu di Batu Malang.

Guratan wajah nenek itu tampak jelas sekali. Saya memperkirakan umurnya sekitar 70-an. Ia mengenakan pakaian kebaya yang tampak rapi berkerudung sederhana, menenteng sebuah tas di tangan kiri, dan tangan kanan menenteng sesisir pisang. Ia menatap kami dengan mata berharap, lalu menjulurkan tangan kanan yang memegang sesisir pisang berwarna hijau. Rupanya ia sedang menawarkan pisang kepada kami. Entah apa yang ada di pikiran saya, tiba-tiba saya langsung membuka telapak tangan saya, tanda menolak.

"Mboten bu ....(tidak, bu)".

Ia lalu pergi ke belakang dan menawarkan pisang itu kepada pemilik warung. Jalannya tertatih-tatih. Tapi setelah berdiri sesaat di hadapan pemilik warung itu, saya melihat bayangan gelengan kepala sang pemilik warung. Pemilik warung juga menolak. Nenek itu beranjak hendak meninggalkan warung.

Tiba-tiba ada perasaan menggemuruh di dada. Saya baru saja menerima honor mengajar, dan nenek itu sedang memerlukan nafkah. Kalau malam-malam jam delapan seseorang masih menawarkan jualannya yang hanya sesisir pisang, dalam tafsir saya, ia memang sedang memerlukan uang.

Begitu nenek tadi melintas di depan saya, segera saya memanggilnya dan bertanya,

"Bu ... berapa pisangnya ?", tanya saya.

Ia menengok ke arah saya. Wajahnya menyiratkan perasaan lega ada yang memanggil dirinya. Ia bilang "pitu setengah".

Saya tanya lagi, 'berapa bu ?', karena saya tidak begitu jelas.

"Tujuh ribu limaratus", katanya lagi.

Sekelebat yang ada di kepala saya adalah : berarti nenek tadi cuma untung beberapa ribu rupiah. Apa bisa ya untuk makan di tengah harga BBM dan bahan pokok melambung tinggi?.

Seketika saya ingin memberi nenek itu rejeki lebih. Setelah mengambil pisang dari tangannya, saya mengeluarkan dompet dan memberi uang duapuluh ribuan.

"Tidak usah dikembalikan, bu", kata saya.

Mungkin karena pendengarannya kurang, atau kata-kata saya yang kurang jelas, atau memang sengaja mengabaikan kata-kata saya, ia tetap mengeluarkan dompet recehan dari tasnya dan membukanya. Saya segera mengulangi "Bu, mboten sah diwangsuli (Bu, tidak usah dikembalikan)".

Ia melihat ke arah saya sejenak, lalu tetap kembali mencari uang receh sambil berkata "Kulo wangsuli nggih ? (saya kembalikan ya ?)".

Kembali saya bilang, "oooh .. mboten sah bu .. sedoyo mawon .. (oooh, tidak usah bu, semuanya saja)".

Ia menatap saya dan tampak tidak percaya. Lalu wajahnya seperti menyiratkan rasa syukur. Kemudian ia meluncurkan kalimat yang cukup panjang dalam bahasa jawa yang intinya berterimakasih sekali dan mendoakan mudah-mudahan saya banyak rejeki.

Saya trenyuh. Nenek ini benar-benar memberi pelajaran luar biasa tentang hidup dan bekerja. Saya yakin nenek ini tidak tinggal di sekitar warung tempat saya nongkrong tadi, karena warung tadi berada di wilayah perumahan menengah dan perkantoran. Itu artinya, ia berjalan cukup jauh menyusuri jalan malam-malam. Yang ia punyai cuma sesisir pisang dan harapan akan datangnya rejeki Tuhan. Ia tidak meminta-minta. Ia malah hampir bersikeras mengembalikan uang saya karena ia menjual pisang itu dengan hanya dengan harga Rp 7.500,-.

Setelah sang nenek menghilang dari pandangan mata, pengalaman emosional ini saya ringkas dalam pesan SMS dan saya kirimkan kepada beberapa orang dekat saya. Sahabat saya Maya membalas dengan SMS "Nenek itu kaya banget ya Prass .. Lebih kaya dari presiden, pemilik microsoft, dll ..".

Saya cukup lama merenungkan pesan pendek Maya -- panggilan 'rumah' Ira Maya Sopha. Akhirnya saya mengerti bahwa yang dimaksud dengan 'kaya' oleh Maya adalah, nenek itu merasa cukup dengan harga 7.500 rupiah, sehingga ia bermaksud mengembalikan uang saya, meskipun saya minta uang itu untuknya semua. Entah karena memang jualannya cuma sesisir, atau tinggal sesisir, tapi menjual sesisir pisang yang tidak tampak 'sale-able' malam-malam dalam kacamata saya tidaklah lazim dan termasuk perbuatan 'nekat'. Kalau fenomena nenek penjual sesisir pisang ini dianalisis dengan teori-teori pemasaran yang canggih-canggih mungkin tidak 'masuk'. Nyatanya, karena sang Nenek berusaha, ia dipertemukan oleh Tuhan dengan rejeki yang menjadi jatahnya malam itu ... Sang Nenek telah menjemput rejekinya. Ia diberi rejeki bukan karena pisangnya, tapi karena usahanya.

Seseorang memprovokasi saya, "Ahh, terlalu sensitif bin melankolis kamu ... Nenek itu kan cuma iseng-iseng aja jualan pisang malem-malem. Siapa tau anak-anaknya juga udah menyokong hidup nenek itu dengan cukup ?". Bisa jadi begitu, pikir saya. Tapi dengan memilih tafsir seperti di tulisan ini, buat saya jauh lebih bermanfaat. Saya jadi punya 'ladang' amal, nenek itu jadi punya rejeki tambahan, dan kita mendapat pesan dan pelajaran hidup tentang rejeki dan usaha. Orang yang memprovokasi itu bilang : "Kita ? Eloe aja kali gua kagak ..."***

Sabtu, Mei 31, 2008

Bowo's Wisdom

Tuhan memang tidak pernah putus memberi anugerah buat saya. Tiba-tiba saat ini saya berada pada situasi konflik dengan seorang teman lama. SMS 'provokasi' saya ndilalah ditafsirkan sebagai sesuatu yang 'tidak ada tenggang rasa' bagi dia, dan dia tidak suka. SMS terakhir dia menyatakan, dia mau mundur saja dari forum alumni. Saya makin terheran-heran kok bisa sampai kesitu tafsir dan keputusannya. Tapi begitulah faktanya.

Di Yahoo Messenger saya menyapa dia, dan dia masih menyatakan ketidaksukaannya dengan cara saya 'memotivasi' dia. Ketika saya tanya seharusnya bagaimana, dia bilang : ya gak tau, anda pakarnya! ... Setidaknya saya tiga kali memberi ilustrasi untuk 'memaksa' dia melihat dari kacamata yang berbeda dengan persepsi dia saat ini. Semua gagal.

Saya : "Bozz (ini kata ganti di blog ini untuk nama dia), ada seorang laki-laki yang sedang melaju dengan mobilnya, di sebuah belokan di jalan pegunungan dia tiba-tiba berhadapan dengan seorang wanita bermobil. Laki-laki itu adalah eloe. Tiba-tiba wanita tadi berteriak : "BABIIII" ke arah loe. Apa reaksi loe ?"

Dia : "Teriak balik, ELO YANG BABI !"

Saya : "Tiba-tiba .. dalam hitungan sepersekian detik .. di belokan itu .. karena eloe berteriak sambil ngeliatin dia .. mobil loe nabrak segerombolan babi yang menyeberang jalan .. mobil loe terjungkal .. eloe luka parah"

Dia : "Trus ?"

Saya : "So, di peta pikiran loe, eloe menafsirkan perempuan itu sedang MENGHINA eloe. Ngatain eloe. Tapi kenyataannya, dia sedang MEMPERINGATKAN eloe kalo ada babi nyebrang. Dalam kecepatan mobil, dia harus memilih satu kata agar kedengeran eloe, maka dia memilih kata BABI. Maksud sebenarnya MENYELAMATKAN.

Dia : "Trus ?"

Saya : "Tapi eloe tafsirkan di peta internal loe sebagai PENGHINAAN". Begitulah yang eloe alami terhadap gue barusan. Got it ?

Dia : "Nope. Loe menyelamatkan apa ke gue ??"

Waktu itu, kalau saya ini anak ABG di sinetron, saya membayangkan akan mengatakan 'Cape deeeh'. Tapi tentu itu ciri-ciri orang yang tidak 'acceptance', tidak ikhlas, dan cenderung meremehkan orang lain. Saya tidak ingin seperti itu. Jika kita menjelaskan sesuatu kepada seseorang dan orang itu tidak mengerti saat itu, sama sekali BUKAN salah dia. Kalau di awal perdebatan dengan teman saya itu, saya bilang kita tidak pernah bisa mengharapkan orang lain berperilaku seperti apa yang saya inginkan (maka kitalah yang menyesuaikan respon terhadapnya), dengan harapan dia bisa menerima 'gaya komunikasi' saya, maka sekarang saatnya saya yang menerima begitulah dia apa adanya.

Di tengah 'debat' dengan teman lama saya itu, tiba-tiba teman saya yang lain, Bowo, menginterupsi saya dengan pesan YM "Uwisss .. istirahat ...". Maksudnya, sudahlah, istirahat saja dulu. Jam memang sudah menunjukkan hampir pukul 1 dini hari. Dari situ saya tahu teman saya itu 'mengadukan' persoalan kami ke Bowo. Sewaktu SMP saya 'tidak mengenal' Suro Adi Wibowo -- nama komplit Bowo. Sekarang dia termasuk 'suhu' untuk banyak hal, terutama yang menyangkut urusan motor dan riding. Dia adalah 'anak motor' yang sudah 'karatan', sementara saya baru 'magang' jadi 'anak motor'. Saya sempat 'belajar' dari kisah hidupnya dalam berbagai kesempatan ngobrol. Pengalaman kegagalannya telah mematangkan dirinya.

Karena pikiran sudah terbajak emosi, maka saya juga setuju dengan Bowo, tidak bermanfaat untuk diteruskan. Akhirnya kami 'berpisah' di alam maya itu dengan 'su'ul khotimah'. Karena teman saya itu sudah 'mengadu' ke Bowo, akhirnya saya memutuskan sekalian saja saya mengirimkan log pembicaraan YM dengan harapan Bowo bisa memahami konteks dan isi konflik, dan bisa ikut membantu penyelesaiannya.

Dalam balasannya, email Bowo berbunyi : "Semua benar, karena kalian berdua memandang satu hal dari persepsi yang berbeda. Lha, kapan ketemunya ? Mungkin salah satu harus menyamakan pola pikirnya, biar balance. Apa bisa balance ? Yang satu Honda CBR 900 cc yang satu Honda Astrea Star. Berarti yang CBR 900 harus menyelaraskan kecepatan dengan Astrea. Karena tidak mungkin Astrea yang ngebut biar mengikuti CBR 900 ! Bisa jatuh atau malah berhenti total. Frustrasi. Nah kalau CBR 900 dan Astrea sudah bisa seiring jalannya, jadi forerider pasti lebih mudah, lebih gampang, karena bisa dipantau di spion. Dalam hal ini kamu CBR 900, dan temen kita Astrea. Dan ini lebih sulit, karena ini ada unsur manusia. Ada emosi!. Anda harus bisa 'ngerem' Pak, biar bisa memantau Astrea. Nanti pasti akan balance dan pengarahan gampang. Good luck bro'".

Bowo memang luar biasa. Jika seseorang sudah mendedikasikan dirinya kepada hal apapun -- termasuk dunia motor -- asal dia hidup dan menghidupi bidangnya, ayat-ayat cinta (baca : ayat ayat Tuhan) akan terpancar dari dalamnya. Bahkan motorpun menjadi rangkaian ayat yang bisa membelajarkan dan mencerahkan. Bowo benar, seandainya saya dianggap oleh Bowo sebagai pelari 'sprint', Bowo mengingatkan jangan 'meninggalkan' teman yang pelari 'fun-marathon'. Kebersamaan jauh lebih penting. Jangan sampai finish sendirian, tapi bersama-sama. Membiarkan silaturahmi porak poranda setelah sekian lama terbangun, hanya karena persoalan perbedaan mainan yang dinamakan 'tafsir', hanyalah sebuah kebodohan.... Maturnuwun Mas Bowo...***

Kamis, Mei 29, 2008

Sudahkah dirimu ... ?

Melongok ke dapur. Ooo .. ibu di dapur toh ... pantas saja saya cari di ruang tengah tidak ada. Ibu menengok ke arah saya. Dia tersenyum bahagia melihat anaknya pulang kerja. Matanya lebih berbinar. Saya bisa merasakan itu. Padahal, setiap hari memang saya kerja. Ibu sedang memegang panci bergagang. Di dalamnya tampak mie instan. Ekspresi wajahnya persis seperti Bapak saya almarhum di suatu ketika, saat ia diperbolehkan makan makanan yang selama ini dipantang. Tiba-tiba saja memori tentang ayah saya muncul. Emosi itu menyelimuti pandangan saya yang terus memperhatikan ibu mengolah masakannya. Jalannya agak tertatih.

"Kok masak indomie bu ? Memangnya Rina nggak masak ?", tanya saya akhirnya.
"Nggak, ... makanan di kulkas udah habis .." jawab ibu ..

Saya tersadar. Senyum ibu saya itu adalah senyum bersyukur masih ada indomie yang tersisa untuk dimakan. Saya tersadar, sudah beberapa hari yang lalu waktunya belanja tapi saya belum memberi uang belanja. Ibu tidak banyak menuntut sebenarnya. Bahkan ketika saya tanya, berapa yang dibutuhkan untuk belanja bulanan ? Ibu bilang, ya terserah kamu, berapa saja. Nanti belanjanya sesuai dengan uangnya.

Air mata hampir membendung, menyesali ketidak perhatian saya terhadap ibu saat itu.

Ibu yang menghabiskan masa mudanya untuk merawat dan membesarkan saya, seperti kurang mendapat balasan yang sepadan dari saya. Bayangkan, waktu kecil saya adalah anak paling nakal di antara adik-adik. Melempari angkot yang lewat dengan tanaman got, menghisap rokok yang dibuang di pinggir jalan, melempari pasir ke jendela kantor, melempar lampu taman tetangga jauh lalu kabur, melempar ayam pakai pisau pramuka sampai mati, adalah beberapa 'kejahatan' saya masa kecil. Biarpun nakal tapi jago kandang. Kalau sudah kepepet, ya berlindung di bawah ketiak Bapak atau Ibu. Semua dilalui oleh ibu dan bapak saya dengan penuh kesabaran. Saya tidak pernah merasakan pukulan atau jeweran ibu sedikitpun, kecuali bapak saya pernah menyabet saya pakai sapu lidi gara-gara saya mengetok kepala bapak saya dengan martil waktu kecil (apa tidak keterlaluan itu ?).

Kelalaian saya memperhatikan ibu saya membuat saya tersadar, bahwa saat itu saya menempatkan Ibu pada prioritas ke sekian. Saya telah diringkus oleh nafsu memuaskan ego akibat 'kesuksesan kecil' terbitnya buku saya, panggilan training sana-sini, kegiatan yang 'sok' sosial. Saya memang bersemangat 45 ingin mengubah lingkungan melalui 'provokasi' saya agar negeri ini menjadi tempat yang indah untuk dihuni dan dihidupi. Saya lupa, semua seharusnya dimulai dari diri sendiri, lalu orang sekitar kita dulu, apalagi itu adalah tanggungan saya : isteri, ibu, dan saudara-saudara yang memerlukan pertolongan.

Ahhh .. kenapa saya jadi begini ?. Eh iya .. jangan terlalu berfokus kepada kenapa. Lebih baik berpikir, sekarang BAGAIMANA caranya biar saya bisa melihat ibu lebih 'enteng' hidupnya, dan Tuhan tidak melontarkan pernyataan dalam pertanyaan seperti ini : "Prass, kamu gembar-gembor mengajak lingkungan dan bangsamu hidup lebih tertib, saling memperhatikan, saling tolong menolong, dan sejahtera, tapi kok kamu sendiri tidak membuktikannya pada dirimu dan keluargamu sendiri ?"***

Sabtu, Maret 08, 2008

Cuma Masalah Angka

Ketika berpapasan di koridor gedung Kantor Pusat, seorang teman menyapa saya dan berkata, ”Waduuuuh, kenapa bisa kalah nih ?”.

Sehari sebelumnya tim futsal yang mewakili anak perusahaan yang saya pimpin tidak maju ke babak semi final. Tim anak perusahaan lain menang 5-1 atas tim saya. Sebelumnya pada babak penyisihan tim saya menang telak 9-0 atas tim Kantor Pusat, dan 8-0 atas tim anak perusahaan lainnya lagi, sekaligus menjuarai grup A. Awalnya memang kecewa karena saya punya harapan bisa menjuarai kompetisi futsal itu. Untung saya segera ’sadar’ untuk melihat kejadian itu dengan makna yang lebih bermanfaat buat saya.

It’s the matter of numbers. Ini cuma masalah angka-angka. Kebetulan tim saya memasukkan 1 gol, dan tim kawan (saya tidak mau pakai istilah ’tim lawan’) memasukkan 5 gol ke gawang tim saya. Nahhh, kebetulan yang diambil oleh panitia untuk maju ke babak selanjutnya itu adalah tim yang skornya 5. Saya menyadari skor yang diperoleh sangat dibatasi oleh dimensi tempat dan waktu. Skor itu saya peroleh karena luas lapangan cuma segitu dan lama permainan cuma 2 x 20 menit. Coba kalau lapangan diperluas atau dipersempit, atau waktunya ditambah atau dikurangi, belum tentu saya dapat 1 dan tim kawan dapat 5. Saya pikir, kemenangan atau kekalahan dalam sebuah permainan itu sangatlah fragile.

Karena saya menerima keputusan dan kenyataan ini dengan ikhlas, maka saya juga merasa menang. Kecuali kalau saya kecewa berat, lalu tidak terima keputusan ini, marah-marah menyalahkan tim atau lawan, maka saya kalah –- kalah oleh permainan ini. Masak saya harus bete hanya gara-gara sebuah ’permainan’ yang fragile itu ? Itu ’kan berarti saya jadi budak permainan.

Sebaliknya seandainya skor saya yang lebih tinggi, lalu saya bangga, takabur, belagu, petentang-petenteng, apalagi sambil mengejek tim yang skornya lebih kecil, maka sesungguhnya saya KALAH, karena saya berhasil ketularan jadi ’drakula’ oleh ’gigitan’ drakula yang bernama permainan itu.

Barangkali paragidma inilah yang perlu saya bawa ketika menghadapi ’permainan’ hidup lainnya. Apalagi sudah tegas dikatakan Tuhan, dunia ini hanyalah permainan belaka. Senang – susah, kalah – menang, semua hanya ada di pikiran kita.

Ketika saya nyerocos di depan teman saya soal bagaimana saya memandang ’kekalahan’ yang dia sebutkan tadi, dia cengegesan, lalu ngeloyor pergi. Mungkin dalam hati dia komentar, ”Alaaah, itu kan cuma alasan buat menghibur diri ...”. ***

Pergi Sekali, Rasakan Berkali-kali

Wardiyono teman SMA saya menyaksikan bagaimana saya memfasilitasi Dhani – teman lainnya - melakukan pemrograman bawah sadar untuk mencapai cita-citanya naik haji bersama orangtuanya. Atas ’giringan’ sejumlah pertanyaan dan instruksi saya, Dhani bisa menangis keras dalam visualisasi seolah-olah dirinya sudah mencapai apa yang ia impikan.

Menurut Robert Anthony, kalau kita hanya membaca afirmasi sukses berulang-ulang, tingkat keberhasilannya 10%. Kalau kita membaca afirmasi sambil membayangkan hasil akhir yang kita inginkan, tingkat keberhasilannya naik jadi 55%. Akan tetapi kalau kita membaca afirmasi, membayangkan dengan jelas hasil akhir yang diinginkan, sambil merasakan emosi ketika impian itu tercapai (feel the emotion), maka tingkat keberhasilannya 100%. Wallahu a’lam, tapi bukan hal yang mustahil.


Ekspresi dan perilaku Dhani yang begitu ’nyata’ dalam merespon bayangan masa depannya, membuat Wardiyono yang biasa dipanggil No’ ini berpikir. Setelah selesai ’menggarap’ Dhani, No’ lalu bilang, ”Kalau orang bisa merasakan masa depannya seolah-olah sudah tercapai dan bisa sampai menangis begini, mustinya orang nggak perlu pergi haji berkali-kali dong ?”.

Ia lalu melanjutkan alasannya, bahwa apabila seseorang sudah pergi Haji, dimana di sana ia benar-benar khusyuk’, memikirkan, merasakan, dan menikmati setiap detik kehidupannya di tanah suci, lalu mendapatkan pencerahan-pencerahan, bukankah pengalaman itu akan tersimpan dalam memori?. Perasaan ’kecil’ sebagai makhluk, kebesaran Tuhan sebagai Pencipta, keinsyafan dosa-dosa masa lalu, dan gairah untuk merencanakan pikiran, sikap, perilaku, dan keadaan hidup yang lebih baik dari sebelumnya, terekam di dalam pikiran dengan kuat. Nah, ketika kembali ke tanah air, seharusnya ia tinggal memanggil kembali pengalamannya dari memori sehingga perasaan yang menyertainya akan muncul kembali.
Kalau seseorang ingin kembali lagi ke tanah suci, bisa jadi waktu dia pergi ke sana, ia tidak melakukan dengan emosi (catatan : memang pengalaman yang lebih emosional akan lebih terekam kuat di pikiran bawah sadar).

No’ bercerita kalau kakak iparnya tidak mau dibayari lagi untuk naik haji karena ia lebih memilih memberi kesempatan kepada orang lain yang belum naik haji untuk berhaji, mengingat kuota haji terbatas. Kakak iparnya berpendapat, haji itu adalah ’alat’ atau ’sarana’ atau ’simbol’ untuk mendapatkan gambaran dan rasa yang ujung-ujungnya adalah perilaku yang semakin baik ketika sudah selesai dengan proses berhaji. Nah, untuk mendapatkan RASA itu tidak harus pergi ke tanah suci lagi, tapi bisa dipanggil melalui memori kita.


Saya sependapat dengan No’ dan kakak iparnya. Di dalam ilmu neurosemantics, ini disebut meta-state. Kita bisa memanggil kembali bayangan dan rasa pengalaman masa lalu untuk diterapkan pada situasi kini. Waktu saya belajar neurosemantics, latihannya adalah dengan memanggil pengalaman dimana kita merasa puas dan berprestasi belajar atau bekerja di masa lalu, lalu state (suasana emosi) yang telah muncul dibawa untuk mengerjakan tugas pekerjaan atau sekolah kita sekarang, sehingga diharapkan outcome dari belajar/pekerjaan kita kali ini minimal se-excellent waktu itu.


Itulah sebabnya, memang Tuhan menyatakan bahwa wajibnya haji itu hanya sekali. Itupun jika kita mampu, baik secara fisik, mental, maupun finansial.


Bukan hanya untuk urusan haji dan prestasi kerja/belajar, buat anda yang sedang ’bermasalah’ dalam berinteraksi dengan pasangan, menjalani kehidupan rumah tangga yang membosankan, bahkan tidak menyenangkan, kalau mau, anda dan pasangan melakukan meta-stating, yaitu dengan memanggil pengalaman saat-saat dimana anda berdua berada pada situasi yang membahagiakan. Gunakan state itu untuk kemudian anda mulai saling memahami ’peta internal’ masing-masing terhadap kejadian-kejadian yang anda berdua alami, dan bagaimana anda berdua memberi makna terhadapnya. Sekali lagi -- kalau mau ...***


Senin, Maret 03, 2008

Berguru Kepada Yoyo'

Namanya Padmono, panggilannya Yoyo’. Waktu SMP dia termasuk ’preman’ sekolah. Sejak kelas 1 sudah menunjukkan ‘kepemimpinan’nya dalam soal dunia kekerasan masa sekolah. Saya pernah dipanggil wakil kepala sekolah gara-gara nama saya mirip dengan salah satu ‘anak buah’ Yoyo’ yang baru saja berulah.

Ketika sekelas kembali di kelas 3, saya ingat betul dia pernah nabok seorang teman gara-gara tidak mau pindah tempat duduk. Waktu itu kami di dalam bus di perjalanan wisata dari Tawangmangu kembali ke Yogyakarta.


Saat bertemu kembali pada reuni kecil SMP baru-baru saja, penampakan luar masih ‘berbau’ preman. Dia punya tattoo dan kucir rambut belakang yang cukup panjang. Sampai di sini saya masih melihat Yoyo’ sekarang adalah Yoyo’ yang dulu. Hanya saja, saya jauh lebih rileks berinteraksi dengan dia karena saya melakukan uptime (me-nol-kan prasangka).


Sampai suatu ketika, kami bertemu di yahoo messenger dalam sebuah conference dengan teman-teman lain, bahasa yang ia gunakan punya etika kontekstual. Bahasanya tidak ‘preman’ lagi. Bukan itu saja. Ketika sedang asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba dia pamit sebentar untuk sholat Ashar, sesuatu yang tidak pernah saya lihat ketika SMP. Beberapa hari kemudian kami bertemu kembali di sebuah kafe dan beberapa kali dia mendesah ‘Allah’, misalnya ketika ‘ngulet’ (meregangkan bagian tubuhnya).


Memang fenomena Yoyo’ mirip dengan almarhum Gito Rollies, Harry Mukti, Ustadz Jeffry, dan sederet nama beken lain yang mengalami titik balik dalam kehidupannya. Bedanya, Yoyo’ beragama bukan lewat ceramah-ceramah, tapi lewat tindakan menjalankan ajaran-ajaran Tuhan khususnya dalam bidang kemanusiaan. Saya melihat bagaimana dia tiba-tiba berdiri menyambut dengan santun seseorang tetangga yang kebetulan datang ke kafe itu. Bagaimana ia menggagas paguyuban alumni yang mengarah kepada kegiatan sosial. Bagaimana ia disambut dengan air mata haru guru-guru SMP ketika ia datang dengan kesantunan memberikan sekedar cinderamata. Terakhir yang saya dengar, ia mengasuh sebuah yayasan pesantren yang menampung dan mendidik 100 lebih anak yatim.


Ketika saya tanya, bagaimana kehidupan rejekinya, ia bersyukur berkecukupan. Saya jadi ingat salah seorang pimpinan saya juga termasuk berkelimpahan dan memiliki ribuan anak asuh. Semakin lama anak asuhnya semakin banyak. Yang menarik, kesimpulan saya adalah bukan karena dia kaya lalu menyumbang, tapi karena menyumbang dia jadi orang jadi kaya.


Ketika hal ini saya sampaikan, Yoyok mengangguk sambil tersenyum. Ia bilang, yayasan pesantrennya kalau pakai kalkulasi otak sulit diprediksi bisa hidup. Tetapi nyatanya ada saja rejeki yang sumber dan jalannya tidak pernah diduga sebelumnya.
Kalau mau berbuat baik, tidak usah mendahulukan pakai otak, karena hitungannya untung-rugi. Tapi dahulukan pakai hati. Thanks Yo’ ! ***

Selasa, Februari 19, 2008

Jadi Wong Cilik Tidak Usah Sombong

”Selamat siang Pak. Nanti saya lewat kantor Bapak. Boleh saya mampir ? Sibuk tidak ? Saya bawa oleh-oleh dari Solo”, begitu bunyi SMS seorang teman yang pernah saya bantu memecahkan persoalannya.

Saya balas SMS dia, mohon maaf saya sedang melayat dan baru kembali menjelang sore.

Ia kemudian bertanya lagi, kapan kira-kira ia bisa datang ke kantor saya. Saya membuka agenda elektronik di ponsel, dan menemukan jadwal saya memang penuh dua hari ke depan. Semuanya high priority. Kemudian menjawab dia bisa datang tiga hari lagi.

Ia lalu mengirim sms balasan, ”Terimakasih Bapak Ketua atas kelonggaran waktunya untuk saya ’kawulo alit’ seperti saya, yang cuma ’sales’”.

Ia memang bekerja di induk perusahaan saya sebagai agen asuransi jiwa. Saya tahu, SMS balasan itu cuma bercanda. Namun begitu, mumpung ada kesempatan, saya lantas memprovokasi dia dengan mengolah kalimat SMS terakhirnya.

Setidaknya ada tiga hal yang menarik perhatian saya. Pertama, dia senang karena mendapat waktu dari saya. Ini normal-normal saja. Kedua, kata ’cuma sales’ (pekerjaan seorang agen asuransi adalah menjual asuransi) cukup mengusik saya karena itu berarti meletakkan profesi agen/sales pada posisi yang ’cuma’ alias tidak besar nilainya. Padahal, di luar negeri profesi ini dijuluki ’holy angel’ (malaikat suci) dan termasuk profesi berpenghasilan tertinggi.

Ketiga, dia memberi label dirinya sendiri kawulo alit alias wong cilik yang berarti dia telah menempatkan posisi dia inferior terhadap saya. Apalagi waktu mengucapkan disertai perasaan ’rendah’. Itu berarti dia telah memutuskan nasibnya sendiri, yaitu menjadi wong cilik.

Kalau seseorang sudah memutuskan di bawah sadarnya menjadi wong cilik, keputusan itu menjadi blueprint mental dimana segala tindakannya ujung-ujungnya mengarahkan nasibnya sesuai dengan blueprint mental tadi, yaitu wong cilik. Terus, Kapan jadi ’wong gede’-nya ?

Kalimat itu saja sudah cukup kuat membentuk tindakan dan nasib kita. Apalagi kalau label yang kita berikan sendiri kepada diri kita kita omongkan ke publik. ”Aku ini wong cilik lho ..” ; ”Hidup wong cilik! ..”, ”Partainya wong cilik” ... Maka sempurna sudah nasib kita tetap jadi ’wong cilik’. Kok bisa begitu ? Karena begitu kita omongkan, keluhkan, gosipkan, bahkan diskusikan, dia tanpa disadari bisa masuk ke gerbang keyakinan (belief), bahwa memang saya ini orang kecil. Padahal, kita akan mengalami apa yang kita yakini. Pernahkan anda akhirnya beli mobil atau punya rumah atau naik haji meskipun gaji anda di atas kertas tidak mencukupi ? Itu hasil dari keyakinan dan fokus.

Lebih ’parah’ lagi, seringkali status wong cilik ini kemudian dijadikan identitas, tameng, dan berubah menjadi baju kesombongan. Lho, bagaimana kesombongan wong cilik itu ? Yaitu dengan membedakan diri dari orang yang dianggapnya ’wong gede’ (orang besar). Kalau merasa ’tersinggung’ dengan ’wong gede’ lalu berkata ”reseh nih orang, mentang-mentang orang kaya...”.

Wong cilik yang ’sombong’ juga seringkali menempatkan diri ’berseberangan’ dengan ’wong gede’, ditambah menggunjing ’wong gede’. Kalau ada ’wong gede’ mau ikut bergabung, dicurigai dan kadang-kadang ditambah prasangka ”wah, mau pamer apa orang ini ?”.

Lho, itu ’kan cuma ‘oknum’. Begitu biasanya pembelaan mereka yang merasa dirinya beridentitas dan berkeyakinan ’wong cilik’. Saya setuju.

Inilah akibat kita memandang orang sebagai human doing. Artinya, kita membeda-bedakan orang berdasarkan tampilan dan perbuatannya. Ohh ini orang kaya, silakan duduk di depan .. Ohh ini orang miskin, silakan duduk di belakang. Ohh ini karyawan berprestasi, silakan duduk di VIP. Karyawan biasa, duduk di festival. Salahkah ? untuk konteks tertentu tidak salah asal dipandang sebagai ’permainan belaka’. Hitung-hitung memberi ’hiburan’ kepada mereka yang berbuat sesuatu yang dihargai oleh masyarakat atau komunitas setempat. Toh, status itu tidak bakal langgeng.

Memandang orang sebagai human being agak beda. Yang ia ‘anggap’ dan lihat adalah kemakhlukannya, kemanusiaannya. Bahwa yang ada di hadapan kita adalah mahluk ciptaan Dia. ada ruh-Nya di dalamnya. Kalau kita melihat Dia di balik dia, tentu kita akan menghargai dan menghormati dia. Rasanya sama dengan ketika anda baru punya bayi atau keponakan baru. Ketika kita gendong bayinya, lalu sang bayi pipis, apakah kita marah ? Kemungkinan besar tidak. Kebahagiaan akan kehadiran ‘being’ mengalahkan ‘doing’ sang bayi.

Sebaliknya, memandang diri juga sebagai human being dulu, bukan human doing. Artinya, kalau kita jadi petinggi, sarjana, top sales, star employee, tidak usah petentang-petenteng. Jabatan dan label itu tidak lama. Tidak usah sok tinggi sehingga tidak mau melakukan tugas-tugas ‘rendah’.

“Jadi kawulo alit jangan sombong lho, dengan menyebut-nyebut diri kawulo alit dan membedakan diri dengan kawulo ‘ageng’, hehehehe”, begitu SMS balasan saya kepada Bu Nyai -- sebutan saya untuk teman saya itu.

Dia lalu menjawab, “Hehehe ..... sampai tidak bisa berkata- kata ...”***

Kamis, Februari 14, 2008

Melampiaskan kemarahan atau memperbaiki ?

Teman saya Danny Tumbelaka ingin tahu pendapat saya, haruskan perbuatan seseorang di-cap salah-benar, atau, ia berada dalam ’kuasa gelap’ atau ‘kuasa terang’ ?.

Saya bilang, ketika kita menemukan seseorang melakukan suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan norma umum masyarakat, pertamakali yang perlu kita lakukan adalah tidak memberi label apapun dulu. Label akan mempengaruhi perasaan kita, dan perasaan kita membajak akal pikiran jernih. Lagipula, kalau kita beri label, itu label-nya siapa ? siapa yang antagonis dan siapa yang protagonis itu tergantung siapa yang memberi label. Lha, buat para maling, polisi itu antagonis.

Pertanyaan pertama yang perlu kita ajukan kepada perilaku ’negatif’ adalah : ’apa maksud positif di balik perilakunya ?’. (Sekali lagi, negatif di sini buat kita lho, soalnya perbuatan polisi mengejar-kejar maling adalah perbuatan negatif bagi para maling).

Katakanlah seorang maling, apa maksud positifnya ? Ia ingin memberi makan dirinya, isteri dan anaknya. Cuma saja, caranya merugikan dan tidak sesuai dengan kesepakatan umum. Saya tidak mengatakan caranya salah. Saya juga mengatakan kesepakatan umum karena norma masyarakat bersifat kontekstual. Di Jawa, seseorang yang sedang dimarahi ayahnya dianggap sopan jika menunduk. Di Padang, justru dianggap tidak sopan, karena dianggap sopan jika si anak memandang wajah ayahnya.

Seseorang mengambil pilihan terbaik pada setiap situasi yang dihadapinya saat itu. Seorang pencuri menganggap mencuri adalah pilihan terbaik pada situasi dirinya dan lingkungannya pada saat itu. Nah, disinilah tugas kita menunjukkan pilihan-pilihan lain. Kita sodorkan kepada yang bersangkutan pilihan-pilihan yang mungkin saja selama ini dia tidak lihat atau sadari. Biarlah ia sendiri yang mengambil pilihan itu. Ketika pilihan lengkap dengan konsekuensinya sudah dipilihnya, Ia lantas mengalami perpindahan jalan hidup yang tidak ditempuhnya selama ini.

Seseorang lebih ’hidup’ jika menempuh pilihan yang diambil oleh dirinya sendiri. Ia lebih memiliki komitmen. Ia memiliki ruang lebih luas untuk menerima risiko yang tidak mengenakkan sebagai dampak dari pilihannya. Ia memiliki dorongan lebih kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya.

So, jika kita menemukan koruptor, pencopet, pembunuh, penipu, pemerkosa, dan semua ’spesies’ perilaku antagonis (antagonis ’kan menurut kita, lha buat para maling, polisi itu antagonis), lalu sebaiknya kita bagaimana ? Nah, disinilah niat kita dipertanyakan, apakah kita ingin menghukum mereka (yang berarti sakit hati dan kemarahan kita terlampiaskan), atau kita ingin mereka menempuh jalan yang sesuai dengan apa yang kita yakini benar dan bermanfaat. Sekali lagi, kalau mau memperpanjang ’urusan’ ini, silakan tanya : benar dan bermanfaat menurut siapa ? ***

Selasa, Februari 12, 2008

Ujian Praktek

Saya duduk di Singosari Longue Bandara Juanda Surabaya. Jam menunjukkan waktu lima menit lewat dari jam pesawat Batavia Air seharusnya terbang ke Yogyakarta. Saya masih berbincang dengan Pak Has, seorang dokter sekaligus polisi yang akan pulang ke Mataram. ketika tiba-tiba terdengar announcement pesawat yang saya naiki delay hampir 2 jam hingga Pk. 18. 45.

Masih bersama Pak Has, ketika jam di dinding menunjukkan waktu 18.45, belum terdengar pemberitahuan naik pesawat. Jam 19 ... Jam 20 ... Jam 21 ... belum juga ada pemberitahuan apa-apa.

Pk. 21.25 ... tiba-tiba terdengar merdu, "Perhatian perhatian, penumpang Batavia Air dengan nomor penerbangan sekian-sekian, dengan tujuan Yogyakarta, dipersilakan memasuki ruang tunggu keberangkatan 1 dan 2...".

Saya langsung bangkit dengan bersemangat. Setelah tubuh dan barang-barang melewati X-Ray, saya duduk sejenak di bangku panjang dekat pintu keberangkatan 1. Ketika arah pandangan tertuju ke luar ruang tunggu, tiba-tiba saya melihat dua orang pilot dan empat pramugari cantik yang tadi sama-sama duduk di Singosari Longue, berjalan berbalik arah. Saya sudah punya feeling kurang enak.

Benar saja. Penerbangan ke Yogya dengan Batavia Air cancelled, dan baru akan berangkat besok jam 6 pagi. Karuan saja para penumpang ngamuk. Protes dan baku urat leher pun terjadi. Saya masih berada di bangku panjang memandangi mereka, dengan sesekali mendekat dan duduk lagi. Karena alasan teknik, akhirnya penumpang bisa menerima. Kami berangkat menuju hotel untuk diinapkan beberapa jam.

Jam 6.30 pagi pesawat Batavia Air menuju Yogyakarta-pun terbang. Di dalam pesawat saya mengulangi refleksi atas kejadian ini. Ini persis dengan cerita budayawan Prie GS di sebuah stasiun radio di Jakarta, bahwa alam menuntut seseorang untuk membuktikan apa-apa yang dikatakannya. Memang saya dua hari di Surabaya memberi pelatihan yang salah satu isinya mengajarkan bagaimana menyikapi suatu kesialan. Alam meminta saya untuk membuktikan apa yang saya ajarkan dengan memberikan soal praktek. Saya tidak tahu apakah saya lulus atau tidak dari ujian praktek ini. Kalaupun kali ini 'ge-er' lulus, saya merasa nilai saya dikatrol. Tapi saya berterimakasih kepada Tuhan, karena diberi kesempatan untuk latihan walk the talk ...***

Sabtu, Februari 02, 2008

Cari Muka

"Tuh .. kelompok pencari muka ..", ujar seorang teman di sebuah resepsi pernikahan, dengan muka dan pandangan dilempar ke arah sekelompok pejabat di sebuah perusahaan yang mengelilingi seorang petinggi di perusahaan itu. Setiap ada pendatang baru di kelompok itu, terlebih dahulu menyalami sang petinggi sambil badan menunduk, wajah tersenyum lebar, bahkan saya lihat ada yang 'hampir' mencium tangan sang petinggi itu.

Tampaknya kata 'pencari muka' bagi teman saya tadi bukanlah kata yang memiliki cita rasa positif. Saya tidak tahu apakah teman saya sinis dengan kelompok petinggi itu karena dia tidak bisa 'masuk' ke kelompok itu alias sirik, atau karena di melakukan generalisasi atas kelakuan satu dua orang di kelompok itu yang cium tangan. Melihat konteks siapa yang terlibat dan forum terjadinya 'cium tangan', maka saya juga sependapat mencium tangan sang petinggi di depan umum tadi memang kurang pantas.

Namun begitu, saya juga maklum kalau teman saya mengatakan begitu. Karena tidak jauh dari tempat berdirinya Sang Petinggi, berdiri juga mantan petinggi yang sekian tahun lalu ia menempati posisi yang sama dengan Sang Petinggi. Ia juga pernah dikerubuti seperti Sang Petinggi. Kali ini ia hanya didampingi oleh seseorang yang bercakap-cakap dengannya.

Saya tidak ingin menilai apa-apa terhadap para pengerubut Sang Petinggi. Itu berarti saya mengadili mereka menurut undang-undang saya sendiri. Lagipula, kalau mereka melakukan itu so what ? Mereka sedang mempertontonkan jatidiri mereka sendiri di ranah publik. Setidaknya fenomena itu memberi pelajaran bahwa ketika suatu saat saya jadi Sang Petinggi, ingatlah bahwa jabatan saya bukan kepemilikan yang kekal. Apalagi ada pembandingnya, yaitu Mantan Petinggi. Jadi kalau dikerubuti orang tidak usah ge-er.

Bagi saya, pemandangan tadi wajar-wajar saja di dunia bisnis. Cari muka bukanlah hal buruk. Ia netral-netral saja. Menjadi baik jika cari muka lahir dari niat untuk menjalin silaturahmi. Kata Tuhan, silaturahmi memperpanjang umur dan rejeki. Ini tentu antitesis dari teori motivasi Abraham Maslow, dimana seseorang melewati piramida kebutuhan, mulai dari kebutuhan fisiologis (rejeki ada di sini), lantas kebutuhan keamanan, baru kebutuhan sosial (silaturahmi ada di sini), dan seterusnya. Artinya menurut Maslow, seseorang baru bersilaturahmi (social needs) setelah memenuhi kebutuhan fisiologis. Ini kan berbeda dengan teori Tuhan bahwa setelah silaturahmi, maka rejeki akan datang. (Belakangan menurut sebuah buku, di akhir hayatnya, Maslow mengoreksi sendiri teorinya, dimana seharusnya piramidanya terbalik).

Cari muka yang protagonis ini, akan berbeda dengan cari muka yang antagonis, meskipun tampakan luarnya bisa sama. Cari muka protagonis berangkat dari mindset 'kaya'. Paradigmanya memberi. Ia menundukkan badan, meraih tangan Sang Petinggi, bersalaman dengan mantap, senyum tulus, mengirimkan suatu 'cinta' dan 'salam' kepada Sang Petinggi, memandang Sang Petinggi sebagai human being, berbagi waktu dengan tamu lainnya. Cari muka antagonis berangkat dari mindset 'miskin'. Paradigmanya meminta/mengemis. Ia menundukkan badan bahkan mencium tangan, senyum mengumpan, mengirimkan suatu 'harapan' bisa diperhatikan terus oleh Sang Petinggi, memandang Sang Petinggi sebagai human doing, dan ingin berlama-lama dengan Sang Petinggi layaknya pacar yang posesif.

Sekali lagi, ini 'undang-undang' di peta pikiran saya sendiri yang akan saya berlakukan buat diri sendiri. Siapa yang tahu ketika seseorang yang mencium tangan Sang Petinggi, adalah ekspresi penghormatan dan pemuliaan bagi Sang Petinggi, yang lahir dari paradigma memberi ? Who knows ?. By the way, teman saya yang komentar barusan tidak tahu, bahwa lima menit yang lalu saya juga menyalami sang petinggi dan 'parkir' sejenak di kelompok itu.

Nah, kalau yang satu ini dampak dari risiko jabatan. Teman saya yang lain - Mas Riyaji - dulu waktu bekerja di Bagian Hubungan Masyarakat sering dikatain 'pencari muka'. Kebetulan dia adalah fotografer yang kerjanya memang mencari muka-muka orang untuk difoto ...***